FLY WITH YOU

FLY WITH YOU
4. Lamaran Pantun



Seperti rumput tetangga terlihat begitu indah dan perfect, Kenzie pun seperti itu selalu terlihat sempurna, terlihat indah tapi di hatinya berongga. hanya saja Dia terlalu pandai menyembunyikan seakan tidak pernah terjadi sesuatu.


Pagi ini dia di kejutkan dengan sebuah mobil yang parkir di halaman rumahnya, tiba-tiba seorang laki laki paruh baya berperawakan tinggi tegap, dibalut dengan stelan jas begitu rapi turun dari mobil. Sejenak Ia tertegun berusaha untuk tidak mau peduli, saat ingin berpaling pergi, suara berat itu menghentikan langkahnya.


"Ken... Apa kabar?" ujarnya sedikit ragu, menimbang-nimbang apakan ia harus melanjutkan ucapannya atau tidak,ia pun berusaha menerima kalau Ken tidak menggubrisnya, Ken masih terdiam berdiri membelakangi.


"Lama tidak bertemu." Lanjutnya.


"bertemu?" sebelah bibir Kenzie terangkat tersenyum sinis. "untuk apa? Tidak pernah bertemu bukannya lebih baik!" sarkasnya menekankan kemudian melanjutkan langkahnya dan berhenti kembali ketika lelaki itu memanggilnya.


"Ken! Ayah mohon, Ayah hanya minta 5 menit,hanya 5 menit ayah mau ngomong" bujuknya.


"2 menit." Balas kenzie.


"baik... besok ayah berangkat ke New York, ayah hanya ingin melihat keadan kalian sebelum kembali lagi, ayah sangat merindukan kalian."


"Kami baik-baik saja bahkan lebih baik dari sebelumnya, kalau mau pergi silahkan saja, kita ngak akan peduli!" sarkasnya.


Senyum getir yang nampak diwajahnya mewakilkan kegundahan hatinya yang merindukan pengakuan dari sang anak "Masih sebenci itu?" ujarnya lirih sembari mengangguk kecil."Sampai kapan kamu akan terus bersikap seperti ini? Menganggapku sebagai orang asing." lanjutnya.


Kenzie membalikkan tubuh jenjangnya, menampakkan senyum sinis penuh arti, "Tuan Austin yang terhormat... Kuping gue geli sebenernya denger pertanyaan anda. Asal tau aja, Semenjak anda memilih untuk pergi, bagi kami anda hanya orang ASING! So, please, don't disturb us. Waktunya sudah habis." Kenzie segera pergi tanpa berbalik lagi.


***


Saat ingin berangkat ke sekolah seolah langkah Sherin dicekal melihat pemandangan dari balik jendela, dua orang yang terikat darah tapi tak terlihat sebagaimana semestinya, tidak sehangat hubungan ayah dan anak pada umumnya, hatinya begitu teriris rasanya ingin berlari keluar memeluk ayahnya meluapkan rasa rindunya.


Namun nyalinya begitu kecil saat melihat Kenzie, ia tak ingin mengecewakannya. Beberapa saat setelah Kenzie benar benar pergi ia langsung berlari keluar menghambur ke pelukan ayahnya, Sherin tak peduli dengan bundanya yang sedang menatapnya.


"Ayah."panggilnya dengan nada yang masih sesegukan.


***


Lapangan Sekolah sudah mulai ramai dipadati para siswa dan siswi yang sedang bersiap mengikuti upacara.


Liana berdiri di barisan pertama dan rifa tepat di belakangnya. Beberapa menit upacara berlangsung lancar, murid-murid mulai bubar menuju kelas masing-masing.


"Li, liat deh. Kak Kenzie natap lo dari tadi tau." bisik rifa.


"Bodo amat," jawab Liana ketus.


"Pengen deh ditatap gitu juga, yampun bakal meleleh gue, apalagi kalau dikasih bakso, iii romantis banget" celetuk Salma.


"Kok kak Sean ngak keliatan sih, pagi-pagi gini liat yang dinginkan makin seger," timpal Aida sambil memainkan ujung rambutnya.


Liana memutar bola mata jengah "kalian semua kenapa sih? Uuh,"keluhnya melajukan langkahnya.


"Liana kenapa sih?" tanya salma polos, sepolos kain kafan.


"Lagi pms kali," masih dengan pose memainkan ujung rambutnya.


"Lo **** apa pura-pura ****? Liana kesel lo nyebut bakso. udah ah buruan."


Apa hal yang paling disukai bagi siswa selain hari libur? Yah betul, saat jam pelajaran kosong. Pagi ini kabar gembira menyeruak di kelas 11 IPA2 guru biologi yang seharusnya mengajar di jam itu sedang sakit. Liana yang tadinya baru masuk kelas, melihat kelasnya bagaikan pasar ikan, ada yang bernyanyi bak artis jalanan, ngobrol, ngegosipin artis-artis yang jelas-jelas ngak kenal mereka, dan beberapa memilih untuk tidur. Sedangkan Liana sendiri memilih untuk keluar dari zona tidak nyaman, mencari tempat lebih tenang.


