
"Woy...! Good morning brother hahaha...!"
Seru Riski mengagetkan Zafran yang sedang duduk menunggu angkutan umum.
"Kebiasaan lo selalu ngagetin." Sahut Zafran dengan nada kesal sambil memukul bahu Riski karena cukup terkejut dengan panggilannya tadi.
"Haha melamun mulu sih. Ehh ngomong- ngomong kemarin lu kemana, gue pulang jam setengah lima tapi lu belum sampai rumah. Emak lu nanyain lu ke gue, yah terpaksa gue bohong bilang masih ada kegiatan di sekolah. Parah ni lu. Di telpon juga gak bisa." ujar Riski bertanya dengan nada yang sarat keingintahuan alias penasaran.
"Oh itu hmmm, gue mampir di---" Zafran mengucap ragu, namun beruntung sebelum Zafran menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba angkot yang biasa mereka tumpangi ke sekolah sudah datang.
"Itu angkotnya udah dateng, ayok berangkat." kata Zafran mengalihkan percakapan. Diam-diam dia menghela nafas lega.
"Si Julian mana sih ? Jam segini belum nongol." gerutu Riski sambil melihat ke arah jauh.
"Udah nanti dia naik angkot berikutnya aja."
Ucap Zafran sambil segera menaiki angkot diikuti Riski.
"Hmm... ya udah lah siapa suruh telat. Pak jalan pak!" Seru Riski.
Belum jauh angkot berjalan, Zafran melihat dari kejauhan Julian datang sambil berlari, dia melambaikan tangan mengisyaratkan untuk menghentikan angkot agar dia bisa ikut juga.
"Pak! Bentar pak! Itu temen saya lagi ngejar angkot, mau ikut." Kata Zafran kepada pak sopir. Beruntung sopir angkot sudah kenal akrab dengan mereka jadi dia tidak keberatan menghentikan angkotnya untuk Julian.
Julian yang berlari cukup jauh untuk mengejar angkot, menaiki angkot dengan nafas tersengal-sengal. Dia segera duduk di kursi yang masih kosong, mengatur nafasnya sebelum berbicara.
"Ah tega lu berdua, main ninggalin gue." kata Julian dengan napas memburu.
"Elu tuh kebiasaan bangunnya kesiangan mulu, liat tuh si Zafran saking rajinnya dia yang bangunin ayam tetangga. Hahaha.."
Ujar Riski diselingi dengan candaan receh miliknya.
Mereka pun tertawa lepas, beruntung isi angkot masih mereka bertiga jadi tidak perlu sungkan penumpang lain terganggu dengan tawa mereka. Mereka kemudian kembali mengobrol, ditemani Zafran yang hanya sesekali menanggapi dan kembali memasang wajah dingin miliknya.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di sekolah dan langsung menyusuri lorong kelas menuju kelas mereka masing-masing.
"Zaff entar jam istirahat pertama lu ke kantinnya bareng si Fandi aja ya, soalnya kita berdua gak bisa gabung dulu, ada pertemuan buat para anggota basket, kemarin pak Agus udah wanti-wanti." Kata Julian kepada Zafran sebelum memasuki kelasnya.
"Kita ketemu istirahat berikutnya aja. Tapi klo rapatnya cepet selesai, kita bakal nyusul ke kantin. OK ?" tambah Riski.
"OK." Jawab Zafran singkat lalu kembali berjalan menuju kelasnya.
Sesampainya di kelas, Zafran langsung tertuju ke arah pemandangan yang akhir-akhir ini sudah biasa ia lihat. Tiga sekawan yang selalu bersama, bercanda dengan dialeg yang berbeda yang kemudian disusul tawa kecil mereka.
Keakraban mereka memancing keirian anak-anak lain. Mereka ingin berada di posisi Seulgi yang dapat akrab dengan Dinda si putri sekolah yang baik hati dalam waktu singkat. Berbeda dengan mereka yang sudah mengenal Dinda cukup lama namun tidak bisa seakrab Seulgi. Keirian mereka memunculkan cerita dan rumor yang tidak benar berisi hal-hal buruk tentang Seulgi. Beruntung rumor tersebut tidak mempengaruhi Ayumi dan Dinda, malah mereka semakin akrab dan tidak peduli dengan rumor tersebut.
Mereka tetap menghabiskan waktu mengobrol bersama sambil menunggu guru mata pelajaran masuk ke kelas.
