
Hari di sekolah dilewati Seulgi dan teman-temannya seperti biasa. Belajar lalu mengobrol panjang di kantin saat jam istirahat. Namun, berbeda sedikit dengan Michelle, dikarenakan sangat menyukai tempat rahasia yang baru didatanginya, Michelle sejak hari itu mendesak mereka untuk menghabiskan akhir pekannya disana.
Dinda akhirnya tidak keberatan menyetujui rengekan Michelle. Dia mencoba menggoda Michelle untuk tidak menghiraukan permintaannya, dan baru setelah menjelang akhir pekan ia menyetujuinya, membuat Michelle yang awalnya sudah mulai merelakan keinginannya sangat senang.
Dan begitulah, akhir pekan datang dan disinilah mereka. Rumah Rahasia.
"Wahhhhhhhh! Rasanya gue pengen tinggal disini aja. Suasananya lebih bagus dibandingkan rumah gue." ujar Michelle penuh kagum sambil memasuki rumah yang menjadi tempat rahasia mereka.
"Bahasa lu Chel, mau gimanapun, dimana-mana tetep bagusan suasana rumah." sahut Ayumi menanggapi ucapan berlebihan Michelle. Michelle hanya cengengesan mendengar ucapan Ayumi.
"Oh iya, Dinda sama Seulgi kemana ? Kok belum datang ? Kirain bakal nyampe duluan, Chel... coba chat mereka deh, mereka udah dimana." sambung Ayumi melihat isi rumah hanya ia berdua dengan Michelle, mereka memang tidak berangkat bersama, Ayumi berangkat dengan Michelle karena mereka bertetangga. Merekapun datang kesana menggunakan kendaraan taksi, sementara Dinda berjanji menjemput Seulgi untuk datang bersamanya.
Disaat Michelle masih mengobrak-abrik isi tasnya untuk mencari ponselnya, tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan Dinda dan Seulgi yang berjalan beriringan masuk.
"Eh, kalian udah lama nyampenya ? Sorry, tadi kita mampir beli cemilan di supermarket. Gue lupa kalo stoknya kita habisin kemarin." sapa Dinda sambi menunjukkan beberapa kantong kresek yang dibawanya bersama Seulgi.
"Gue kira kalian kenapa-napa, gue sama Ayumi nyampe berdua doang disini." sahut Michelle dengan raut wajah sedikit serius. Dia memang sempat berpikir jauh saat Ayumi memintanya menghubungi Dinda.
"Aku kira kalian nyampe duluan, eh pas sampai aku cuma berdua sama Michelle. Tadi aku minta Michelle buat hubungin kalian, belum nemu hp si Michelle kalian udh datang." kata Ayumi sambil tersenyum lega.
"Ih jadi baper, dikhawatirin. Hahahah." gurau Dinda tak kuasa menahan tawa karena candaannya sendiri.
"Apaan, bisa-bisanya lu ngomong gitu Din, kurang ajar.." Michelle bangkit sambil mengambil kantong kresek yang ada di tangan Seulgi yang dari tdi memperhatikan sambil tersenyum.
"Duduk Seul, ngapain berdiri disitu kek patung pajangan." Kata Michelle sambil meletakkan kantong dari tangan Seulgi ke atas meja. Dinda pun melakukan hal yang sama lalu duduk di samping Ayumi.
Michelle lalu mengecek isi satu per satu kantong kresek yang ada di depannya.
"Wah mantap nih Din, tapi minumannya mana kok gak ada ?" komentar Michelle setelah mengecek semua kresek didepannya.
"Noh kalo minuman kayaknya masih banyak di kulkas." jawab Dinda sembari mengambil cemilan dari salah satu kantong lalu memakannya. Seulgi bangkit ke arah kulkas, ingin mengambil sesuatu untuk meredakan hausnya.
"Wahh... Minumannya banyak banget, mau milih yg mana nih." ungkap Seulgi kagum begitu membuka kulkas yang ada didepannya.
"Kalian mau minum juga ? Aku bawain sekalian. Eh ini minuman masih baru kan Din ?" sambung Seulgi.
"Gue cola kaleng aja Seul." jawan Michelle sambil menbuka laptop yang dibawanya, sepertinya dia akan mengajak menonton nanti.
"Aku tolong minuman rasa stroberi Seul." jawab Ayumi.
"Gue milktea botol deh Seul, tenang aja barang-barang disini tiap bulan di cek pak Irwan, jadi aman kok." jawab Dinda. Seulgi mengangguk mengerti lalu membawa semua minuman untuk mereka berempat.
"Yum, kamu udah daftar belum buat jadi anggota voli lagi ?" kata Seulgi meletakkan minuman ditangannya lalu duduk di sofa, dia mengambil cemilan di salah satu kantong lalu membukanya.
"He'em, kemarin aku habis nemuin pak Agus, bapaknya cuma ngiyain trus bilang siap-siap ikut latihan habis acara camping nanti buat seleksi." Jawab Ayumi kalem seperti biasa.
