
Semakin hari mereka pun semakin akrab, sejak hari itu sudah terhitung seminggu mereka saling berkumpul, mengobrol, saling bercanda dan selalu makan bersama di kantin.
"Hollaa semuaaa!" terdengar sapaan penuh semangat yang siapa lagi kalau bukan Michelle.
"Oh hey Chell! Wah keajaiban nih. Tumben banget lu bisa berangkat berdua bareng Ayumi. Gak biasanya si Ayumi dateng jam segini, kesambet apa Yum ?" kekeh Dinda diakhir ucapannya,
"Hahaha! Setelah sekian lama gue berhasil bujuk dia." jawab Michelle sangat bangga.
"Kok bisa ?" Tanya Dinda penasaran.
"Dengerin ya, jadi gini nih ceritanya..." Michelle menarik nafas panjang terlebih dahulu. Dinda pun bersiap mendengarkan.
"Jadi kemarin pas pulang, gue nggak sengaja pulang barengan sama nih anak, alhasil gue ajak lagi dong buat ke sekolahnya barengan lagi, biar gue ada temen ngobrol di jalan. Kapan lagi yekan Ayumi mau berangkat bareng gue. Awalnya gue khawatir dianya gak mau dan nggak bakal nungguin gue, soalnya saking keseringan gue ajak dia tapi dia tetep gak mau dan selalu berangkat duluan. Nah gak tau kenapa tadi pagi dia nungguin di depan pager. Sebenarnya gue juga heran sih. Ampe speechless, tapi bagus lah ya, gue seneng pokoknya." Jelas Michelle panjang lebar tanpa sedetikpun tidak tersenyum.
"Ya gak mungkin lah udah seakrab ini trus gak bisa pulang bareng. Apalagi kita udah sering main bareng, sampe makan bareng beberapa hari ini." Ujar Dinda.
"Hahaha iya sih, tau gitu udah dari dulu gue ajak makan nih anak." Ucap Michelle gemas dengan dirinya sendiri.
Mereka terus berbicara sambil berjalan menuju kelas mereka.
Ayumi yang tak bisa lepas dari sifat pendiamnya hanya tersenyum menanggapi obrolan Dinda dan Michelle.
"Gue masuk duluan yah, nanti ketemu jam istirahat kedua aja. Jam istirahat pertama gue ada rapat OSIS soalnya, OK ?" Ucap Michelle sebelum memasuki ruang kelasnya. Dinda dan Ayumi mengangguk mengiyakan sambil kembali berjalan menuju kelasnya.
Sesuai dengan sifat Michelle yang ceria dan bersemangat, bukan heran lagi jika dia anak yang juga cukup aktif dalam organisasi. Dia sanggup mengikuti beberapa organisasi di sekolahnya, termasuk OSIS.
Ketika Dinda dan Ayumi sampai di kelasnya, anak-anak yang lainnya hampir semuanya sudah datang. Termasuk Seulgi dan Zafran. Tetapi ada yang sedikit berbeda pagi itu, suasana kelas yang biasanya ramai dengan berbagai gosip pembicaraan sekarang sunyi, dan hanya terdengar beberapa anak yang saling berbisik. Tampaknya masih tentang Seulgi. Entah kenapa meskipun sudah seminggu berlalu, tetapi gosip tentang keluarga Seulgi masih saja menjadi pembicaraan hangat di kelasnya.
"Seulgi annyeong!" Sapa Ayumi seperti biasa.
"Ehm annyeong !" sahut Seulgi membalas sapaan Ayumi dengan senyum lembut miliknya.
Dibalik sikap Seulgi yang santai dan tetap diam dengan omongan miring yang dia dengar, hatinya tidak bisa berbohong untuk tidak bersedih mendengar gosip tersebut.
"Seulgi-ya PR matematika kamu sudah selesai ?" Tanya Dinda untuk mengalihkan suasana.
"Sudah, tapi semua jawabannya benar atau tidak, aku belum yakin." jawab Seulgi masih dengan aksen kaku bercampur Koreanya.
"Tentu sudah benar, gue yakin."
"Kamu tampaknya yakin banget Din." sahut Ayumi menanggapi.
"Ya iyalah, sini gue jelasin. Seulgi di Jakarta baru terhitung beberapa bulan, masuk sekolah ini baru seminggu. Tapi liat kan, dia udah lumayan bahasa Indonesianya. Kesimpulannya dia pinter." jelas Dinda.
"Yah itumah karena guru bahasanya pintar, siapa dulu gurunya." sahut Ayumi menyombongkan diri diiringi tawanya.
Obrolan ringan penuh candaan yang mereka lemparkan pun perlahan membuat suasana kelas mencair. Tawa mereka bertiga pun menular membuat beberapa anak kelas ikut tersenyum mendengarnya. Bahkan Zafran yang dingin bak es itu ikut tersenyum tipis mendengar gurauan mereka.
Krrringggg!!
Krrriingggg!!
Tak lama kemudian, lonceng untuk mata pelajaran pertama berbunyi, membuat semua siswa kembali duduk di bangku mereka masing masing.
