
"Halo, ma."
"Halo, Joy. Ada apa?"
"Ehm mama bisa gak pulang hari ini. Dirumah hari ini banyak kejadian aneh. Aku mohon mama pulang sama ayah."
"Kejadian aneh gimana?"
"Aku gak bisa cerita disini. Mama pokoknya harus pulang. Please ma."
"Yaudah mama bilang sama ayah. Kalau hari ini mama berangkat kemungkinan mama sama ayah sampai disana pagi."
"Gak papa, ma. Yang penting mama pulang. Aku gak mau harus ngalamin kejadian aneh terus."
"Iya-iya. Yaudah mama beres-beres dulu. Kamu baik-baik ya dirumah sama Amanda. Mama pasti pulang."
Ia mematikan telepon di handphonenya. Mendengarkan kabar baik itu Joy menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan pikiran sejenak. Sedangkan Amanda masih menangis sesenggukan.
"Sudahlah, Manda. Mama pulang nanti pagi. Kita pergi ke kamar aku aja. Tidur bareng."
Amanda hanya menuruti Joy tanpa berkata. Mereka turun berdua bersama\-sama, Amanda memegang tangan Joy erat\-erat. Diluar sudah mulai gelap dan mereka cepat\-cepat masuk ke kamar Joy. Ia merasa dikamarnya lah tempat yang paling aman untuk saat ini. Setelah sampai di kamar, Amanda langsung naik ke kasur dan terligat murung. Sedangkan Joy menyalakan saklar lampu.
"Sudahlah, Manda. Jangan dipikiran terus. Kamu laper gak?"
Amanda hanya menjawab dengan menggelengkan kepala. Tetapi Joy tetap mengeluarkan makanan yang ada di dalam kamar. Mereka hanya duduk terdiam selama berjam\-jam dan tidak berani keluar kamar.
Dok! Dok! Dok!
Mereka berdua tersentak kaget mendengar pintu kamar Joy dipukul kuat dari luar.
"Kak, kata kakak ini tempat paling aman. Tapi kok mereka ganggu kita lagi." Amanda meringkuk ketakutan.
"Jangan panik. Itu cuma bentar kok." Jawab Joy yang gugup.
Dok! Dok! Dok!
Pintu tersebut masih dipukul. Seakan seseorang ini menerobod masuk kedalam kamarnya. Suara pukulan pintu kamar Joy diikuti lampu kamar yang berkedip\-kedip dan akhirnya mati.
"Aahhh!" Mereka berdua berteriak histeris.
"Kak aku takut." Amanda memeluk Joy erat dan Joy pun memeluk Amanda tak kalah kuatnya.
Mereka menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Masing\-masing dati mereka pun sama sekali tidak berani membuka mata. Jantung Joy dan Amanda sama\-sama memburu. Di tambah dengan badan yang bergetar ketakutan.
Lama\-kelamaan suara itu menghilangkan sendirinya dan lampu kamar menyala kembali. Walaupun seluruh badan tertutupi selimut dan juga mata yang terpejam. Joy dan Amanda bisa merasakan cahaya dari lampu kamar.
Joy menggoncang\-goncang tubuh Amanda menandakan sudah tidak ada apa\-apa. Namun, Amanda masih tidak mau membuka matanya. Akhirnya Joy memberanikan diri menyingkirkan selimut dari kepalanya.
Betapa kagetnya Joy ketika melihat kepala makhluk yang ia lihat beberapa hari yang lalu muncul kembali berdekatan dengan kepalanya.
"Aahhh!"
Tangan panjangnya memegang leher Joy mencekik. Joy menendang\-nendangkan kakinya ke udara. Amanda yang tadinya masih memendamkan diri di selimut membuka selimutnya dan mengayunkan bantal menyuruh makhluk tersebut pergi.
"Pergi! Jangan ganggu kami lagi!" Teriak
Amanda sambil mengayunkan bantalnya tidak tentu arah dengan mata terpejam.
Dalam sekejap mata sosok mengerikan itu pergi. Mereka berdua bercucuran keringat. Perasaan takut yang sangat dalam masih memenuhi diri mereka. Dan mereka berpelukan menguatkan satu sama lain.
"Mendingan kita tidur sekarang aja. Semoga aja selagi kita tidur gak diganggu lagi." Sebagai kakak Joy berusaha menenangkan Amanda walaupun dirinya ketakutan.
