DRAGON PALM

DRAGON PALM
BAB 3. Tiga Senior.



Disebuah Lautan lepas, sebuah kapal sedang berlayar dengan tenaga uap dari mesinnya. Kapal itu adalah pengangkut barang, tampak kontainer menumpuk di geladak. Barang yang diangkut merupakan barang pesanan di sebuah kota yang merupakan tujuannya.


Zhang, jenderal bintang satu, tampak dibopong masuk kedalam kapal. Dia terkapar, hampir tak sadarkan diri, meskipun begitu dia tetap bisa mendengar sayup-sayup awak kapal ini yang berbicara mengenai beberapa hal.


Pengalamannya di medan perang, membuat Zhang tetap terjaga meskipun seluruh tubuhnya kesakitan.


“Sepertinya ini kiriman biasa ya...,"ucap salah seorang geladak.


“Ya benar. Sabu, narkoba, dan minuman keras pesanan biasa ke kota dosa.” sahut salah seorang geladak.


“Apa tak ada barang spesial lain?” tanya geladak lainnya.


“Tutup mulutmu. Kau bisa membuat kita bertiga tewas jika menyebut sesuatu rahasia.” balas yang lainnya.


Zhang tidak paham apa maksud mereka tentang barang rahasia yang ada di kapal ini. Tapi yang pasti, kapal ini terisi barang-barang terlarang dan akan dikirimkan secara rahasia ke kota yang disebut kota dosa itu.


“Sial. Kapal ini membawa muatan yang berbahaya. Apa-apaan juga rahasia yang dimaksud itu? Tubuhku tak bisa bergerak…. SIal..” Zhang mengeluh karena dirinya tak bisa berbuat apapun.


Hatinya sebagai tentara terasa sakit karena mendengar sesuatu yang berbahaya dan tak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya.


Zhang melirik ketika dia berhenti dibopong didepan sebuah ruangan besi yang tampak cukup kuat.


Kemudian ruangan itu dibuka dan tampak tiga orang sedang duduk di sofa, Zhang dibawa kedalam juga mendekati ketiga orang itu.


“Siapa orang ini?” tanya seorang dengan rambut keriting dan gimbal.


“Maaf Senior Kedua, dia adalah seorang pria yang menyelamatkan kita dari tindakan ceroboh dan bodoh dari Derrian yang mengarahkan rudal ke kapal.” ucap orang yang membawanya. Insting Zhang bergerak, didepannya adalah tiga orang yang merupakan bos dari kapal ini.


“Begitu rupanya. Taruh dia dibangku kayu, lalu ikat." perintah rambut gimbal itu.


"Kita akan interogasi dia, karena seharusnya di pulau itu tak ada orang lain yang melihat kita berlabuh selain kelompok Hades. Dia merupakan tahanan dari kelompok Hades.” tambah seorang dengan penampilan jas putih, berambut lurus, dan berkacamata.


Zhang sedikit kaget karena pria berbaju putih itu mengetahui tentang dirinya yang merupakan tahanan Kelompok Teror Hades.


Dia mencari akal supaya identitasnya tidak terbongkar juga cara supaya dia bisa mengetahui rahasia di kapal ini selain barang terlarang seperti narkoba.


Kemudian tubuh Zhang ditaruh disebuah bangku kayu, seluruh tubuhnya diikat oleh rantai besi, bukan tali.


Bagi Zhang sebenarnya mudah saja melepaskan ikatannya, tapi dia ingin mengetahui hal lain di kapal ini, kota tujuannya, dan tentu rahasia yang tersimpan. Insting jenderalnya berkata bahwa rahasia yang disimpan adalah human trafficking skala besar.


“Kalau benar, aku harus menemukan jalan keluarnya dan membebaskan mereka…,” ucap Zhang dalam hati. Dia mencari sebuah ide.


Setelah Zhang terikat di kursi, seorang pria botak mendekatinya. Dia telah memakai sarung tangan tinju.


“Baiklah, apa kamu siap? Sekarang jawab pertanyaan ini dengan jujur. Kamu itu siapa? Kenapa ada di pulau terpencil itu?” tanya pria botak dengan dua tato naga di kedua bahunya.


“Aku… Aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah penolong kapal ini.” ucap Zhang memberikan jawaban diluar ekspektasi.


"Begitu ya...” Pria botak itu langsung mengarahkan bogeman mentah kearah wajah Zhang.


Zhang yang saat itu kelelahan, menjadi tidak dapat menahan tinju itu. Wajah dan mulutnya pun berdarah.


“Ugghhh…” Zhang meringis kesakitan. Kepalanya berusaha untuk diangkat kembali dan tegap. Matanya yang membekak, tetap menatap tajam bagaikan elang dihadapan mangsanya.


