
Hari ini Joy diperbolehkan pulang setelah opname selama 2 hari sejak ia sadarkan diri. Dokter menyarankan untuk tidak memikirkan sesuatu yang berat agar terhindar dari stress. Dan dokter juga menyarankan agar istirahat dirumah beberapa hari ke depan.
Sesudah keluarga itu sampai dirumah. Handphone ayah berdering dan segera mengangkat panggilan tersebut. Sedangkan Joy di antarkan oleh Amanda dan mama ke kamarnya. Ayah menyudahi panggilan masuk itu dan menemui mama dikamarnya.
"Mah, nenek sakit."
"Ibu sakit. Sakit apa?." Kata mama tidak percaya.
"Jantung, mah. Tadi Mira telpon untuk kita ke sana temenin ibu."
"Tapi Joy kan baru pulang dari rumah sakit. Gak mungkin kita bawa Joy yang masih sakit."
"Joy udah gak papa kok ma, Joy bisa ikut-"
"Enggak kak. Kamu gak boleh ikut. Kakak tuh masih sakit. Kita dirumah aja, biar ayah sama mama yang pergi." Potong Amanda tidak setuju.
"Iya, Joy. Kamu di rumah aja istirahat yang cukup. Nenek pasti ngerti kok."
"Tapi, ma Joy udah gak papa."
"Udahlah Joy gak usah maksain diri."
Joy menatap kedua orang tuanya dan juga Amanda bergantian dengan raut kesal. Akhirnya mau tidak mau Joy menuruti semua perkataan itu. Ternyata dengan rencana cepat, mama dan ayah berangkat ke rumah nenek sore itu juga.Ayah dan mama berpamitan kepada Joy dan Amanda sebelum pergi. Mereka berdua mengantarkan kedua orang tuanya hingga ke halaman depan dan menunggu mobil yang di kendarai menghilang dari pandangan.
Setelah mobil yang ditumpangi mama dan ayah sudah pergi, mereka berdua masuk ke dalam rumah. Setelah di depan pintu kamar Joy, Amanda akan pergi ke supermarket membeli barang\\-barang kebutuhan.
"Kak, aku pergi beli barang dulu ya. Mama tadi bilang kalau barang-barang udah pada habis."
"Kamu pergi pake apa? Bareng sama kakak aja."
"Gak. Kakak tuh masih sakit. Biar aku aja. Aku pergi pake taksi online kakak gak usah khawatir."
"Yaudah deh terserah kamu. Hati-hati dijalan."
"Iya-iya. Aku pergi dulu ya. Mobilnya udah nungguin."
Joy hanya mengangguk.
Joy kembali ke kamarnya. Entah mengapa rasanya ia masih sedikit trauma karena mimpi buruk itu terus saja teringat. Dan ia merasa mimpi buruk itu ada mimpi yang pali mengerikan selama ini karena terasa begitu nyata seakan dirinya memang benar\-benar berada disana dan merasa sendiri.
Tok...tok...tok...
Suara pintu luar yang diketuk. Joy langsung terduduk mendengar suara ketika itu, ia merasa waspada dan mulai mengingat kejadian aneh waktu lalu. Suara ketukan terdengar terus menerus. Joy mulai merasa dirinya peka bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Ia tidak beranjak dari kasurnya sedikitpun.
Suara ketukan itu masih terdengar jelas dan semakin keras. Joy menutup telinganya supaya suara itu pergi dan tidak menghantuinya lagi. Bukannya menghilangkan suara itu terdengar keras, karena jengkel Joy berjalan menuju pintu tersebut karena merasa selalu dipermainkan.
Tirai putih yang menutupi pintu tersingkap seakan ada angin begitu kuat. Suara ketukan menghilangkan ketika Joy berada di dekat pintu tersebut. Ia melihat pintu kaca transparan tidak ada siapa\\-siapa, tetapi ada cap tangan yang berjumlah tiga. Ia berusaha mengelap cap tangan itu dari pintu kaca itu, namun tidak kunjung menghilang. Ternyata cap tangan itu berasal dari luar.
Joy merasa tidak peduli dan berbalik arah, ia melihat seseorang yang membelakanginya berdiri di depan tangan menuju loteng kamar Amanda. Joy yang masih merasa trauma berteriak takut dan menutup matanya dengan kedua tangan.
