
Dugh
Dugh
Dugh
Terdengar suara pantulan bola memenuhi lorong kelas menuju ke kelas Dinda.
"Halooo!!" sapaan ceria terdengar menghampiri pendengaran tiga sekawan yang sedang mengobrol. Ketika mereka menoleh, tampak wajah tengil yang sudah sangat mereka kenali. Riski.
"Ngapain lo kesini ?! Disini bukan lapangan basket!" ujar Dinda ketus, begitu melihat wajah menyebalkan Riski hadir di depannya.
Namun Riski hanya tersenyum, dia mengerti gadis cantik di depannya ini tidak benar-benar marah kepadanya. Sudah terbiasa dengan sikap ketus dan berapi-api yang di keluarkan gadis itu ketika bertemu dengannya.
"Judes amat si lo Din. Emang aturan darimana yang bilang gak boleh bawa bola basket ke kelas." tanggapnya santai, sambil memutar-mutar bola basket dijarinya.
"Berisik ! Gangguin orang lagi ngobrol aja. Paham ? Lagian ngapain kesini ? Mau ketemu si Zafran ? Dianya nggak ada, lagi rapat sana Michelle. Pasti lo tau itu." kata Dinda masih sedikit ketus. Entah kenapa melihat wajah Riski membuatnya ingin selalu mengeluarkan kata ketus dari mulutnya.
"Gak sih pengen kesini aja, gak boleh emang ?" Balas Riski masih tetap tersenyum.
Sekarang, Ayumi sudah mulai sedikit terbuka dengan yang lainnya, sifat pendiamnya sudah berkurang, begitupun dengan sifat pemalunya. Terlalu sering bertemu dan mengobrol bersama membuatnya mulai membuka diri, tapi itu hanya berlaku untuk orang yang selama ini dekat dengannya.
"Sendirian aja Ki, si Julian tumben nggak ngikut lo." kata Ayumi membuka suara sambil mengarahkan pandangannya keluar.
"Ciee yang rindu Julian, nanti ya gue salamin. Hahahaha..." Riski tergelak mendengar banyolannya sendiri, Ayumi hanya memasang wajah masam menanggapi candaan Riski.
"Itu dia lagi nemenin si Fandi ngembaliin buku pinjaman ke perpus. Tuh anak takutnya di gangguin lagi sama Dito si tukang risak. Entar dia juga nyusul kesini." sambungnya dengan jawaban yang benar.
"Emang si Dito masih sering ganggu anak-anak lainnya ya ?" tanya Ayumi dengan wajah sedikit menerawang.
"Iyalah, dia emang kapan tobatnya. Emang elu pernah di gangguin juga ?" tanya Riski yang dijawab Ayumi dengan mengangguk pelan.
"Wah gila, gue pikir dia cuman risak sama anak cowo teryata cewe juga!" ujar Riski sambil sedikit mendengus kesal.
"Sekarang udah gak pernah sih. Itu dulu, waktu masih pertama kali masuk sekolah." Jawab Ayumi sambil tersenyum.
"Kok lo gak pernah bilang ke gue sih ? Gue bisa ngehajar tuh anak!" sahut Dinda kembali kesal mendengar pengakuan Ayumi.
Ayumi hanya senyum menanggapi perkataan Dinda. Benar ucapan Riski, tak lama kemudian terlihat Julian dan Fandi memasuki ruang kelas mereka.
"Woy brothers!" sapa Riski sambil mengangkat tangannya. Julian membalas mengangkat tangannya menyapa, Fandi hanya tersenyum kikuk mengikuti Julian.
"Si Zafran belum selesai rapat ya ?" tanya Julian begitu sudah dekat dengan mereka.
"Ya, seperti yang lo liat." Jawab Dinda.
"Ngomong-ngomong kemarin lu kemana Din ? Kita sibuk nyariin lo, ampe muterin sekolah nggak ketemu-ketemu. Kesian supir lo udah panik dan khawatir banget lo nggk muncul-muncul pas pulang sekolah." Sambung Julian bertanya, mengingat kejadian kemarin yang sempat membuat mereka panik sekaligus kasihan kepada supir Dinda.
"Emang siapa yang nyuruh lo cariin gue ? Gue enggak ilang. Lagian gue udah chat pak Irwan, mana gue tau kalo dia enggak bawa hp." balas Dinda menyebalkan.
"Iya sih, tapi kan kenapa harus SMS ? Kan dia di depan gerbang lo bisa ngasih tau dia langsung. Kalo kek gitu jadinya kan lo buat dia jadi khawatir." Tambah Riski kepada Dinda.
"Apaan sih, lo mau tau aja urusan orang!" sahut Dinda ketus, dia merasa kesal.
