Frankenstein's Odd House Secrets

Frankenstein's Odd House Secrets
CHAPTER 1 : DUA



"Amanda kamu jangan bercanda."


"Aku gak bercanda, kak. Udahlah, kak aku mau ke rumah Astrid." Amanda beranjak dari kasur Joy mengganti pakaian.


"Ingat jangan pulang sore-sore nanti di cariin mama."


"Iya."


Setelah berganti pakaian Amanda keluar kamar dan berjalan menuju rumah temannya yang tidak terlalu jauh hanya beberapa blok.


*****


Hari sudah sore, baru saja kamar milik Amanda di perbaikilah oleh tukang yang ayah pesan. Ufuk barat sudak berwarna jingga kemerahan, namun Amanda belum kembali. Mama sudah mengomeli Joy karena adiknya belum pulang. Joy sudah berusaha menelepon Amanda tetapi tidak diangkat. Akhirnya Joy menyusul Amanda ke rumah temannya.


"Ma, Joy nyusul Manda dulu."


"Iya cepet sana udah dewasa kok gak inget pulang."


Joy berjalan menuju rumah Astrid yang berjarak empat rumah dari tempat ia tinggal. Ia mengetuk pintu rumah teman Amanda dengan sopan.


Tok! Tok! Tok!


Pintu dibuka oleh orang tua Astrid.


"Oh Joy kakak Amanda ya?"


"Iya tante. Amanda nya ada?"


"Loh Amanda gak ada mampir ke sini, Astrid aja dari tadi siap pergi naik mobil di jemput Haiden."


"Haiden? Oh gitu ya tante. Makasih informasinya. Maaf tadi ganggu."


"Oh iya sama-sama."


Joy berbalik kembali ke rumahnya dengan setengah berlari. Ia masuk ke dalam rumah dengan terburu\-buru.


"Amanda mana, Joy?"


"Ada kok, ma. Nih Joy mau jemput." Joy kembali keluar menuju garasi disamping rumahnya untuk mengambil mobil.


Mama yang tadinya ingin bertanya lagi mengurungkan niatnya karena Joy sudah berlari keluar dengan cepat.


"Argh!" Joy memukul setir mobil, geram.


Amanda menyukai Haiden dan Haiden pun mendekati Amanda. Amanda pernah bercerita bahwa Haiden menyatakan cinta padanya, namun Joy menolak keras dengan alasan Haiden hanyalah seorang lelaki yang suka bermain dengan cinta.



Karena perkara Haiden mereka berdua menjadi berkelai. Sekarang Joy takut terjadi sesuatu pada mereka berdua.Joy mengemudi dengan gelisah, mobilnya melewati jembatan yang berada di atas sungai.



Pandangan Joy tiba\-tiba terfokus pada seseorang yang berada duduk di pinggir pembatas jembatan. Semakin mobil menjauh, semakin ia merasa bahwa dirinya mengetahui siapa itu.



Mobil berhentu mendadak, Joy segera keluar dari mobil dan berlari ke arah seseorang yang telah ia curigai adalah Amanda. Tetapi saat Joy sedang berlari kearahnya, Amanda sudah bersiap untuk terjun.


"Manda jangan bodoh!"


Tangan Joy memegang tangan Amanda.


"Manda ayok naik. Cepet. Jangan bodoh." Bentak Joy.


Akhirnya Amanda mau naik dengan bantuannya.


Plak!


Suara tamparan itu begitu nyaring.


"Kamu gila ya? Orang pengen hidup lama. Kamu pengen cepet mati hah. Sadar dirumah masih ada orang yang khawatir sama kamu.


"Kak. Mereka jebak aku. Aku diperkosa kak." Amanda menangis.


"Siapa hah siapa."


"Haiden sama Astrid kak."


"Astaga, Manda. Udah sekarang kita masuk mobil dulu." Joy memapah Amanda masuk mobil.


"Udahlah, Manda. Jangan nangis terus."


"Kakak gak ngerasain. Gimana aku nanti."


"Sekarang baru nyesel kan, udah berapa kali kakak ingetin gak usah deketin Haiden. Sekarang ini akibatnya kamu cuma jadi mainan doang."


"Udah kak cukup. Udahhh." Amanda menutup telinganya sambil terus menangis.


Joy menghela napas kasar. Mereka hanya terdiam di dalam mobil. Tidak lama kemudian mereka berdua sampai di depan rumah.


"Kamu turun duluan." Amanda turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa berkata.


Ia melihat kearah depan terlihat ada mobil yang terparkir di rumah Astrid. Joy menghidupkan mobilnya dan segera menuju ke rumah Astrid. Dan benar saja di sana ada Astrid dan Haiden sambil bercanda ria. Joy memarkirkan mobilnya tepat di belakang mobil Haiden dan keluar mobil dengan tangan terkepal.


Ia menghampiri Astrid dan langsung menamparnya.


