FLY WITH YOU

FLY WITH YOU
3. Reality In Life



Faktanya cowo hangat seperti Kenzie bisa saja meluluhkan hati semua kaum hawa, Tapi baginya tidak! karna ia faham kalau hati itu bukan Permainan Lego yang kapan saja bisa dibentuk, dihancurkan kemudian dibentuk lagi.


Kenzie Matthew yang ketampanannya bak Dewa yunani. Selain tampan, Kenzie juga termasuk murid cerdas jadi tidak hanya bermodal wajah tampan tapi juga otak. Bagaimana para Bucin ngak klepek klepek! bahkan ada yang sampai rela membuang harga dirinya dengan mengemis Cinta agar di jadikan pacarnya. Tapi bukan Kenzie namanya jika tidak punya 1001 cara untuk menolak mereka.


"Bro, gue balik duluan yah." Pamit Kenzie dengan mengepalkan tangan, memukul satu persatu tangan temannya.


"Mau kemana lu?" tanya Dimas, temen yang paling urakan diantara mereka berempat.


"Mau nongkrong di perempatan jalan," jawabnya.


"Brian ajak aja, kali ketemu jodoh Di lampu merah, si tulang lunak." ujar Dimas semangat.


"Anjay." Spotan, tangan Brian mendarat tepat di kepala Dimas, satu jitakan berhasil membuat Dimas meringis kesakitan. "Ya kali, jeruk makan jeruk." Sanggah Brian.


Sedangkan disisi lain Sean hanya menggeleng pelan mendengar obrolan temannya lantas berdiri membereskan laptop dan bukunya ke dalam tas.


"Gue juga cabut." ujar Sean berdiri tanpa menggubris pertanyaan temannya, satu lemparan tatapan datar berisyarat "Bukan urusan lu" dari sean mampu mumbungkam mulut dimas.


"Rahasianya apa sih? Sean bisa bikin lo langsung mingkem padahal ngak ngomong apa-apa," celetuk Brian


"Rahasia perusahaan. Lo ngak denger aja, bahasa orang ganteng emang gitu pake bahasa qolbu," jawabnya.


Brian menyunggingkan senyum " percaya gue, percaya."


***


Terik matahari semakin tak bersahabat, tidak terasa menghangatkan, tetapi terasa terbakar. Sudah setengah hari Liana berkeliling mau tak mau Liana harus terus mengayuh sepedanya dibawah terik yang begitu menyengat, bukan tanpa tujuan, namun karna tujuannya itu membuatnya kuat tetap bertahan.


Sepedanya berhenti di depan sebuah cafe yang bergaya classic dan bekelas. Setelah melihat pengumuman yg tertera di depan kafe "Lowongan Kerja" untuk posisi waiter dan pengisi Live Music, Liana bergegas memarkirkan sepedanya dan tanpa membuang waktu sedikitpun ia segera memantapkan lagkahnya kedalam cafe. Pandangannya mengitari ruangan cafe,terlihat dari interiornya tertata rapi dan fotogenik, juga menyajikan pemandangan yang menyejukkan mata dengan panorama hijau yang bikin mata takjub menjadi kombinasi yang kece.


Setelah menyerahkan CV ke pegawai cafe, Liana menunggu beberapa saat sebelum dipanggil kembali. Kurang lebih satu jam lamanya ia menunggu hingga tiba namanya dipanggil untuk sesi interview. Baginya ini pengalaman yang pertama, Tapi dengan mudah Liana bisa menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dihujani untuknya "Kamu bisa memainkan alat musik apa saja,"


"Piano dan gitar pak," jawab Liana mantap.


"Baik, kita langsung test ya." Mempersilahkan Liana untuk memulai, tangannya mulai menari di atas piano, begitu lihai membentuk melodi indah. Tidak begitu sulit ia melewati test dan akhirnya diterima setelah membuat HRD Recruitment di ruangan itu takjub.


"Malam ini kamu sudah bisa mulai kerja," ujar Pak Zein mantap menerima mempekerjakan Liana bukan hanya karna cafenya masih tergolong baru dan membutuhkan banyak pegawai ,tapi setelah melihat bakat dan potensi yang besar dari Liana ia menempatkan di posisi musik dicafenya.


"Baik Pak." jawabnya dengan mata berbinar tak disangka ia akan diterima secepat itu.


***


Setelah menyalakan mesin mobilnya, Kenzie tersentak kaca mobilnya yang tiba-tiba diketuk, sesat kemudian keningnya mengernyit menurunkan kaca mobilnya.


