
Kota Princeland – Didalam sebuah Mobil.
Aleena kini sedang duduk di kursi tengah mobil bersama Agustas, penyelamat kedua dia juga anak-anak yang menjadi korban di Kapal Dragon Transport.
“Baiklah, kita sekarang sudah di mobil, sekarang jawab, kenapa anak kecil sepertimu bisa berada di Kota Princeland? Kau tahu kalau kota ini terlarang untuk anak-anak apalagi orang asing.” kata Agustas tegas.
“Aku sampai di kota ini dan mungkin anak-anak yang lain juga dengan alasan sama karena kami merupakan korban dari kejahatan manusia, kami di jual oleh keluarga kami sendiri.” kata Aleena lalu kemudian terdiam.
Agustas juga diam, suasana jadi hening dan tegang. Beberapa saat kemudian, pria itu kembali bicara.
“Kamu di jual oleh keluargamu sendiri dan lalu dibawa ke kota ini?” tanya Agustas.
“Iya benar. Aku mendengarkan nya secara langsung dari orang yang memakai jas putih saat di kapal, kalau aku dan anak-anak yang lain akan dijadikan penghibur di kota yang jauh, yang aku baru tahu kalau kota itu adalah Princeland.” jawab Aleena, dia menjadi takut, kata-katanya yang keluar tampak bersuara lemah.
Agustas lalu mengambil botol minuman dingin di jok belakang dan memberikannya pada Aleena.
“Ini minumlah gadis kecil, kamu tampak tertekan sekali.” kata Agustas pada Aleena.
“Terima kasih Pak.” Aleena mengambil botol dan lalu membukanya kemudian langsung meneguknya sampai tersisa setengah.
“Kita hampir sampai, lanjutkan ceritamu setelah istirahat saja. Saya masih ingin mendengarkan cerita tentang latar belakang dan masa lalumu, karena mungkin saya adalah orang satu-satunya yang bisa membantu.” lanjut Agustas.
“Terima kasih banyak Pak, tapi bapak mungkin bisa kerja sama dengan orang yang pertama kali menolongku sebelumnya.” kata Aleena yang tampak semakian mempercayai Agustas dan tidak ragu-ragu lagi bicara tentang pria pertama yang menolong dirinya juga anak-anak.
“Siapa dia? Gadis kecil, di kota ini jangan percaya pada siapapun.” Agustas tampak memberikan peringatan.
“Tapi dia bisa dipercaya, karena kami ketemu di kapal yang sama dan dialah yang membuat aku juga anak-anak bisa tiba di pantai.” tambah Aleena, berusaha mendapatkan kepercayaan.
“Baiklah, kalau begitu bisakah kamu memberikan nama pria itu pada saya? Saya akan menggunakan nama itu untuk mencari informasi tentang pria itu dan saya jamin tidak akan ada masalah apapun yang terjadi padanya.” kata Agustas kemudian.
“Namanya Zhang Chou, Jenderal Timur Bintang Satu dari pasukan perdamaian dunia.” ucap Aleena.
“Oke dan sekarang dimana pria itu? Seharusnya dia berada di pantai bersama kamu juga anak-anak yang lain.” lanjut Agustas kemudian.
“Dia sekarang entah berada dimana, terakhir bertemu dengannya saat kami harus terpisah karena jenderal itu menghadang penjahat saat di kapal agar aku dan anak-anak bisa kabur…” Aleena lalu tampak bersedih, dia benar-benar memikirkan gimana nasib kakak Zhang.
“Kalau kamu cerita seperti itu, saya yakin dia orang baik dan pasti dalam keadaan baik-baik saja, berdoa saja. Seorang brigadir tentu tidak akan mati semudah itu. Saya tertarik bertemu dengannya.” balas Agustas dan langsung percaya pada Aleena juga Zhang, dia juga mengelus-elus rambut Aleena untuk menenangkannya.
Mobil dan Bus yang membawa Agustas, Aleena, dan anak-anak akhirnya berhenti di bangunan yang cukup besar dan berlantai empat. Mereka lalu semuanya turun.
Agustas tampak berdiri didepan Aleena dan anak-anak yang berada dibalik punggung gadis itu.
“Jangan takut anak-anak, kalian saya jamin aman. Ini merupakan bangunan panti asuhan milik Land Grup, perusahaan saya sendiri, untuk menampung para gelandangan, yatim piatu, dan orang-orang yang kesusahan di kota ini. Meskipun bangunan ini sudah kosong sejak seminggu yang lalu, tapi kondisinya terjaga, nyaman dan pasti aman.” kata Agustas.
