
Di dalam kelas, ia mencoba bersikap tetap cuek, sebisa mungkin dia mengabaikan aura horor dari Adriel di ruang kelas. Dan yang tadinya dia fikir lega karna Ken tak lagi mengikutinya sampai dikelasnya, ternyata salah! yah, tidak lama setelah Liana masuk kelas, ruangan kelas tiba tiba Heboh didominasi suara cewe cewe, apa lagi kalau bukan karna 'Kenzie lovers'. Saking terobsesinya mereka, kaum hawa di sekolah ini membentuk Grup dengan nama "Kenzie Lovers".
Liana menundukkan kepalanya di meja "Ahk, terimakasihnya gue batalin pak," Gumamnya dan bersikap Pura-pura seakan tidak tahu kalau yang datang adalah Kenzie, "ok, santai Li, dia nggak datang buat nemuin lo, rilex." Batinnya.
"Liana." Panggilnya, membuat seluru isi kelas termangu, bisikan-bisikan tetanggapun dimulai, termasuk Adriel. beberapa merasa patah hati karna kecewa kalau Ken datang untuk murid baru itu.
"Ngapain lo nyariin Liana?" tanya Adriel menggebu.
"Bukan urusan lo, jit." Balasnya.
Adriel berdecak, emosinya mulai sedikit tersulut, "cih, jangan pikir karna lo senior, gue nggak berani sama lo," sarkasnya.
"Gue kesini nggak mau cari ribut, gue nyari Liana!" ujarnya menegaskan, "Li, gue tau lo denger gue." lanjutnya
Adriel tersenyum miring, "dia nggak mau ketemu lo, mending lo pergi sebelum gue__"
Mendengar ucapan Adriel, Liana segera berdiri memotong ucapan adriel, menghentikan ke duanya sebelum obrolan mereka semakin memanas.
"Stop! urusan Ken sama gue, lo bisa diem nggak!" ujarnya sedikit menggertak Adriel, "Dan lo, ngapain lagi nyari gue." Lanjutnya.
"Oh, my god. You know? you are the first woman to be rude to me. But i like it." Ucapnya diiringi senyum. "Pulang sekolah gue tunggu di parkiran, lo baliknya sama gue!" lanjutnya.
"Gue bisa pulang sendiri." Balasnya.
"Apa? gue nggak denger!" kembali melemparkan senyum, "Tidak menerima kata penolakan, bye." berlalu pergi.
Liana mendengus kesal, 'argh, bisa bisanya dia maksa gue' batinnya. Seisi kelas 11 IPA 2 dibuat semakin heboh,sebab pertama kali melihat Kenzie, mengajak seorang wanita di sekolahnya pulang bersama. Tanpa sepengetahuan Liana beberapa murid memotret dan mengabadikan moment itu dengan video, kemudian menyebarkan ke grup 'Kenzie Lovers'. Dan yang terjadi? BOOM! ledakan keras dari penggemar Kenzie. Tak sedikit dari mereka yang memaki, mengumpat dsb.
"Li, Liat deh." Ujar Salma, saat ingin menunjukkan isi hpnya, tiba-tiba Guru teladan datang memasuki kelas, bersamaan dengan bel yang berbunyi. tanda masuk jam pelajaran ke dua.
krrriiiinggg... krrriiiinggg....
Jam pelajaran berakhir. Para siswa menghaburkan dirinya, sebagian banyak memilih memanjakan perutnya ke kantin.
sedangkan Liana masih duduk di bangkunya, 0ia meraih gawainya dari dalam tas, seketika ia mendelik melihat 5 panggilan tak terjawab dari mbok Tiyem dan ada 1 message masuk.
'Kak Alfin?' batinnya.
Ia membuka pesan masuk dari Alfin.
(Aku tunggu di depan gerbang sekolah, sekarang.)
Tanpa berfikir panjang lagi, Liana bergegas menuju ke gerbang sekolah. Ia melihat seorang laki-laki berseragam sama sepertinya duduk di atas motor kawasaki putih, terlihat dari sorot matanya memandangi kendaraan yang berlalu lalang.
"Kak Alfin?" ujarnya, memastikan.
"eh, Liana. Tadi Mbok Tiyem nelfon kamu kan?"
Liana mengangguk, "iya, Tunggu deh! Kak Al sekolah disini juga? kok nggak pernah ngomong?" tanyanya penasaran, "terus,kenapa Aku nggak pernah liat kakak selama sekolah disini?" selidiknya.
Alfin tersenyum simpul, ia berdiri memposisikan tubuhnya di depan Liana lantas kedua tangannya terangkat memegang kedua bahu liana "Nanti Aku jelasin, sekarang ada hal yang lebih penting dari itu semua. Oke? ikut aku." ujarnya.
Liana mengernyitkan kening, "Tapi ini masih jam sekolah, kita mau kemana? "
"Tante Ami." jawabnya.
"Mama? mama kenapa?" mulai tersirat rasa khawatir, terpasang jelas di raut wajahnya.
