
Penampakan sekolah mulai tampak sepi, karena jam pulang sekolah sudah berbunyi sejak tadi, namun Dinda tak kunjung keluar dari halaman sekolah, membuat sopir yang selalu menjemputnya mulai gelisah. Tidak biasanya dia terlambat seperti ini. Pak sopir masih setia menunggu dengan gelisah, hingga tak lama kemudian ia melihat tiga anak laki-laki berjalan keluar dari gerbang sekolah.
"Eh ada Pak Irwan, lagi nunggu Dinda ya pak ?" Ujar Riski berbasa-basi menyapa.
"Iya dek." Jawab Pak Irwan sembari tersenyum kecil.
"Eum... tapi di sekolah udah gak ada siapa-siapa pak. Dinda sendiri tadi sudah keluar duluan sama teman temannya." Sahut Zafran dengan nada heran.
"Tapi sebelum lonceng pulang bapak udah di depan sini nungguin, gak mungkin bapak gak liat dia keluar." Jawab Pak Irwan dengan nada yakin bercampur bingung.
"Kalo gitu kita bantu cari aja di dalam, coba Riski cari di kelas, gue cari di lapangan dan Zafran cari di toilet siapa tau aja ada di toilet. Sementara buat bapak tetap tunggu di sini aja siapa tau Dinda keluar pas kita masuk." Kata Julian memberi aba aba.
"Loh kok gue di toilet ?" Tanya Zafran dengan nada sedikit kesal.
"Yekan cuman elu yang gak mungkin dicurigain bakal ngintip. Coba kalo kita berdua, ketahuan sama Dinda habis kita di gebukin. Kalo elu kan gak mungkin di sangkain bakal ngintip secara karakter dingin lo itu, beuhhh. Hahaha...." Jawab Julian enteng sambil tertawa.
"Eleehh, bilang aja lu udah males, soalnya udah enggak ada cewek cantik disana." Balas Zafran dengan wajah datar andalannya.
Riski dan Julian hanya tertawa menanggapi ucapan Zafran. Mereka lalu berjalan menuju tempat yang sudah ditentukan masing-masing. Selang beberapa menit kemudian, mereka akhirnya kembali satu per satu ke tempat Pak Irwan menunggu.
"Pak, setelah kita cari di seluruh tempat, udah bertanya sama satpam juga yang ada didalam, tapi Dindanya tetep enggak ada Pak. Kata mereka udah enggak ada siswa lagi di lingkungan sekolah, dan setahu kita emang hari ini enggak ada kegiatan tambahan lagi. Sebaiknya bapak pulang dulu aja ya, cek siapa tau Dinda-nya udah pulang duluan." Ujar Zafran menjelaskan sekaligus berusaha menenangkan.
"Kalo gitu bapak udah coba telfon rumah atau nomor hp Dinda nggak ?" Tanya Julian.
"Aduh enggak, soalnya bapak lupa bawa hp. Tadi sebelum kemari hp bapak mati jadi bapak charger dulu. Ya gusti, nomornya bapak enggak hapal lagi." Keluh Pak Irwan dengan nada cemas bercampur bingung.
Hening sejenak meliputi mereka, ketiga anak muda itu pun tidak bisa menghubungi Dinda. Tampaknya nomor Dinda sudah dia di nonaktifkan untuk sementara.
"Ya udah, kalo begitu bapak pulang dulu saja, siapa tau Nak Dinda sudah beneran pulang duluan." sahut Pak Irwan memecah keheningan dengan raut wajah masih diselimuti rasa khawatir.
"Bentar pak.." tahan Riski sebelum pak Irwan masuk ke dalam mobil. Dia tampak menuliskan sesuatu di secarik kertas yang dia ambil dari saku bajunya.
"Pak ini ada nomor saya, kalau misalnya Dinda belum ada di rumah atau masih enggak ada kabar, bapak bisa SMS atau nelfon saya, biar kami bertiga bantu cari sebisa kami pak." Jelas Riski sembari memberikan nomor handphone-nya.
"Iya, makasih banyak ya Nak, kalo begitu bapak pulang dulu." kata Pak Irwan sambil berjalan masuk ke dalam mobil.
"Iya Pak, hati hati di jalan. Tolong kabari ya Pak." sahut Riski dengan raut wajah memancarkan kesan khawatir.
