
Rangga sampai di gerbang dan menyuruh ku untuk naik. Aku naik dan kami pun berangkat menuju tempat belanja. 15 menit berlalu setelah kami berangkat dari sekolah, selama perjalanan tidak ada yang membuka pembicaraan dan terjadi keheningan selama 15 menit itu.
Akhirnya kami sampai di sebuah toko yang menjual berbagai macam pernak pernik cantik. Tak menunggu lama, kami pun masuk dan mulai memilih.
Kami berjalan melihat pita pita cantik yang di pajang di dinding, ada berbagai aksesoris yang menarik dan pernak pernik lain yang membuat keinginan kami untuk membeli semakin menjadi jadi.
"Aduh cantik cantik stiker nya~" Gumam ku gemas.
"..Inget tujuan kita ke sini" Ucap Rangga membuyarkan lamunanku.
"Apa sih?! Lagian kalau aku beli juga pakai uang ku sendiri ko, ga usah takut aku korupsi deh" Ucap ku dan berjalan lebih dulu meninggalkan Rangga.
Kami selesai mengelilingi lantai 1 dan akan naik ke lantai 2 untuk melihat aksesoris yang lain.
"Ga pilih yang di bawah aja? Capek tau" Keluh Rangga.
"Kalau di atas lebih bagus gimana? Jangan asal comot aja. Atau kamu di sini aja deh, aku yang naik"
"Ntar ilang! Udah buruan naik" Perintah Rangga kesal.
"Yaudah!"
Saat sampai di lantai 2, ternyata di sana bukan tempat aksesoris, melainkan mainan anak anak. Saat berdiri di ujung tangga aku terdiam sejenak memandangi pemandangan indah di depan ku. Biarpun umur sudah segini, aku tetap suka mainan!
"Duh, kenapa sih? Ko malah berhenti?" Tanya Rangga. Rangga memandangi seluruh ruangan dengan wajah terkejut nya. "Tuh kan, di bilangin ga usah naik, bikin cape aja!" Keluh nya kesal.
"Is marah marah terus!"
"Ya abis ngeselin, aku capek tau. Sebelum kumpul OSIS aku latihan badminton dulu!"
"Ga nanya" Jawab ku yang masih terfokus pada apa yang ada di depanku.
"Hah! Sumpah.." Ucap Rangga seraya menggaruk kepalanya kesal.
"Yaudah kalau ga mau ikut keliling duduk aja sana" Perintah ku.
"Loh, belanja nya?"
"Is sebentar aja!"
"Yaudah cepet sana! Aku tunggu di sini"
Tanpa menunggu apa apa lagi aku melangkahkan kaki dan mulai mengelilingi ruangan yang di penuhi mainan ini. Aku sangat senang, di sini banyak boneka, patung patung, ada mainan masak masakan, pokok nya banyak. Setelah puas berkeliling, aku kembali ke tangga dan mendapati Rangga sedang duduk di tangga.
"Woi, ngapain? Kaya ga ada kursi aja duduk di situ" Tanya ku seraya menarik rambut nya.
"Apaan sih pegang pegang?! Modus ya?!"
"Lah, pegang gitu doang modus, ga jelas!"
"Lama banget si! Lama nih nungguin"
"Ya maaf! Ayo lanjutin belanja nya" Ajak ku kemudian menuruni tangga.
"Tadi nyuruh tunggu, sekarang ninggalin, emang manusia ga jelas dasar" Gerutu Rangga.
Kami kembali pada rak rak berisi hiasan yang cantik dan lucu. Untuk mempersingkat waktu kami segera memilih apa yang kami butuhkan.
"Ish jangan warna ini dong Ga! Kita kan mau 17 an, kenapa pilih warna hitam?!" Tanya ku kesal.
"Bagus loh, aku suka warna hitam juga" Jawab nya.
"Siapa?"
"Ak-"
"Yang nanya!"
"..Sumpah.. Sini kamu!"
Rangga melingkarkan tangannya di kepalaku dan kembali memiting ku, parah nya ia menarik kepala ku dan menahan kepala ku di ketiak nya. Sungguh.. Menjijikkan.
"Kurang ajar! Lepas ga?!! Bau!!" Perintah ku seraya memukul lengan nya agar melepaskan kepalaku.
"Ga usah macam macam maka nya! Hahahaha rasakan kewangian yang hakiki ini!" Ucap Rangga puas.
