
5 Tahun Sebelumnya, di sebuah wilayah peperangan.
Duarrr...
Sebuah suara ledakan keras menggelegar ketika rudal dari RPG-7 menghantam bangunan yang terdapat sebuah pasukan khusus. 3 orang dari pasukan itu tewas seketika.
"Jeff!!!" Teriak seorang dengan wajah timur dan memakai baret merah dengan bintang satu di bahunya.
Teman sepasukan menahannya untuk tidak ke lantai satu yang sudah hancur lebur. Dia berteriak ke arah sahabatnya Jeff Frodo, yang tewas tertembak rudal.
"Balas! Balas tembakan!" Perintah orang itu pada sisa 24 anak buahnya saja.
Dorr-dorr... Dorrr-dorrr...
Komandan pasukan khusus itu juga ikutan menembak kearah para pasukan teror yang menawan sandera.
Dorr... Crass...
Sniper dari regu kedua yang berposisi di gedung, berhasil menembus kepala si penembak rudal RPG-7.
"Misil dijatuhkan! Maju!" perintah sang komandan dan dengan cepat mengganti senjata ke granat tangan.
Wuss... Boommm.
Granat dilemparkan kearah kelompok teror itu dan membuat mereka kocar-kacir juga berlarian. Empat orang dari musuh itu tewas karena granat tangan barusan.
Pasukan Khusus yang dipimpin Zhang langsung menerjang maju, membabat habis musuh yang tersisa dan berjaga sebelum belokan.
"Brigadir Zhang! Kita tinggal masuk kedalam gedung itu dan langsung ke lantai tiga. Sandera berada disana," kata salah seorang prajurit dari tentara kepada komandannya.
"Bagus! Ikuti saya menyisir juga mengamankan perimeter."
"Dengan cover dari kelompok sniper kedua dan langsung menerobos masuk ke gedung! Laksanakan!" ucap komandan berwajah timur, Zhang Chou, memberikan instruksi.
Sementara sang prajurit memberikan sinyal pada temen-temennya yang berada di belakang juga di gedung-gedung, tempat kelompok sniper.
Grup kedua yang dipimpin prajurit berpangkat kolonel maju terus dari gedung-gedung yang saling bersambung meskipun kondisinya sudah rusak parah.
Grup pertama yang dipimpin langsung oleh Brigadir Jenderal Zhang Chou, berhenti di pinggiran bangunan, karena melihat ada Kelompok Teror yang mengawasi.
"Bagaimana?" tanya Brigadir pada anak buahnya yang berada didepan.
"Ada sepuluh orang lebih, dengan satu mobil Humvee disertai machine gun," ucap anak buahnya itu.
Brigadir Jenderal Zhang tampak berpikir sejenak.
"Kalian tunggu disini sebentar, saya akan bersihkan jalan dan kalian langsung maju ketika debu juga asap berterbangan. Paham?" tanya dan perintah sang komandan kembali pada 14 anak buah dibelakangnya.
"Paham, Pak!" ucap tiga prajurit senior sementara yang satu lagi dan tampak masih muda, mengangkat tangan kanannya.
"Saya paham, Komandan. Tapi apa maksudnya itu? Komandan mau menerjang mereka?" tanya seorang prajurit yang masih muda.
"Sudah, tunggu disini saja. Pegang senjata ini dan beri jarak lima meter," kata Brigadir Zhang Chou. Dia memberikan AK-47 nya pada prajurit muda itu.
Lalu dengan kekuatan Ilmu Tapak Naga, Brigadir Zhang Chou langsung mengambil persiapan dengan mengarahkan kedua telapak tangannya sehingga menyatu. Dia fokus.
Suara gemuruh, asap, debu, dan batu-batuan beterbangan disekitar Zhang Chou. Empat anak buah dibelakangnya terkesima melihat kekuatan yang sangat besar.
Lalu Zhang Chou langsung melompat kedepan dan mengarahkan kedua tangannya yang terbuka lebar untuk mengeluarkan jurus beladiri yang membuatnya bisa menjadi bagian dari pasukan ini.
"Tapak Naga! Naga Hijau Perusak Cakrawala!"
Pasukan teror yang terkesima melihat itu menjadi tidak waspada ketika tanah disekitar mereka bergetar, angin bergerak dahsyat dan hebat.
Boommm ...!
Jurus Brigadir Zhang Chou langsung memporak-porandakan pasukan teror yang berjaga di jalan itu.
Lima belas sampai 25 prajurit termasuk mobil Humvee terbang dan terpental ke kanan-kiri. Membuat jalan itu seakan-akan bersih dari manusia ataupun kendaraan.
"Serang ...!" teriak Brigadir Zhang Chou pada empat belas anak buahnya yang tadi bersembunyi. Merasa itu sinyal komandannya, mereka langsung maju mengamankan jalan.
Saat Zhang Chou juga bergerak maju,
DUARRR! BOOMMM ...!
Tanpa diduga, dua ledakan dahsyat dan hebat terjadi dari lantai dua tempat kelompok dua berada.
Tak cuma itu, ledakan itu juga menghancurkan seluruh gedung hingga pasukan khusus itu tertimpa bangunan.....
Masa Sekarang Ini, di sebuah Pulau Terpencil.
Byurrr... Byurrr...
Siraman air membangunkan seseorang dengan wajah tak terurus, rambut acak-acakan, dan pakaian yang kusut.
"Dasar budak pemalas! Kau ini diasingkan, tahu dirilah!" ucap seorang prajurit dengan logo buaya di bahunya lalu menghantamkan pegangan senjata AK-47 ke arah perut seorang tawanan.