Setelah Pak Irwan berlalu, mereka bertiga mulai menyusuri jalan pulang seperti biasa. Tepat di depan komplek perumahan tempat tinggal mereka, bersamaan Riski menerima pesan dari Pak Irwan bahwa ternyata Dinda sebelumnya sudah mengabarinya lewat SMS jika ia akan ke rumah temannya sepulang sekolah. Pak Irwan tidak menyadarinya karena handphonenya yang tadi mati.
Mereka bertiga ikut bernafas lega setelah menerima pesan dari pak Irwan tadi. Mereka kemudian berjalan masuk ke rumah masing-masing.
Sementara itu, disisi lain Dinda dan teman-temannya tiba di suatu tempat yang di sebut Dinda "tempat rahasia". Tempat itu berada tak jauh dari sekolahnya. Sekilas penampilan luarnya seperti bangunan tua pada umumnya, tidak terawat dan usang namun siapa yang akan menyangka jika penampilan dalamnya akan berbeda 180°.
"Ngapain kita kesini sih ? Jangan bilang kalian mau uji nyali di siang bolong." Celoteh Michelle sambil memandangi sekeliling tempat itu.
"Iya nih, tempat ini keliatan serem." Sahut Seulgi menambahkan. Dia memegang tangan Ayumi yang berbeda tak jauh darinya dengan erat, dia mulai merasa takut.
"Udah, masuk aja dulu..." Balas Dinda sambil tersenyum misterius sambil berjalan mendahului, diikuti ketiga lainnya.
Ayumi yang sudah sering datang kesana bersama Dinda hanya diam. Membiarkan kedua temannya yang lain tetap penasaran.
"Wahhhhhhhh..." suara Michelle dan Seulgi bersamaan. Mereka berdua melongo tak percaya melihat isi rumah itu. Isi rumah itu benar-benar di luar dari apa yang mereka bayangkan. Ternyata didalam rumah itu terdapat beberapa perabot lengkap yang juga ada pada rumah yang berpenghuni. Kamar tidur lengkap dengan kasur, sofa, rak buku, hingga beberapa alat musik tertata apik didalamnya. Membuat Seulgi dan Michelle masih terpaku kagum untuk beberapa saat.
"Wah bagaimana bisa ada barang-barang seperti ini disini ? Siapa yang membawanya ?" Ungkap Seulgi heran bercampur kagum, tak lupa dengan logat khasnya.
"Wah kalian berdua bener-bener tega sama gue. Kita udah lama kenal dan kalian baru ngajak gue kesini ?" ujar Michelle sedikit kesal ditengah rasa kagumnya.
"Tuhkaan... ada yang tau duluan sebelum kita berdua. Wah bener-bener nih anak berdua, yang dua orang itu siapa emang ?" Sungut Michelle masih merasa kesal.
"Abang gue sama pak Irwan, mereka juga yang bantu bawain semua barang-barang ini kesini." Jawab Dinda.
"Pak Irwan sopir jemputan lo kan ? Lah terus kenapa tadi kita sembunyi dari dia pas keluar sekolah ?" Tanya Michelle heran.
Dinda hanya tersenyum. Ayumi yang mengerti situasi Dinda segera memotong untuk mengalihkan perbincangan mereka.
"Tapi ngomong-ngomong Chell, kompetisi antar sekolah kan udah dekat lu gak dengar kabar tentang tim voli ?"
"Eumm... belum ada kepastian sih tapi dari kabar burung yang gue denger, katanya kepsek sih bakal ngebentuk tim lagi. Tapi yang jadi masalahnya mungkin tetep gak bisa ikutan juga tahun ini, kan kalau misalnya timnya baru dibentuk porsi latihannya juga masih tetep kurang." Jawab Michelle menjelaskan.
"Emang ada tim voli wanita ? Aku sering liat anak-anak latihan di lapangan, tapi cuma tim cowok. Tim cewek kenapa enggak ada ?" tanya Seulgi yang tiba-tiba antusias membahas voli.
"Tahun kemarin sih ada. Bahkan kita udah punya Ratu baru dalam tim voli wanita tapi itu sebelum ada insiden kecelakaan. Kecelakaannya saat lomba antar kelas tahun lalu, salah satu tangan pemain patah karena jatuh pas masih main dan orang tuanya marah menuntut tim voli wanita dibubarkan. Dan gini deh akhirnya. Gue yakin bisa juara kalo saat itu pertandingan volinya tetep dilanjutin. Tapi sayang semua pertandingannya dihentikan sampai semifinal doang karena insiden itu." kata Dinda sambil menerawang mengingat kejadian tersebut.
