
Catatan untuk pembaca: "Pada Bab 4 ini, nama Zhang akan lebih sering disebut dengan Fallen, kecuali untuk beberapa bagian cerita."
5 Tahun Sebelumnya, Kota Thalib, Negeri Timur yang jauh.
Zhang sedang memimpin pasukannya dengan tugas rahasia dengan nama kode Operasi Zeus, menyerbu dan menculik mata-mata nomor satu kelompok Teror Hades, Fallen.
Fallen sendiri adalah sebuah nama kode, nama aslinya tidak diketahui.
Dalam foto-foto dunia mata-mata, Fallen dikenal sebagai orang yang tertutup dan wajahnya ditutup topeng devil berbentuk khusus berwarna merah.
Kota Thalib sendiri dipercaya sebagai tempat bunker persembunyian Fallen dan dijaga ketat oleh pasukan hades.
Suara tembak menembak terus berderu dan makin sering. Pertempuran di kota ini memang tidak terhindarkan, tapi Brigadir Jendral Zhang dan pasukan khususnya Zeus, diperintahkan untuk tetap memprioritaskan keselamatan warga sipil khususnya wanita dan anak-anak.
Tapi kenyataanya…. Swusshh…
Sebuah roket dari RPG-7 ditembakkan oleh seorang bocah yang memakai penutup mulut warna hitam kearah pasukan Zeus.
“RPG-7 arah jam delapan!” teriak Letnan Zee. Semua pasukan Zeus pun segera menghindar dan ledakan dahsyat akibat hantaman rudal itupun terjadi.
BOMM…
Beberapa detik saja setelah ledakan keras rudal...
DOR…
Bocah yang menembakkan RPG-7 tadi langsung tewas seketika setelah kepalanya di sniper oleh Kolonel Terrion beberapa menit setelah ledakan, yang berposisi di bangunan dua lantai.
“TERRION APA YANG KAU LAKUKAN!? Itu seorang bocah tidak bersalah!?” teriak Zhang memarahi Terrion yang men-sniper bocah yang menembakkan RPG-7 tadi.
“Bocah tidak bersalah hah? Dia membawa rudal. Jadi jenderal itu jangan terlalu naif dan baik, modal itu hanya berlaku saat kenaikkan pangkat, tidak berlaku di medan perang.” balas Terrion membalikkan kata-kata Zhang tadi dan dengan sifat tidak perduli nya, dia maju kedepan.
“Hei Tunggu kataku! Terrion!” lanjut Zhang dengan tatapan marah, Zee yang melihat komandannya itu marah-marah, langsung menahan lajunya dengan memegangi bahu kanannya.
“Sabar Brigadir Zhang, yang dikatakan Terrion itu, jujur saja benar. Ini medan perang, kelompok Teror Hades juga dikenal mengeksploitasi penduduk di wilayah kekuasaannya kan…?" Tanya Letnan muda Zee.
"Jika kita bersifat seperti itu pada bocah bersenjata, kita akan terbantai.” tambah Zee memberikan penjelasan.
Seketika amarah Zhang mereda, apalagi ketika 30 orang pasukannya mendekatinya juga.
Zhang merasakan kalau dia harus memikirkan tentang protokol perang yang diamanatkan padanya, dilarang menyerang warga sipil, terutama anak-anak dan wanita. Bocah-bocah yang memegang senjata tentu tidak bisa dibiarkan.
Dia juga merasa keselamatan pasukannya ada di tanggung jawabnya dan itu lebih utama juga penting.
Apalagi banyak prajurit yang masih muda dan akan memiliki karir yang cerah dalam militer.
“Yang dikatakan Letnan Zee itu benar Brigadir. Untuk menghentikan teror dan eksploitasi ini adalah dengan membunuh Zexa, pimpinan kelompok Hades.” kata prajuritnya yang lain menambahkan.
“Oke. Mari kita lanjutkan. Jika ada bocah bersenjata lagi, bunuh saja, tanpa ragu. Aku akan bertanggung jawab ketika laporan nanti.” kata Zhang membuat keputusan yang sebenarnya sulit. Zee yang ingin bicara, tiba-tiba diam.
30 prajurit itu lalu maju kembali sambil bersiaga dengan tembakan. Terrion yang memimpin tiga prajurit assault dan tujuh prajurit sniper berhasil menyisir dan mengalahkan pasukan yang ada di gedung dan wilayah yang sempit.
Sehingga Brigadir Zhang dan 19 prajuritnya yang lewat jalan umum, berhasil lewat dengan mudah juga membasmi kelompok Hades yang berada di jalanan.
###
Dua pasukan yang terpisah itu akhirnya berkumpul kembali ketika jalan mereka terputus karena terpampang wilayah lapang yang luas.
“Ladang ranjau yaa…. Kita harus tahu dimana letaknya dulu.” kata Zee ketika melihat lapangan berpasir itu.
“Terrion laporanmu.” ucap Zhang meminta laporan pada Terrion yang dari gedung.
