FLY WITH YOU

FLY WITH YOU
5. Recurrence!! (kambuh)



Kenzie masih berdiri Di depan toilet, sudah sekitar 5 menit, setelah ia meminta Brian untuk membawakannya air mineral dari kantin. Kenzie menyandarkan punggungnya ke dinding, sedang salah satu tangannya ia masukkan ke saku dan satunya lagi masih setia memegang botol mineral. 10 menit berlalu akhirnya orang yang ia tunggu menampakkan batang hidungnya, keluar dan berjalan tanpa meliriknya sedikitpun.


Kenzie berdecak kesal, "Liana." Panggilnya.


Mendengar namanya dipanggil, Liana berhenti sejenak namun tak langsung menoleh, ia masih berfikir kalau ia hanya salah dengar karna faktor perasaan dan kepalanya yang masih terasa nyeri, sesaat hendak melangkah pergi panggilan itu kembali menggema dan terdengar lebih jelas.


"Liana Marissa!" Dan disini lah, Kenzie berdiri tepat di depannya, "lo, pura pura nggak liat gue? lo sengaja kan!"


Melihat yang memanggil namanya adalah Kenzie, kedua alisnya bertautan.


"Lo manggil gue? ada apa?" tanyanya.


Spontan kedua sudut bibir Ken terangkat mengembangkan senyum, "lo, kalau ngomong sama kakak kelas bisa sopan dikit ngak?"


"Nggak!" jawab Liana jujur, "klau sama lo nggak bisa! lo cuma mau ngomong itu? gue pergi." Lanjutnya.


"Tunggu! gue belum selesai ngomong, dan lo belum jawab pertanyaan gue."


"Pertanyaan? yang mana?" ujarnya memasang wajah seakan akan sedang berfikir.


"Tadi lo pura-pura ngak liat gue, apa bener-bener ngak liat?"


"Oh... itu. Ternyata itu elo, gue kira penampakan tadi." Ujarnya berbohong, karna saat keluar toilet ia benar-benar tidak memperhatikan sekitarnya.


Kenzie menyodorkan sebotol air mineral di depan wajahnya, "ambil."


"Buat gue?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.


Kenzie membalasnya dengan anggukan.


"Nggak ah, ntar ngutang lagi." sindirnya.


Spontan Kenzie tertawa mendengar penuturan Liana, "Gue tulus..ini buat lo," hening sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, "Gue tau, lo abis di gombalin sama si jarjit kan?" kembali memasang senyuman khasnya.


"J...jarjit?" tanya Liana kebingungan.


"yah, Adriel! kan mereka sodara kembar."


Kali ini Liana yang tersenyum lebar mendengarnya, memperlihatkan deretan giginya yang rapi, tanpa ia sadari Ken menatapnya begitu dalam.


"Lo bisa senyum juga ternyata."


Seketika Liana terdiam_sedikit gugup, dan meraih botol mineral itu dengan sedikit kasar, "thanks," ujarnya, kemudian pergi.


Disisi lain Ken masih terus mengikutinya dari belakang. Karna risih terus diikuti, akhirnya Liana membalikkan badannya dan langsung membuka mulut, "Lo, mau apa lagi sih? kenapa masih ngikutin gue?" ujarnya kesal.


"Gue ngak ngikutin lo," jawabnya.


"terusss, lo ngapain dari tadi jalan di belakang gue? gue mau ke kelas. So, stop ngikutin gw!" perintahnya.


"Mau tau banget gue mau kemana?" godanya.


Liana memutar bola matanya jengah, "Ngak penting." balasnya sinis, masih terus berjalan menuju kelasnya.


"gue mau ke perpus, tapi mau mampir di kelas lo dulu, want to meet someone." menaikkan kedua alisnya.


Hingga akhirnya Liana memasuki ruang kelas dengan perasaan sedikit lega setelah melihat pak Sofyan memanggil Ken, artinya Ken tidak akan mengikutinya terus sampai kelas, mungkin ia harus berterima kasih kepada gurunya itu. Namun setelah melihat wajah Adriel, Kepalanya kembali pening, Ia menarik nafas perlahan mencoba melupakan kejadian sebelumnya.


 


***


 


Mbok Tiyem adalah wanita tua yang telah bekerja di rumah itu selama bertahun-tahun, ikatannya dengan keluarga itu sudah seperti ibu dan anak. Karna Mbok Tiyem hidup hanya seorang diri, jadi dia memilih untuk mengabdi di rumah itu, rumah peninggalan almarhum kakek nenek Liana, yang ditempati Liana saat ini.


"Ada apa mbok? pelan-pelan, atur nafas dulu." ujar Rina.


