DRAGON PALM

DRAGON PALM
BAB 7. Jenderal Besar



5 Tahun Sebelumnya, Operasi Zeus I, di sebuah rumah kecil.


Zhang Cho, Zee, dan Terrion kini sedang duduk di kursinya masing-masing sementara 17 tentaranya berdiri mengelilingi ruangan juga sandera mereka Fallen, yang sudah terikat di kursi.


Fallen yang kini tanpa topeng tengkoraknya, memperlihatkan setengah bagian kiri wajahnya yang ternyata rusak akibat terbakar.


“Jadi dimana pimpinan Hades?” Tanya Zhang Cho membuka interogasi.


“PImpinan Hades ada di kota ini, kalau dari sini, sekitar 5 kilometer ke timur. Disana kalian akan menemukan gedung bertingkat 3 dengan bendera Hades didepannya. Dibawah tanah terdapat bunker besi.” Jawab Fallen secara langsung.


‘Dia tampak jujur sekali Brigadir.” Kata Zee mencurigai Fallen.


“Aku jujur karena aku sudah muak dengan tingkah laku bos Hades Zexa. Dia sudah banyak mengabaikan perintah dari Organisasi…” Kata Fallen memutuskan kalimatnya tiba-tiba.


Duagghh.


Sebuah tinju dilepaskan ke wajah Fallen oleh Terrion. Zhang Cho sedikit kaget, tapi dia membiarkan tindakan itu untuk mengetahui lebih banyak informasi.


“Organisasi apa? CEPAT KATAKAN!” Bentak Terrion pada Fallen.


Mulut Fallen tampak mengeluarkan darah.


“Baiklah akan aku beritahu semuanya. Lagipula sebentar lagi aku akan mati kan? Dan kalian, mau sekuat apapun berusaha, takkan mampu menghancurkan organisasi yang akan aku jelaskan, organisasi yang sangat luas jaringan dan kejam.” Ucap Fallen lalu menyeringai, wajahnya memberikan mimik ancaman yang serius dan menakutkan.


“Ya sudah cepat jelaskan saja, jangan bertele-tele.” Kata Zhang dengan tegas kemudian.


Disisi lain, Terrion menyiapkan pistol dan tampak memasukkan peluru kedalam magasin lalu membuat pistolnya dalam posisi siap menembak. Zee tampak curiga dengan gelagat Terrion itu, padahal Brigadir Zhang sendiri belum memberikan perintah untuk menghabisi sandera.


“Organisasi itu bernama Dragon Gangster. Organisasi kriminal bawah tanah yang jaringannya sangat luas bahkan layaknya sebuah negara didalam negara. Organisasi ini memiliki 3 Tier yang diurutkan berdasarkan jabatan dan kekuatan tempurnya. Mereka di pimpin oleh Robert Santizo, meskipun dia sendiri jarang muncul ke publik dan lebih sering anaknya Julius Santizo.” Ucap Fallen menjelaskan organisasi Dragon Gangster, Zhang tampak menyimak dengan serius.


“Mereka mempunyai markas yang berpusat di kota jauh ke benua barat, Princeland. Mereka menguasai kota itu dan membentuk pemerintahan sendiri didalam negara yang berdaulat juga menjadikan walikotanya sebagai alat. Jika kau dan pasukanmu berani menyerang, Keluarga Santizo tinggal di rumah dengan ukiran naga pada dinding.”


“Dragon Gangster menguasai kota itu selama 3 tahun terakhir ini dan mengubahnya menjadi kota pusat hiburan, dosa, kejahatan, juga transaksi gelap yang tak terhitung nilainya. Hades sendiri baru dibentuk setahun lalu dan bertujuan menguasai daerah timur jauh yang kaya akan minyak dan sumber daya alamnya.” Kata Fallen mengakhiri penjelasannya.


Zhang tampak berpikir dan diam sejenak.


“Bagaimana mungkin ada organisasi yang menguasai jaringan bawah tanah dan memiliki koneksi yang sangat luas tapi baru terbentuk selama tiga tahun terakhir? Itu tidak masuk akal sama sekali.” Kata Zhang mengeluarkan argumennya.


Fallen yang diam, kemudian terkekeh.


“Hehe, Hahahaha!! Karena jika aku ceritakan pada kalian siapa dibalik Dragon Gangster dan siapa itu Robert Santizo, kalian dan pemerintahan dunia semacam PBB, Nato, dan sebagainya takkan bisa menanganinya!! HAHAHA!!” Balas Fallen sambil tertawa terbahak-bahak dengan intonasi yang mengerikan.


“Apa!? Ada gangster lebih kuat dibalik Dragon?” Tanya Zhang seolah tak percaya. Organisasi yang bahkan lebih kuat, powerful, dan memiliki koneksi tak terbatas jika dibandingkan dengan PBB?


Fallen kembali menyeringai menyeramkan. Wajahnya tampak tak takut mati sedikitpun.


“IYA! ITU BENAR SEKALI! Karena itulah, jika kalian membunuhku, maka Robert Santizo yang dijuluki Modern Godfather akan memerintahkan asassin terkuatnya memburu kalian sampai ujung dunia sekalipun dengan Organisasinya yang bernama…. Uhukk…” Fallen yang belum selesai bicara ditembak oleh Terrion 3 kali di dadanya sehingga mulutnya mengeluarkan darah dan membuatnya tewas seketika.


