DRAGON PALM

DRAGON PALM
BAB 6. Kota Princeland



Di sebuah pulau tersembunyi.


Sebuah perahu kecil tampak mendekat kearah pulau tersembunyi yang letaknya jauh dari mana-mana. Ada dua orang dengan senjata lengkap dan seorang manusia lagi yang tampak tidak sadarkan diri.


Ketika sudah sampai di tepi pulau, dua orang itu keluar dan mengangkat orang yang tidak sadarkan diri lalu ditaruhnya di pasir pantai pulau. Kemudian, mereka langsung menyeret tubuh itu kedalam pulau melalui kedua kakinya.


Sudah setengah jam terlewati sejak masuk dari pantai. Dua orang yang merupakan anak buah dari Dragon Gangster masih terus menyeret Zhang Chou, brigadir jenderal yang masih tidak sadarkan diri. Sejak dari pantai, jalan yang mereka lalui terus saja naik dan mendaki.


Mereka lalu berhenti ketika sampai di tepi tebing curam, tinggi, dan dibawahnya terdapat sungai dengan aliran deras.


“Kita buang saja dia disini.” ucap satu dari mereka.


“Ide bagus, dia pasti tidak akan bisa bertahan hidup di sungai dengan aliran deras dan berbatu. Dia pasti tewas.” balas seorang lainnya.


Setelah mereka saling setuju, mereka lalu melempar tubuh Zhang Chou ke tebing tinggi juga curam itu dan meninggalkannya begitu saja tanpa di cek lagi.


Tubuh Zhang yang dilempar dari atas tebing, terjatuh dengan keras di sungai. Kepalanya membentur batu yang ada di dasar sungai dan hanyut, mengikuti arus sungai yang deras. Dia masih belum sadarkan diri.


****


Tepi Pantai Kota Princeland, Malam Hari, pukul 23.50


Kota yang terlihat gemerlap, penuh cahaya, dan aktif itu adalah Princeland, kota hiburan, kota mimpi, kota menghamburkan uang, dan banyak lagi julukan lainnya.


Kota ini berdiri di lokasi yang strategis, memiliki pantai, sungai, dan koneksi ke berbagai kota di sekitarnya membuatnya tak pernah tertidur meskipun malam hari. Bahkan orang yang sudah lama tinggal disini, percaya kalau semakin malam, kota ini semakin hidup.


Banyaknya hiburan malam, seperti kasino, mesin slot, poker, dugem dan disko, juga cewek malam membuat kota ini aktif di malam hari sekaligus menjadi kota dosa yang sangat subur. Segala transaksi terlarang dilegalkan ketika hari sudah mulai gelap, di atas jam tujuh malam, dijamin transaksi apapun aman.


Polisi setempat di kota ini juga sudah tidak bisa berbuat apapun dengan keadaan itu, dikarenakan, Kepala Polisi Inspektur Ersontino, telah disuap oleh orang yang memiliki kekuasaan dan menguasai dari balik bayang, The Elder dari Dragon Gangster, yang oleh penduduk kota tidak pernah tahu nama aslinya siapa.


Para penduduk juga sudah percaya yang menjalankan kota bukanlah walikota gendut dan korup, Alexander. Alexander memang walikota secara hukum, tapi ada kekuatan besar Dragon Gangster dari balik bayang mengendalikan nya sebagai boneka dan kota Princeland sebagai tempat mengeruk keuntungan.


Nama Dragon Gangster juga tak muncul di publik atau diluar kota Princeland, karena ada nama perusahaan lain yang secara hukum sah, Papa Group Development, yang mengelola geng penguasa dan menguasai kota itu selama hampir 13 tahun lamanya.


Tapi besok malam akan ada penutupan jalan-jalan khusus di kota ini, karena berdasarkan informasi akan ada perang besar yang melibatkan dua geng di kota, Dragon Gangster dan White Mask.


Para penduduk sudah dihimbau untuk tidak keluar rumah mulai jam 8 malam dan seluruh aktivitas transaksi juga harus ditiadakan besok hari.


****


Di sudut area pantai yang tersembunyi, tampak sekoci kecil berhenti terbawa arus laut. Aleena dan 20 anak-anak yang menjadi korban perdagangan manusia di kapal transportasi milik Dragon Gangster, baru saja sampai di kota.


Aleena dibantu oleh Marten dan Yoseph yang masing-masing berusia 14 tahun untuk mengarahkan sekoci ke tempat yang aman dan jauh dari kerumunan kota dan mereka berhasil mendarat dengan sempurna di area hutan-hutan mangrove yang tampak cukup lebat.


“Kalian semua tidak apa-apa kan!?” tanya Aleena pada anak-anak yang lain.


“Tidak apa-apa kak…,” balas mereka serentak.


“Tapi kak, bagaimana dengan abang jenderal? Apa kakak sudah mengetahui kabarnya?” tanya Marten kemudian yang mengkhawatirkan keadaan Zhang Chou, penyelamat mereka.