“Fallen kemungkinan ada di lokasi itu. Dari pengamatan kami, ada 7 orang didalam rumah kecil dengan senjata lengkap dan satu orang lagi didalam sebuah kamar dengan topeng devil, itu pasti Fallen.” kata Terrion dalam laporannya
.
“Baik terima kasih Terrion dan tolong kalian semua mundur beberapa langkah. Biar aku saja yang masuk dan menerobos ke rumah itu.” balas Zhang dan memerintahkan prajuritnya untuk mundur.
“Baik Brigadir. Semuanya mundur 10 meter dari Brigadir dan dalam posisi siaga!” perintah Kolonel Terrion dan juga ikutan mundur.
Setelah posisi bawahannya siap, Zhang mengambil kuda-kuda dan bersiap untuk melompat jauh.
Dia berkonsentrasi penuh, tanah disekitarnya mulai bergetar. Pasir, batu, dan debu mulai berterbangan.
“Kolonel sebenarnya Jendral ingin melakukan apa?” tanya seorang prajurit muda berpangkat kopral.
“Sesuatu yang menakjubkan, tunggu saja.” kata Kolonel Terrion.
Meskipun memiliki sikap yang sering bertolak belakang dengan Zhang, Terrion tetap menghormatinya sebagai atasannya sekaligus pemimpin pasukan Khusus Zeus.
Kedua tangan Zhang yang mengepal layaknya tinju, ditaruh di tanah...
“Dragon Walk”
Bommm…Swusshh…
Zhang tiba-tiba saja terbang tinggi ke udara, kira-kira 700-800 meter di atas permukaan tanah, dengan kecepatan tinggi.
Setelah itu, dengan menakjubkannya, Zhang berjalan di langit layaknya orang biasa yang berjalan kaki di tanah.
Dor…Dor… Dor…
Beberapa tembakan mengarah pada Zhang. Dengan lincah, jenderal itu berhasil menghindari peluru-peluru dengan gerakan tubuh yang sangat fleksibel.
Prang…
Zhang masuk kedalam rumah dengan menerobos kaca lantai pertama dan mendarat sambil menembakkan senjata AK-47 nya dengan agresif juga tepat.
UWAAA…. 4 orang di lantai pertama telah tewas seketika dengan cepat. Lalu dengan gerakan tangan kanan keatas….
"Tapak Naga: Cakar Naga Hijau”
BOOM…
Lantai dua rumah ini langsung jebol seketika, 3 orang yang berjaga disana langsung terpental jauh ke langit.
“Heh… Tidak kusangka pemerintah negara asalmu akan mengirimkan orang yang cakap dalam hal beladiri timur, tidak hanya berton-ton perlengkapan perang.” ucap Fallen ketika dirinya ditodong oleh Zhang, 3 anak buahnya yang terbang ke langit sudah jatuh kembali.
“Terima kasih atas pujiannya… Sayang sekali saya bukan berasal dari barat, tapi saya dari timur juga."
"Saya ikut operasi ini berdasarkan panggilan dari organisasi dunia untuk menghabisi Kelompok Teror Hades, kelompok yang menyewa kamu sebagai mata-mata. Benar begitu kan? Fallen The God Eye?” kata Zhang dengan tegas dan menyebutkan dengan lengkap kata sandi samaran Fallen.
“Sayang sekali itu benar juga salah. Saya akan jelaskan didepan pasukan anda Jenderal.” balas Fallen sambil melakukan sesuatu didepan laptopnya.
Tiba-tiba saja di lapangan pasir terjadi sesuatu...
Bomm….Bomm…Bomm
Lapangan ranjau didepan rumah kecil ini meledak secara serentak.
“Kau menonaktifkan ranjau nya yaa." Ucap Zhang, Fallen mengangguk tipis saja.
"KALIAN SEMUA MASUK KEDALAM RUMAH!” perintah Zhang sambil memberikan pada pasukannya.
Terrion, Zee, dan 28 prajuritnya yang lain pun berlari melewati lapangan ranjau tanah yang barusan meledak itu dan masuk kedalam rumah.
#####
Masa Kini, Kapal Barang Dragon Walk, Ruang Pengobatan.
Zhang alias Fallen terbangun dari pingsan juga mimpinya tentang masa lalu di sebuah ruangan yang tampak seperti Ruangan Pengobatan sederhana. Dia tidak menyangka kalau dia pingsan dan bahkan lupa apa yang sebenarnya terjadi ketika itu.
“Beristirahatlah… Kau kelihatan lelah sekali, sehingga pingsan begitu saja.” kata seorang pria dengan kacamata dengan baju putih.
“Terima kasih karena telah mengobati lukaku." kata Fallen pada pria itu, namun pria itu pergi begitu saja dari ruangan ini.
Fallen bingung dengan sikap dingin itu. Daripada memikirkan itu, Fallen langsung bangun dari ranjang dan berdiri di lantai. Dia harus mencari tahu rahasia apa yang tersimpan pada kapal ini.
