Frankenstein's Odd House Secrets

Frankenstein's Odd House Secrets
CHAPTER 1 : SATU



BUKANNYA WANITA SUKA WARNA MERAH?


BUKANKAH TERLIHAT MENGGODA?


LOS ANGELES, 2012


 


Kisah ini bercerita rumah yang dibeli oleh sebuah keluarga 5 tahun yang lalu. Rumah yang dibeli ini berada di kawasan penduduk elite.


 


Selama Selama 1 tahun menghuni tempat itu mereka hanya mendapat beberapa gangguan, namun tidak terlalu dipikirkan.


 


 


Selama 3 tahun pun gangguan tersebut tidak membuat mereka terusik. Gangguan dari 1 tahun pertama dan 3 tahun terjadi kepada penghuni rumah yang berbeda-beda.


 


Tahun kelima ini sasaran mereka adalah kakak beradik Joy dan Amanda.


 


Pintu kamar di buka oleh Amanda adik dari Joy yang berbeda 4 tahun.


 


 


"Kak, atap loteng bocor. Aku tidur bareng kakak ya." Amanda berdiri didepan pintu yang terbuka sambil memeluk bantal dan badan yang terbungkus selimut.


"Yaudah sini. Besok kita bilang sama ayah." Jawab Joy yang tadinya sedang membereskan kasurnya.


"Iya kak."


 


Amanda berjalan mendekati ranjang kakaknya dan ikut naik ke kasur untuk tidur bersama.Mereka berbagi kasur dan tertidur nyenyak karena malam yang sejuk karena diluar sedang hujan deras.


 


Rumah ini dibeli oleh ayahnya kira\-kira 4 tahun lebih. Ayahnya membeli rumah tersebut karena lingkungan sekitar yang bagus dan juga jarak rumah mereka dengan kerabat tidak terlalu jauh.


Pencahayaan kamar yang minim membuatnya terlihat remang\-remang, Amanda terbangun dari tidurnya karena rasa haus ingin minum. Cahaya kilat sesekali membuka kamar terang dalam waktu singkat. Jam dinding menunjukkan pukul 2 lewat.Amanda turun dari ranjang menuju ke dapur.


 


 


"Kak temenin aku ke dapur yuk. Aku haus nih." Amanda dengan mata sayu menggoncang-goncang tubuh Joy untuk membangunkannya.


 


Joy menepis tangan Amanda dari badannya dan berbalik arah membelakangi Amanda.


 


"Dapur bukannya jauh. Pergi sendiri sana. Aku masih ngantuk." Jawab Joy dengan suara pelan.


 


Akhirnya Amanda memberanikan diri berjalan menuju dapur sendirian.Ia menekan sakelar lampu dapur yang tadinya mati. Amanda mengambil gelas dan berjalan menuju dispenser air. Ia meminum air beberapa teguk dan meletakkan gelas kosong dimeja makan.


 


Lampu ruang keluarga tiba\-tiba menyala. Karena jarak antara dapur dan ruang keluarga yang dekat dan tanpa pembatas, Amanda menyadari cahaya terang di seberangnya. Ia berjalan mendekati ruang keluarga, penasaran.


 


 


"Yah, ayah ngapain." Ia berpikir ayahnya lah yang menghidupkan lampu ruangan untuk menonton televisi.


 


Seseorang duduk di sofa single menghadap televisi yang mati.


 


"Yah kok tv nya gak dihidupin." Tanya Amanda lagi.


 


Kepala sosok yang duduk di sofa single itu berputar 180° ke arahnya dengan pandangan kosong dan wajah pucat.


 


Brak!


Pandangannya menghitam dan jatuh ke lantai.


****


 


Diluar jendela air dari atap masih turun rintik\-rintik, walaupun masih turun hujan gerimis di luar langit sudah terang di tutup awan mendung tipis.


 


Kring...kring...kring...


Suara dering dari jam beker di meja yang ada disampingnya. Joy terbangun dengan setengah sadar dan mata yang memicing karena masih terasa mengantuk. Segera ia mematikan jam yang berdering karena memekakkan telinga.


 


Ia berdiri dari ranjang, namun saat ia mulai melangkah Joy tersandung hingga terjatuh. Ternyata kaki Joy menyangkut di badan Amanda yang tidur di bawah dengan kondisi meringkuk kedinginan.


 


Joy yang terjerembab langsung memposisikan dirinya semula.


 


 


"Manda, bangun! Ngapain kamu tidur sini. Manda bangun!" Joy meneriaki adiknya dengan berkacak pinggang.


 


Amanda terlihat mengerjap\-ngerjapkan matanya. Ia terbangun dari tidurnya dan memposisikan dirinya dalam keadaan duduk.


 


"Kakak." Amanda mengucek matanya dan mendongak ke arah Joy yang berdiri di depannya.


"Kamu ngapain tidur disini. Kalau sampai ketahuan mama habis aku diomelin."


Amanda terlihat linglung melihat sekeliling.


"Hm? Aku kok bisa disini kak?"


"Loh kok balik nanyak sih."


"Aku gak inget kak. Kak dingin banget." Amanda menggosokkan tangannya ke badanny yang terasa dingin.


"Salah sendiri siapa suruh tidur dibawah."


"Hoam! Aku masih ngantuk. Aku lanjut tidur." Amanda merangkak menuju ranjang dan tidur kembali sambil menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut tebal di kasur.


"Manda. Udah pagi gak usah tidur lagi. Nanti dimarah mama."