"Aku juga nggak tau pasti, tadi mbok nelfon katanya dia nelfon kamu rapi nggak di angkat, mama kamu butuh kamu sekarang, tenang aja tadi udah aku izinin kok." jelasnya.
Karna panik tanpa pikir panjang lagi Liana langsung mengiyakan, ketakutan akan mamanya yang kadang menyakiti dirinya sendiri lantas membuatnya bergegas naik ke atas jok.
***
"kamu videoin kan?" tanya jessica yang bersembunyi di samping pos satpam tepat di samping gerbang masuk sekolah.
"biar tau rasa dia." Ujarnya dengan senyum menyerigai. "masih murid baru aja udah banyak tingkah, tadi deketin Ken sekarang deketin Sean." ujarnya emosi.
"nih, videonya langsung gue kirim ke grup ya."
mereka saling bertatapan, kemudian mengangguk mantap.
"Kalian pada ngapain disini?" tanya gurunya yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Eee... itu pak, ng...nggak ngapa-ngapain." u
jawabnya gugup.
"ini kita mau pergi kok pak, yuk." dengan terburu-buru mereka segera pergi, untuk menghindari pertanyaan yang lebih dalam lagi.
Ya! Grup Whatsapp kian heboh, tak sedikit yang menghujatnya, yang memaki. Dan ada satu akun yang terus mengompori mereka, setelah dicek Akunnya fake, tidak ada yang tau siapa dia. Teman-teman lianapun tidak hanya diam saja, mereka ikut berkomentar membela liana.
Ken yang sudah mendengar dari teman temannya dan melihat video itu langsung mencari Liana ke kelasnya namun hasilnya nihil, dia belum juga kembali ke sekolah. Liana dihujat karna dirinya, dan Sean?... klau karna dirinya yah itu masih masuk akal_ baginya. Tapi Sean? apa hubungannya dengan Liana? kenapa mereka kelihatan begitu dekat?, satu persatu pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dikepala Ken, begitu mengusik pikirannya.
***
Li, bunda mau ngomong sesuatu, kita ngobrol di luar yah."
Alfin menuntun Liana keluar dari kamar.
"Aku, bisa sendiri kok kak." ujarnya sambil tersenyum.
"Ok, aku agak khawatir." balas Alfin.
"I'm okey." kembali memasang senyum palsunya.
Bunda dan ayah Alfin sudah duduk lebih dulu di ruang tamu. yah Rina dan pak Irfan bramasta adalah bibi dan paman Liana tepatnya orang tua Alfin.
"Makasih bund, om. Maaf sudah ngerepotin kalian terus," ujar Liana angkat bicara.
"Nggak masalah, kamu itu sudah seperti anak om juga," jawabnya.
"Iya, bener kata mas Irfan, kami sama sekali tidak merasa direpotkan, jadi kamu jangan pernah merasa menjadi beban untuk kami, tidak sama sekali," jelasnya.
"Makasih paman... bunda," ujarnya lagi.
pak Irfan hanya mengagguk diiringi senyuman, sedangkan bibinya kembali angkat bicara.
"Bunda mau ngomong sesuatu, Kamu jangan tersinggung yah, sebenarnya bunda nggak keberatan bantu kamu jagain kak Ami, tapi ada baiknya kita nyewa perawat juga, itu lebih baik untuk kesembuhan sama kesehatannya, biar kak Ami bener bener ada yang jagain 24 jam, menurut kamu gimana Li?" tanyanya.
"Tapi...." jawabnya ragu.
"Soal biaya kamu nggak perlu khawatir, biar bunda sama paman kamu yang ngurus, gimana?"
"Bukannya Liana nggak mau bund, tapi.... Liana nggak bisa kalau harus ngerepotin bunda terus, cukup biaya sekolah,obat mama, makan yang bunda tanggung. lagi pula sekarang Liana udah mulai ngumpulin uang juga," ujarnya.
"ngumpulin uang?" tanya Alfin penasaran, bunda dan ayahnya pun ikut menyimak pertanyaan Alfin, menunggu jawaban dari Liana.
Liana mengangguk pelan sebelum melanjutkan ucapannya, "iya, Aku kerja paru waktu, niatnya buat nyewa perawat buat mama dan semua kebutuhannya," ungkapnya lirih.
"Ya ampun Li."
"Li, dengerin bunda, kamu cukup belajar dengan baik, soal biaya kamu nggak perlu khawatir, oke?"
karna tidak ingin memperpanjang obrolan Liana langsung mengangguk mengiyakan, sebab ia pun sudah tau ujungnya akan seperti apa, Liana dengan pendiriannya dan bundanya pun seperti itu.
Setelah keadaan mulai terkendali lagi, Alfin dan Liana memilih kembali kesekolah, melanjutkan pelajaran sampai jam pelajaran berakhir, hingga ke Duanya pun mulai merasakan keanehan dari tatapan teman teman kelasnya.