
"Amanda naik ke atas! Ngapain disini. Aku temenin kamu. Cepet."
Namun, Amanda dengan tatapan kosong menjatuhkan diri di tangga.
"Amanda!"
Karena Joy yang kurang cepat, Amanda terguling hingga berada di kaki Joy.
"Manda, bangun." Joy menepuk-nepuk pipi Amanda agar tersadar.
Tetapi tanpa Joy sadari dengan keadaan Amanda yang pingsan, tangannya sudah berada di leher Joy. Seketika mata Amanda terbuka lebar dan mencekekik Joy yang tidak fokus. Joy meronta\-ronta kehabisan napas ia berusaha membuka tangan Amanda yang memegang lehernya dengan cengkraman kuat.
"Akhh... Akh... Akh.. Lepassinnn.." Suara Joy terdengar pelan dan merintih.
Joy dicekik hingga badannya terangkat dan bersandar di dinding.
Brak!
Mereka berdua terjatuh. Bersamaan dengan lampu yang hidup. Amanda dalam keadaan pingsan sedangkan Joy yang masih syok hampir mati karena kehabisan napas.
Drap... Drap... Drap
Suara langkah seseorang yang sedang memakai sepatu hak tinggi terdengar terburu\-buru, Joy ketakutan setengah mati karena pikiran buruk sudah merasuki dirinya. Joy yang masih terduduk mundur menjauh, karena langkah kaki tersebut terdebgar semakin jelas dan mendekat. Bukannya mama ataupun ayah yang menghampirinya tetapi seseorang yang pastinya bukan manusia dengan baju merah menyala yang menjuntai hingga ke lantai dengan tangan panjang hampir menyentuh lantai mendekat. Matanya yang tajam menatapnya mengeluarkan cairan merah pekat.
Joy terdiam membeku dan pingsan. Samar\\-samar dalam pingsannya. Terdengar bisikan Seseorang harus mati dalam waktu dekat. Dalam ruangan gelap gulita, Joy yang terbangun melihat Amanda di ujung pandangannya.
"Amanda?" Tanyanya pada diri sendiri sambil mengucek mata.
Joy bangun dan berjalan mendekati Amanda. Dalam pandangannya Amanda terlihat berdiri tersenyum, namun setelah mendekati perlahan\-lahan yang terlihat hanyalah Amanda yang menggantung dengan rantai besi di lehernya.
Mata Joy terbelalak tidak percaya apa yang ia lihat. Segera ia berlari menuju Joy dan memeluk kaki bertujuan agar Amanda bisa bernapas. Namun, sudah terlambat Amanda sudah meninggal dengan keadaan menggantungkan diri sendiri.
"Enggak. Enggak. Amanda kamu harus hidup." Joy menangis meraung-raung tidak percaya.
Tiba\-tiba kaki Joy serasa di tarik sehingga ia terjatuh tersungkur. Pergelangan kakinya dililit oleh rantai yang sama persis dengan rantai yang di gunakan Amanda untuk menggantung diri. Joy melawan tarikan dari kedua kakinya untuk kembali ke tempat semula di dekat Amanda karena takutnya adiknya tidak bisa bernapas, ia masih beranggapan Amanda masih hidup.
Ia meronta-ronta. "Pergi! Kenapa kalian mau bunuh Amanda. Pergi kalian. Sialan!"
Umpatan itu sama sekali tidak menghentikan tarikan itu. Tarikan tersebut sangat kuat, perlawanannya berujung sia\-sia.
"Enggakkkk! Amandaaa bangunnnn! Enggak kamu gak boleh matiii!" Teriaknya histeris.
Ia terus berteriak dengan keadaan tubuh terseret. Kakinya terasa tidak menginjak tanah lagi. Ternyata ia berda di ujung jurang. Segera ia memegang apapun yang berda didekatnya. Namun, tarikan pada rantai itu sama sekali tidak berhenti.
"Aaaaa! Aku mohon. Jangan bunuh aku."
Tarikan pada rantai akhirnya berhenti. Tangannya masih bertahan pada sisi jurang. Joy masih tergoncang dan bisa bernapas lepas.
Tap! Tap! Tap!
Seseorang datang mendekati. Segera ia berteriak minta tolong.
"Siapapun disana tolong! Tolong aku!"
Seseorang datang dan menampakan wujudnya. Yang datang adalah Amanda dengan rantai besi yang masih menggantung dilehernya.
"Amanda kamu masih hidup."
