Frankenstein's Odd House Secrets

Frankenstein's Odd House Secrets
CHAPTER 2 : TIGA



Pukul 2 siang Syua baru terbangun. Setelah bangun segera ia mandi karena tahu hari sudah siang.


Setelah keluar dari kamar mandi, Syua melihat kearah luar dari jendela kamarnya. Jendela kamarnya langsung menghadap taman di villa tersebut.


Ia melihat Kyle berada di taman. Segera ia menyapa Kyle dari kamarnya.


"Kyle!" Panggil Syua sedikit berteriak dan melambaikan tangan.


Kyle yang duduk di kursi taman segera menolah ke kamar Syua dan membalas melambaikan tangan kepada Syua.


Syua tersenyum kaku karena ekspresi Kyle yang tersenyum namun tampak dingin dan kaku. Segera ia pergi dari jendela. Sekarang ia tidak ada niatan keluar dari kamar dan merasa badannya malas untuk bergerak lebih jauh.


"Syua! Bangun!" Suara teriakan Adelia dari lantai bawah.


Syua yang tadinya menutup mata, langsung terperanjat dan segera keluar dari kamar.


Dari tangga, Syua melihat Adelia, Abraham, Kyle dan Justin yang seperti baru masuk dari luar.


"Kalian dari mana?"


"Kami ikut tur keliling pegunungan. Kamu sih tidur. Jadi tiket kamu untuk Abraham." Jelas Adelia.


Tiba-tiba Syua kembali ke kamar dan berjalan menuju jendela kamar untuk memastikan lagi. Baru saja ia melihat Kyle berada di taman. Sedangkan kata Adelia mereka berempat baru pulang dari tur.


"Kayaknya gak mungkin aku salah liat. Aku inget banget!" Katanya dalam hati.


Dan dalam penglihatan Syua, Kyle yang berada di taman memakai kaos berwarna hitam, sedangkan tadi Kyle berada di lantai 1 memakai baju berwarna kemeja kotak putih merah.


Segera ia pergi kembali ke lantai 1 bergabung dengan mereka berempat.


"Kamu kenapa Syua?" Tanya Kyle.


"Enggak tadi aku ngedenger suara hp jadi masuk ke kamar lagi."


"Oohh."


"Kamu gak marah kan, Syua?" Adelia menatap Syua.


"Enggaklah. Masa gitu aja marah. Tidur juga penting jadi sih gak masalah." Jawab Syua santai.


Adelia menggelengkan kepala mendengan ucapan Syua dan berjalan menuju meja makan. Ia mengeluarkan makanan yang tadi beli untuk Syua.


"Syua makan sana. Kamu belum makan siangkan?"


Syua berjalan menuju meja makan.


"Wah? Enak nih. Aku aja belum sarapan." Ujarnya sambil menyantap makanannya.


"Kamu bangun jam berapa? Malas banget jadi orang. Parah sih kamu Syua."


Adelia tidak henti-hentinya menggelengkan kepalanya tidak percaya, sedangkan Syua mengabaikan Adelia yang dari tadi mengeluh dan terus menyantap makanannya.


Selesai makan Syua mengajak mereka berempat pergi ke pantai yang ada di belakang villa.


"Ke pantai di belakang yuk."


"Pantai?"


"Masak gak tau sih. Iya pantai di belakang villa ini loh."


"Oh ya kok aku gak tau? Bahkan aku gak denger tuh suara air gitu."


"Aku aja di kasih tau Syua. Kemarin kita berdua udah jalan-jalan. Bagus banget. Ayoklah berenang kita."


"Bener enak nih kalau berenang sore-sore gini. Yaudah aku langsung ganti baju." Syua langsung berlari menuju kamarnya disusul dengan Adelia.


Syua sudah kembali ke ruang berkumpul. Ternyata para lelaki sudah menunggu. Melihat Syua turun dari lantai dua dengan dress pendek tipis membuat Kyle terpesona dan tersenyum.


Sedangkan melihat cara berpakaian Syua, segera Abraham mendorong Syua kembali ke kamar.


"Balik ke kamar lagi. Ganti baju lain."


"Loh emang kenapa sih kak. Kan mau ke pantai."


"Aku udah peringatin. Sekali!"


"Iya-iya aku ganti baju lagi."


