Dream Together

Dream Together
Putri & Rumor



Hari ini Dinda, siswi yang menyandang gelar putri sekolah sudah masuk sekolah kembali, setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit karena demam tinggi. Dinda meskipun bergelar putri sekolah dia adalah sahabat Ayumi yang pendiam dan pemalu. Hari ini juga adalah hari kedua Seulgi menjadi murid baru di Jakarta High School.


"Liat itu si Dinda udah masuk sekolah." ucap salah satu siswa sekolah itu dengan senyuman gembira.


"Wah iyatuh. Woi Dinda udah masuk sekolah!"


sahut yang lain menanggapi sambil berteriak heboh memberitahu yang lainnya.


Dinda memang sangat populer di sekolah, selain dikenal dengan kecantikan yang dimilikinya, dia juga terkenal dengan kekayaannya.


"Ayu... Ayu... Ayumi!" teriak Dinda memanggil Ayumi yang terlihat berjalan di lorong menuju kelasnya.


"Iya (sambil membalikan badan) Hey kamu udah sembuh Din ?" ucap si Ayumi sambil tersenyum seperti biasanya.


"Iya, sebenarnya kemarin udah boleh masuk cuman, yahh ambil peluang aja sehari lagi buat santai hehe..." canda Dinda.


"Hehe pantes. Oh iya, maaf ya Din aku gak sempet datang jenguk soalnya ada kesibukan di rumah." ucap Ayumi dengan raut wajah yang terlihat menyesal.


"Ah kamu kayak pernah keluar rumah aja. Gak papa lagian cuman demam biasa aja, mama aku aja yang lebay sampai sampai masukin RS segala, maklum lah ibu kan emang gitu khawatiran." kekeh Dinda.


Ayumi mengangguk membenarkan. Mereka berjalan beriringan menuju kelasnya dengan Ayumi yang menundukkan kepala karena merasa malu jadi pusat perhatian berjalan bersama putri sekolah.


Setelah memasuki kelas Dinda kaget melihat ada wajah baru yang duduk di kursi sebelah Ayumi. Dan yang membuat dia lebih terkejut lagi adalah ia datang lebih dulu sebelum Ayumi.


Padahal seperti yang diketahui Ayumi adalah siswa yang suka datang paling awal karena sifatnya yang pemalu dan tidak mau bertemu dengan banyak orang.


"Dia siapa ?" tanya Dinda dengan wajah penasaran.


"Ohh dia Seulgi. Siswa pindahan dari Korea. Dia baru pindah kemarin, dia duduk di sebelahku karena dia masih kurang paham bahasa Indonesia. Kebetulan kan aku paham bahasa Korea jadi bisa bantu dia nerjemahin bahasa Indonesia kalo ada yang ngajak dia ngobrol juga sebaliknya." Jawab Ayumi panjang lebar sambil berjalan menuju bangku masing masing.


"Seulgi Annyeong," sapa Ayumi dengan senyum di wajahnya.


" Mmmm Annyeong." sapa Seulgi balik sambil membalas senyum Ayumi dengan senyum manis miliknya.


"Oh iya ini perkenalkan dia teman aku namanya Dinda." Ayumi memperkenalkan Dinda dalam bahasa korea.


"Annyeong, Dinda." kata Dinda sambil menjulurkan tangannya.


"Annyeong, Saya Seulgi, salam kenal. Semoga kedepannya kita makin akrab." Seulgi mengucapkan bahasa Indonesia masih terbata bata.


"Wahhhhhh pengucapannya cukup baik padahal baru kemarin aku mengajarkan kata kata itu. Aku saja mempelajarinya hampir seminggu." ucap Ayumi dengan wajah kagum.


Dinda dan Seulgi hanya tersenyum menanggapi ucapan Ayumi. Mereka duduk di kursi masing-masing sambil menyiapkan perlengkapan untuk pelajaran mereka nanti.


Tak lama kemudian Zafran masuk kelas dengan memasang wajah dingin khas miliknya. Dia memalingkan wajah menghiraukan kehidupan apapun dikelasnya. Dia berjalan dalam diam menuju bangkunya untuk duduk.


Tak berselang lama anak anak lainnya mulai berdatangan tetapi ada yang aneh. Mereka masuk kelas sambil berbisik bisik seakan membicarakan sesuatu yang penting sambil sesekali menatap ke arah Ayumi dan Seulgi. Berbeda dari biasanya mereka sekarang acuh tak acuh dan seakan tak melihat ke hadiran Dinda di kelas itu. Padahal biasanya ketika masuk kelas, mereka akan langsung menyapa Dinda, seakan mencari muka agar dapat berteman baik dengan Dinda entah agar ikut tenar atau apapun itu, dan hari ini hal itu tidak terjadi, mereka saling berkumpul sambil berbisik bisik.


Tampaknya karena kedatangan Seulgi, mereka cukup penasaran mengapa dan apa yang menjadi alasan siswa korea yang tanpa tahu berbahasa Indonesia itu tiba tiba pindah ke Jakarta. Mustahil tanpa alasan tertentu.


Dan entah dari mana datangnya, banyak rumor yang mulai menyebar tentang Seulgi, salah satunya adalah bahwa dia pindah karena ayahnya melakukan korupsi di korea jadi untuk menutupi malu mereka memutuskan pindah negara.