Fallen lalu keluar ruangan, dia melihat kanan-kiri, atas-bawah, dan sudut-sudut lorong kapal.
Dia tidak menemukan kamera pengintai atau CCTV. Itu berarti dia aman untuk melakukan aksinya.
Lalu dengan jalan yang perlahan-lahan, setengah mengendap, dia menyisir lorong panjang setelah ruang pengobatan.
Langkahnya berhenti, ketika dia mendengar pembicaraan, dua anak buah kapal.
“Banyak juga ya senjatanya… Apa Dragon Gangster akan benar-benar berperang dengan White Mask yaa..?” kata salah seorang ABK.
“Sepertinya begitu. Kekuasaan White Mask di kota dosa sudah terkikis habis, tinggal markasnya saja. Mungkin ini serangan penghabisan.” ucap ABK lainnya.
“Yah untung saja kroco seperti kita tidak terlibat perang itu, hahaha…,” balas anak buah kapal yang satunya lagi sambil tertawa lepas.
Swusshh…
Dengan gerakan lincah seakan berpindah tempat, satu orang ABK berhasil dilumpuhkan.
Sementara yang tersisa, dicekik lehernya dan dipepet kan ke tiang kapal.
“Urghhh… Apa-apaan ini!? Siapa… MMHHH…” Mulutnya langsung ditutup oleh Fallen.
“Jangan bicara keras-keras. Kalau kau tidak mau mati, kasih tahu dimana kontainer tempat penyimpanan senjata itu.” ancam Fallen sambil berbisik pelan namun mengintimidasi anak buah kapal didepannya.
Pisau kecil juga sudah ditusukkan secara tipis dan halus ke perut abk itu dan juga melepaskan bekapan mulutnya.
‘Ukhh… Baiklah, ke lorong dibelakang saya ini sampai mentok lalu belok kiri, kau akan melihat tulisan Level D, turuni tangga, berada disana.” ucap ABK itu sambil menahan sakit pada perutnya yang ditusuk dengan pelan dan dalam.
“Terima kasih.” Balas Fallen dan…
Tuk.. Tuk..Tuk…
Tiga teknik totokan cepat diarahkan ke tiga titik tubuh sehingga membuatnya lumpuh.
BRUK..
Tubuh ABK itu langsung jatuh ke lantai kapal. Dia ingin bicara namun anehnya malah tidak bisa. Suaranya tidak keluar.
“Tiga totokan itu melumpuhkan tubuhmu, pisau yang aku oleskan racun dan tusukkan juga menghilangkan suaramu dalam sepuluh detik pertama."
"Dalam dua menit, kau akan mengalami kejang, tiga menit berikutnya kau akan mati dengan mulut berbusa.” ucap Fallen sambil meninggalkan nya.
Sesuai arahan, Fallen kembali menyusuri lorong untuk mencari kontainer penyimpanan senjata.
Dalam pikirannya, kalau senjata itu berhasil sampai di kota tujuan, maka akan banyak korban dalam peperangan dua geng.
“Korban dari pihak geng sebenarnya tidak masalah dan masa bodoh buatku, tapi warga sipil tidak berdosa tentu akan ikut terkena dampaknya."
"Perang antar dua geng itu harus dihentikan meskipun kesempatannya kecil." kata Fallen dalam hati sambil terus berjalan yang kali ini agak cepat.
Dia sampai didepan sebuah tanda
MENJAUH! AREA TERBATAS, LEVEL D.
Tepat dibawah tanda, terdapat pembuka lorong yang berbentuk lingkaran dengan 5 pegangan nya. Dia membuka itu dan tampak anak tangga menurun yang cukup jauh, meskipun dia dapat melihat lantai besi tepat di dasarnya.
Dia melompat masuk dan lanjut berlari.
Langkahnya kembali berhenti, ketika dia mendengar suara langkah kaki dibalik dinding lorong. Fallen mengintip.
“Ada 3 orang berjaga dengan senjata lengkap? Tak salah lagi ini tempatnya.” Fallen terus mengamati tiga orang yang berjaga didepan dua kontainer besar, dia mencari celah supaya bisa melumpuhkan tiga orang itu.
Kesempatan itu datang ketika tiga orang penjaga agak berpencar tidak saling berdekatan. Dua lainnya kearah samping kontainer sementara satu lagi tetap berjaga.
Fallen lalu dengan cepatnya bergerak, melumpuhkan orang didepan kontainer, tanpa penjaga itu sempat bereaksi. Setelah itu, dia menyandar di kontainer, berusaha mendengarkan langkah kaki dua penjaga lainnya.
“Satu lagi agak menjauh, sekarang saatnya…” Fallen lalu menyerang dari belakang penjaga lainnya yang jaraknya dekat.
Dengan pisau lipat yang diambil dari penjaga yang dilumpuhkan sebelumnya, dia berhasil menggorok tipis namun cukup dalam leher penjaga didepannya dengan cepat tanpa reaksi.
Bersambung....