Tapi hari ini, Dinda terlihat gelisah. Dia tampak tidak fokus bahkan hingga jam pelajaran usai. Hal itu tidah lepas dari perhatian Ayumi, meskipun begitu Ayumi belum berani bertanya langsung kepadanya.
Krrrringgg
Krrrringgg
Krrrringgg
Bel tanda jam Istirahat pertama berbunyi, Ayumi membereskan perlengkapan belajarnya sebelum bangkit berdiri meninggalkan tempat duduknya.
"Din, ke kantin yuk.." Ajak Ayumi kepada Dinda.
"Ehm, duduk bentar lagi Yum, gue mau ngomongin sesuatu." ujar Dinda dengan raut wajah serius.
"Mau ngomong apa Din ? Emang ada masalah apa ? Dari tadi aku perhatiin, kamu kayak gelisah." Balas Ayumi mengutarakan rasa penasarannya sambil kembali duduk di tempatnya.
Seulgi yang tidak mengerti apa-apa dan suasana yang tiba-tiba berubah serius membuatnya memilih duduk kembali di bangkunya.
"Ehm, biasa Yum. Kayaknya tanpa gue jelasin lo udah paham." Kata Dinda sambil menatap Ayumi dalam. Ayumi mengerti, masalah keluarga pastinya.
"Hmm, ya udah trus mau bahas apa ?" Tanya Ayumi pelan.
"Itu... gimana kalo pulang sekolah temenin gue ke tempat rahasia kita ya. Gue bosen di rumah, pengen sendirian aja tapi kayaknya gak asik juga kalo sendirian mulu. Jadi temenin gue. Itu kalo nggak sibuk sih, kalo ada janji atau kerjaan, gapapa deh gue pergi sendiri."
"Enggak ada sih, tapi sekalian aja kalo gitu ajak Michelle sama Seulgi. Seulgi-ya, pulang sekolah kamu ada kegiatan gak ?" Tanya Ayumi kepada Seulgi.
"Gak ada sih, rencananya langsung pulang aja." jawab Seulgi.
"Ya udah, ikut bareng aja. Boleh gak Din ?" Tanya Ayumi.
"Boleh lah, gue gak ajak karena takutnya mereka gak bisa, apalagi Michelle noh, sibuk amat tuh anak." ujar Dinda.
"Emang mau kemana ? Kok nggak ngajak gue ? Aish kecewa nih gue." Ujar Michelle yang datang tiba-tiba dari belakang dengan nada bergurau.
"Astagaa, kebiasaan banget nih anak datang tiba-tiba. Pulang sekolah lo sibuk nggak ? Kalau kagak, ikut kita nanti. Mau gak ?" kata Dinda.
"Lo pikir kalo jalan-jalan ke mall nih anak berdua juga mau ikut ?" ujar Dinda sambil melirik Ayumi dan Seulgi.
"Hahaha iya juga sih." kata Michelle sambil tertawa menatap kedua teman pendiamnya itu.
"Tapi ngomong-ngomong kalian mau ke kantin gak nih ?" Tambahnya.
"Emang kalian pada lapar ? Kalo gue sih enggak." ujar Dinda sambil menatap Ayumi dan Seulgi, yang ditatap hanya menggeleng.
"Ya udah kita bertiga gak ke kantin, kita ngobrol aja disini. Nanti istirahat kedua kita baru pergi makan. OK ?" Michelle mengangguk mengerti. Dinda melanjutkan obrolan mereka dengan bercerita dan bercanda seperti biasa.
Disisi lain, Zafran dan Fandi yang dikira Riski ke kantin malah terlihat sedang duduk membaca buku di bawah pohon depan perpustakaan. Mereka memutuskan untuk makan di jam istirahat kedua nanti bersama Riski dan Julian.
Tak lama kemudian terdengar bunyi lonceng pertanda jam istirahat pertama berakhir dan mata pelajaran berikutnya akan berlangsung. Mereka pun kembali ke kelas mereka masing masing tanpa sepatah kata dan hanya menggunakan bahasa isyarat yang mereka sudah saling mengerti. Watak si dingin dan si kutu buku.
"Udah bel tuh, gue balik ke kelas yah.." sahut Michelle kepada yang lainnya.
"Oke, nanti jam istirahat langsung ke kantin aja gak usah kesini." balas Dinda.
"Sip.." kata Michelle sambil mengajukan jempolnya.
"Dahh...!"
