Give Up

Give Up
04



Aku terbangun dari tidur ku dan meraih ponsel ku. Ternyata sudah jam 5 sore, sebentar lagi ibu pulang dari toko. Aku bangun dan mencuci wajahku, mata ku sedikit bengkak, mungkin karena menangis tadi. Setelah itu menuju dapur dan menyiapkan makan malam.


Aku ini anak satu satu nya di keluarga ku, ayah ku sudah lama meninggalkan kami, kalau tidak salah saat umur ku 8 tahun. Sejak saat itu, ibu melanjutkan pekerjaan ayah yaitu menjaga toko sembako. Jadi kami hanya berdua sekarang.


Satu jam sudah aku di dapur, semua sudah siap dan tertata rapi di meja makan. Kemudian terdengar bunyi bel yang di tekan, aku segera keluar dan membukakan pintu.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.. Ibu mau mandi dulu atau langsung makan? Oh atau mau minum teh dulu?" Tanya ku.


Ibu diam sejenak memperhatikan ku.


"..Kenapa Bu?"


"Kamu nangis ya? Mata nya ko bengkak gitu.."


"Hum? Engga ko bu, mungkin karena baru bangun tidur Bu, jadi gini"


"Sayang.. Ibu ini ibu kamu, ibu tau kamu kenapa, kamu nangis kan?"


"..Engga ko Bu, Mika ga papa, beneran"


"Dasar kamu ini.. Kalau kamu mau cerita ibu siap mendengarkan, ya sayang?"


"Hehe, iya Bu.. Terimakasih"


"Ya sudah, ibu mau mandi dulu ya? Gerah"


"Iya Bu"


Akhir akhir ini aku jadi sedikit tertutup pada ibu, padahal dulu aku sangat terbuka pada ibu, apapun masalahku pasti aku ceritakan pada ibu. Tapi sekarang, rasa nya tidak enak untuk membicarakan hal tidak berguna seperti ini. Aku hanya menuliskan nya di diary ku yang selalu ku bawah ke mana pun agar tidak di baca ibu.


Setelah selesai makan, aku membereskan piring piring kotor dan membiarkan ibu beristirahat. Setelah itu aku masuk ke kamar ku dan bersiap untuk tidur. Aku membuka ponsel ku sebentar untuk memeriksa apakah ada pesan masuk. Ternyata Al masih mencoba menghubungi ku, ada 7 panggilan tak terjawab darinya.


Aku membiarkan nya dan membuka pesan, ada beberapa pesan yang belum di baca. Pertama, aku akan membalas pesan dari Nara dan mengatakan kalau aku baik baik saja. Kemudian aku melihat ada pesan dari Haikal, teman sekelas ku.


"Ka, masuk OSIS yu? Lagi rekrut anggota nih"


Sejak zaman SMP dulu, aku tidak pernah mau masuk OSIS karena itu merepotkan. Sekarang saja aku sudah repot dengan tugas tugas sekolah. Tapi.. Aku ingin mencari kesibukan kan!


Aku pun membalas


"Boleh deh kal, aku jadi anggota biasa kan tapi?"


"Iyaa anggota biasa"


"Yaudah deh boleh, thanks ya"


Akhirnya aku jadi anggota OSIS, mencari kesibukan dan melupakan ini semua. Yah, semoga bisa cepat move on.


Mau nya sih gitu, cepet move on. Tapi gimana mau cepet move on, orang setiap hari ketemu. Dia kan anak basket, dan dia sering main ke kelas. Hari ini, sore ini, aku terduduk diam di samping Al yang sedang memakan coklat.


"Udah sehat Ka? Ko kemarin kemarin ga angkat telepon sih? Ketiduran ya?" Tanya Al.


"..Iya.. Kemarin ga sempat pegang hp" Jawab ku seraya menundukkan kepalaku.


"Masih sakit ya? Diem terus dari tadi"


"..Engga ko, cuma lagi ga mood aja"


"Oo.. Di makan coklat nya Ka"


".. Thanks"


Dia tiba tiba duduk di samping ku dan memberiku sebuah coklat. Melihat coklat ini, aku jadi teringat dengan hadiah salah alamat kemarin, benar benar menyebalkan.


"Al, ayo main?" Ajak Deon, salah satu anggota basket yang juga merupakan teman dekat Al.


"Oh oke.. Ka, aku main dulu ya?"


Aku mengangguk menandakan iya.


Aku memandang punggung nya yang perlahan berjalan menjauh dan bermain basket. Mungkin terlalu bersemangat bermain, ia berlari terlalu cepat dan akhirnya terjatuh. Melihat itu aku terkejut dan refleks berdiri. Teman teman yang lain juga datang untuk melihat kondisi nya.


"Aduh, aku ga papa.. Ngapain sih pada ke sini? Sana pada main lagi" Perintah Al.


"Ih itu berdarah loh"


"Iya ntar aku cuci" Ucap Al seraya mengelap darah di lutut nya dengan celana nya.