"Yaudah kakak tinggal bilang mama, kalau aku tidur lagi. Inikan hari Minggu."


"Bodo ah."


 


Joy berjalan keluar kamar menuju dapur untuk ke kamar mandi. Terlihat mama yang duduk di meja dapur yang meneguk segelas air sambil memijat pelipisnya.


 


Ia mengurungkan niatnya sebentar menuju ke kamar mandi dan menghampiri mama.


 


 


"Mama kenapa?" Tanyanya.


"Kok gak bisa tidur?"


"Semalem mama mimpi buruk terus. Bentar-bentar kebangun. Mama aja kurang tidur ini." Jelas mama kepada Joy.


"Yaudah biar Joy aja yang nyiapin sarapan, mama istirahat aja lagi."


"Beneran nih mama ke kamar dulu ya."


 


Joy hanya mengangguk. Mama berjalan menuju kamar sedangkan ia berjalan ke kamar mandi.


 


Setelah beberapa menit, Joy bersiap memasak untuk sarapan pagi itu.


 


 


Saat ia sedang memasak terdengar suara Amanda yang berteriak, segera ia berlari ke arah kamar dengan tergesa-gesa.


Ia membuka pintu kamar.


"Manda! Amanda bangun!"


 


Amanda masih tertidur, namun ia berkeringat dan berteriak seakan ketakutan. Akhirnya ia membuka matanya dengan suara napas yang memburu.


 


"Kamu kenapa sih?"


Amanda terdiam tidak menjawab pertanyaan dari Joy.


"Amanda! Joy!" Ayah dan mama datang ke kamar mereka dengan muka khawatir.


"Ada apa kok teriak?" Tanya ayah sambil berjalan mendekat.


"Itu, yah. Kayaknya Manda mimpi buruk deh." Jelas Joy.


Tiba-tiba Joy berdiri dan berlari menuju dapur.


"Ada apa lagi, Joy?"


"Masakannya Joy, ma." Jawabnya terburu-buru.


 


Ayah masih menemani Amanda di kamar, sedangkan mama menyusul Joy di dapur.


 


"Tumben kamu masak, nak?"


"Hah? Kirain mama sakit tadi."


"Sakit? Mama baik-baik aja tuh. Mama aja baru bangun tidur gara-gara kaget denger Manda teriak."


"Oh ya?"


"Iya mama sehat loh sayang. Udah kamu mendingan bawain air untuk Manda, biar mama yang lanjutin."


"Oke."


Joy mengambil gelas dan air untuk Amanda.Sambil berjalan Joy bergumam.


"Apa tadi aku masih tidur ya."


"Ngomong apa kamu, kak."


"Enggak kok, yah. Ini minum dulu, Manda."


 


Amanda mengambil air dari tangan Joy dan menghabiskan segelas air penuh dalam sekejap.


 


"Manda mimpi apa, yah?"


"Gak tau tuh dari tadi ayah tanyak gak dijawab-jawab."


"Manda coba kamu ngomong. Jangan bikin orang khawatir deh."


 


Namun, Amanda tidak juga berbicara. Ia justru acuh dan membaringkan diri kembali dengan keadaan membelakangi ayah dan Joy.


 


"Udahlah, kak. Biarin dulu. Kita sarapan aja dulu."


"Iya, yah."


Mereka pun berjalan bersama menuju dapur. Sarapan sudah tersaji di meja makan. Mereka makan dengan tenang tanpa banyak bicara.


 


Tiba\-tiba Amanda datang ke dapur dan langsung mengambil sarapan.


 


"Loh kamu udah gak papa, Manda?"


"Ehm, gak papa kok kak. Perut aku laper."


"Tapikan tadi kamu-"


"Sudahlah, Joy. Biarin Manda makan dulu." Potong mama.


 


Joy menatap Amanda sambil menyuapi makanannya. Amanda yang menyadari, menatap kembali kakaknya tersebut.


 


"Kenapa sih, kak? Kakak kalau mau nanyak nanti habis makan ya."


 


Joy membuang muka dan melanjutkan makannya. Selesai makan Joy membantu mama memcuci piring kotor, sedangkan Amanda masih melanjutkan makannya yang belum habis.


 


"Yah, kamar Amanda katanya bocor semalem." Joy berbicara dengan ayah yang sedang meminum kopinya sambil menyuci piring .


"Oh yaudah nanti ayah panggil tukang."


 


Selesai memcuci piring joy kembali ke kamarnya dan ada Amanda yang sudah sedari tadi berada di kamarnya.


 


"Manda, tadi kamu kenapa sih? Ayah sama mama tuh sampe khawatir tau sama kamu."


 


Amanda yang tadinya sedang bermain handphone, meletakkan handphone di sampingnya.


 


"Seharian ini aku merasa gak enak aja kak. Hati aku gak tenang."


"Terus yang tadi kamu bangun-bangun teriak-teriak."


"Teriak-teriak? Kapan emangnya?"


"Loh tadi. Kamu bangun-bangun udah teriak-teriak sampe keringetan. Habis tuh gak ada ngomong apa-apa lagi. Kayaknya kamu tuh tadi mimpi buruk."


"Is. Aku gak ngerti kakak ngomong apa. Tadi pas sarapan aku tuh baru bangun tidur karena laper. Sejak kapan aku teriak-teriak. Mimpi buruk? Aku rasa pas tidur gak ada tuh mimpi buruk."


"Kamu jangan main-main deh."


Next?