"Selamat Pagi semua!" Sapa bu Salma, guru mata pelajaran pagi itu begitu memasuki ruang kelas.
"Pagi buu.." Balas siswa dengan serentak.
"Baik anak-anak, silahkan kumpulkan tugas yang ibu berikan minggu lalu, kita lanjutkan pelajaran dengan buka buku kalian di halaman 117." ujar bu Salma dengan nada intruksi.
"Baik buu..."
Mata pelajaran pun berlangsung dengan diam tanpa banyak usikan, bahkan anak nakal pun enggan berulah karena bu Salma memang dikenal dengan wibawanya kepada murid-murid.
"Baik anak-anak sekian pertemuan kita hari ini, kita bertemu kembali Minggu depan." ucap Bu Salma mengakhiri penjelasannya dan berjalan keluar kelas.
"Terimakasih buu.." ucap anak-anak serempak.
Tak lama kemudian, guru mata pelajaran kedua masuk dan memulai pembelajaran seperti biasa. Ditengah pembelajaran berlangsung, tiba-tiba ada anak dari kelas sebelah yang datang mengetuk pintu.
Tok!! tok!!
"Permisi bu." ujarnya sopan.
"Iya, ada apa ?"
"Saya mau meminta izin untuk membawa Zafran ikut rapat OSIS sekarang bu."
"Baiklah, silahkan.."
Zafran yang mendengar hal itu langsung mendongak kebingungan namun tetap segera berdiri menghampiri anak itu. Sebelum pergi dia mengantongi ponsel dan earphonenya.
"Permisi bu.." kata Zafran sopan namun tetap dingin. Dibalas anggukan oleh guru mata pelajaran.
Begitu keluar kelas, Zafran langsung memasang earphone di telinganya dan berjalan santai namun tetap dengan gaya dingin khas miliknya menuju ruang OSIS.
Tokk.. Tokk..!
"Hai Zafran, masuk.. duduk di kursi sebelah sana." ujar Michelle mengintruksi, menunjuk kursi sebelah tempat duduknya tadi. Dia tersenyum ceria namun hanya ditatap diam oleh Zafran. Meskipun masih bingung, Zafran tidak berniat bertanya dan memilih diam mengikuti rapat itu. Setelah hampir tiga puluh menit, rapat itu pun selesai, bersamaan dengan lonceng istirahat kedua berbunyi.
Zafran mengetikkan sesuatu di ponselnya dan berjalan keluar ruang OSIS menuju tempat favoritnya. Tempat yang sepi dan damai di dekat perpustakaan.
"Akhirnya selesai, ke kantin yuk." Ajak Ayumi pada kedua temannya, Dinda dan Seulgi.
"Kita enggak nungguin Michelle dulu ?" tanya Seulgi.
"Michelle palingan udah nungguin disana Seul, tadi pagi kita udah janjian, soalnya dia ada rapat OSIS tadi." jelas Dinda.
Mereka bertiga pun berjalan beriringan menuju kantin untuk mengisi perut mereka setelah pelajaran yang cukup menguras tenaga dan pikiran.
"Din.. Dindaaa..! " terdengar teriakan seseorang yang sudah mereka hafal. Dan benar saja tampak Rizki dan Julian datang dengan setengah berlari menghampiri mereka.
"Apaan sih teriak-teriak, kayak dikejar anjing satpol PP aja." ujar Dinda dengan nada sedikit kesal.
" Galak amat sih Din, gitu banget. Liat Zafran gak ?" tanya Riski sedikit terengah-engah.
"Lo tanya gue liat dia dari kapan ?? Barusan atau gimana ?" kata Dinda.
"Kapan lo liat dia aja deh.." sahut Julian.
"Terakhir dia ikut rapat OSIS pas masih ada kelas, sekarang nggak tau." jawab Dinda.
"***** ngapain tuh anak ikut rapat OSIS, diakan bukan anak OSIS." ujar Rizki bermonolog sendiri, Julian hanya mengangguk membenarkan.
Ketika Dinda berbicara dengan Rizki dan Julian. Seulgi lalu berbisik sesuatu ke Ayumi. Ayumi sedikit terkejut, ada yang aneh tapi dia diam saja.
"Eum, kata Seulgi, Zafran lagi ada di perpustakaan." kata Ayumi menjelaskan.
"Lahhh ngapain tuh anak ke perpustakaan ?" Bukannya ke kantin buat makan, gak laper apa dia ? Emang bener-bener si es satu itu." keluh Julian tak habis pikir dengan sifat dingin Zafran yang lebih dingin dari es kutub itu.
"Oke deh, makasih ya, kita mau ke si Zafran dulu.. dahhhh.." kata Riski sambil berlalu ke perpustakaan diikuti Julian.
Dan benar kata Seulgi, Zafran berada di perpustakaan, taman perpustakaan tepatnya.
"Woy Zafran lu ngapain di depan situ?!" Seru Julian. Terlihat dari kejauhan Zafran sedang duduk di bangku bawah pohon depan perpustakaan dengan sebuah buku ditangannya, tak lupa dengan earphone yang menggantung ditelinganya.