"Udah-udah, kemarin kita jalan-jalan. Cuma sedikit kesalahan aja makanya kejadiannya jadi kayak kemarin." ujar Ayumi memotong pembicaraan mereka. Mencoba menenangkan suasana yang tiba-tiba terasa panas karena ulah Dinda yang sedikit menyebalkan. Yang lain pun terdiam mendengarkan penjelasan Ayumi.
Tak lama kemudian, tampak Zafran dan Michelle sudah memasuki ruangan kelas mereka selesai rapat.
"Oii, diem aja, kantin yok." ajak Michelle begitu mendekat ke arah mereka.
"Ini lagi, datang-datang ngajakin ke kantin. Gak deh, bentar lagi bell masuk tuh. Ayok ke kelas aja." balas Julian kepada Michelle.
"Guru-guru lagi rapat, kalo gak salah soal Lomba Antar Sekolah. Gue udah tanya bu Susan yang lagi piket tadi. Katanya kemungkinan guru gak masuk sampai jam istirahat berikutnya. Ya udah, yok ke kantin." kata Michelle.
"Duluan aja, gue belum lapar." sahut Dinda.
Seulgi dan Ayumi mengangguk, memberikan jawaban kalau mereka pun sama dengan Dinda.
Mereka saling menatap sebentar, lalu akhirnya memutuskan untuk ikut menyusul ke kantin. Kalau dipikir-pikir mereka memang akan haus jika mengabiskan waktu mengobrol. Begitu sampai di kantin, mereka memesan minuman lalu duduk ditempat biasa mereka berkumpul. Bangku pojok.
"Btw, Zaf tadi rapatnya gimna kesepakatannya ?" tanya Riski memulai obrolan mereka.
Zafran hanya menatap Riski sebentar lalu menoleh ke arah Michelle dan Michelle yang sudah siap mengerti apa maksud tatapan Zafran tersebut.
"Oh itu... makanya gue ngajak kalian ke kantin mau bahas itu. Kita semua udah sepakat dan guru-guru juga mengiyakan kalo kita akan berangkat camping mendaki tahun ini. Itu cuma buat anak kelas duabelas aja, kalo kelas sepuluh sama sebelas tetap di pantai seperti biasanya, jadi kurang ramai. Tapi biarlah coba suasana baru." Jawab Michelle antusias.
"Wah mantap tuh. Sebenarnya gue risih kalo ramai banget, jadi setidaknya kalo cuma angkatan kita aja yang berangkat gue yakin bisa lebih asik." sahut Dinda tampak bersemangat.
Seulgi berbisik bertanya kepada Ayumi, meminta menjelaskan maksud obrolan mereka, karena mereka terlihat sangat bersemangat. Dia mengangguk paham dan menghela nafas lega setelah paham maksud obrolan mereka. Dia ikut bersyukur karena jika tidak terlalu banyak yang berangkat bersama mereka, maka dia tidak perlu terlalu banyak berbaur. Menyelamatkan sisi pemalunya.
"Jadi berangkatnya kapan nih ?" tanya Julian penasaran.
"Itu belum diomongin, keputusan itu ada di tangan guru-guru. Mungkin besok dikabarin lewat ketua OSIS atau tunggu pemberitahuannya aja di mading sekolah." balas Michelle.
Karena terus mengobrol mereka sampai tak sadar sudah menghabiskan beberapa jam di kantin. Mereka baru menyadarinya setelah perut mereka terasa lapar dan berbunyi minta diisi.
"Wah udah jam istirahat kedua nih, gue udah lapar. Pesan makanan yuk." sahut Dinda sambil mengelus-elus perutnya.
"Yaudah gue aja yang pesenin, kalian semua mau makan apa ?" ujar Julian sambil berdiri untuk menuju ke kasir
"Bilangin aja pesan yang seperti biasa buat Michelle dan temannya, bu kantinnya pasti udah tau tuh." jawab Michelle cepat.
Julian mengangguk paham, lalu berjalan ke kasir untuk memesan. Sayangnya belum selesai Julian memesan, dari speaker sekolah terdengar pemberitahuan untuk siswa yang meminta mereka berkumpul di aula sekolah segera terkait ada pengumuman dari kepala sekolah. Sambil mendengus kecewa, Julian pun membatalkan pesanan untuk teman-temannya, lalu menyusul mereka yang sudah terlebih dahulu meninggalkan tempat menuju aula.
Setibanya mereka, aula tampak sudah penuh dengan anak-anak lain yang berbaris rapi sesuai kelas masing-masing. Disusul kemudian terlihat kepala sekolah sudah berjalan naik ke atas panggung.