Akan tetapi rumor itu tidak mempengaruhi Ayumi dan Dinda. Mereka tidak ingin dengan mudah mempercayai sesuatu tanpa dasar yang kuat. Mereka tetap mengajak Seulgi berbincang sampai guru mata pelajaran masuk untuk menghiburnya. Mereka juga tidak bertanya mengenai kebenaran rumor itu dan bersikap seakan tak tahu dengan rumor tersebut. Mereka ingin Seulgi sendiri yang menceritakan masalahnya kepada mereka. Ayumi dan Dinda mengerti bahwa semua orang punya masalah dan rahasianya sendiri. Dan bukan hak mereka untuk memaksa mengetahuinya.


"Krrrinnggggg"


" Krrrinnggggg"


" Krrrinnggggg"


Lonceng tanda pelajaran pertama selesai sudah berbunyi. Bahkan saat jam pelajaran tadi, siswa siswa lainnya seakan tak ingin berhenti menceritakan keluarga Seulgi. Bahkan saat Riski dan Julian datang tak seorang gadis pun yang merespon mereka seperti biasanya. (Riski dan Julian cukup terkenal dalam kaum Hawa)


Dugh.....


Dugh.....


Dugh......


(suara pantulan bola basket)


"Zafrann ! Woi Zafrann. Ayok ke kantin!"


Seru Riski dan Julian dari pintu masuk kelas.


Zafran hanya menatap Riski dan Julian dan kembali memasang earphonenya. Dia menggelengkan kepala cuek, pertanda dia tidak ingin ke kantin.


" Wihhhh ini nih ada siswa baru yang katanya saingan Putri kita nih. Btw cantik juga, bisa kalah bersaing nih lu Din."


Sahut Rizki menambah gurauan Julian untuk menggoda Dinda.


"Putri, putri nama gue Dinda, lagian lu kata kompetisi pake punya saingan segala.


Elu juga mau main basket kok ke kantin.


Lengket amat, pacaran kok sama bola basket." Balas Dinda dengan sedikit kesal.


"Hahaha canda doang Din, gitu aja marah.


Ini nih kebiasaan si Ayumi diam diam aja dari tadi, kenalin dong sama temennya."


Ujar Riski sambil menatap Ayumi dengan senyum jahil.


"Seul kenalin, dia namanya Riski dan ini namanya Julian." Ucap Ayumi sambil menunduk.


"Seulgi."


"Julian." sambil saling berjabat tangan.


"Seulgi"


"Riski, kalau yang dingin di sudut sana itu Oppa Zafran. Hahaha." ujar Riski sambil sedikit melirik jahil ke Zafran. Seulgi hanya tersenyum dan kembali duduk di bangkunya.


"Kayaknya kelas ini dipenuhi orang orang aneh, auranya dingin banget elah. Semuanya pendiam penuh misteri." Ucap Julian dengan nada heran. Meskipun yang lain tau itu sindiran.


"Ya udah mau ke kantin gak ? Kalau mau bareng aja." ajak Riski lagi.


Zafran yang merasa dijadikan bahan perbincangan mulai risih. Dia lalu beranjak dari kursinya dan pergi sendiri ke kantin dengan earphone masih tergantung di telinganya. Riski dan Julian mengejar Zafran yang pergi tiba-tiba itu.


"Dinda duluan yah. Kapan kapan aja deh makan barengnya. Si es udah jalan duluan tuh." Ujar Riski dengan suara keras, sambil berlari menuju arah Zafran. Dinda hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Riski.


"Seulgi ayok ke kantin" ajak Dinda dan Ayumi.


"Nanti saja aku masih kenyang, lagian aku bawah bekal." Balas Seulgi dengan campur bahasa indonesia korea.


Michelle yang secara tak sengaja lewat depan kelas itu ketika dia kembali dari toilet wanita yang kebetulan toilet melewati depan ruang kelas Ayumi segera menghampiri dan mengajak ke kantin.


"Yuhuuuu,,,,, Hollaaaa semuanya!""


Sapanya ceria. Karakter sang Michelle yg penuh semangat.


"Hai Din udah sembuh." sambungnya untuk membuka topik pembicaraan.


"Iya baru masuk hari ini." Balas dinda.


"Ayuu, lu berangkat ke sekolah jam berapa sih sebenarnya ? Jangan-jangan jangan jam 5 subuh, heran gue, kita tetanggaan tapi enggak pernah bareng." oceh Michelle.


"Hehe maaf. Gak pernah barengan soalnya gitu dehhh." Balas Ayumi dengan nada sedikit kikuk.


"Canda santai aja. Oh yahh lu Seulgi kan (menatap seulgi) kenalin gue Michelle."


Seulgi hanya mengangguk dan senyum.


"Luu kok kenal dia." Tanya Ayumi.


"Siapa yang gak kenal dia murid pindahan, baru masuk aja udah populer gitu." Ucap Michelle dengan nada bergurau.


"Oh ya ke kantin yuk." lanjutnya lagi, mengajak.


"Rencananya emang mau ke kantin cuman yah ini si Seulgi gak mau katanya dia bawa bekal." Ucap Ayumi dengan nada bingung.


"Ohhhh itu sih gampang." Kata Michelle sambil membawa bekal Seulgi keluar menuju kantin.


Benar saja Seulgi mengejarnya menuju kantin untuk mengambil bekalnya dan akhirnya mereka makan berempat.


Meski siswa lainya memandanginya dengan tatapan sinis mereka tidak menghiraukannya. Ditambah dengan keberadaan Michell yang cerewet dan ceria yang terus mengajak mereka mengobrol dan saling bercanda membuat suasana tidak canggung sama sekali. Karena Seulgi yang belum terlalu paham bahasa indonesia ia seringkali tertawa belakangan karena harus dijelaskan sebagian kata yg tidak ia pahami.


Meski demikian hari itu cukup menghibur hatinya yang murung dikarenakan gosip-gosip yang ada di sekolahnya saat itu.