Zafran yang mendengarkan seruan Julian hanya melirik sekilas lalu kembali membaca bukunya.
"Lo ngapain sendirian disini ? Ke kantin yok.. hosh..hosh.." kata Riski masih dengan nafas terengah-engah sehabis berlari.
"Lo berdua mau makan emang ? Palingan mau liatin cewek-cewek." kata Zafran dengan nada sedikit lunak. Bercandanya dia tak jauh dengan sindiran.
"Ahhh tau aja sih, hahahaha.." ujar Julian sambil tertawa. Zafran hanya menggeleng kepala sambil tersenyum tipis menanggapi kelakuan ajaib temannya yang berbeda 180 derajat darinya.
Zafran bangkit dari duduk dan berjalan menuju kantin bersama Rizki dan Julian. Ketika berjalan Zafran melihat Fandi si kutu buku yang duduk sendirian membaca buku di sudut perpustakaan. Berteman dengan Zafran membuat Riski dan Julian tentu sudah paham dan peka dengan sifat Zafran. Tampak dari ekspresi Zafran yang terlihat simpati dan kasihan melihat Fandi yang tidak memiliki teman dan selalu sendiri.
Riski pun menghampiri Fandi untuk mengajak nya ke kantin bersama.
"Eh kutu buku, sini deh.." seru Riski sambil melambaikan tangannya ke arah Fandi.
"Eh ad-ada ap-apa ?" jawab Fandi dengan terbata-bata. Dia tampak sedikit takut.
"Lo ngomong kek sama gebetan aja, terbata-bata. Gada apa-apa, kita cuma mau ngajak lo ke kantin, sekalian ngobrol mau nanyain tugas dari pak Sukri, gue nggak paham." Jelas Riski sambil mengedipkan mata ke Zafran dan Julian.
"Eh tap-tapi.."
"Udah ikut aja." sahut Zafran memotong ucapan Fandi, lalu berjalan mendahului.
"Udah ikut aja, kita nggak bakal bully elo." kata Julian menambahkan. Fandi pun terdiam dan tidak bisa menolak. Dia mengikuti mereka ke kantin.
"Bu pesen kek biasa yaa.." kata Riski kepada ibu kantin yang sudah akrab dengan mereka saking seringnya mereka makan disitu.
"Nasi goreng, mie ayam, sama gado-gado masing-masing satu porsi kan ?" kata bu kantin memastikan.
"Pass buu." kata Riski sambil mengacungkan jempolnya.
"Lo mau makan apa?" tanya Zafran ke Fandi.
"Nasi kuning aja." Jawab Fandi masih sedikit kikuk.
"Bu, tambah nasi kuning pake telur sama sosisnya satu." kata Zafran kepada ibu kantin.
Raut wajah Fandi sedikit berubah mendengar pesanan Zafran, dia membayangkan harga makanan itu tidak sesuai dengan uang jajan yang dia bawa.
"Tenang aja, gue bayarin." kata Zafran mengerti raut wajah Fandi. Fandi pun tidak tau harus berbuat apa lagi, dia merasa sedikit beruntung dan tidak enak kepada Zafran.
"Gak perlu sungkan, lo temen kita bertiga sekarang." lanjut Zafran dan diangguki Riski dan Julian. Fandi hanya tersenyum kikuk menanggapi perkataan Zafran. Baik hati, itu Zafran dimata Fandi sekarang.
Tak berselang lama pesanan mereka pun datang. Disela-sela makannya mereka mengobrol menghiraukan suasana ramai disekitarnya.
"Zaf, kata si Eko anak kelas sebelah tadi lu di panggil keruang rapat OSIS ada apa emang ?" tanya Julian.
"Itu mereka tadi cuma bahas soal kegiatan rutin awal semester baru." jawab Zafran.
"Yang liburan 3 hari itu ya ?" tanya Fandi, dan Zafran mengangguk membenarkan.
"Oh yang itu, tapi kok lo diundang rapat? Lo kan bukan anak OSIS." Ucap Julian dengan ekspresi bingung.
"Buat minta saran tempat yang bagus dan sesuai budget acara." jawab Zafran santai.
"Oh mungkin itu yang dimaksud Michelle kemarin. Si Michelle bilang ke gua gimana kalo liburan kali ini dibawa camping, biar gak bosen kek tahun lalu." kata Rizki.
"Lahh tapi apa urusannya sama si Zafran ?" tanya Julian masih bingung.
"Mungkin karena Zafran anak Sispala, jadi buat dimintain rekomendasi tempat yang cocok." kata Fandi dengan suara pelan.
"Ohhhh iya yaaaa, duh gak nyampe otak gue." kata Julian sambil menepuk jidatnya. Itu masuk akal. Zafran hanya mengangguk membenarkan lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Disudut kantin tampak Seulgi, Ayumi, Dinda dan Michelle yang sedang mengobrol seru diselingi tawa oleh mereka. Mereka makan sambil bercanda menertawai logat Seulgi yang masih kental dengan aksen Koreanya. Zafran pun tersenyum tipis memperhatikan mereka. Entah kenapa akhir-akhir ini dia mulai banyak tersenyum. Ada apa ?? Entahlah..