"Assalamualaikum wr wb, selamat siang anak-anak. Sesuai intruksi yang disampaikan tadi, bapak akan menyampaikan pengumuman hari ini. Seperti yang sudah kalian ketahui bahwa setiap tahun sekolah mengadakan liburan akhir semester tahunan untuk bersiap menyambut semester baru dengan lebih bersemangat. Untuk itu, kami dari pihak sekolah sudah memutuskan kalian akan berlibur kemana tahun ini, namun temanya tetap sama yaitu camping. Hanya saja untuk kelas sepuluh dan sebelas kalian akan camping di pantai seperti biasanya dan untuk kelas duabelas sesuai usulan mereka, mereka akan berangkat untuk camping di gunung." jelas kepala sekolah.
Seketika suasana yang tenang menjadi sedikit riuh dengan suara para siswa, tampak ada yang terdengar kurang puas ada pula yang terdengar puas akan hal itu.
"Tenang anak-anak, ini sudah keputusan bersama, jadi harap nanti ambil surat izin dari pak Agus dan berikan kepada orang tua kalian masing-masing agar di tandatangani dan dikembalikan sebelum waktu keberangkatan minggu depan. Dan satu lagi karena kita sedang dekat menghadapi Lomba Antar Sekolah, maka kami memutuskan untuk membuka kembali Tim Voli wanita. Jadi bagi yang berminat bergabung silahkan hubungi pak guru yang bersangkutan untuk mendaftar. Sekian informasi dari bapak, jika ada pertanyaan silahkan tanyakan pada pak Agus atau ketua OSIS. Dan untuk perlengkapan keberangkatan kalian silahkan lihat di mading sekolah." Kepala sekolah mengakhiri pidatonya dengan mengucapkan salam lalu berjalan keluar meninggalkan aula tersebut.
Sebagian anak-anak ada yang terlihat kesal dengan keputusan tersebut, dan ada sebagian pula yang terlihat bersemangat dengan segera mengantri mengambil surat izin ke pak Agus, setelah kemudian bergegas keluar menuju ke kantin kembali karena sudah merasa sangat lapar.
"Bu pesenan yang tadi jadi ya, kayak biasa." sahut Julian kepada bu kantin yang sudah sangat akrab dengan mereka.
"Siap bos." jawab bu kantin sambil tersenyum jenaka.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang bersamaan dengan Zafran dan Michelle yang baru datang karena membantu pak Agus membagikan surat izin kepada anak-anak lainya selaku anggota pelaksana kegiatan.
"Woii buruan, nasi lo udah dilalerin noh.." gurau Riski kepada Julian.
"Ngomong-ngomong lo jadi masuk tim Voli kan Yum ?" Tanya Dinda kepada Ayumi.
"Ehmm, gimana ya... liat nanti aja soalnya aku juga sibuk."
"Ah lo pake pura pura sibuk lagi. Di rumah sibuk apa lo ? Sibuk ngurung diri ? Lagian dari awal kan emang lo udah anggota tim voli cewek, sekarang tinggal daftar aja ke pak Agus lagi." Sahut Michelle dengan nada sedikit sarkas.
"Loh kok pak Agus ? Dia kan pelatih basket, kenapa bukan ke pak Yuyuf aja ? Secara dia pelatih voli pria." tanya Riski heran.
"Kudet lo, sekarang selain handle tim voli cowok, pak Yusuf tuh juga ngehandle tenis meja sama takraw. Berhubung pak Agus cuma pegang basket ya udah dikasih ke dia."
"Tapi kan guru olahraga disekolahkan bukan cuman dua." balas Riski masih belum paham.
"Trus lo pikir cabang olahraga cuma basket sama voli ? Belum badminton, tenis lapangan, futsal, sama banyak lagi, itu udah di bagi sama guru lain lah ogeb." Balas Michelle merenggut kesal.
"Iya iya ampun bu." Sahut Riski menyerah berdebat dengan Michelle.
"Mana tim basket masih kurang pemain lagi, kekurangan banget malah. Soalnya yang bisa main dengan bener itu kurang, cuma tukang tebar pesona yang banyak." Desah Julian kecewa, sambil sedikit melirik ke arah Zafran.
"Mau gimana lagi Jul, sekarang tunggu keajaiban dari Tuhan aja, siapa tau deket pertandingan ada yang mau gabung." Tambah Riski ikut melirik ke arah Zafran, tapi yang dimaksud tidak peduli.
Mereka pun terus mengobrol sampai makanan di piring mereka habis. Mereka pun memutuskan kembali ke kelas masing-masing sebelum pelajaran berikutnya dimulai.