****
Handphone Joy berdering! Segera ia mengangkat panggilan masuk yang berasal dari mama.
"Halo, Joy! Mama udah sampai di depan rumah. Tolong bukain pintunya."
"Mah Joy gak bisa buka pintunya. Joy kasih aja dari jendela ya."
"Emang ada apa sih? Yaudah mana mama udah di depan jendela kamu nih."
Kamar Joy memang berada paling depan dan jendela langsung menembus halaman depan. Joy membuka jendela kamarnya dan melihat keluar yang masih gelap dan berkabut. Ia memberikan kunci pintu kepada mama di luar. Setelah memberikan kunci, Joy kembali ke kasurnya. Joy melihat Amanda yang tertidur lelap.
"Aahhh!" Mama berteriak histeris dari arah dapur.
Joy langsung keluar kamar menuju dapur dan melihat keadaan mama.
Saat sudah berada di dapur, Joy diam terpaku dan terasa kedua kakinya sangat lemas sehingga jatuh. Bahkan ia tidak sanggup berdiri kembali saking syok. Ia berkali\-kali memejamkan mata dan membuka matanya kembali untuk memastikan apa yang ia lihat saat itu adalah nyata. Namun, beberapa kali ia berusaha pemandangan yang ada didepannya memang begitu adanya.
Mama masih berteriak histeris berkali\-kali tidak percaya dibarengi tangisan, Ayah pun masih terdiam seribu bahasa. Mereka sama sekali tidak mampu mendekat lagi.
Pemandangan yang ada didepannya adalah Amanda yang menggantungkan diri di dapur dengan rantai dan sama persis dengan mimpinya. Bukan hanya menggantungkan diri perut Amanda juga tertancap gelas yang masih utuh tetapi bergerigi tajam seakan hanya dipecahkan sebagian.
Joy menangis sejadi\-jadinya dan diikuti mama yang menangis histeris. Ayah berusaha menelepon ambulan dengan tangan bergetar dan mata yang berkaca\-kaca.
"Amandaaaa...." Teriak Joy histeris sambil menangis.
Mereka semua tidak berani mendekati Amanda mereka hanya menyaksikan Amanda meninggal dengan keadaan tragis. Dalam sekejap rumah Joy dikerumuni orang banyak. Saking syoknya mama dan Joy pingsan dalam ketidakpercayaan.
Joy sudah tersadar. Sosok wanita berbaju merah itu tersenyum ngeri kearahnya. Joy yang mengingat kematian adiknya merasa marah dan bahkan tidak ragu mengamuk kepada sosok yang membuat Amanda mati.
"Dasar kau makhluk sialan. Pergi kau ke neraka, ******. Sialannnn!"
"Hahaha!" Wanita itu tertawa ngeri.
"Aku suka warna merah kamu juga kan karena kamu kan perempuan. Emang aku salah. Darahkan warna merah jadi aku persembahkan untuk kamu juga. Tapi sebelum terima kasih. Ini enak." Sosok wanita tersebut menghilangkan begitu saja.
"Hei ******!! Segera kau pergi ke neraka!" Joy terus mengumpat sosok wanita tersebut dan akhirnya hanya bisa menangis pasrah.
****
Joy dan keluarga sudah mengangkut seluruh barang untuk pindah rumah. Ini semua desakan Joy yang sama sekali tidak ingin ada hubungan apapun dengan rumah itu dan merasa takut harus mengenang kematian adiknya. Mereka sekeluarga bersiap naik mobil untuk meninggalkan rumah terkutuk itu.
"******!" Gumam Joy menatap tajam ke arah rumahnya.
Dalam pandangan Joy, sosok wanita itu menampakkan diri lagi di depan rumahnya dengan senyuman sambil melambaikan tangan. Matanya merah dan berkaca\-kaca ketika sosok adiknya pun berada di sampingnya dengan rantai di lehernya seakan adiknya tersebut anjing peliharaan yang dirantai.
Mimpi mengerikan itu juga menjadi nyata. Sosok wanita tersebut mengubah dirinya menjadi sosok yang paling mengerikan dan melahap sosok adiknya dengan ganas.
Joy memejamkan matanya tidak kuat melihat bahkan menangis dalam diam setelah melihat kejadian itu.