Kala ia berbalik ingin Keluar dari kelas, suara bariton melantunkan pantun menghentikannya.


"Bunga mawar bunga melati


Adriel melamar L**iana menanti**." seisi kelas heboh mendengar pantun yang di ucapkan Adriel.


"Wadidaw."


"Gas terus El."


"Langsung datengin bapanya riel."


"Lanjut..lanjut." dan berbagai macam sorakan lainnya.


Wajah Liana memerah menahan rasa kesal, isi perutnya bagaikan sedang di aduk-aduk membuatnya terasa mual.


"Liana." panggil adriel, "jangan pergi dulu dong, gw belum selesai." Lanjutnya.


"Mau lo apa lagi sih." Balas Liana.


"Denger, Jalan-jalan ke kota Paris


Biar pun aku mati di ujung keris


Asal mendapat Liana yang manis." Melipat kedua tangannya di depan dada sembari melemparkan senyum arah Liana.


Mendengus kesal, menahan rasa pusing yang mulai menggerogoti kepalanya,


"B**unga lili bunga melati


pantun lo basi bau bangkai**," balas Liana emosi, "jangan ganggu gue." lanjutnya menekankan sambil menunjuk adriel kemudian pergi, terdengar tepukan dan suara tawa dari teman-teman kelasnya menyoraki kegagalan adriel.


Liana berlari ke toilet, berdiri didepan kaca menenangkan perasaannya sambil membasuh wajahya dengan air, perlahan memijat pelipisnya guna mengurangi rasa sakit kepalanya, setidaknya sedikit berkurang setelah menenangkan perasaan dan sedikit merefleksi dengan pijatan tangannya.


***


Kenzie, Sean, Dimas dan Brian duduk berdampingan di pinggir lapangan setelah latihan futsal, Sean yang tidak begitu suka dengan futsal dan lebih dominan ke basket, tapi demi Nilai di pelajaran olahraga dia rela mengikuti. berbeda dengan Ken yang mana bola itu seperti sudah menyatu dengan dirinya, hingga menyukai olahraga bola jenis apapun.


"Lo bawa minum ngak?" tanya Sean keteman temannya.


"Abis nih."ujar Brian


"Nih gw bawa, masih kesegel kok, coba aja" celetuk Dimas, Sean meraih air mineral dari tangan Dimas.


untuk beberapa saat Mereka hanyut dalam obrolan, membahas pertandingan basket kemudian beberapa kali Dimas dan Brian mengungkit soal cewe dari A sampai Z untuk mengusik Kenzie, namun seperti biasa Kenzie tidak terlalu menggubris. Sedangkan Sean hanya diam menyimak dan sesekali mengomentari, Dimas tidak lagi mengusik Sean dengan merekomendasikan kenalan wanitanya setelah Sean mengatakan Dia sudah menyukai seseorang.


obrolan terus berlanjut hingga sampai dititik tatapan Kenzie tertuju pada seorang gadis yang berlari di koridor.


"Itu Liana kan!" ujar Ken lirih.


Sean melirik ke arah tatapan Kenzie, "Sepertinya." jawabnya.


"Ngapain dia lari-lari?" tanya Brian.


"Mana gue tau," balas Kenzie.


"Kebelet kali, itu belok ke toilet." timpal Dimas.


Tak lama mereka melihat ketiga teman Liana menyusul.


"gue pergi dulu,"ujar Kenzie berlari kecil ke arah rifa dan temannya


"Mau kemana woy," teriak Dimas, langkah Ken terhenti dan membalikkan tubuhnya.


"Nyamperin Liana."


"Wih, gercep amat, kalau mau ngintip ajak kita ngapa."


"Nyebut Dim, otak lo udah banyak virusnya," sindir Sean.


"Virus corona," Timpal Brian.


"Sorry, Otak gue masih suci, maksiat nggak usah ngajak ngajak," sahut Ken.


"Lah, kalian udah pada tobat, **** gue nggak di ajak" balas Dimas


Ken hanya menggelengkan kepalanya, lalu pergi, Ia tahu jika terus menyahuti obrolan teman temannya Ia akan kehilangan kesempatan bertemu Liana saat itu.


"Tunggu!.. kalian ngapain pada lari-larian?" tanya Ken tiba-tiba mengagetkan mereka.


"Kak Ken." ujar rifa tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya.


"Gue tanya... kalian ngapain lari-larian? tadi kalau ngak salah liat, Liana juga."


"Eemmm.. iitu kak." jawab Salma gugup "ini bukan mimpikan di ajakin ngobrol sama kak Ken" lirihnya sangat pelan sambil mencubit pipinya sendiri.


"Itu kak, abis di lamar sama Adriel pake pantun, mungkin syok kali. jadi langsung pergi, kita lagi mau nyusul Liana."celetuk Aida.


"Aida, ember banget sih." Rifa mengigatkan "udah yuk, permisi kak." lanjutnya.


"Tunggu... biar gue yang nyamperin, kalian balik ke kelas aja." Ujar Ken antusias.


****