
Krrriiingg
Krrriiingg
Krriiingg
Bunyi lonceng terdengar panjang, pertanda waktu sekolah sudah selesai. Kebisingan anak-anak di setiap kelas pun sudah dimulai, dimana mereka bergegas untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Tidak sabar bertemu kasur mereka yang nyaman setelah hampir seharian bergelut dengan angka dan kata yang memusingkan. Termasuk Dinda, Ayumi, dan Seulgi, mereka pun sibuk membereskan peralatan belajar mereka, lalu keluar kelas beriringan. Ketika mereka sedang berjalan menyusuri lorong sekolah menjauh dari ruangan kelas, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil mereka.
"Ayumi ! Dindaa !! Seulgi !"
Ketika mereka melihat ke arah teriakan tersebut, rupanya Michelle yang memanggil mereka. Terlihat dari kejauhan dia berteriak sambil melambaikan tangannya ke arah mereka bertiga
"Iya!!!" balas mereka bertiga ikut berteriak sambil bergegas berjalan mendekat ke arah Michelle.
"Ada apa Chel ? Tumben udah di sini.." tanya Dinda.
" Biasa, kelas selesai lebih cepet. Oh iya, Din itu jemputan lo udah nungguin dari tadi." jawab Michelle.
"Ohh gitu, pantes.. Oke guys gue pulang duluan yah, sayang banget kita nggak searah, jadi nggak bisa barengan pulang." Ungkap Dinda dengan nada sedikit kecewa.
"Gapapa kali Din, mau gimana coba. Sampai jumpa besok lagi yaa.." ujar Ayumi sambil tersenyum.
"Dahhh semuaa!" Kata Dinda sambil melambaikan tangan, lalu berjalan ke arah tempat jemputannya menunggu. Dibalas lambaian tangan dari Ayumi, Seulgi dan Michelle.
"Yahhh kalo begitu, Seulgi juga pulang sendirian lagi dong. Soalnya rumah kita juga berlawanan arah." Kata Ayumi dengan raut wajah sedih, sambil memegang tangan Seulgi erat.
"Gapapa, besok kan kita bisa ketemu lagi." jawab Seulgi sambil tersenyum. Ayumi pun ikut tersenyum dan melepas genggamannya di tangan Seulgi.
"Ehmm, kalo gitu sampai jumpa besok Seul.. Dahhhh.." sahut Ayumi dan Michelle bersamaan sambil berjalan menjauh meninggalkan Seulgi ke arah berlawanan dengan yang diambil Seulgi.
Zafran seperti biasa dia selalu pulang paling akhir. Dia baru meninggalkan kelas setelah semua orang keluar. Dia tidak suka berdesak-desakan berebut jalan untuk keluar kelas, seolah-olah dikejar. Setelah kelas sepi dia mulai berjalan keluar kelas dengan ciri khasnya earphone tergantung setia di telinganya. Dia berjalan menyusuri lorong kelas ke arah lapangan basket, menghampiri Rizki dan Julian yang berlatih ringan disana. Rizki dan Julian sebagai anggota club basket berlatih disana tiga kali dalam seminggu. Zafran yang hanya berteman dengan mereka biasanya akan menunggu mereka selesai latihan, lalu pulang bersama.
"Woi Zaf !" Riski yang melihat siluet Zafran segera berteriak menyapa sambil melambaikan tangannya. Dia lalu mengoper bola ke arah Julian.
Zafran hanya balas mengangkat tangannya lalu duduk di bangku penonton yang jauh dari gerombolan beberapa anak gadis yang juga ikut menonton. Dia duduk sambil memainkan ponselnya.
Namun hari ini entah kenapa Zafran terganggu dengan kehadiran beberapa siswi tersebut. Mereka memang selalu hadir menyempatkan diri menonton anak basket. Apalagi di jam pulang seperti ini. Mereka menonton khususnya untuk Riski dan Julian. Kedua anak itu memang paling populer, dengan ketampanan dan sifat mereka yang hangat. Zafran berusaha mengabaikannya seperti biasa. Tapi kali ini dia benar-benar tidak tahan. Ia pun berdiri, lalu mengisyaratkan kepada Riski dan Julian bahwa dia ingin pulang terlebih dahulu. Riski yang memang sudah ingin istirahat segera menghampiri Zafran.
"Ada apa Zaf ?" tanya Riski masih dengan nafas terengah-engah sambil meminum air dari botol yang ada ditangannya.
"Gua balik duluan. Nanti lu pulang bareng Julian aja. Gue pengen jalan kaki kek biasanya." jawab Zafran.
"Emang lo kenapa ? Tumben pulang duluan. Tungguin aja, tapi ini emang masih lama sih, soalnya telat dimulai juga." kata Riski sambil menebarkan senyum lebarnya ke arah siswi yang menontonnya sejak tadi. Gerombolan tersebut tentu heboh sendiri diperlakukan seperti itu. Zafran memutar matanya risih melihat mereka.
"Gada apa-apa, gue cuma pengen pulang lebih awal aja. Lagian gue risih." Jawab Zafran. Riski pun mengangguk paham, Zafran risih dengan kehebohan para siswi itu.
"Ya udah hati-hati di jalan, entar diculik tante
gemes lagi. Hahahah..." kata Riski dengan lawakan garingnya. Zafran hanya tersenyum tipis menanggapi.
"Jul, duluan ya!" seru Zafran ke arah Julian yang masih mendribble bola bersama teman satu timnya di lapangan.
"Yooo!!! Hati-hati!!" balas Julian sambil kembali fokus memainkan bola basketnya.
"Yoo!" balas Zafran singkat sambil berjalan menjauhi lapangan basket.