Abraham menatap Kyle tidak suka. Kyle yang menyadari itu merasa sungkan pada Abraham.


10 menit kemudian semua sudah berkumpul dan langsung berjalan menuju pantai yang tidak terlalu jauh.


Setelah sampai di bibir pantai segera Adelia, Syua, Kyle dan Justin tanpa ragu menceburkan diri di air laut.


Abraham hanya duduk di pinggir pantai dan sesekali memainkan pasir. Ia menikmati pemandangan pantai yang menenangkan. Sejauh mata memandang, matanya tidak henti terpusat pulau di depannya.


Pulau itu terlihat dekat dan sangat jelas ada satu pohon yang berdiri tegak dan rimbun. Matanya terus terfokus pada pohon itu. Rasanya pohon itu terus mendekat ke arahnya bahkan hingga pohon itu berada tepat menyentuh diujung jari kakinya. Matanya terus terfokus pada pohon itu seakan tidak bisa teralihkan. Abraham mulai memejamkan mata dan membuka kembali karena ia merasa ada yang salah dengan matanya, namun pandangannya tetap sama. Bahkan untuk matanya menatap yang lain tetap tidak bisa. Muncul sosok hitam asap dari balik pohon, ketika mendekat sosok itu berubah menjadi mengerikan. Bertanduk merah, mata putih dengan badan hitam tinggi.


"Kakak kamu kok bisa tidur disini sih? Tanya Justin. Mereka berempat mengelilingin Abraham yang tertidur di pinggir pantai.


"Gak tau tuh. Mungkin karena hawanya sejuk jadi dia ngantuk." Balas Syua.


"Ngantuk sih ngantuk. Tapi masa sampe nimbungin badan pake pasir." Celetuk Adelia diikuti tawa yang lainnya.


"Hahaha. Udah udah. Syua kita bertiga ke rumah duluan ya." Justin menghentikan tawa teman-temannya dan mengajak mereka kembali ke villa.


"Iya kalian duluan aja. Aku bangunin kakak dulu."


Mereka bertiga berjalan menuju villa sedangkan Syua membangunkan Abraham.


"Kak!" Suara Syua untuk membangunkan Abraham dan menggoncang-goncang badannya.


"Kak kok tidur sih?"


Abraham membuka matanya dan menyadari dirinya dalam keadaan terbaring dengan setengah badan tertimbun pasir. Segera ia mengeluarkan dirinya dari pasir.


"Kakak main pasir?" Syua terkekeh kecil melihat kakaknya yang tadi tertimbun pasir.


"Kamu kok jail sih."


"Loh kok aku sih. Aku tuh baru keluar dari air. Liat nih tangan aku bersih gak ada bekas pasir." Syua memperlihatkan tangannya yang berwarna putih pucat bersih karena terlalu lama bermain air.


Abraham menatap Syua tidak percaya.


"Terserah kakak lah, yang main sendiri nyalahin orang. Udahlah ayok pulang udah sore loh!"


"Sore?" Abraham melihat pantai yang berwarna oranye kemerahan karena pantulan sunset yang mulai tenggelam.


Abraham berdiri dan berjalan mengikuti Syua pulang, sedangkan yang lainnya sudah pulang duluan.


Sesampai dirumah Abraham duduk di sofa ruang televisi menunggu Kyle yang sedang mandi. Ia memegang kepalanya karena tidak bisa menjelaskan apa yang telah terjadi pada dirinya sendiri.


Abraham sama sekali tidak percaya dengan hal yang gaib seperti hantu atau apalah. Walaupun ia adalah kandidat calon pastor masa depan, dalam dirinya masih belum yakin dengan keberadaan makhluk gaib di semesta. Bilapun ada Abraham sama sekali tidak takut pada makhluk apapun itu karena ia percaya Tuhan lah akan menjaganya selalu.


Berbanding berbalik dengan Syua, ia mempercayai keberadaan makhluk tak kasat mata. Saat ia masuk ke kamar dan matanya tertuju pada jendela, ia terpikirkan Kyle yang ada dua.


Tetapi pikiran itu iya tepis karena mungkin itu pertanda makhluk gaib ingin diakui keberadaannya dan juga tidak ingin memikirkan kejadian itu yang membuatnya terbayang-bayang terlalu larut.