Aleena memegang kedua bahu Marten, berusaha membuatnya tenang dan tidak khawatir.


“Tidak, kakak tidak tahu gimana keadaan abang jenderal itu. Tapi kakak yakin dia akan baik-baik saja.” jawab Aleena pada Marten, bocah itu tampak tersenyum dengan ucapannya.


Aleena sebenarnya juga khawatir dengan kondisi Zhang Chou, apalagi dia tadi, saat masih di kapal juga mendengar suara baku tembak yang sering dan beruntun.


“Tapi siapa kak? Apa kakak punya kenalan di kota ini?” tanya Yoseph setelahnya.


“Kakak tidak punya kenalan siapapun, tapi tadi kakak Jenderal memberitahu ciri-ciri orang yang kita tidak boleh dekati dan katanya itu adalah orang jahat.” kata Aleena.


Dia memang sempat dikasih tahu ciri-ciri orang yang tidak boleh di dekati dari Zhang Chou. Seperti logo naga pada kendaraan mereka.


Aleena lalu meminta pada anak-anak untuk menunggu sejenak, dia akan berusaha mencari bantuan di jalan yang ada tepat di depan area mangrove.


Gadis itu lalu menengok kanan-kiri, mencari kendaraan untuk diminta bantuan.


“itu ada mobil, semoga dia mau menepi dan membawa aku dan anak-anak.” ucap Aleena dalam hati dengan wajah senang ketika melihat sebuah mobil SUV mendekat.


Aleena berusaha memberhentikan mobil itu. Mobil SUV itu tampak mendekatinya. Dari kaca mobil, tampak seorang pria berambut lurus rapi mengeluarkan wajahnya dari dalam.


“Butuh bantuan kah gadis kecil?” Tanya pria berambut lurus itu pada Aleena.


“I… Iya. Sebenarnya..., ada anak-anak lain yang juga perlu bantuan. ” Jawab Aleena jujur pada pria itu sambil melirik ke dalam pohon mangrove.


“Anak-anak? Maksudmu anak-anak kecil?” tanya pria itu kemudian.


Aleena mengangguk. Pria itu langsung keluar dari mobil.


“Beritahu saya asal-usul kamu.” lanjut pria itu menanyakan asal-usul Aleena. Gadis itu tampak takut, ragu dan berusaha lari.


Tapi, pria itu menahan tangannya.


“Tidak tunggu, saya tidak bermaksud jahat atau apapun. Sebentar…,” pria itu lalu mengeluarkan kartu namanya sendiri dan memberikannya pada Aleena.


Tampak nama pria itu Agustas Landario, CEO Land Grup, perusahaan yang bergerak di bidang properti, yayasan kemanusiaan, transportasi, dan telekomunikasi.


“Baik, saya akan menceritakan, tapi bapak harus berjanji untuk menyelamatkan kami semua. Saya ditambah anak-anak, totalnya ada 21.” kata Aleena meminta pria bernama Agustas itu berjanji.


Bapak itu mengangguk.


“Saya berjanji dan akan saya buktikan dengan memanggil bus kesini.” janji pria itu dan langsung menelpon seseorang.


“Bus akan tiba dalam 10 menit, kamu panggil anak-anak itu dan bawa mereka ke bus lalu ceritakan pada saya asal-usul kamu, terutama kenapa gadis muda sepertimu berada di kota Princeland, kota yang seharusnya di hindari dari anak-anak…,” lanjut Agustas kemudian setelah selesai menelpon.


Tepat sepuluh menit, bus sedang tiba di tempat Aleena dan Agustas. Aleena segera memanggil anak-anak dan membawa mereka kedalam bus.


Betapa kagetnya Agustas ketika melihat anak-anak itu, mereka tampak kusut, tidak terawat, dan pakaian yang sangat kotor.


“Apa ini perbuatan Dragon Gangster lagi?” Agustas bertanya-tanya dalam hati, dia yang selama ini menyangkal dan tidak percaya omongan istrinya tentang Dragon Gangster, penguasa kota yang memulai bisnis perdagangan manusia dibawah umur sebulan lalu.


18 anak-anak dibawa masuk kedalam bus sementara Aleena, Yoseph, dan Marten ikut naik ke mobil SUV milik Agustas. Mereka lalu segera meninggalkan pantai.


“Bapak mau bawa kita kemana?” tanya Aleena ketika didalam mobil.


“Panti Asuhan dan tempat penampungan milik Land Grup, kalian akan aman disana untuk saat ini.” jawab Agustas kemudian dengan tatapan yang tampak khawatir dengan Aleena dan juga anak-anak.


Aleena bersyukur dengan jawaban dan perilaku Agustas yang menurutnya adalah orang baik dan penolong kedua mereka, setelah Zhang Chou. Dia juga berharap kakak jenderal itu baik-baik saja.


To be Continued…