
Michelle berjalan menyusuri lorong menuju kelasnya, seperti biasa dia berangkat sendiri karena tetangganya yang pemalu Ayumi selalu berangkat lebih cepat darinya. Dia menyapa semua orang yang ditemuinya dengan penuh ceria. Karakter khas dari seorang Michelle.
"Oi mau kemana ??" sapanya pada seorang anak bertubuh jangkung dengan wajah tampan khas miliknya.
"Biasa.." ujarnya sambil memutar-muter bola basket ditangannya.
"Lama-lama gue takut lo nanti nikah sama basket, cinta amat sama tuh benda." ejek Michelle.
"Sewot aja lu, suka-suka gue." balas anak itu yang tak lain Riski.
"Dih, ya udah dahh." ujar Michelle sambil berlalu. Dia berjalan sambil memasang senyum ramah di wajahnya menuju ke kelasnya.
Riski hanya mengidikkan bahu cuek sambil mendribble bolanya menuju lapangan, kebiasaan dia yang selalu menghampiri lapangan basket sebelum dia memasuki kelas. Terlambat pun dia akan tetap memainkan basketnya.
Sosoknya yang mencolok ketika memainkan bola basket menjadi pemandangan yang tidak bisa dilewatkan oleh sebagian anak perempuan yang mengaguminya. Wajah tampan yang dipenuhi peluh dan kulit putihnya ditimpa cahaya matahari pagi menambah kadar tampan yang ada di wajahnya.
"Wei Zan, sendiri aja lo ?"
"Ehm."
"Ck kebiasaan banget nih bocah, lu orang apa kulkas deh ah.. heran gue." gerutu Riski sambil kembali memainkan bola basketnya.
Zafran hanya duduk di tepi lapangan sambil memperhatikan Riski yang asik mendribble bola basketnya kesana kemari. Sudah menjadi sifatnya menjadi seorang yang dingin dan tak banyak bicara.
Tak lama kemudian Julian, salah satu anggota tim basket Riski datang ikut bergabung memain basket bersama Riski.
"Udah main aja lo jam segini." tegurnya sebelum ikut bermain dengan Riski.
"Yoi.." balas Riski singkat.
Julian mengangkat tangan menyapa Zafran yang duduk ditepi lapangan memperhatikan. Sapaan itu hanya dibalas dengan anggukan singkat, dan Julian pun sudah paham seperti apa seorang Zafran, sahabat kecil Riski.
Mereka bermain satu lawan satu untuk saling memasukkan bola basket ke ring masing-masing. Zafran yang malas ikut bermain melangkahkan kakinya pergi, dia berjalan ke arah lorong sekolah yang paling sepi. Karena dia benci berinteraksi dengan orang yang tidak dia sukai dan tidak dia inginkan. Dia berjalan sembari memasukkan tangannya ke saku celana miliknya.
Bugh.
Bugh
Bugh
Lorong yang sepi membuat pendengaran Zafran menangkap sesuatu. Terdengar bunyi pukulan yang berasal dari ujung lorong yang dilewati Zafran. Tak jauh kemudian dia melihat seorang anak yang dipukuli namun tidak melawan. Dia diam saja menerima bogeman dari berandal sekolah yang tampaknya sangat puas memukulinya.
"Lo kenapa enggak ngelawan sih ? Disuruh juga enggak mau, malah masang tampang sok polos, lama-lama bikin tangan gue gatal pengen mukul." ocehnya sambil berhenti memukul, dia lalu berjongkok memperhatikan anak itu yang wajahnya sudah penuh memar.
Anak itu diam saja, menatap dengan mata kosong. "Ck, muka lo emang bener-bener minta di pukul." ujarnya kesal sendiri.
Sebelum tinjuan kembali menyentuh wajah si kutu buku, anak berandal itu sudah jatuh tersungkur karena tendangan yang dilakukan Zafran. Tampaknya dia tidak menyadari serangan Zafran karena terlalu fokus pada bullyan-nya.