“Ayo bilang terima kasih sama bapak baik hati ini.” Bisik Aleena pada anak-anak supaya mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih bapak yang baik.” Ucap anak-anak itu serentak meskipun masih tampak malu-malu dan sedikit takut.
Tidak lama kemudian, muncul seorang wanita muda, cantik, tinggi, dan langsing menggunakan pakaian rapi baru saja keluar dari bangunan itu. Wanita itu langsung mendekati pak Agustas.
“Nah ini adalah anak perempuan saya, Natasha Landario, dia adalah ketua panti asuhan yang akan mengurus kalian bersama para pegawai panti lainnya.” Kata Agustas sambil memperkenalkan wanita muda, yang ternyata anaknya.
“Terima kasih Papa. Oke anak-anak sekalian, saya kakak Natasha, selamat datang di panti asuhan ini. Disini kalian akan dijaga, diurus, dan diberikan makanan juga di biayai sekolah sampai kalian bisa hidup mandiri atau pulang kembali ke orang tua kalian masing-masing.” Ucap Natasha dengan kalimat pembukanya.
Tapi jawaban yang muncul dari anak-anak….
“Kami tidak mau kembali ke orang tua kami lagi! Kami senang bersama kakak Aleena dan Kakak Zhang! Mereka adalah orang tua kami sekarang!” balas anak-anak itu tampak kompak dan Aleena pun kaget karena tidak bisa menghentikan ucapan itu.
“Kak Zhang? Oke-oke, maaf ya kakak tidak tahu. Boleh saja, kalian tinggal disini selama mungkin, itu tidak jadi masalah untuk kakak.” kata Natasha kemudian, dia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dari keluarga ke hal lain.
Wanita muda itu sendiri juga tidak menyangka kalau anak-anak itu begitu trauma dengan keluarga mereka sendiri.
“Terima kasih kak Natasha, saya Aleena, mewakili anak-anak akan berusaha sebaik mungkin untuk tetap bersikap baik juga sopan saat di panti ini.” balas Aleena berterima kasih.
“Sama-sama, jadi ayo silahkan masuk ke panti, biar dapat kamar dan istirahat, sudah larut malam.” ajak Natasha kemudian.
Kemudian Aleena dan ke-19 anak-anak itu masuk kedalam panti asuhan mengikuti Natasha juga ayahnya Agustas. Ketika baru masuk kedalam panti, tampak suasana lobi panti yang luas.
“Keren panti ini ada lift nya.” kata Marten terkagum-kagum sambil melihat lobi panti dengan dua pintu lift.
“Iya dong.., kalau gak ada lift, pasti kita capek kalau pakai tangga untuk naik turun lima lantai. Ayo kita langsung naik lift, bagi-bagi yaa dalam dua lift.” ajak Natasha kembali.
Setelah terbagi dalam dua lift, mereka langsung naik ke lantai tiga.
“Lantai dua, empat, dan limanya apa kak?” tanya Marten ketika didalam lift.
“Oh, lantai dua itu tempat makan. Lantai empat juga masih ruangan berupa kamar-kamar, dan lantai lima untuk ruang bebas, seperti ibadah, administrasi, olahraga didalam, dan lain-lain.” Jawab Natasha menjelaskan.
“Wah keren dong! Coba kalau ada kak Jenderal, pasti bisa latihan bareng. Kak Jenderal itu jago berantem juga.” ucap Marten semangat. Bocah itu tampak membayangkan gimana serunya Kak Natasha dan Kak Jenderal Zhang bertarung.
Natasha lalu agak menunduk ke Marten, dia juga sambil tersenyum.
“Pengen dong ketemu sama kakak Jenderal mu itu…” kata Natasha dengan senyuman manisnya.
“Aku juga pengen ketemu lagi kak, tapi sekarang kakak Jenderal gak tahu berada dimana…” Marten setelah berkata itu tampak menunduk dan agak sedih. Natasha mengangkat kepalanya dan memegang kedua bahu bocah itu.
“Jangan sedih begitu, pasti kakak Jenderal mu itu baik-baik saja. Apalagi kata kamu kan, jago beladiri, Jenderal lagi.” Natasha menyemangati Marten, bocah itu tampak senyum kembali.
Sementara Aleena yang sedari tadi diam dan hanya memperhatikan Natasha, tampak seperti memendam sesuatu.
Gadis muda itu seperti merasa tersaingi dengan Natasha, yang jago beladiri, cantik, muda, dan pasti pintar.