"Itu Non, Nyonya Ami.." Ia tampak ragu mengatakannya.


"Ami kenapa, mbok." Tanyanya semakin bingung.


"ngamuk." Ucapnya.


mendengar laporan dari mbok Tiyem membuatnya terperanjat hingga mempercepat langkahnya menuju ke dalam rumah diikuti mbok Tiyem.


"Sejak kapan mbok? udah diminumin obat belum?" tanyanya sembari terus berjalan.


"Sekitar 30 menitan Non, dari tadi Mbok ngehubungin tapi hp Non nggak aktif, belum tak kasih obat. Wong tadi lgi mau mbok, bawaiin obat tiba tiba ngamuk, tadi neng Liana buru-buru berangkat, jadi minta tolong sama Mbok." Tuturnya menjelaskan.


"Oh gitu...Oia, lupa. Handphone saya matiin tadi pas rapat, Mbok nggak nelfon Liana kan?" meraih gawainya dari dalam tas.


"Itu non, karna panik... jadi mbok nelfon neng Liana tapi nggak diangkat juga, trus nelfon den Alfin." ujarnya pelan.


"Yasudah, sekarang Ami dimana?"


"Di kamar non, mbok kunci,"


"Yaudah, mbok tolong ambilin obatnya ya, saya mau nelfon mas Irfan dulu."


"Baik Non."


mbok Tiyem bergegas pergi, sedang jari jemari Rina menari nari di atas layar benda tipis itu mencari nama suaminya, tanpa membuang waktu ia langsung menghubungkan telfon memencet tombol hijau.


Mbok tiyem datang dengan nampan di tangannya, berisi air dan beberapa macam obat, tepat setelah Rina memutuskan sambungan telfonnya, "sini Mbok," meraih nampan dari mbok Tiyem, "oh ya Mbok, saya udah nelfon mas Irfan minta dia kesini sama nyariin perawat, nanti kalau udah dateng suruh langsung ke kamar ka Ami aja ya, mbok," pintanya.


"Baik Non."


"Makasih Mbok."


Perlahan membuka Knop pintu, pandangannya menjelajahi seluruh ruangan kamar, ia menemukan ruangan itu benar-benar hancur, lantainya di penuhi barang-barang yang dilempar ke sembarang arah, pecahan kaca meja rias berserakan. Ia melihat penampilan mama Liana yaitu kakak kandungnya sendiri, begitu berantakan. Isakannya masih terdengar jelas,dengan posisi duduk disudut kamar sembari memeluk lututnya.


"Sepertinya sudah agak sedikit tenang," gumamnya dalam hati. Perlahan mendekati mama Liana, Rina mengangkat tangannya, dengan hati-hati menyentuh puncak kepala mama Liana. Refleks mama Liana mendorongnya hingga terjatuh.


"Aawh," rintih Rina saat berusaha menopang tubuhnya dengan tangan yang menahan kelantai, tanpa sadar tangannya mengenai pecahan kaca, darah segar yang mengalir di tangannya tak ia hiraukan.


"Tenang kak, ini aku Rina. Aku tidak akan melukaimu. Oke...Kak Ami jangan takut," ujarnya meyakinkan mama Liana.


Tapi sayang bujukannya tak berhasil, ia kembali melemparkan barang-barang yang ada di sekitarnya, dengan tubuh yang bergetar, tangisnya semakin histeris, sembari mulutnya mengucapkan suatu kalimat berulang kali, "jangan sakiti aku!..menjauh dariku!.." Rina mulai ketakutan, semakin bingung harus melakukan apa. Untunglah diwaktu yang tepat suaminya datang dengan seorang perawat disusul Alfin dan Liana.


Dengan sigap Pak Irfan mendekapnya dari belakang menahan kedua tangan Ami, lantas perawat itu segera menyuntikkan obat penenang, Liana yang melihat itu semua hanya terpaku membisu, sampai dititik Alfin angkat bicara, "jangan ditahan, kalau kamu mau nangis Aku siap meminjamkan bahuku. Kapanpun kamu butuh." akhirnya tangisya pecah, tak tertahan.


setelah beberapa menit setelah di suntikkan penenang mama Liana terlelap. Raut wajahnya terlihat begitu tenang, saat ia terlelap.


***


"Li, bunda mau ngomong sesuatu, kita ngobrol di luar yah."


Alfin menuntun Liana keluar dari kamar.


"Aku, bisa sendiri kok kak." ujarnya sambil tersenyum.


"Ok, aku agak khawatir." balas Alfin.


"I'm okay." kembali memasang senyum palsunya.