
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
1 bulan telah berlalu, dan aku masih stuck di sini, di perasaan yang sama dan pada orang yang sama. Akhirnya hari Sabtu tiba.. Saat ini aku yang baru saja selesai mandi sedang duduk di kasur sembari merapihkan barang barang yang akan ku bawa ke sekolah. Untuk apa? Tentu saja untuk latihan basket.
"Mikaa.. Sini nak, sarapan dulu" Panggil seorang wanita paruh baya yang terdengar dari arah dapur.
"Baik Bu" Aku beranjak dari tempat tidur ku dan berlari ke luar kamar. Aku sampai di meja makan dan melihat berbagai lauk pauk sudah tertata rapi di meja makan.
"Waah.. Ibu ko masak nya banyak banget Bu?" Tanya ku sembari menarik kursi meja makan.
"Kamu kan mau olahraga, ga papa sekali sekali. Oh iya, ini ibu buat kue, nanti kamu bawa ya, bagiin sama teman teman kamu" Pinta ibu seraya memberikan sebuah keranjang berisi kue pada ku. "Ibu juga sudah siapkan kamu bekal, ini ya"
"Loh Bu, uang nya kan bisa di tabung.. Kenapa di pakai buat bikin ini?" Tanya ku.
"Ga papa sayang.. Kemarin ibu dapat rejeki lebih, lagian kamu sudah lama mau makan opor kan?" Jawab ibu yang masih sibuk melakukan pekerjaan dapur nya.
"..Bu.. Mika ga papa ko makan tahu tempe setiap hari.."
"Jangan dong, harus makan daging juga"
"..Bu.. Ayo makan dulu.. Habis ini Mika antar ke toko"
"..Iya nak"
Ibu duduk di kursi makan dan menikmati makanan kami dalam keadaan hening. Setelah makanan habis, kami bersiap dan berangkat ke toko. Selama di perjalanan pun ibu hanya diam, begitupun aku. Dan akhirnya kami sampai di toko.
"Mika berangkat ya Bu.. Ibu jangan lupa makan ya" Ucap ku seraya mencium tangan ibu.
"Iya nak.. Kamu hati hati ya.."
"Iya Bu.. Oh iya Bu, ibu kenapa hari ini masakin Mika ayam? Kenapa buatin temen temen kue? Maaf ya Bu, tapi Mika kurang setuju ibu buang uang buat nyenangin Mika walaupun dapat rejeki lebih, kan bisa di tabung Bu.."
"..Anak ibu sudah besar ya.. Sudah mengerti. Tapi maaf ya nak, ibu cuma mau nyenangin kamu hari ini, karena hari ini.."
"Iya Bu Mika tau, hari ini hari kepergian ayah kan?"
"..Iya"
"Ibu tenang aja.. Mika ga sedih ko Bu, Mika udah biasa.. Mika cuma mau ibu ada terus di samping Mika.. Mika sayang ibu.."
"Iya sayang.. Ibu juga sayang sama Mika.."
Setelah acara tangis menangis kami selesai, ibu masuk ke dalam toko dan aku memutar motor ku kemudian membawa nya ke sekolah. Yah, begitulah ibu, di hari saat ayah pergi ibu akan membelikan apapun barang atau makanan kesukaan ku.
Aku sampai di parkiran sekolah dan memarkirkan motorku. Aku melepas helm ku dan meletakkan nya di kaca spion. Tanpa sengaja aku melihat kaca spion dan melihat rambut ku yang berantakan.
"Wadu.. Kaya ga nyisir" Gumam ku seraya merapihkan rambut ku yang berantakan.
Hah.. Rasa nya malas sekali latihan.. Malas bertemu orang orang. Aku jadi teringat pada perasaan ku pada Al, bisa tidak ya aku cepat move on jika terus bertemu seperti ini.
Aku di kejutkan oleh seseorang yang tiba tiba memegang bahu ku. Refleks aku berbalik dan tak sengaja memukul orang itu, dan parah nya pukulan ku tepat mengenai pipi nya.
"Aw.. Sakit lo.." Ucap Al memegang pipi nya, dan yang membuat ku kesal, kenapa dia harus memasang ekspresi seperti itu? Kenapa harus menggemaskan seperti itu?!
"So-sorry.. Ga sengaja.."
"Haha... Bisa berantem juga Ka?"
"..Dikit.."
Oh iya, aku belum cerita ya.. Aku bisa berantem walaupun sedikit sedikit. Ini karena saat aku kecil dulu aku sering menghajar anak laki laki di kelas yang suka gangguin anak anak perempuan.
"Ayo ke lapangan?" Ajak nya.
Aku mengangguk dan kami pun masuk ke dalam bersama.
Saat sampai di lapangan, di sana anak anak sudah berkumpul, seperti biasa. Aku menghampiri mereka dan memberikan keranjang berisi kue yang di berikan ibu tadi.
"Kakak kakak semua, selamat pagi" Sapa ku.
"Pagi dek wkwkwkwk"
"Bawa apaan tuh Ka?"
"Ini kue, di makan ya.. Di buatin sama ibu"
"Wah.. Baik nya"
"Bilangin ke ibu makasih ya Ka"
"Oke"
"Mungkin cukup sampai di sini, sisa nya kalau mau main, main saja. Ingat, jangan lupa pulang, kalian punya rumah. Oke?" Kata pelatih kemudian berlalu meninggalkan lapangan basket.