"Cupu." kata Zafran dingin. Dia melirik nama pada berandal itu dan anak kutu buku itu bergantian. Dito untuk si berandal dan Fandi untuk si anak kutu buku.
"Cih, sok jagoan lo!" Desis Dito marah.
"Gue enggak mau tangan gue kotor karena mukulin elo, sebelum gue berubah pikiran mending lo pergi." ujar Zafran masih dengan nada dingin.
"Emangnya lo siapa ?! Suka banget ikut campur urusan orang!" Dito menatap Zafran dengan tatapan tidak suka.
Zafran hanya diam, dia beralih ke Fandi. "Sekarang lo pergi, bersihin diri lo. Enggak mungkin kan lo belajar dalam kondisi kotor kayak gini."
Fandi hanya mengangguk patuh, dia mengambil tas dan beberapa bukunya yang tercecer.
"Makasih." ujarnya pelan sebelum pergi. Zafran hanya mengangguk singkat. Lalu kembali berjalan meninggalkan Dito yang sudah sangat marah karena dipermalukan seperti itu.
"Kurang ajar, beraninya lo ngalangin gue." ujarnya marah, sambil menyerang Zafran yang berjalan santai meninggalkannya.
Zafran yang peka tidak membiarkan serangan itu menyentuhnya, sebelum pukulan Dito mengenainya, dia berbalik dengan cepat sambil memukul bagian rawan dari pertahanan Dito.
Bugh
Bugh
Serangan itu membuat pertahanan Dito lumpuh, dan membuat Dito jatuh tersungkur. Dia meringis menahan sakit di lengan, pangkal pahanya, dan lehernya. Serangan Zafran tidak main-main dan sangat cepat. Dalam beberapa detik dia benar-benar membuat Dito jatuh dengan merasa sakit bukan main.
"Awas lo." ancam Dito penuh dendam melihat Zafran berjalan melewatinya begitu saja.
Zafran tidak menghiraukannya, dia memang dingin dan pendiam tetapi dia masih manusia berperasaan. Kemampuan bela diri yang dimilikinya memang tidak boleh dianggap remeh. Karate dan Judo yang dikuasainya ditingkat sabuk hitam memang cukup mengagumkan. Kemampuannya itu tidak banyak yang tahu karena kepribadiannya yang tertutup dan cenderung misterius.
Zafran berjalan menuju kelasnya, dia lupa membawa earphonenya yang selalu menemaninya menikmati kesendirian. Sesampainya di kelas, dia melangkah masuk menuju ke kursi tempat duduknya uang terletak paling belakang, duduk dibelakang bukan berarti dia bodoh, hanya saja karena dia tidak suka berinteraksi.
Melihat jam yang sebentar lagi masuk jam kelas, akhirnya dia membatalkan niatnya untuk kembali keluar kelas. Dia duduk sambil memainkan lagu lewat ponsel miliknya, tentunya tak lupa mencantolkan earphone di telinganya. Kelasnya ramai tapi semua itu hanya dianggap angin lalu olehnya. Seisi kelasnya pun sudah paham dia seperti apa. dingin namun memiliki karisma. Tak banyak yang mengerti seperti apa seorang Zafran. Namun justru itu membuat banyak anak yang penasaran dengannya.
Kriiiingggggg
Benar saja, tak lama saat Zafran duduk di kursinya, bel jam perjalanan dimulai sudah berbunyi. Zafran melepas earphonenya dan mengalihkan pandangannya melihat seisi kelas. Wajah-wajah tak asing yang juga penghuni kelas yang sama dengannya masuk dengan berbagai ekspresi, ada yang terlihat kusut, mengobrol dengan sesama temannya, anak perempuan yang sangat senang menceritakan tentang idolanya, anak laki-laki yang saling becanda, dan masih banyak lagi.
Zafran menikmati melihat semua itu tetapi tidak berniat untuk melakukannya, dia senang mengamati sekitarnya.