"Ku ingat kamu Ga! Ku balas!!" Ucap ku kesal.
"Ga takut wlee"
Aku menendang kaki nya dengan kuat dan membuat Rangga terjatuh.
"Adaw!"
"Hah! Dasar lembek! Gitu aja jatuh!!" Ucap ku meledek Rangga.
"Eh, habis ini cari karung di mana?" Tanya Rangga.
"Cari di tukang rongsokan aja, siapa tau ada"
"Terus helm nya?"
"Yang bawa motor kan banyak, suruh pakai helm masing masing aja"
"Oke"
Kami melanjutkan pencarian kami dan akhirnya kami berhasil mengumpulkan semua barang yang di perlukan. Saat akan menyalakan mesin motor, Rangga berhenti sejenak karena ponsel nya berdering.
Aku berjalan berputar putar di sekitar parkiran dan memberi nya waktu untuk mengangkat telepon itu. Setelah beberapa menit ia menelepon, akhirnya ia mematikan telepon dan ekspresi nya seketika berubah. Wajah nya jadi serius, sangat serius. Aku jadi takut ingin menyapa nya.
"Ge, kita ngopi dulu yu?" Ajak Rangga.
Melihat ekspresi wajah nya yang berubah, rasa nya tidak enak aku menolak nya. Jadi aku mengiyakan nya dan kami pun berangkat menuju warung kopi yang ada di dekat sekolah.
Kami duduk di Warung Kopi Dara atau yang biasa di sebut oleh anak anak WKD, kami memesan dua gelas kopi dan sepiring gorengan. Saat kopi dan gorengan sudah di antar ke meja, Rangga mengambil nya dan memakan nya dengan ganas. Ada apa dengan anak ini?
"..Ga, kamu marah ya sama aku?" Tanya ku ragu.
".. Marah kenapa?" Tanya nya dingin.
Wah, ini mah marah.. Batin ku.
"Ya gara gara tadi di toko, aku nyebelin ya? Maaf deh, santai aja dong" Kata ku yang juga mengambil gorengan dan memakan nya.
"Ga ko, santai aja"
"Ga marah? Terus ini kamu kenapa?" Tanya ku bingung.
"..Lagi ada yang di pikirin"
Pembicaraan berakhir. Aku mengambil gorengan satu persatu dan menghabiskan kopi ku sambil memperhatikan lalu lintas di depan ku. Sesekali aku melihat murid dari sekolah ku melintas, mungkin karena ini hari libur, jadi mereka jalan jalan.
"Ge" Panggil Rangga.
"..Kenapa?" Tanya ku masih memandangi jalan raya.
"Pas di parkiran sekolah tadi siang, kamu kenapa?" Tanya nya.
"Hm? Maksudnya?"
"Kamu nangis kan?"
"Siapa yang nangis? Aku ga nangis ya"
"Kamu mungkin bisa bohong, tapi hidung kamu ga bisa bohong, merah loh tadi"
"Lagian kenapa sih? Kepo banget" Ucap ku dan kembali menatap jalan raya.
"Ni mumpung aku lagi baik, kamu ada masalah apa? Aku bisa bantu"
"..Apa sih, kenapa tiba tiba nanya yang gitu?"
"Ya ga papa, pengen tau aja kenapa kamu sampe nangis kaya tadi"
Mood ku mulai memburuk karena kembali teringat dengan Al, dan itu membuat ku malas.
"Udah deh Ga ga usah di bahas, aku malas"
"Tuh kan bener, berarti ada apa apa kan?" Tanya nya semakin penasaran.
"Ga please, aku ga mau cerita" Ucap ku menolak.
"Tapi kenapa?"
"Aku kan udah bilang aku ga mau Ga!" Ucap ku kesal.
"Hei, membagi cerita dengan orang lain itu bisa meringankan beban"
"..Ga, udah deh stop, sejak kapan sih kita jadi bahas hal pribadi kaya gini? Kita ini cuma sebatas partner, partner kelas dan partner organisasi" Jelas ku.
"Ya memang kenapa? Kan teman"
"Udah deh Ga.. Jangan sibuk mengurusi hidup orang lain, urusi saja hidup mu dengan benar. Aku pulang" Ucap ku seraya berdiri dan meninggalkan warung.
Tanpa menoleh kebelakang, aku terus melanjutkan perjalanan ku ke motor, menyalakan nya kemudian pulang dengan mood yang berantakan.
BERSAMBUNG...