Dia tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau Natasha bertemu langsung dengan Kak Zhang. “Duh, aku mikir apaan sih… yang terpenting sekarang itu anak-anak…” Pikiran Aleena mengingatkan dirinya sendiri supaya fokus tujuan sekarang.
Lalu mereka pun sampai di lantai tiga.
“Disini ada sepuluh ruangan, masing-masing ruangan ada dua kasur, jadi muat untuk dua orang. Karena jumlah anak-anak sekarang hanya 20, jadi pasti muat di lantai ini saja, tidak perlu ke lantai empat.” kata Natasha menjelaskan kamar-kamar panti.
“Nanti kalau mau ketemu kakak gimana?” tanya seorang gadis kecil.
“Kalau mau ketemu kakak, kakak ada di lantai lima. Langsung naik lift ini saja.” jawab Natasha. “Tapi, supaya makin rapi dan terkontrol, anak-anak harus izin dulu sama Aleena kalau mau keluar, biar nanti tidak pusing mencarinya.” tambahnya kemudian.
“Baik kakak!” jawab anak-anak itu kompak.
“Ada aturan ya di panti ini, kalian bisa baca langsung aturan itu yang tertempel di setiap pintu kamar. Pahami aturan, supaya kalian aman dan nyaman.” lanjut Natasha.
Setelah mendengar kata-kata Natasha, mereka pun segera menyebar dan masuk ke ruangan masing-masing. Aleena dengan Marten, sementara anak-anak lain tampak mencari teman terdekat mereka.
Di kamar Aleena, setelah Natasha pamit untuk tidur juga, Marten langsung bertanya ke Aleena.
“Kakak, kakak khawatir ya dengan Kakak Natasha kalau ketemu dengan kakak Jenderal?” tanya Marten dengan sedikit nada jahilnya.
“Khawatir apaan maksud kamu?” tanya balik Aleena.
“Khawatir mereka saling suka. Soalnya kakak dari tadi diam saja.” jawab Marten.
Kata-kata itu sebenarnya membuat Aleena semakin panas hatinya. Tapi hati kecilnya kembali mengingatkan untuk fokus pada anak-anak dulu.
“Kak Natasha aja belum ketemu sama Kak Zhang, gimana mereka mau saling suka? Ngaco kamu. Sudahlah mending kamu tidur, gak usah mikirin yang gak penting.” cerocos Aleena berturut-turut.
“Okelah kakak….” balas Marten dan langsung mengambil guling untuk tidur. Aleena juga ikutan mengambil guling supaya langsung tidur, meskipun hatinya masih gundah gulana.
Dia tidak menyangka kalau bakal ada perasaan begitu cepat ke kakak Zhang.
*****
Di sebuah ruangan, tampak seorang bertubuh gemuk, besar, berotot, dan berkeringat sedang berlatih tinju di ruangan pelatihan yang tampak besar, luas, dengan tembok dengan lukisan-lukisan abad pertengahan.
Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki masuk kedalam dan langsung dihadang oleh dua pedang. Shing…
“Maaf tuan-tuan, saya kesini sebagai pembawa pesan…. Tolong… Tolong jangan penggal kepala saya…” ucap laki-laki itu langsung ketakutan setengah mati.
“Pesan apa?” Tanya pria gemuk dan berotot itu dengan tetap fokus dalam latihan beladiri.
“Julius Tuan besar…. Tuan Muda tampak sangat marah karena kegagalan transport hari ini ke Kota…," jawab pria pembawa pesan.
“Jadi begitu yaa… Julius marah karena tidak bisa mencicipi gadis muda sebelum perang dengaan White Mask? Itu merupakan masalah serius…,” blas pria itu dan menampakkan wajahnya.
Wajahnya memiliki tato naga di pipi kanan, berambut botak, badan depannya penuh tato naga, dan matanya bolong sebelah.
“Kita ke Tower Cakar sekarang juga… Jangan sampai dia menghabisi semua orang tanpa pikir panjang!” perintah pria besar dan botak itu.
Pria ini bernama Robert Santizo, Godfather dunia bawah yang terkenal karena kekejamannya, tangan besi, dan mafia kelas tertinggi.
"Satu hal lagi, karena kamu sudah melihat mata bolong saya...." kata-kata Robert Santizo tiba-tiba saja berhenti dan....
"Ti... Tidak Tuan... Saya tidak melihat apapun..." Pria pembawa pesan itu langsung tersadar, kalau dia lupa aturan yang melarang siapapun melihat mata bolong bos Robert.
Crass.... Kepala pria itu langsung ditebas oleh katana yang dipegang penjaga pintu.
To be Continued….