FLY WITH YOU

FLY WITH YOU
7. Fall In Love



Ruangan kelas yang tadinya dipadati murid, kini mulai berangsur sepi, hanya ada beberapa murid yang masih sibuk berkutat dengan buku-buku catatannya.


"Sean." Panggil Ken sepulang sekolah, "Gue mau ngomong," lanjutnya.


"Ngomong apa? send whatsapp aja, gue buru-buru. Sorry ya," menepuk lengan Kenzie.


kenzie hanya berdiri mematung menatap punggung Sean Yang akhirnya menghilang dibalik pintu, terselip sedikit rasa kecewa karna hasrat ingin tahunya belum tuntas. Menurutnya dihantui rasa penasaran itu benar-benar sangat menguras hati dan pikiran .


"Bisa-bisa gue mati penasaran kalau kayak gini," mengacak rambutnya Frustasi.


Kemudian meraih tasnya dan berlalu pergi setelah mengingat ucapannya beberapa jam yang lalu di kelas Liana, "shit, gue hampir lupa" berlari menuju parkiran.


Sesampainya di parkiran, lagi-lagi ia hanya terdiam menatap lahan parkir yang mulai sepi itu. Huufffttt ... Menarik nafas panjang kemudian ia hembuskan dengan kasar.


"Sepedanya udah nggak ada," ujarnya lirih, sambil mengangguk pelan, "Stupid!" gumamnya melempar hujatan untuk dirinya sendiri.


Batinnya mulai berkecamuk, "bisa-bisanya gue berharap kalau dia bakal nungguin gue!"


tersenyum getir dan kembali membenahi perasaannya, "Oke, lo lari berarti gue harus ngejar lo," ujarnya Mantap pada dirinya sendiri, ia yakin tidak akan salah mendeteksi perasaannya sendiri bahwa dirinya mulai menyukai gadis judes itu.


***


Pukul 08.35, masih bercengkrama dengan pekerjaan barunya, jarinya terus menari diatas keyboard piano, membentuk musik instrumental yang begitu indah, dengan adanya music Live itu menjadi salah satu poin tersendiri bagi Cafe bernuansa classic itu untuk menarik perhatian banyak pengunjung.


Dan yah! hampir setiap malam pengunjung membludak memenuhi seat dalam Cafe.


sebab penyajian nuansa dan rasa yang sangat pas untuk sekedar family gathering atau dinner.


Tiba waktunya Liana untuk pulang. Bergegas meraih tasnya menuju ke tempat ia memarkirkan sepedanya, karna langit sudah menunjukkan sisi gelapnya yang semakin pekat, ia mengayuh sepedanya dengan terburu buru, karna ia paham hidup di jakarta itu keras, setiap hari harus bertemu banyak orang di jalan dengan karakter yang berbeda-beda pula, yang ia takutkan jika bertemu dengan orang yang tidak tepat, entah itu pencopet, penculik ataupun begal. membayangkan itu semua Liana bergidik ngeri hingga semakin mempercepat mengayuh sepedanya.


Namun diluar ekspestasinya, yang ia harapkan dan yang ia pikirkan, jika pempercepat mengayuh sepedanya maka akan lebih cepat juga ia sampai di rumah. Tapi sayangnya tidak, tuhan berkehendak lain, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi, hampir saja menabraknya, untunglah si pemilik mobil langsung membanting setir sehingga hanya menyenggol sepedanya dan BRUUKK ia terjatuh.


Celana jeans yang ia kenakan sobek dibagian lututnya menampakkan luka benturan dari aspal, dan pergelangan kakinya yang sedikit terkilir.


"Aawhhh," rintihnya saat berusaha berdiri.


***


Tuhan selalu punya cara untuk mempertemukan seseorang dengan kata kebetulan, bukan? ataukah karna memang takdir mereka ... entah itu dengan cara yang unik atau dengan cara yang lainnya mungkin tidak begitu penting, karna yang terpenting bisa bertemu dengan seseorang yang terkadang membuat kita kehilangan kewarasan.


Sebuah Mobil berwarna white diamond**, dengan kecepatan pelan berhenti dan menepikan mobilnya tepat di depan kerumunan itu, tak lama ia turun untuk memastikan kalau Ia tidak salah Lihat.


"Li? kamu..." belum sempat menyelesaikan ucapannya, Liana langsung menodongnya dengan pertanyaan.


"Kamu ngapain disini?" ujarnya sambil mendirikan sepedanya dibantu beberapa orang.


Sedangkan Ken langsung mengalihkan fokusnya ke orang-orang yang mengerumuni Liana, berusaha tidak menggubris pertanyaan dari Liana.


"Nggak apa-apa Pak, Bu. Ini temen saya, biar saya yang ngurusin" ujarnya ke beberapa orang yang mengerumuninya.


Liana tersenyum simpul, "iya, pak."


"Yasudah kalau begitu. de' di anterin berobat dulu, kasian itu kaki temennya."


Ade? hello gue bukan ade lo, lagi pula gue tau apa yang harus gue lakuin.


"iya pak, terimakasih." ujar Ken sesopan mungkin sampai akhirnya mereka bubar.


"Gimana?" Tanya Ken.


"Gimana apanya?" jawabnya, entahlah ia memang nggak ngerti, atau pura-pura nggak ngerti.


"Kaki lo! Gue tanya kaki lo gimana?"


"Oh, ini ... nggak apa-apa," balasnya.


"Gue anterin pulang." menarik pergelangan tangan Liana.


"Nggak, makasih. Gue bisa pulang sendiri kok." tegasnya.


melihat liana yang sedang berdiri sambil memengang sepedanya berusaha menahan rasa sakitnya. "Nggak usah ditahan, berdiri aja susah kok, gimana mau jalan" sindirnya.


melemparkan senyuman sinis kearah Ken, "Gue bisa pulang sendiri, lo nggak perlu buang-buang waktu lo disini, oke!" lanjutnya, sembari memaksakan langkahnya menuntun sepedanya yang juga sedikit rusak, bengkok di bagian stang.


"Aawhh" Rintihnya spontan.


Kenzie yang tidak lagi tahan melihat gengsi Liana yang begitu besar, serta keras kepalanya yang begitu luar biasa. Ia langsung menggendong paksa Liana masuk ke mobilnya, sedang sepedanya ia ikat di bagian belakang mobilnya.


"Lo apa-apaan si!" protesnya, "buka nggak pintunya!" tidak menghiraukan ucapan Liana dan langsung mengudikan mobilnya.


"Lo denger nggak sih, turunin gue!"


"Nggak, dan jangan harap ... by the way Alamat Rumah lo dimana," mendengar itu Liana memilih untuk bungkam, berharap Ken akan menurunkannya, hingga beberapa menit Ken menunggu Liana tak juga buka suara.


"Oke, klau itu mau lo, mungkin lo masih mau disini lebih lama lagi sama gue, tak tik lo oke juga." ujarnya diiringi senyuman.


Spontan Liana terbelalak, perutnya terasa diaduk-aduk mendengar ucapan Ken.


dengan senang hati langsung menyebutkan alamat rumahnya.


"Loh, ini mau kemana? kan gue udah ngasi tau alamatnya."


"Bisa diem nggak?, nurut aja." perintahnya.


Hah?? dia minta gue nurut? dia pikir dia siapa! seenaknya perintah gue, awas aja kalau sampai macem-macem, nggak bakalan gue kasih ampun!


Gerutunya.