"Aaaahhhh! Pergi jangan ganggu aku." Teriak Joy ketakutan.
Ia menutup matanya rapat dan tidak berani melepaskan tangannya dari matanya.
Tok! Tok!
Joy terkejut. Karena pintu yang berada tepat dibelakangnya deketuk kembali.
"Aahhh! Pergi! Aku mohon!"
"Kakak! Kakak! Kakak kenapa?" Suara Amanda dari luar sambil mengetuk pintu.
"Kakak kenapa kok teriak?" Tanya Amanda.
Joy tidak menjawab pertanyaan Amanda, melainkan menoleh ke belakang memastikan apakah makhluk itu sudah pergi. Dan ia melihat tidak ada apa pun disana.
"Ada apa kak?" Lagi-lagi Amanda bertanya kepada Joy dan Joy bukannya menjawab namun menarik Amanda ke kamarnya.
"Kak ada apa sih?"
"Kamu sadar gak sih akhir-akhir ini banyak kejadian aneh."
"Kejadian aneh? Maksud kakak?"
"Kamu bener-bener gak inget apa-apa."
"Aku inget semua kok kak. Aku gak rasa yang aneh dirumah."
Joy menggigit bibir bawahnya dan menatap kearah lain.
"Yaudahlah kalau gitu."
Amanda meninggalkan Joy tidak berbicara. Joy membaringkan tubuhnya lagi lelah. Ia menatap langit\-langit kamarnya tidak tau harus berbuat apa. Bahkan ia berpikir dirinya mengalami gangguan kejiwaan.
Selama seminggu ini Joy jarang keluar kamarnya bahkan bila tidak ada sesuatu yang penting ia tidak akan keluar kamar, ia merasa dirinya sangat takut keluar kamar apalagi Amanda tidak ada dirumah. Kejadian itu masih selalu terpikirkan olehnya. Ketika ia keluar dari kamar ia selalu terbayang\\-bayang hal yang menyeramkan.
"Aahhhh!" Teriak Amanda dari kamarnya.
Joy yang sedang duduk di kamar, kaget langsung berdiri. Walaupun ia khawatir dengar keadaan Amanda kakinya tidak menginginkan ia keluar kamar.
"Aaahhhh! Enggak!"
Suara dari loteng terdengar lagi. Jantung Joy berdebar kencang. Dengan langkah kaki berat Joy keluar kamar menuju ke loteng dengan terburu\-buru.
"Amanda kamu kenapa?" Tanya Joy setelah sampai di loteng kamar Amanda.
Joy melihat Amanda yang duduk meringkuk dengan kedua tangan yang memegang kepala seakan ketakutan. Amanda tidak berani menatap ke arahnya. Ia berusaha mendekati Amanda, namun ia meronta\-ronta seakan melihatnya makhluk yang mengerikan.
"Pergi kamu! Pergi!"
"Amanda ini kakak. Ini aku Joy." Ia terus meyakinkan Amanda dan terus bergerak mendekat.
"Kak Joy."
Amanda memeluk Joy erat. Joy membiarkan Amanda melepas ketakutannya.
"Kamu kenapa, Manda?"
"Kak, disini emang aneh kak. Aku inget semuanya kak. Aku inget sosok yang nakutin aku. Dia..." Amanda kembali memeluk Joy ia menangis ketakutan.
Ingatan tentang kejadian itu datang tiba\-tiba pada Amanda. Inilah sebabnya Amanda berperilaku seakan tidak terjadi apapun, padahal Joy sendiri mengalami langsung bersamanya. Amanda ketakutan ingatan kejadian menakutkan beberapa waktu yang lalu itu kembali padanya. Sekarang ia sadar semua kejadian aneh yang ia alami tidak ada sangkut\-pautnya dengan manusia, termasuk Haiden dan Astrid. Semua itu adalah tipu daya makhluk gaib yang mengganggu keluarga mereka.
Joy menenangkan Amanda untuk tidak mengingat hal yang menakutkan.
"Yaudah aku telpon mama dulu. Biar mereka pulang baru ceritain ini semua sama."
Mendengar pendapat Joy, Amanda menyetujuinya. Joy segera menekan tombol angka untuk menelepon mama yang masih di rumah nenek.
"Ada apa, Joy?"