
Pukul 10.00 malam nampak semakin pekat, tidak ada bintang, bulan pun terlihat malu menampakkan wujudnya, sepertinya tidak lama lagi hujan akan turun mengguyur bumi.
Kenzie memarkirkan mobilnya tepat didepan Klinik. "Turun," perintahnya.
Liana menekuk wajahnya kesal, "kenapa nggak langsung pulang aja sih, gue bisa kok ngobatin luka kayak gini mah, nggak harus ke klinik." gerutunya.
Ken berjalan kesisi kiri mobilnya.
"Bisa turun nggak? atau mau aku gendong?" ujarnya menggoda liana agar segera keluar dari mobil.
Keningnya menggernyit mendengar ucapan Ken yang terdengar sedikit ganjil di telinganya.
aku? gue nggak salah denger kan?
"Gue bisa sendiri," sanggahnya.
"Oke." jawabnya, memberi jalan.
Dengan susah payah Liana berusaha berjalan dengan kakinya yang masih terlikir, sesekali memejamkan mata menahan sakit, sampai pada akhirnya memilih membuang rasa gengsinya, Ia berhenti berjalan, memejamkan mata sembari menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan pelan. Kenzie yang berjalan di belakang Liana pun ikut berhenti, kemudian maju mensejajarkan posisinya, kedua alisnya bertautan memperhatikan tingkah Liana, "are you okay?." Liana mengangguk mengiyakan, "lalu?" tanyanya lagi.
Liana kembali mengatur nafas, kemudian dengan cepat memegang erat lengan Kenzie. Apa kenzie kaget? ya! tentu saja!, ia tertegun dengan perlakuan Liana yang sangat tiba-tiba, tapi ia menyukainya, tak lama kadua sudut bibir Ken terangkat tersenyum simpul.
"Nggak usah GR, gue cuma ... cuma minta tolong minjem lengan lo aja, kan lo tau sendiri kaki gue sakit," ujar Liana membuang pandangan menghindari kontak mata dengan Ken.
Senyum Kembali merekah di wajah Ken melihat sisi lain dari seorang Liana pada saat gugup.
tanpa mengucapkan apapun ia langsung membantu menuntun Liana ke dalam klinik, beberapa menit setelahnya ia kembali melajukan mobilnya menuju rumah Liana. Di tegah perjalanan pulang hujan pun akhirnya mengguyur bumi dengan derasnya.
Sikap Liana kembali aneh, kegelisahan nampak jelas dari raut wajahnya.
"Are you okay?" tanya Ken melihat kegelisahannya.
Liana mengangguk pelan, "nggak apa-apa, agak cepetan dikit ya," pintanya.
"Okay." jawabnya sembari menaikkan kecepatan mobilnya.
***
Sampai di depan rumah Liana. sebelum ia beranjak dari kursinya, sejudes apa pun dia, ia masih tahu cara berterimakasih dengan benar.
"Mau aku anterin sampai kedalam?" ujar Ken menawarkan.
"Nggak usah, gue udah bisa sendiri kok, ouwh ... atau mau mampir dulu?"
Ken menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lagi-lagi senyumnya merekah, "lain kali aja kalau boleh," Liana langsung membalas dengan anggukan pelan.
"Oke, kalau gitu gue turun, oia sepeda gue?" tanyanya kembali.
"Owh, biar Aku bawa, ntar abis dibenerin baru Aku balikin."
"Nggak usah, itu urusan gue. Gue nggak mau terus terusan berhutang budi sama orang lain." Ken mengangguk pelan tidak ingin memaksakan kehendaknya, ia meraih payung dari jok belakang kemudian keluar dari mobil dan menurunkan sepeda Liana, "thanks."
"No Problem." jawab Ken.
Ken tepaku setelah melihat adegan kedekatan keduanya.
"Sean?" gumamnya pelan, hatinya bergejolak tidak lagi bisa berfikir jernih, "ada hubungan apa diantara mereka?" memukul stir mobilnya dan langsung beranjak pergi.
***
Liana memasuki halaman rumahnya, kemudian menaruh sepeda di samping teras rumahnya, tak lama pintu terbuka sebelum ia ketuk, Liana sedikit terkejut melihat siapa yang membuka pintu.
"Kak Alfin? kok bisa disini?" belum menjawab pertanyaan dari Liana refleks ia langsung menariknya ke dalam dekapannya.
"Aku khawatir, kamu kenapa baru pulang?" tanyanya perlahan melepas pelukannya.
"Aku nggak apa-apa, ceritanya di dalam aja ya," balas Liana yang kemudian Alfin mengusap puncak kepala Liana.
"Ok, kaki kamu?" tanyanya lagi.
"Karna ini, makanya telat pulang," jawabnya diiringi senyum sembari Alfin menuntunnya masuk.
Liana bercerita panjang lebar, begitu detail, dari awal ia pulang kerja hingga akhirnya dia terjatuh dan Ken menolongnya.
"Ken? dia nolongin kamu?" tersenyum simpul.
"Iya ... kenapa?"
"Oh, nggak apa-apa, cuman ... ada baiknya kamu nggak usah terlalu dekat sama dia" ujarnya sedikit ragu.
"kenapa gitu?"
"ya, Nggak kenapa-napa," jawabnya.
"aku nggak mau kamu kenapa napa Li, karna aku tau Ken suka sama kamu." Batinnya.
"Tenang aja kak, kak Alfin tau kan sifat aku kayak gimana. Oh iya, mama gimana kak? Nggak kambuh kan? soalnya mama takut hujan." nada suaranya melemah di akhir kalimat.
"Tante Ami baik, dia udah tidur dari tadi, kamu nggak usah terlalu khawatir kan udah ada perawat yang ngejagain," ujarnya.
Tersenyum simpul "Makasih ya kak, kalau gitu aku tinggal yah, mau liat mama dulu,"
"Yaudah, aku juga udah mau balik." ujarnya.
Liana mengangguk pelan, "hati hati kak," tanpa menjawab lagi Alfin hanya melempar senyum hingga detik selanjutnya ia beranjak pergi.
***
Disinilah ia saat ini, di dalam kamarnya yang didominasi warna putih. ketika tiba di rumah, Ken langsung masuk menuju kamarnya, menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dengan posisi terlentang menatap langit-langit kamarnya.
Wajah Liana kembali menari nari di pikirannya, dan Sean! yang ia lihat dirumah Liana benar-benar berhasil membuat pikirannya terganggu. Tanpa berpikir lagi ia langsung meraih gawainya di saku celananya, ia scrool ke atas mencari nama Sean dan langsung menghubunginya.
Visual Kenzie...