Pria botak itu sebenarnya cukup takjub sekaligus takut. Biasanya yang menerima pukulan itu akan langsung mengaku beberapa detik kemudian. “Tapi dia berbeda. Tatapannya menunjukkan kalau orang ini bukan tahanan biasa…,” ucap pria botak itu dalam hati. Zhang merasakan eksperesi pria didepannya ini, dia tertekan oleh auranya saja.


“Kau kira dengan tatapanmu itu, akan menghentikanku menggali informasi darimu!? SEKARANG, CEPAT KATAKAN SEBELUM WAJAHMU BONYOK!” kata pria botak itu makin keras dan lantang. Kini dua tinju melayang menuju kedua pipi Zhang.


DUAK… DUAK….


"Ughh... Uhuk..." Wajah Zhang menghadap ke lantai didepannya. Mulutnya mengucurkan darah segar.


Hampir 10 tahun mengabdi jadi tentara, baru kali ini dia merasakan sakit setelah di bogem. Padahal sebelumnya dia biasa saja, bahkan hampir tidak berpengaruh dan merasakan apapun. Dengan tatapan mantap dan mengejek pria botak itu.


“Aku takkan mengatakan apapun. Ini demi temanku yang berkorban dan tinju itu juga tidak berasa apa-apa untukku." ucap Zhang dengan yakin sambil menghina si pria botak. Dia takkan buka mulut dengan tinju seperti itu.


DOR...


“ARGGHH….” Zhang berteriak kencang dan keras kesakitan ketika paku menembus dan merobek lutut kanannya.


Paku itu ditembakkan oleh si pria berjas putih dengan alat khusus yang biasa dipakai oleh tukang bangunan profesional. Sambil berdiri, pria berjas putih itu mulai berbicara.


“Dia takkan bicara dengan mudah kalau hanya di bogem saja. Jaman sudah modern, pistol sekarang bisa digunakan untuk interogasi dan kita hanya perlu memaksanya sedikit lagi." ucap pria berjas putih itu sambil jalan perlahan dan memberikan alat pakut tembak itu pada si pria botak.


“Tugasmu senior ketiga, untuk mencari informasi apapun dari tahanan kita tanpa membunuhnya.” lanjut pria berjas putih itu sambil agak menekankan kalimat tanpa membunuh.


“Ughh…. Aku takkan berkata apapun! Kalian harus membunuhku!” tantang Zhang semakin berani dan tanpa takut. Pria berjas itu mendekatinya. Lalu dengan tangannya dia menepuk-nepuk bahunya.


Lalu senior pertama atau pria jas putih, kembali duduk dengan senior kedua atau pria berambut keriting.


“Kita siksa dia secara perlahan. Gunakan paku tembak untuk membuat dia mengaku.” ucap pria jas putih itu dan memerintahkan senior ketiga untuk melanjutkan.


“Oke kakak pertama.” balas senior ketiga lalu menghadap kearah Zhang. “Mari kita mulai dan jawab pertanyaanku. Siapa kau ini!?” tanya senior ketiga dengan kencang dan keras.


“AKU BILANG KAU HARUS MEMBUNUHKU.” jawab Zhang dengan tatapan berani dan tanpa takut.


DUAK... DOR. DOR. DOR.


Tinju senior ketiga kini terarah ke perutnya. Tiga paku tembak juga ditembakkan kearah kaki kanan Zhang dengan rapi menembus tulang.


“URGHHH….” Zhang meringis kesakitan. tiga paku itu terkena tulang dekat jari-jarinya. Lalu tinju berikutnya menghantam wajahnya kembali.


DUAK...


Wajah dan tubuh Zhang kini sudah berdarah-darah. Senior pertama tampak tak puas dan lalu berniat untuk menjatuhkan mental Zhang.


“Adik ketiga, buat tubuh dia lumpuh. Serang tulang leher atau tulang ekornya." kata senior pertama dan membuat Zhang panik.


Dia menatap kearah senior pertama, sementara senior ketiga tampak menyeringai menyeramkan kearahnya, dia bergidik ngeri.


“Sial. Kalau aku lumpuh, aku tak bisa mengetahui apa yang terjadi di kapal ini dan menumpas kejahatan didalamnya. Aku harus bagaimana…,” kata Zhang dalam hati.


Tiba-tiba saja dia teringat akan seorang musuh bernama Fallen yang dibunuhnya saat operasi menumpas Kelompok Teror Hades 5 tahun yang lalu.


Fallen adalah mata-mata Hades nomor satu dan memiliki koneksi ke markas utama Hades, meskipun begitu Fallen memiliki masalah pribadi dengan pimpinan Hades, Zexa.