"Kak Joy!" Teriak Haiden kaget yang melihat Joy menampar Astrid tiba-tiba.


Joy berbalik ke arah Haiden dan menamparnya juga.


Astrid yang tidak tiba-tiba menarik tangan Joy.


"Maksudnya apa nampar orang kayak gini."


Joy menghempaskan tangan Astrid darinya.


"Harus aku yang tanyak kalian, kalian udah ngelakuin apa sama Amanda? Kenapa kalian ngejebak Amanda?"


"Jebak Amanda? Seharian ini kami aja gak ketemu sama Amanda. Aku sama Haiden dari siang jalan-jalan ke mall. Bukan Haiden sama aku aja yang pergi ada temen-temen kami juga."


"Kalian jangan ngelak deh. Senengkan kalian ngerusak masa depan Amanda."


"Yaudah kalau gak percaya tanya aja temen-temen nih. Kalau perlu CCTV dirumah di cek sekalian."


Joy menelepon beberapa teman Astrid dan Haiden bahkan ia mengecek CCTV rumah Astrid mengecek keberadaan Amanda. Joy memegang kepalanya kasar saat ia mendapatkan jawaban tidak ada Amanda dalam rombongan mereka dan CCTV pun tidak ada menunjukkan keberadaan Amanda dirumah Astrid tersebut bahkan mobil yang mereka naiki pun langsung pergi berlawanan dari rumah Amanda.


"Aku minta maaf yang tadi."


"Makanya kak kalau masalah kurang jelas jangan asal main tangan." Ucap Astrid sinis.


Joy meminta maaf lagi dan langsung pergi pulang.


Saat Joy masuk ke dalam rumah tidak ada siapa\-siapa. Biasanya mama dan ayah ada di ruang keluarga untuk menonton televisi, Joy tidak memikirkan dimana mama dan ayah ia hanya langsung menuju kamarnya untuk merebahkan diri. Ia memikirkan masalah yang tadi dan akhirnya ia mengacak\-acak rambutnya karena frustasi.


"Apa sih ini! Yang betul yang mana?" Ucap Joy setengah berteriak.


Joy berusaha menenangkan diri bahkan sampai tertidur, ia terbangun karena karena tiba\-tiba suara orang berbicara dari ruang keluarga. Ia mendengarkan saksama dan berusaha bangun, namun ia tidak bisa menggerakkan badannya sama sekali. Bahkan sekarang ia merasa sesak napas. Kamar yang tadinya terang karena cahaya lampu mendadak gelap. Suara orang yang berbicara pun tidak terdengar lagi.



Didalam pikirannya ada pemadaman listrik. Tetapi, ia tidak kunjung bisa menggerakkan badannya. Ia berteriak pun tidak bisa.


"Aahhhh!" Suara teriakan dari loteng kamar Amanda.


Joy semakin takut terjadi sesuatu kepada Amanda. Ia benar\-benar berusaha memaksakan diri agar bisa bergerak. Perlahan tanganya bisa digerakkan, ia pun menggunakan tangannya untuk menambah tenaga. Kakinya pun akhirnya bisa digerakkan. Ia meraba kasurnya untuk mencari handphone, Joy sama sekali tidak dapat melihat apapun.


"Amanda, kamu kenapa. Jangan kemana-mana, aku nyusul." Teriak Joy.


Ia tidak dapat menemukan handphone\-nya, ia ingat bahwa ada lilin aromaterapi di samping tempat tidurnya. Ia meraba\-raba meja disampingnya.


Prang!


Suara barang pecah belah yang terjatuh. Ia pun beralih ke lantai mencari barang yang jatuh. Tangannya meraba pecahan kaca yang tajam, namun ia tidak peduli akhirnya ia mendapatkan lilin yang tinggal setengah.


Joy pun membuka laci\-laci dimeja untuk mencari pematik. Untuk mencari pematik pun ia kesulitan. Namun, untungnya tidak butuh waktu lama ia dapat menemukan pematik api. Segera ia menyalakan lilin aromaterapi itu. Terlihat dari cahaya lilin, tangannya berlumuran darah karena luka dari goresan pecahan kaca.



Ia berjalan keluar kamar. Ia mengarahkan lilin ke ruang keluarga namun ia tidak mendapati siapa\-siapa. Segera ia berjalan menuju tangga loteng. Namun, tiba\-tiba api lilin mati karena mungkin ini adalah lilin aromaterapi yang memiliki api yang kecil.



Untungnya Joy masih membawa pematik api, dan langsung saja ia menyalakan kembali lilin tersebut. Saat lilin yang sudah menyala, ia berjalan menaiki anak tangga dengan perlahan takut api kembali mati. Saat ia mengarahkan cahaya lilin ke tangga, Amanda berdiri di ujung anak tangga teratas.


"Amanda! Naik ke kamar kamu."


Amanda berdiri terdiam dengan kepala miring.