
Tentu semua orang pasti memiliki luka dalam hidupnya, itu konsekuensi kehidupan. Entah mereka memilih merahasiakannya atau menjadi konsumsi publik,mengharapkan belas kasihan atau lain halnya.
Tapi baginya, memikul pilu itu sendiri sudah cukup. Tak butuh pundak lain untuk
membantu.
Seperti hujan yg turun tanpa mendung, seperti itu juga rasanya tersenyum di balik air mata hambar. Sesak tapi masih tetap bisa bangkit.
Liana bergegas mengayuh sepedanya sepulang sekolah,terlihat peluh keringat di pelipis,membuatnya segera membasuh badan setelah sampai di rumah,berdiri di bawah shower membiarkan air mengalir ketubuhnya.
"Ahh, segarnya," gumamnya.
Seketika masa lalu menghampirinya, air yang terasa segar menjadi seperti duri yang jatuh berkali kali menimpanya, membuatnya begitu sesak. tubuh yang tadinya bersandar, perlahan berjongkok memeluk lututnya. tangisnya pecah membelah malam,tanpa sadar sudah 2 jam lebih lamanya dia di kamar mandi berteman kan sunyi dan sepi hanya ada suara gemercik air, serta isakan yang mulai melemah.
TokTokTok suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya "Iya" jawabnya.
"Li." panggilnya sembari mengetuk kembali "Kamu ngapain? Kamu nggak apa apa kan?" tanyanya tersirat rasa cemas.
"Nggak apa apa bund, bentar lagi," jawabnya cepat, mematikan keran sambil menghapus sisa sisa cairan bening di pelupuk matanya.
"Oh,syukurlah! ada yg nyariin kamu nih, bunda tinggal ke dapur dulu yah."
Keningnya mengernyit,pikirnya siapa yang mencarinya? disini dia belum punya kenalan atau teman, kecuali kenalan disekolah tadi,apa mungkin? "Oh, iyya bund." jawabnya kemudian bergegas keluar.
"Hei," Sapa seorang lelaki dengan postur tubuh tegak berdiri di samping nakas tempat tidurnya memengang sebuah bingkai foto, yah! Itu foto Liana.
Keningnya mengernyit, alisnya kembali bertautan. Tanda kebingugan nampak jelas diwajahnya, " Hei j__juga," ujarnya sedikit kikuk, bagaimana tidak? seorang laki laki masuk kekamarnya, dalam keadaan dia baru mandi! Untungnya Liana keluar sudah berpakaian lengkap memakai baju piyama pink polos dengan celana pink polos panjang, sedang rambutnya masih terbungkus rapi dengan handuk.
"Ngeliatinnya nggak usah gitu juga kali Li,berasa kayak diliatin rentenir," ujarnya kemudian tertawa pelan, "Lo pasti bingung kan? Keliatan kok, gue ALfi! Masa lo lupa sih."
"A__Alfi?" berfikir sejenak, "Oh Kakak! yang dulu agak gemuk itu kan!, ya ampun aku speechless tau, kok bisa secakep ini sih?" sambil berjalan mengitari tubuh Alfi.
"Duduk sini," setelah Alfi duduk di sisi kasur ia menepuk nepuk sisi kasur sampingnya meminta agar Liana duduk di sampingnya. "Tante Ami apa kabar?" mendengar pertanyaan itu beberapa saat mulut Liana hanya bungkam, menundukkan wajahnya tersirat kesedihan yang begitu mendalam, tapi tak lama Ia sadar kalau dia tidak boleh lemah harus tetap kuat. Wajahnya kembali terangkat dengan menyunggingkan senyum.
"Sorry, kalau pertanyaan gue salah," lanjut Alfi.
"Ng ngak kok," kembali menyunggingkan senyum. "Aku yakin mama akan baik baik aja, gue cuman ngak enak harus ngerepotin bunda terus," menghembuskan nafas berat.
Obrolan mereka terus berlanjut, dari topik masa kecil yang terkadang membuat mereka tertawa, hingga jam menunjukan pukul 9. Setelah makan malam dan melanjutkan obrolan, Alfi pamit pulang.
❇❇❇❇
"Baru pulang kak? Mama belum makan tuh! nungguin kakak pulang, tapi ngak pulang pulang. Sampai sampai ketiduran disofa," cerocos adiknya yang tiba tiba datang.
"Iyye bawel! berisik lu, udah kayak kucing kawin aja."
"Bedalah, enak aja!" balasnya kemudian memanyunkan bibirnya.
"Ada apa sih ribut-ribut?" mendengar pertengkaran kecil kedua anaknya ia terbangun, matanya mengernyit, membetulkan posisi duduknya "Ken kamu baru pulang?" lanjutnya.
"Ia Ma, biasa abis ngumpul sama temen." menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Temen apa temen?" ledek Sherin yang masih berdiri menyenderkan badannya di dinding sambil memasukkan cemilan kemulutnya "Oia lupa, kak Ken kan presiden jomblo yak, nasib jomblo ngumpulnya bareng temen." Celetuk sherin diiringi tawa kemudian bergegas pergi setelah satu bantal Sofa berhasil melayang hampir mengenainya.
"Udah...udah. Ken ngak usah diladenin! sana.. kamu mandi dulu, ganti baju abis itu kita makan bareng," ujar mamanya.
"Wokey." Beranjak dari tempat duduknya, menaiki anak tangga satu persatu menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.
Setelah membersihkan badan sejenak Ken merebahkan badannya diatas kasur king size, menatap langit langit kamarnya yang putih. Tak terasa kedua sudut bibirnya terangkat keatas membingkai senyum mengingat gadis berambut Sebahu itu, kejadian di kantin berhasil mengganggu fikirannya, bagaimana tidak!.. masih teringat jelas ekspresi wajah Liana yang malu hingga berakhir marah.
"Manis." gumamnya pelan.
❇❇❇❇
selamat membaca.
temen temen jngan lupa komentarnya ya buat support author...
butuh asupan mood booster dari kalian
luv.