Setelah Fallen dibunuh dan di interogasi olehnya, mereka bisa menemukan markas Hades. Dia juga tahu kalau Fallen selalu menggunakan penutup muka dan wajahnya juga tidak pernah dilihat oleh seorangpun untuk menjaga identitas.


Zhang berniat untuk menggunakan nama Fallen sebagai nama samaran. Dia percaya bahwa kapal pengangkut barang ini tidak mengetahui apapun soal nama itu.


“Aku Fallen! Aku disana untuk menghabisi kelompok Hades juga pimpinannya, Zexa yang saat itu akan berkunjung ke pulau itu…,” kata Zhang yang mengaku sebagai Fallen.


“Fallen? Oh ya mata-mata nomor satu Hades. Kalau kau Fallen kenapa Derrian menyerang dirimu?” tanya senior pertama sambil berdiri.


“Karena aku mengetahui lokasi dan jadwal Zexa ke pulau. Targetku adalah bos Hades itu, Derrian sebagai tangan kanannya tentu mengetahui informasi terkait dengan Zexa."


"Sebelum aku berhasil menangkap Zexa, Derrian memergokiku dan akhirnya menahanku sebagai tahanan rumah."


"Lalu aku kabur ke pantai dengan bantuan tahanan lain yang jadi teman sel." kata Zhang mengarang cerita kalau dia akan menyerang Derrian dan mencari informasi Zexa, meskipun pada faktanya mencari info tentang bos Hades itu adalah benar.


Karena saat invasi ke markas utama Hades, Zexa sudah pergi lebih dahulu akibat adanya informasi yang bocor tentang rencana serangan sehingga pada akhirnya dia juga pasukannya gagal dan mengakibatkan mereka semua terbunuh akibat dua bom meledak.


“Begitu rupanya. Zexa memang akan ke pulau itu, Derrian si berengsek itu tentu mengetahuinya."


"Jika kau memang benar Fallen, bisakah kau membantu Gang Dragon untuk membasmi Hades? Semua informasi darimu akan berguna untuk menghabisi mereka…,” kata Pria jas putih itu menawarkan sebuah tawaran yang sangat bagus untuk Zhang.


Dengan tawaran itu, dia mungkin akan selamat sekaligus membongkar kejahatan di kapal ini.


Meskipun begitu, dia mengetahui kalau ada kelompok penjahat yang lebih berkuasa dan diatas Hades, Dragon Gangster.


“Tentu saja… Aku menerima tawaran yang…” Sebelum Zhang selesai bicara senior ketiga memotong.


“TUNGGU KAKAK PERTAMAA! Apa kakak akan percaya begitu saja kalau dia Fallen? Dia bisa saja menipu kita!” kata senior ketiga yang ternyata masih curiga pada Zhang.


Tapi senior pertama, tersenyum tipis kearah senior ketiga itu.


“Adik kedua…,” ucap senior pertama pelan. Kakak kedua yang berambut gimbal pun langsung mengeluarkan pistol dengan cepat dari sakunya. Zhang menutup matanya, dia merasa kalau pistol itu diarahkan kepadanya.


DOR. DOR. DOR.


“UGGH… Kakak...” Tanpa diduga oleh Zhang, senior ketiga ditembak oleh senior kedua di dadanya lalu ambruk di lantai kayu, tewas seketika.


“Fallen, selamat datang di Dragon Gangster dan di kapal barang Dragon Walk. Tugasmu yang pertama adalah membunuh secara bersih Zexa, leader Hades, yang telah berkhianat pada Dragon karena telah korupsi uang lebih dari lima milyar yang harusnya disetorkan ke Dragon.” kata senior pertama dan dengan pisau kecilnya, dia melepaskan ikatan pada tubuh Zhang alias Fallen dari bangku.


“Baik kakak pertama. Saya akan menjalankan tugas itu.” Kata Fallen dan memberikan hormat pada pada senior pertama.


“Namaku adalah Reynold sedangkan adik kedua adalah Bobby.” ucap Reynold, sang senior pertama memperkenalkan dirinya.


“Fallen bersihkan lukamu dan beristirahatlah… Tugasmu akan dimulai ketika sampai di Kota Princeland, kau akan menjadi adik ketiga yang baru." lanjut Reynold lalu meninggalkan ruangan interogasi diikuti oleh senior kedua setelah Fallen mengangguk.


Fallen lalu berdiri dan mendekati mayat senior ketiga.


“Baiklah..., sepertinya perjalananku akan panjang dan pertama-tama aku harus memeriksa kapal ini.” kata Zhang alias Fallen dalam hati sambil menatap mayat senior ketiga yang bahkan dia tak tahu namanya siapa.