Mereka bertiga memang sering pulang jalan kaki, jarak rumah mereka dari sekolah memang terbilang tidak terlalu jauh. Meskipun tidak bisa dikatakan sangat dekat juga. Kebiasaan mereka ini memang terbilang unik. Mereka bertiga suka berjalan karena ingin berolahraga, ditambah mereka punya lebih banyak waktu untuk saling bercanda, dan bercerita banyak hal. Dengan berjalan kaki mereka juga bisa memperhatikan sekeliling, membantu lansia menyeberang jalan, membantu orang yang kesulitan dengan tenaga mereka, memperhatikan perubahan lingkungan mereka, dan masih banyak lagi. Karena kebiasaan dan kebaikan mereka itulah yang kemudian membuat mereka tidak hanya populer disekolah tetapi juga di kalangan lansia dan orang-orang disekitar tempat yang mereka lewati.
Belum jauh Zafran meninggalkan area halaman sekolahnya, dalam perjalanan dia menemukan seorang nenek yamg tampaknya ingin menyeberang jalan.
"Nek, mau kemana ? Mau nyebrang ya ?" tanya Zafran lembut tanpa kesan dingin yang biasa dia keluarkan ketika sudah berada di dekat nenek yang di pinggir jalan itu.
"Oh kamu Cu.." ujar Nenek itu sudah tidak asing dengan Zafran.
"Tidak, nenek sudah menyeberang. Tadi sudah dibantu gadis baik hati. Dia juga bukan cuma bantu nenek, tapi juga anak TK yang menyebrang bolak balik. Bahkan dia beliin nenek sebotol air." Ujar Nenek itu sambil menunjukan sebotol yg di tangannya.
"Kayaknya dia temen sekolah kamu, soalnya seragamnya tampak sama dengan yg kamu kenakan." sambung nenek itu lagi sambil tetap berjalan perlahan dibantu Zafran
"Oh gitu nek, memangnya nenek dari mana?" Tanya Zafran lagi kenapa Nenek itu.
"Nenek habis dari apotek seberang sana, buat beli obat." Jawab nenek itu membalas pertanyaan Zafran.
Zafran lalu mengajak nenek tersebut duduk di bangku yang ada di hadapannya. Dia memikirkan perkataan nenek itu tentang gadis yang membantu nenek tersebut. Dia penasaran dan merasa heran, setahunya tidak ada gadis SMA yang tinggal disekitar situ, terlebih lagi sangat jarang anak SMA yang berjalan kaki melalui jalan itu. Zafran kemudian bertanya kembali kepada nenek itu tentang gadis tersebut.
"Oh iya nek, gadis yang bantu nenek nyebrang tadi ciri-cirinya kayak gimana ?" Tanya Zafran dengan nada penasaran.
"Dia tinggi, tingginya sama kayak kamu, cantik, kulitnya putih rambutnya juga panjang. Tapi dia sepertinya pendiam, karena saat nenek ajak bicara dia hanya tersenyum lalu lanjut pergi ke arah sana." kata nenek itu sambil menunjuk ke suatu arah.
"Ohh.." Zafran hanya ber-oh ria namun tetap merasa bingung.
"Kenapa sendirian Cu ? Biasanya kan bertiga sama temennya. Mereka kemana Cu ?" Tanya nenek itu dengan raut wajah penasaran.
"Temen-temen saya masih ada kegiatan di sekolah Nek, Makanya aku pulang sendirian hari ini." jelas Zafran pelan.
"Hmm begituu." ujar nenek sambil mengangguk.
Hening kemudian menyelimuti mereka sejenak. Membiarkan angin mengisi keheningan mereka yang diselimuti pikiran masing-masing.
"Ya udah nek, Zafran mau pamit pulang duluan ya. Nenek bisa jalan sendiri kan ke rumah." Kata Zafran kemudian memecahkan keheningan.
"Iya bisa Cu, rumah Nenek juga sudah dekat, di depan sana." jawab nenek lalu bangkit dari duduknya sembari memegang tongkatnya. Dia kemudian berjalan pelan menuju rumahnya.
"Maaf ya Nek, Zafran gak bisa anterin pulang." ujar Zafran.
"Gapapa Cu, nenek sudah bisa jalan kok dari sini ke rumah nenek. Kamu hati-hati pulangnya." kata nenek tersebut sebelum benar-benar pergi.
"Iya nek, nenek juga." Zafran kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju pulang. Pikiran Zafran masih dipenuhi dengan rasa penasaran mengenai siapa gadis itu. Karena begitu terganggu dengan rasa penasarannya sendiri, Zafran lalu memutuskan untuk berjalan ke arah yang ditunjuk nenek tadi ketika menjelaskan tentang gadis itu.
Tak jauh kemudian dari tempatnya melangkah, ia melihat seseorang yang tampak seperti teman sekolahnya yang keluar dari sebuah bangunan bercat putih, tampak memakai pakaian berwarna biru mencolok dengan rambut yang diikat.
Yang membuatnya sangat terkejut adalah apa yang dilihatnya ketika menyaksikan apa yang dilakukan oleh temannya disana.
Untuk pertama kalinya, Zafran melupakan ketidaknyamanannya berada di lingkungan ramai dan asing hanya karena rasa penasaran dan terkejutnya. Dia memutuskan bersembunyi dan memantau segala yang dilakukan oleh orang itu. Tanpa sadar dia sudah menghabiskan waktu beberapa jam untuk memastikan apa yang dilihatnya. Dia sangat heran sekaligus kagum, dia bahkan tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun untuk berkomentar.
Sebenarnya apa dan siapa yang dilihat oleh Zafran ? Apa yang dia lakukan sampai Zafran berbuat seperti itu ?
MISTERIUS.