"Gue juga yakin dia bisa juara saat itu. Bahkan mereka berhasil menumbangkan tim kelas VIII dan kelas IX lainya. Dan lebih hebatnya lagi bahkan kelas mereka kalahin itu anak kelas XIII IPA1 yang beranggotakan tiga tim inti voli sekolah." tutur Michelle bangga.
"Emang ada yg jago main voli ? Siapa ? Dari kelas berapa ?" Tanya Seulgi semakin antusias dan penasaran.
"Tuh di samping lo." Jawab Dinda dan Michelle bersamaan sambil menatap Ayumi.
"Wahhh jinjja daebak..nae jwaseog chinguga baeguleul jalhaneun jul mollassseubnida."( Wah benar-benar hebat, aku tidak menyangka teman duduk ku ini hebat bermain voli) Ungkap Seulgi kagum kepada Ayumi hingga tanpa sadar memakai bahasa Korea.
"Mau aja diboongin Seul, aku menang karena anak-anak dalam tim juga hebat, bukan cuma aku aja."
"Merendah aja lu, beneran dia itu hebat Seul, bahkan dia sempet populer dikalangan cowok tapi sayangnya dia pendiam, kurang bergaul ditambah tim voli wanita dibubarkan jadinya dia temenannya sama gue doang secara gue sekelas sama dia udah dari kelas X-A." Balas Dinda.
"Gue aja yang tetanggaan sejak lama dicuekin mulu, beruntung belakangan ini dianya udah mau akrab kayak sekarang." ucap Michelle membenarkan perkataan Dinda.
"Tapi kok lo tertarik banget pas kita ngomong soal tim voli ? Biasanya lo jarang antusias dalam segala hal, bahkan kalo kita ajak ngomong sekalipun paling cuma ngangguk atau kalo enggak senyum doang." tanya Dinda beralih ke Seulgi dengan nada heran. Sedikit aneh karena tidak biasanya Seulgi seantusias itu.
"Enggak apa-apa, cuma penasaran banget aja." Jawab Seulgi sedikit kikuk. Masih terbata-bata seperti biasa. Dinda mengangguk mengerti dan tidak mau memperpanjang pertanyaannya.
Mereka duduk di sofa sambil terus mengobrol membicarakan banyak hal. Ditemani alunan musik pelan yang sengaja mereka putar untuk menemani suasana. Musik memenangkan sengaja mereka pilih untuk mengurangi rasa penat mereka setelah belajar seharian. Tak lupa ternyata di dalam rumah itu banyak cemilan, lengkap sudah. Hingga tak terasa mereka sudah berada cukup lama ditempat itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 17.20, menandakan jam siang akan berakhir. Mereka pun memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing karena hari pun sudah menjelang gelap.
"Ya udin, pulang yuk udah mau magrib nih." ajak Michelle sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ya udah yuk pulang. Takutnya nanti pada di cariin juga." Tambah Ayumi.
"Gimana kalau kita kesini tiap pulang sekolah?" usul Dinda tiba-tiba sebelum meninggalkan tempat itu.
"Eum, aku gak bisa setiap hari, soalnya aku ada kesibukan lain saat pulang sekolah." jawab Seulgi.
"Aku juga sih." Tambah Ayumi
"Sebenarnya gue maunya juga gitu sih, tapi kayaknya gue juga gak bisa dateng tiap hari. Ya udah gini aja, nanti kita atur waktu kosong masing-masing aja kapan bisa kesini lagi. Gimana ?" sahut Michelle sambil menekan-nekan layar ponselnya. Tampaknya mengetik sesuatu.
"Itu gue udah buat grup chat, nanti kita chat lewat situ aja biar tau kapan ada waktu masing masing. OK ?" sambung Michelle memberikan solusi sambil menatap ketiga temannya bergantian. Ketiganya mengangguk setuju.
"Ya udah yuk balik." Ucap Michelle sembari mengajak mereka bertiga berjalan keluar dari rumah tersebut.
Mereka akhirnya keluar dari rumah tersebut lalu menguncinya kembali seperti semula. Setelah selesai mengunci, mereka pun berjalan beriringan meninggalkan tempat itu.