Melihat pelatih meninggalkan lapangan, anak anak yang lain keluar dari lapangan dan duduk di pinggir lapangan. Aku mengambil ponsel ku yang ada di dalam tas dan membuka nya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Haikal. Aku berdiri dan sedikit menjauh kemudian menelpon Haikal.
Beberapa menit telah berlalu dan obrolan ku selesai dengan Haikal. Hari ini akan diadakan pertemuan OSIS. Aku berbalik dan melihat anak anak sedang asik membongkar isi dari tas tas yang ada di tempat istirahat.
"Wahahahaha lihat, isi nya makanan semua dasar Siska gentong!" Ledek Iyan pada Siska.
"Ais tutup dooong!"
"Wahahahaha apa nih? Punya siapa nih?"
Aku baru teringat akan sesuatu. Aku memutar pandangan ku, melihat ke sana dan ke mari kemudian menemukan tas ku dalam keadaan sudah terbuka.
Dengan panik aku merogoh nya dan mencari sesuatu yang amat penting bagi ku, buku diary. Sudah beberapa kali aku memeriksa nya namun aku tidak menemukan buku diary ku. Aku memutar pandangan ku dan mendapati sosok Al yang sedang berdiri di dekat ring basket sambil membaca sesuatu, sebuah buku berwarna biru.
Rasa nya jantung ku berhenti berdetak, blank, aku tidak bisa memikirkan apapun. Buku yang di pegang oleh Al adalah buku diary ku. Tapi, jika aku diam begini terus, dia akan semakin membuka lembar nya dan mengetahui rahasia ku kan? Aku memberanikan diri melangkahkan kaki ku dan menghampiri nya.
"A-anu.."
Dia mengalihkan pandangan nya yang sedari tadi tertuju pada buku, kini terfokus pada ku.
"Sorry.. Itu buku aku Al" Ucap ku seraya memberikan tangan ku meminta buku nya.
"..Apa ini?" Tanya nya dengan nada suara yang tak pernah ku dengar sebelumnya, nada yang dingin.
".. Diary..."
"Punya kamu?"
"I-iya.."
"Kamu yakin ini diary? Bukan buku fiksi yang menceritakan kalau kamu suka sama aku?"
Aku mengangkat kepala ku dan menatap wajah nya terkejut. Dia sudah baca?!
"Kamu.. Kamu baca?!" Tanya ku panik.
"..Sorry ya Ka, tapi kamu tau kan Nara udah putus sama pacar nya dan udah deket sama aku? Tapi kenapa kamu malah suka sama aku dan di sini kamu nulis kalau kamu masih suka sama aku sampai sekarang. Terus bantuan kamu selama ini?" Tanya nya panjang lebar.
Aku menarik napas panjang, dan mengeluarkan perkataan yang sudah ku pikirkan sejak tadi.
"Memang kenapa? Aku bantu kamu selama ini ga cukup? Siapa yang minta di balas perasaan nya? Lagian aku suka sama kamu dari sebelum kamu bilang suka sama Nara ko" Jelas ku.
"Apa Nara tau? Gimana kalau Nara tau dan dia malah mau aku sama kamu? Kamu cerita apa sama dia??" Tanya Al cemas.
Aku yang mendengar itu rasa nya kesal sekali, rasa nya aku akan jadi pengganggu bagi mereka.
".. Aku ga ada cerita apa apa ko Al, ga sama siapa pun, cuma sama diary itu. Ga usah khawatir rencana kamu bakal rusak gara gara aku" Jelas ku.
"Tapi.. Aku tetap takut. Dalam pertemanan kan tikung menikung itu sering terjadi" Ucap nya sinis.
Aku menatap mata nya dan merasa benar benar kesal. Dia pikir aku akan tega melakukan hal sekejam itu apa?
".. Kenapa kamu bilang begitu? Kamu pikir aku bakal tega ngelakuin nya? Itu kan balik ke orang nya lagi!" Jawab ku sedikit menaikan nada bicara ku.
"Ya aku wajar dong khawatir, aku udah berusaha deketin dia 2 Minggu lebih kan. Dan itu berkat bantuan kamu, aneh aja"
"Aneh? Orang lain ngebantu kamu aneh? Denger ya Al, Nara itu sahabat aku, aku ga mungkin nyakitin dia. Maka nya aku sering bilang jangan berani sakitin dia atau kamu berurusan sama aku"
Aku maju satu langkah lebih dekat dengan Al dan mengambil buku diary ku.
"Kamu ga perlu khawatir. Tenang saja~ Aku tidak akan menggangu mu dan dia" Ucap ku lirih kemudian berbalik dan mengambil tas ku.
"Loh, mau ke mana Ka? Kita masih mau main loh" Tanya Rara menahan ku yang hendak pergi meninggalkan lapangan.
"Aduh, maaf ya.. Aku ada kumpulan OSIS nih, jadi harus balik duluan"
"Kamu yakin ga papa? Hidung nya merah loh, lagi pilek?" Tanya Wawan.
"Hm? Iya mungkin ya, tadi habis minum es di kantin" Jawab ku.
"Yaudah, hati hati ya"
"Oke, makasih ya semua. Bye~"
Aku berjalan melewati Al tanpa mengatakan apapun, dia pun begitu hingga aku berlalu. Aku berlari dan menaiki tangga dengan wajah yang merah karena menangis.
BERSAMBUNG...