"Ngapain lu?" langsung melemparkan pertanyaan.


"Gue ikut." Balasnya cepat, Sean berjalan memutari mobil menuju sisi kanan lantas membuka pintu dan duduk manis di samping kemudi, membuat kenzie membelalakkan matanya dibuat takjub dengan sikap Sean yang terkadang tiba-tiba itu.


"Perasaan gue ngak iyain." Sindir kenzie.


"Kok lo tau? lo stalkerin gue ya, jangan bilang lo_" belum selesai berbicara, Sean langsung memotong ucapan Kenzie yang sudah dia tebak ujungnya.


"Ngak usah ngarang,udah jalan. Gue bukan mau ketemu ade lo, dia bukan type gue! jadi ngak usah ngarang lagi." lanjut sean.


Tawa Kenzie pecah mendengar penuturan Sean yang begitu jujur, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan standar. Seketika hening, memang selalu seperti itu jika hanya mereka berdua saat nebeng di mobil Kenzie, lebih sering memilih diam bergelut dengan pikiran masing-masing, tidak begitu banyak obrolan.


setelah beberapa menit kenzie memecahkan keheningan, dengan suara yang sedikit ragu saat berbicara.


"Sean..."


"hmm."


"Mmmm menurut lo, junior itu, bagaimana?"


Sean mengatur posisi duduknya, menatap Kenzie, kedua sudut bibirnya terangkat menyungging kan senyum penuh tanya.


"Junior? yang mana?" tanyanya memastikan.


"Yang murid baru."


"Oooh maksud lo cewe yang dikantin waktu itu, kenapa? lo naksir? ngak biasanya lo ngomongin cewe." Cibir Sean. Bukannya menjawab pertanyaan Sean, Kenzie hanya mendengus dan melemparkan tatapan tanda tak ingin melanjutkan obrolan setelah disudutkan dengan pertanyaan dari sahabatnya itu.


kali ini berganti Sean yang tertawa lepas pertama kali melihat Kenzie begitu gugup.


***


Liana kembali ke rumah dengan senyum merekah, sebelum membersihkan diri Ia berjalan menuju kamar utama, pintunya tertutup rapat, perlahan membuka knop pintu, terlihat wanita paruh baya yang tak lagi memiliki semangat hidup duduk di atas kursi kayu, menatap lurus keluar jendela. Liana tahu tatapan itu. Kosong! tatapan itu kosong dan fikiran yang entah berkelana kemana mungkin masih terjebak di masa lalu. Tak sadar butiran bening itu berhasil lolos dari Sudut mata Liana tiap kali menatap wanita yang selama ini menjadi satu satunya alasan ia tetap berdiri tegap.


Perlahan ia mendekat, menghapus butiran bening di pipinya, digantikan dengan membingkai senyum yang paling indah. sembari Berjongkok di hadapan wanita yang berstatus sebagai ibu kandungnya.


"Ma, apa kabar? Lily disini. Mama ngak perlu khawatir lagi soal Lily, hari ini Lily mulai kerja paruh waktu, ngisi Live music piano di cafe," terdiam sejenak, melihat sorot mata mamanya yang masih terjebak di masalalu masih menatap lurus dengan mimik wajah datar tanpa ekspresi, entah ia mendengar atau tidak "Ma, Lily mungkin akan sedikit sibuk. Tapi Mama jangan khawatir, Lily bakal usahain tetap ngeluangin waktu, ada bunda juga kok yang bakal temenin Mama, jadi mama ngak akan kesepian." Liana menghela nafas berat, kedua sudut bibirnya terangkat membingkai senyum menutupi gundah di hatinya. "Mama baik-baik ya, jaga kesehatan,Lily pulangnya bakal telat terus, Lily pergi dulu." Lanjutnya.


***


"Bun, malam ini Liana bakal pulang telat, Liana nitip mama yah, kalau mama udah tidur Bunda pulang aja ngak usah nunggu Liana." ujarnya sesaat sebelum pergi sambil mencomot brownis di atas meja.


"Mau kemana jam segini? anak gadis ngak baik loh keluyuran malem malem." ujar bundanya mengigatkan.


Liana menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya menjadi tanda ok. menandakan dia baik baik saja.


"Bunda tenang aja, Liana ngak keluyuran kok." sanggahnya, sambil mununjukkan deretan giginya.


"Liana berangkat ya Bund." lanjutnya mencium punggung tangan Bundanya.


"Ya sudah, Hati-Hati. Pulangnya jangan kemaleman,"


"Siap Bunda." tangannya membentuk tanda hormat didahinya.