Dukkk...
"Uaghh!" erang tawanan itu keras dan memuntahkan darah dari mulutnya.
"Apa dia sudah bangun?" tanya seseorang yang datang dengan penutup mulut juga dengan logo buaya.
"Sudah, Komandan. Aku tak menyangka akan mendapatkan tugas yang sangat berharga ini .... Hahaha," ucap sang prajurit itu lalu tertawa lepas.
"Aku juga begitu, hahahaha ... Kita sedang menawan dan menyandera jendral bintang satu yang terkenal akan ilmu beladiri legendarisnya, Zhang Chou! Hahahaha," balas sang komandan yang ikut tertawa lepas.
Tahanan itu adalah Zhang Chou. Dia ditangkap setelah kejadian ledakkan dua bom C4 di gedung tempat dia beroperasi untuk membebaskan sandera.
Dimana seluruh pasukannya tentara khusus Zeus, tewas ditempat. Kecuali dua orang, dirinya dan teman satu sel nya, Vincentius Zee, yang akhirnya diasingkan di pulau terpencil, di tengah-tengah lautan.
Beberapa menit kemudian, Zee terbangun dari pingsannya setelah semalaman kemarin dia berkorban untuk menerima semua hantaman, supaya tidak diarahkan ke Brigadir Zhang yang sangat dihormatinya.
Zee langsung menyapa Zhang yang masih sadar, meskipun perutnya dihantam AK-47.
"Brigadir ... hahh ... sudah sadar sepertinya yaa ...," ucap Zee pelan pada Zhang dengan nafas tersengal. Dia tidak menceritakan soal semalam.
"Iyaa .... Uhuk ... sepertinya kita akan menyusul rekan kita yaa ...," kata Zhang Chou lemah tak berdaya.
"Mana Zhang yang kukenal dan aku hormati. Dia pasti tidak akan menyerah dalam kondisi apapun!" balas Zee dengan kata-kata yang diusahakan untuk membakar kembali semangat Zhang.
"Aku .... Bukan Zhang yang dulu. Aku hanyalah seorang komandan pasukan yang gagal dan membuat semua anak buahnya tewas begitu saja karena gagal mengecek apakah ada bom," ucap Zhang dalam keadaan putus asa dan kecewa.
Lalu dengan ajaibnya, Zee berhasil melepaskan ikatan tali pada kedua tangannya. Setelah mengecek kondisi, dia mendekati Zhang.
"Zhang, dengarkan aku. Aku punya rencana untuk kabur dari sini. Jika kita berhasil kabur, kita akan mendapatkan hidup baru di sebuah kota," kata Zee padanya sambil berusaha melepaskan ikatan pada tangan sahabat dan mantan komandannya itu.
"Yang aku butuhkan darimu adalah jiwa komandan dan mantan jenderal yang tidak pernah padam meskipun diterpa badai yang sangat kuat," tambahnya menyemangati Zhang.
Zhang menutup kedua matanya sejenak lalu mengangguk setuju. "Baiklah aku siap. Kalau begitu kamu yang memimpin, Zee," perintah Zhang dengan mata yang memancarkan semangat.
Dengan jalan mengendap-endap, Zee dan Zhang keluar dari sel menyusuri hutan yang lebat. Langkah mereka berhenti ketika melihat dua penjaga didepan, sedang duduk-duduk dengan senjata AK-47.
"Sial, kita harus mengalahkan mereka dulu ...," kata Zee dengan suara pelan.
"Pinjamkan aku dua pisau Zee," pinta Zhang yang sepertinya punya rencana.
Zee memberikan dua pisau tentara yang berukuran sedang.
"Biar aku yang melakukannya Zee."
Zhang lalu maju kedepan beberapa langkah, Zee menahan pundak kanannya.
"Zhang, ingat! Kita ini mau kabur dan harus tetap senyap," ucap Zee mengingatkan. Mantan Brigadir itu mengangguk tanda paham.
Tiba-tiba saja, muncul aura biru di sekitar tubuh Zhang yang memancar perlahan dan tampak tenang. Kedua tangannya juga tampak mengeluarkan pisau.
Zee memperhatikan komandannya itu dengan tatapan serius sekaligus takjub, karena dia tahu kalau Zhang sangatlah kuat.
Lalu dengan gerakan yang cepat, dua penjaga digorok lehernya oleh Zhang tanpa bisa merespon, sehingga membuat mereka tewas seketika.
Tapi keadaan Zhang sendiri tampak kelelahan, dia jongkok di antara kedua mayat penjaga yang barusan dibunuhnya.
Zee segera mendekatinya. "Brigadir tidak apa-apa? Itu pasti kekuatan yang besar dan menguras tenaga, kan?" tanya Zee sambil memijat pelan pundak dan punggung Zhang.
"Saya tidak apa-apa, Zee. Untuk sekarang jangan panggil saya Brigadir ya, karena kamu pemimpinnya dan yang tahu bagaimana cara kabur serta survive dari tempat ini," kata Zhang.
"Saya mengerti hal itu. Kita akan lanjut jalan setelah istirahat sejenak disini." Zee bersiap dalam posisi jongkok, tapi Zhang menahannya.
"Kita harus cepat kabur, karena mungkin mereka akan mengecek tempat ini jika dua penjaga yang saya bunuh ini tidak memberikan laporan!" tegas Zhang mengingatkan.
Zee pun mengangguk dan batal istirahat. Mereka lalu lanjut jalan mengendap setapak demi setapak dengan sunyi.
To Be Continued....