Tak lama kemudian wali kelas mereka tiba-tiba masuk, diikuti oleh seorang anak perempuan berwajah Asia yang sangat kental. Kulit putihnya mencolok diantara anak lain yang berkulit sawo matang.
Seketika anak laki-laki riuh melihat anak baru terlebih gadis manis yang bersama wali kelas mereka.
"Wah ada anak baru.."
"***** cantik.."
"Punya gue.." ujar seorang anak laki-laki bersemangat.
"Berisik lu. Pede banget dia mau sama lu, muka kek bakwan lembek aja bangga." ejek teman sebangkunya.
"Dari pada elu, kek papan gosokan cucian." ejeknya balik.
Mereka berbisik-bisik saling mengejek dan mengira-ngira seperti apa anak baru itu.
"Anak-anak hari ini kita kedatangan seorang murid baru, dia datang dari jauh. Korea Selatan. Dia belum terlalu lancar berbahasa Indonesia tetapi sudah mengerti bahasa Indonesia. Walaupun begitu, tetap berteman baik dan menjadi keluarga di kelas kita." Ujar wali kelas bijak. Seorang wali kelas yang langka. Dia bijak dan mengerti apa yang diinginkan anak walinya. Dia Disenangi akan tetapi tetap tidak kehilangan wibawanya di mata anak walinya.
"Baik Pak.."
"Silahkan perkenalkan diri kamu Seulgi."
Zafran memperhatikan semua kejadian yang ada didepannya. Anak baru itu seorang perempuan. Dari Korea Selatan, cukup jelas terlihat dari bentuk wajahnya. Anak-anak lain sibuk membicarakan anak baru itu, Zafran membuka komiknya untuk melanjutkan membaca. Dia tidak peduli, toh dia sudah tau kalo kelasnya ada murid baru. Dia fokus membaca komiknya sebelumnya guru mata pelajaran masuk nanti.
"Annyeong-haseyo yeroebun. Jeoneun Bae Seulgi imnida, Hangugi isseo wasseyo. Mannaseo banggapseumnida." (halo semua, perkenalkan aku Bae Seulgi, dari Korea Selatan, senang bertemu kalian) Ucapan anak itu disambut riuh oleh anak-anak lain, mereka tidak mengerti apa yang dikatakan murid baru itu.
"Anak-anak dia menyapa kalian, namanya Bae Seulgi, dari Korea Selatan dan senang bertemu kalian." wali kelas menenangkan murid-muridnya yang gaduh.
"Senang bertemu denganmu juga." balas yang lain serempak.
"Seulgi-ya, silahkan duduk di sebelah Ayumi, dia murid yang cukup bisa bahasa asing di kelas ini karna kebetulan dia orang jepang, dan dia pun mengerti bahasa korea."
"Nee seonsaengnim, kkamsahamida.". Seulgi berjalan ke tempat duduknya dan disambut antusias oleh anak perempuan yang ada disana, terlebih lagi anak-anak Kpopers yang mengidolakan para artis negeri ginseng itu.
"Pak bapak bisa bahasa korea ya.." celetuk seorang anak.
"Bisa, sedikit. Bapak keluar dulu, dan lanjutkan belajar seperti biasa, berteman baik dengan Seulgi dia keluarga kita sekarang."
"Wah hebat, baik pak." Wali kelasnya hanya tersenyum menanggapi ocehan muridnya.
Sepeninggal wali kelas mereka murid perempuan mengerubungi Seulgi untuk menanyakan banyak hal, membuat Ayumi kewalahan menerjemahkan balasan Seulgi untuk mereka. Mereka baru berhenti setelah guru mata pelajaran masuk ke kelas mereka.
Seulgi melirik Zafran yang duduk tak jauh dari tempat duduknya. Seulgi melihat kepribadian diam dan dingin Zafran paling mencolok di kelas itu.
Dalam hati dia merasa mungkin dia anak penyendiri sama sepertiku.