Kemudian datang seseorang dan memegang tangan nya.


"Ais, ga boleh sembarangan! Masa pakai celana yang kotor begini. Di sebelah lapangan basket kan ada UKS" Ucap Nara seraya membersihkan luka di lutut Al.


Semua anak anak sudah kembali bermain bola basket, kini tinggal mereka berdua di pinggir lapangan, dan aku yang duduk memandangi mereka di sudut yang lain.


Aku mengalihkan pandanganku pada ponsel yang ada di tanganku dan melihat pesan masuk dari nomor tidak di kenal. Aku membuka nya dan membaca nya.


17.05


Pesan ini masuk kurang lebih 20 menit yang lalu. Siapa sih yang tidak tahu Deon? Dia dan Al kan lumayan populer, bahkan tak jarang menjadi incaran kakak kelas. Aku pun membalas...


"Iya tahu, kenapa?"


Aku memandangi layar ponsel ku dan mendapat balasan dari nya.


"*Bisa ngobrol sebentar?"


"Bisa*"


Aku mengangkat kepalaku dan melihat sesosok pria tinggi berkulit putih sedang berjalan ke arah ku. Saat sampai di depan ku, ia duduk tepat di depan ku.


"Ga main?" Tanya nya sambil menyodorkan bola basket.


"..Nanti aja"


"Kenapa? Kalau ga bisa ngomong aja, aku ajarin" Tawar Deon.


".. Aku bisa main ko, walau cuma sedikit"


"Nah, latihan terus dong biar jago. Oh iya, kamu ko sendirian terus sih? Dari datang tadi kamu cuma latihan sebentar habis itu duduk di pojokan sendiri. Sakit?" Tanya nya.


"Engga ko.. Cuma lagi ga mood aja"


"Aku saranin kamu sering sering deh gabung sama yang lain, mereka asik ko"


"Hm, ya"


"Yu main?"


"Tapi lagi pada istirahat kan itu?" Tanya ku.


"Biarin aja, main berdua dulu sama aku, sekalian aku ajarin. Gimana?" Deon menawarkan.


"..Oke deh, boleh"


Sebenarnya aku sedikit khawatir jika hanya bermain berdua dengan Deon, dia ini kan populer, bagaimana omongan orang orang nanti nya.


Kami berjalan ke lapangan dan mulai memainkan bola basket. Sekitar 10 menit dia mengajari ku, setelah nya kami bermain. Karena sudah di ajari sedikit oleh Al kemarin, sekarang aku sudah lumayan bisa bermain bola basket.


"Yeaaayy masuk!" Ucap ku girang karena berhasil memasukkan bola ke ring.


"Nah, itu udah bagus. Latihan terus ya"


"Iya. Makasih ya Deon"


"Panggil Yon aja ya, kalau Deon aga gimana gitu"


"Eh? Yon? Oke"


Beberapa anak basket mendekati kami dan salah satu dari mereka melingkarkan tangan nya di pundak ku.


"Halo Kaa" Sapa salah satu dari mereka.


"Ha-halo.."


"Ih. ga usah takut gitu.. Kenapa? Aku sok kenal ya? Maaf maaf" Ucap Fitri seraya menjauhkan tangan nya dari ku.


"Eh? Enggga ko.. Aku kadang suka jadi gagap gitu, maaf ya"


"Owalaa iya iya"


"Yu duduk di sana Ka? Rame rame sama anak anak"


"Oh.. Boleh"


"Eh iya, tadi tas kamu udah aku pindahin ke sana ya" Ucap Vina menunjuk anak anak yang sedang berkumpul.


"Iya, terimakasih ya"


Ternyata memiliki banyak teman itu enak ya, seketika aku melupakan perasaan ku tentang Al. Memilih banyak ekskul tidak buruk juga.


Saat sampai mereka menyambut ku dengan senyuman, mempersilahkan ku duduk dan mengobrol bersama. Mereka membagi camilan yang sedang mereka makan, mereka benar benar baik.


Beberapa minggu sudah berlalu, aku jadi semakin dekat dengan anak anak basket, aku jadi semangat setiap kali harus latihan basket. Aku jadi sedikit melupakan perasaan ku, semoga akan cepat menghilang.


Ah ya, aku juga sudah datang ke kumpulan OSIS. Saat pertama kali masuk, kami hanya membahas seputar kegiatan sekolah pada minggu ini. Dan ternyata, beberapa anak basket ada juga yang menjadi anggota OSIS.


Aku mulai menyibukkan diri kembali dengan berbagai kegiatan seperti basket dan perkumpulan OSIS. Aku juga masih aktif di English club dan IPA. Sekarang aku ingin lebih fokus pada sekolah ku walaupun masih ada sedikit rasa yang tersimpan untuk nya.


'Hidup tidak melulu tentang cinta, namun juga cita cita'


Itu adalah pegangan ku sekarang!


BERSAMBUNG...