"Eum gituu, btw udah pada ijin ortu belum nih kalian buat camping nanti ?" sahut Michelle sembari bertanya membuat keempatnya saling menatap.
"Kalo aku sih udah dikasih izin." kata Ayumi.
"Gue juga udah, klo lu Seull ?" kata Michelle beralih menatap Seulgi.
"Ehm, aku belum minta ijin. Takut belum dibolehin sama mama." jawab Seulgi jujur dengan raut wajah sedikit sedih.
"Coba ijin pelan-pelan, omongin baik baik. Kasih pengertian gitu, nanti keburu nggak sempet minta ijin nanti." saran Ayumi. Seulgi tersenyum mengerti.
"Eh nonton yok, gue ada drama baru.." ajak Michelle sambil menunjukan layar laptopnya. Ketiga lainnya mengangguk antusias lalu mengambil cemilan masing-masing sebelum fokus ke layar laptop Michelle.
#
Sementara itu disisi lain, Julian dan Riski menghabiskan akhir pekan mereka dengan harus mengikuti latihan tambahan dikarenakan mereka yg kekurangan tim inti membuat mereka harus latihan extra keras agar bisa mengisi kekosongan dan kekurangan yang ada.
Zafran yang tidak memiliki kegiatan akhir pekan memutuskan untuk menonton mereka latihan sembari mencari udara segar dengan berjalan kaki di taman tak jauh dari sekolah.
"Woy Kii..." Panggil Zafran sambil mengangkat tangannya. Riski yang merasa dipanggil menghampiri Zafran yang duduk tak jauh di bangku penonton.
"Woi, ngapain lu disini ? Ada apa nih ?" ujar Riski begitu jaraknya sudah dekat dengan Zafran.
"Biasa, gue cuma jalan-jalan bentar. Gabut dirumah. Lo udah mau selesai belum ? Kalo udah selesai chat aja, OK ?"
"Emang lu mau kemana ?"
"Cuma sekitaran sini, gue gak bawa kendaraan juga. Taman mungkin." Riski membulat mulutnya membentuk huruf O.
"Trus ngapain lu manggil gue ?" tanya Riski kemudian. Sadar percakapannya sangat tidak penting dengan Zafran.
"Gue cuma nyapa, lu aja yang main nyamperin." jawab Zafran santai.
"Taik kucing lu Zaf.. Ya udah gue latihan lagi." sungut Riski.
"Hm. Chat aja nanti."
"OK."
Riski pun kembali ke lapangan dan Zafran bangkit dari bangku penonton, berjalan menjauh meninggalkan lapangn basket tersebut. Menuju taman yang tak jauh dari sekolah. Taman itu cenderung tidak banyak pengunjung, dikarenakan banyak taman yang lebih besar dan cantik. Namun justru itu yang disukai Zafran. Dia bebas menuruti jiwa penyendirinya tanpa harus risih ditatap banyak orang karena wajahnya yang memang menarik perhatian.
"Si Zafran mau kemana tuh ?" Tanya Julian sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Dia baru saja selesai melakukan lay out yang kesekian kalinya untuk lebih melatih kemampuannya dalam pertandingan. Julio memang unggul di teknik lay out, sangat jarang tembakan lay out darinya yang tidak masuk ring, membuat dia menjadi salah satu pemain basket yang sangat diandalkan dalam tim.
"Biasa, jalan-jalan sama peliharaan hantunya mungkin di taman deket sana, bosan katanya." Balas Riski seenaknya. Dia memang sering menyebut Zafran memiliki peliharaan hantu karena kebiasaan Zafran berjalan sendiri kemana-mana, seolah-olah sudah memiliki teman.
Julian terkekeh, dia pun paham dengan sifat Zafran. Dia lalu menyeka keringat yang mulai menetes lagi dari dahinya. Lalu meminum sebotol air dingin untuk menyegarkan badannya.
Setelah merasa segar, Julian dan Riski kembali melanjutkan latihan mereka. Benar-benar harus memaksimalkan penampilan mereka nanti, anggap saja sebagai persembahan terakhir mereka untuk sekolah.
Zafran yang sedang menyusuri jalan tampak berpikir. Pikirannya tak lepas dari gadis itu. Ia kemudian mengubah langkah tak jadi ke taman, tapi berjalan menuju tempat tersebut, yang ia temui hanya tempat kosong. Menandakan tidak berpenghuni. Suasananya begitu sunyi dan hening. Pikirannya mengatakan apakah tempat itu digunakan hanya pada waktu tertentu ? Jadwal tertentu misalnya. Biasanya banyak tempat yang akan ramai di akhir pekan, tapi tempat ini berbeda. Dia pun berasumsi tempat itu tidak terpakai saat waktu seperti sekarang dan sepertinya tidak akan ada yang melihat jika dia memeriksa beberapa tempat. Dia benar-benar penasaran, dan ingin tau sedang apa gadis itu ditempat ini waktu dia membuntutinya.