Give Up

Give Up
03



"..Nara?"


"Ih tapi jangan bilang bilang sama dia ya"


Rasa nya suara ku tertahan, aku berusaha sebisa ku menahan agar air mata ini tidak keluar. Kenapa harus Nara?


"Sebenernya aku udah ada ngasih gitu ke dia, kaya coklat, bunga, jajanan dari kantin, aku juga kadang ngirim dia surat. Tapi sampe sekarang aku ga berani deketin dia, sampe keduluan sama orang"


Jadi selama ini.. Semua hadiah itu...


"..Ka? Lo kenapa? Ko ngelamun?" Tanya Al seraya melambaikan tangan nya di depan wajahku.


"Hm? Ga.. Ga apa.. Jadi Lo.. Suka sama Nara ya?... Duh selamat ya, Lo ga perlu khawatir, kan kalau jodoh ga bakal ke mana.. Semangat!"


"Thanks ya, gue sebenernya malu mau ngomong nya. Tapi gue mau minta tolong nih sama Lo, kalau misal nya ya misal, dia putus sama cowok nya, bantuin gue biar deket sama si Nara ya?" Pinta Al.


"..Iya, bisa.."


"Aheey, makasih loh ya"


"Hm.. Gue.. Gue ke toilet dulu ya?"


"Oh, oke"


Aku sudah tidak bisa menahan air mata ini, bahkan rasa nya tidak bisa mengeluarkan suara lagi. Dan benar saja, saat aku berdiri dan berjalan ke toilet, air mataku sudah jatuh.


Sesampainya di toilet aku membuka keran wastafel dan mencuci wajahku yang basah oleh air mata, wajah ku juga merah. Rasa nya air mata ini tidak bisa berhenti mengalir. Hati ku sakit sekali...


Kenapa begini? Ini kah yang di namakan patah hati? Jadi selama ini, hadiah yang aku terima seharusnya untuk Nara? Bukan aku? Aku tidak mengerti kenapa perasaan ku begini, sungguh menyebalkan.


Aku kembali mencuci wajah ku kemudian keluar dari toilet dan kembali ke meja.


"..Sorry lama"


".. Kamu kenapa Ka? Ko muka nya merah merah gitu?"


"..Kaya nya aku demam deh Al, aku.. Aku balik ya?"


"Oh gitu? Ya ampun.. Ayo deh aku antar"


"Loh kenapa?"


"Ga papaaaa, udah ya aku pulang"


Tanpa menunggu jawaban Al, aku berjalan cepat ke luar dan masuk ke dalam angkot kemudian pulang. Sesampainya di rumah aku melempar tas yang ku gunakan dan merebahkan tubuh ku di kasur yang empuk, dan melanjutkan tangisan ku.


"..Hiks.. Kenapa sih aku b*doh banget mau percaya sama yang beginian?!..Yang nama nya cinta tuh ga ada! Ga ada!! Hiks.. Huwaaaaa mana tisuu"


Aku mengambil tisu di atas meja dan tanpa sengaja melihat foto ku dan Nara saat sedang merayakan ulang tahun nya dulu.


"..Hiks.. Kenapa mesti Nara siih? Kenapa harus sahabat sendiri??"


Aku terbayang sebuah ide, yaitu memukul pipi ku sekeras mungkin berharap akan bangun, ini hanya mimpi. Namun..


PLAK


"..Aww sakiit"


Ya, aku termenung setelah nya dan merasa sudah gila. Apa yang aku lakukan?


Aku membuka tas ku karena mendengar dering ponsel ku. Aku melihat ada panggilan masuk dari Al. Aku tidak mengangkat nya karena masih menangis. Beberapa kali ia menelepon namun aku tetap tidak mengangkat nya. Aku melempar ponsel ku dan menutup wajah ku dengan bantal.


Namun aku kembali mengambil nya karena mendengar ada notif SMS.


"Mika, kamu sakit? Tadi kata Varo kamu pulang duluan karena demam, terus kamu ga jawab telepon dia, kamu tidur?"


Ternyata Nara khawatir.. Aku jadi merasa tidak enak...


Tidak lama, pesan baru muncul.


"Kalau kamu demam dan ga punya obat, kamu bisa beli di toko *** ya, di sana murah dan obat nya bagus, di jamin sembuh. Oh ya, kata nya ada diskon kalau kamu beli.."


Haaah ujung ujungnya promosi si k*mpret


Aku kembali melempar ponsel ku, namun kali ini lebih jauh. Aku menutup wajahku dengan bantal dan tak lama tertidur.


BERSAMBUNG...