"Dahh..!" balas mereka dengan nada pelan sambil bersiap untuk mata pelajaran berikutnya.
Sesuai perjanjian mereka, jam istirahat kedua mereka bertiga langsung bergegas menuju kantin untuk makan siang dan sesampainya mereka di kantin terlihat lambaian tangan dari meja sudut kantin tempat biasa mereka makan. Benar saja itu adalah Michelle yang sudah menunggu mereka.
"Udah pesan makanan belum?" tanya Dinda kepada Michelle.
"Udah, gue pesenin kek biasa. Lu sama gue nasi goreng, Ayumi sama Seulgi gado-gado."
kata Michelle menjawab. Mereka bertiga serentak menjawab iya lalu kemudian saling tertawa kecil
Ketika menunggu pesanan mereka, terdengar suara Riski dan Julian yang sedang tertawa lepas sambil menuju kantin tempat mereka makan.
"Wihh sang putri sekolah lagi makan nihh." Seru Riski dengan nada sedikit ngejek sambil menghampiri mereka berempat.
"Si ratu cerewet juga disini nih." tambah Julian mengejek Michelle.
"Wahh mau gue gibeng aja nih anak dua."
balas Michelle do nada bercanda. Karena mereka sudah saling mengenal karakter masing masing. Setiap kata yang keluar dari mulut mereka berdua pasti semuanya gurauan.
"Canda Chell jangan galak-galak lah. Hahaha.." Balas Julian sambil tertawa.
"Zafran ! Oiii ! Fandi !! Duduk sini aja biar rame!" Teriak Riski kepada Zafran yang sedang memesan makanan.
Zafran tidak menjawab namun tetap menghampiri mereka dengan tetap memasang wajah dinginnya seperti biasa sementara si Fandi berjalan menunduk karena merasa sedikit malu dan canggung untuk menghampiri mereka. Fandi memilih duduk di meja sebelah mereka.
Sambil menunggu makanan mereka, Michelle mulai membuka topik agar tidak terasa terlalu canggung.
"Zaf jangan lupa hari senin dateng jam istirahat pertama, lanjutin rapat penentuan acara awal semester sekolah." kata Michelle kepada Zafran.
Seperti biasa, Zafran hanya menjawab singkat "OK" lalu kembali senyap. Tapi bukan Michelle namanya kalau tidak bisa membuat suasana menjadi ramai.
"Ki, kelompok basket tadi lagi diskusiin apaan ? Gue liat tadi lu pada pakai ruang rapat OSIS." kata Michelle bertanya kepada Riski.
"Oh itu lagi bahas soal lomba antar sekolah yang diadain tahunan, lu taukan kegiatan lomba antar sekolah tahunan itu. Tapi masalahnya kita kekurangan anggota tim, secara senior udah pada lulus." jawab Riski menjelaskan.
"Bukannya anak basket banyak ya ? Perasaan tuh lapangan penuh kalo kalian main." tanya Dinda dengan wajah heran.
"Ya emang banyak, tapi kebanyakan dari mereka masuk tim basket bukan buat main sama berlatih tapi cuma cari nama doang biar dikenal cewe-cewe!" Balas Julian dengan nada sedikit kesal.
"Ya elahhh..." rungut dinda dengan wajah asam.
Tak lama setelah mereka ngobrol pesanan merekapun tiba. Mereka menyantap makanan masing-masing sambil tetap melanjutkan obrolan.
"Ada sih sebenarnya satu orang yang bisa main basket. Seenggaknya dia lebih jago daripada anak-anak yang cuman cari muka itu . Tapi gue yakin dia gak bakalan mau gabung." ujar Riski dengan nada meyakinkan sambil menelan makanan di mulutnya.
"Emang ada ? Siapa ? Kok yakin banget dia enggak bakal mau ?" tanya Dinda penasaran.
Riski dan Julian hanya mengangkat kepalanya, memperlihatkan mulutnya yang penuh dengan makanan sambil memandang Zafran bersamaan. Yang ditatap tidak bergeming, tetap pada ekspresi dingin miliknya.
Keempat gadis itu bersama Fandi menyeringai bingung sekaligus kesal. Jangan bilang kedua anak itu hanya memancing candaan. Tindakan mereka tadi semakin meyakinkan jika mereka hanya becanda. Alhasil tidak ada yang menghiraukan mereka lagi. Yang lain memilih mengabaikannya dan mengobrol masing-masing tanpa melibatkan Riski dan Julian.
Poor mereka berdua.
#