Namun, bukan Amanda saja yang datang tetapi wujud wanita berbaju merah yang ia lihat kemarin malam muncul juga memegang pundak Amanda sambil berbisik.
Dengan tatapan kosong Amanda menggagukkan kepalanya mengikuti perintah tersebut.
"Jangan Manda. Dia jahat. Jangan dengerin dia."
Amanda berjalan perlahan menuju tangan Joy yang memegang sisi jurang. Di tangan Amanda memegang pisau yang berlumuran darah.
"Jangan Amanda!"
Pisau itu tertancap di tangan kiri Joy.
"Aaahhh!"
Pisau yang tertancap itu ditarik kembali dan ditancapkan lagi di tangan kanannya. Sekarang hanya tangan kanan Joy yang bertahan dengan keadaan tertancap pisau. Tangan kirinya bercucuran darah bergetar hebat kesakitan. Dan pisau itu kembali di tarik lagi oleh Amanda. Pertahanannya runtuh dan jatuh ke jurang yang dalam. Ia melihat wanita berbaju merah tersebut berubah wujud menjadi menyeramkan dengan mulut robek siap melahap Amanda yang ada didekatnya.
Darah Amanda dari atas mengucur kebawah dari sela sela jurang. Joy yang terjatuh dari jurang hanya bisa pasrah menutup matanya dan menyisahkan butiran\\-butiran air mata.
"Kak bangun!" Suara itu terdebgan samar, Joy merasa mengenali suara itu, mata tiba-tiba terbuka. Dan ia berada di tempat tidur dengan infus berasa di tangannya.
Ia merasa wajahnya basah karena keringat dingin yang bercucuran deras.
"Kakak! Akhirnya bangun juga. Aku khawatir sama kakak."
"Amanda kamu gak papa."
"Eh pasti karena ini ya." Amanda mengusap keningnya yang berplaster luka.
"Aku gak papa kok kak. Kak mimpi buruk ya. Sampe keringat gitu." Amanda mengambil tisu yang berada di dekatnya dan membantu mengelapi keringat Joy.
"Kita di rumah sakit?"
"Iya, kak. Kakak gak sadarin diri dua hari. Lusa malem kemaren ayah sama mama bawa kakak ke rumah sakit langsung."
"Kalau kamu?"
"Aku gak kenapa-napa. Cuma luka ini aja. Kayaknya jatuh di tangga waktu itu."
"Udahlah kak. Gak usah mikirin aku. Kakak makan dulu ya. Aku suapi. Kakak kan udah gak sadar dua hari. Sekarang harus makan."
Joy tersenyum sambil mengangguk.
"Ternyata itu cuma mimpi. Tapi mimpi itu terasa nyata banget." Kata Joy dalam hati.
Setelah makan, ayah dan mama datang. Mereka tersenyum senang karena Joy yang sudah sadarkan diri. Mama dan ayah bergantian menjaga Joy, sedangkan Amanda pulang untuk mandi dan berganti baju karena sudah menjaga Joy semalaman.
"Joy mau makan apa? Ayah beliin."
"Joy cuma mau jus jeruk, yah. Beliin ya."
"Cuma itu? Yaudah ayah pergi beli dulu."
Ayah berjalan keluar pergi meninggalkan Joy dan mama. Mama menjaga Joy selagi Amanda dan ayah pergi.
"Ma, waktu itu kalian kemana."
"Mama sama ayah pergi cari kalian berdua. Mama khawatir sama kalian berdua karena belum pulang padahak udah malem. Mama telepon kamu gak dijawab-jawab. Mama tambah khawatir tau gak. Kami gak bisa nemuin kalian berdua, jadi mutusin buat pulang dan tau-tau kalian berdua pingsan di tangga. Mama sama ayah khawatir sama kamu yang kejang-kejang dan Amanda bangun dari pingsannya bantuin kami bawa kamu ke mobil."
"Amanda gak kenapa-napa?"
"Dia gak kenapa-napa. Cuma lebam di kepalanya doang."
Joy terdiam merasa aneh.
"Kalian kenapa kok bisa pingsan?"
Joy terdiam sebentar tidak ingin menceritakan malam itu.
"Joy kok diem."
"Emm... Joy gak inget apa-apa ma."
"Yaudah kalau gak inget apa-apa gak usa dipaksaain."
Joy berpikir mengapa beberapa hari yang lalu selalu mendapatkan kejadian yang aneh dan pelik. Ia juga merasa aneh dengan Amanda yang awalnya terpuruk tiba\-tiba biasa\-biasa saja.