Zhang, Zee, dan 17 pasukan di ruangan itu kaget tak menyangka Terrion akan mengeksekusi sandera secara tiba-tiba dan tanpa perintah.


“Dia terlalu banyak bicara dan membocorkan informasi…” Ucap Terrion dengan nada bicara yang aneh. Zhang melihat gelagat buruk dari kolonel nya itu.


“Apa maksudmu terlalu banyak informasi yang bocor!? KITA BUTUH INFORMASI ITU UNTUK MENGHANCURKAN TEROR INI!" Bentak Zhang yang sudah sangat marah.


“Organisasi bawah tanah yang sangat kuat dan memiliki jaringan yang sangat luas, itu terdengar sangat menarik kan? Bagaimana kalau kita join saja dengan mereka…” Kata Terrion sambil menyeringai dan tak memperdulikan Zhang.


“BODOH KAU TERRION! ITU SAMA SAJA MENGKHIANATI NEGARA DAN PUBLIK!” Lanjut Zhang tambah marah melihat kelakuan Terrion yang mau berkhianat setelah mendengar penjelasan Fallen.


“Aku tak peduli soal negara, rakyat, atau apapun itu. Aku hanya peduli soal kekuasaan dan uang. Zhang, kau harusnya berpikir untuk apa operasi Zeus ini dilaksanakan dan mengincar kelompok Hades? Karena Godfather Robert ingin menghancurkan Hades secara menyeluruh dengan menggunakan tentara PBB.” Kata Terrion dengan teori liar dan tak masuk akalnya.


“Jangan berkata apapun lagi Terrion atau kau akan aku ledakkan.” Kata Zhang, dia berusaha menahan amarahnya, meskipun dia ingin sekali meninju bawahannya yang kurang ajar itu.


“Tapi kau takkan mampu kan? Kalau begitu…” Terrion lalu mengeluarkan bom asap dan meledakkannya.


BOFFFF…. Uhuk… Uhuk…


Asap pekat, tebal, dan meluas muncul dalam sekejap dan memenuhi ruangan sempit itu. Zee dan 17 anak buahnya yang lain mulai menembak kearah Terrion yang sudah kabur.


######


Indra penciumannya bergerak, dia menghirup sesuatu yang harum, enak, dan membuat dirinya lapar. Dia berusaha menengok ke kanan.


Samar-samar terlihat seorang pria dengan rambut putih, kulit keriput, dan baju yang sobek-sobek dan api unggun yang menyala menyinari malam.


“Apa kau sudah bangun nak?” tanya pria ubanan disampingnya.


“Dimana saya? Apa anda menolong saya Pak Tua yang terhormat?” tanya Fallen dengan suara lemah.


“Tidak nak, saya hanya membantu sedikit saja, menarik tubuhmu yang tangguh dan bisa bertahan dari arus kuat juga deras berasal dari sungai di pulau ini.” Pak tua itu menjelaskan sambil menuangkan sesuatu di mangkuknya. Harum sup daging mulai terpancar.


“Di pulau? Apa ini kota Princeland?” tanya Fallen kembali. Dia berusaha mengingat kejadian sesudah dia pingsan di kapal transport Dragon.


“Bukan, kita bukan berada di kota maksiat itu. Kita ada di pulau buangan, terpencil dan jauh dari mana-mana, Pulau Penjara Naga.” jawab si pria tua itu.


“Pulau Penjara Naga? Saya belum mendengar ini sebelumnya… Lalu kenapa… Tidak mungkin…” Fallen terkaget ketika dia berhasil melihat dengan jelas pria tua didepannya ini.


“Silahkan makan sup rusa ini, jenderal muda Zhang.” kata pria tua itu sambil menyebutkan nama aslinya.


“Gu… Guru, maksud saya… Jenderal Besar Yuan Chen…” Zhang tidak percaya bisa melihat orang yang melatih, atasan, dan dikaguminya ada di pulau ini.


Dia berusaha duduk dan berhasil karena dibantu oleh Jenderal Yuan.


“Kenapa anda disini Jenderal? Bukankah anda harusnya sudah pensiun 10 tahun lalu?” tanya Zhang sambil menerima mangkuk berisi sup rusa.


“Saya disini, karena ingin menumpas kejahatan yang ada di kota Princeland, kota tujuan kamu brigadir muda. Tapi, kota itu menyimpan rahasia kekuatan yang besar dan tak terbayangkan…” Jenderal Yuan tampak menghela nafas, sementara Zhang mendengarkan dengan seksama.


“Info pensiun 10 tahun lalu sebenarnya adalah info palsu yang kamu terima brigadir muda. Saat itu, saya dan pasukan ditugaskan untuk menyerang Kota Princeland dan membunuh Elder yang saat itu berkuasa sebelumnya, tapi tugas itu gagal…” jelas Jenderal Yuan sambil menghela nafas panjang dan tampak sedih mengingat kegagalan misinya itu.


“Kenapa anda bisa gagal? Anda adalah guru tapak naga saya, yang menguasai tapak naga sampai tingkat ungu, sementara saya hanya tingkat merah, dua tingkat dibawahnya…” ucap Zhang tidak menyangka.


Jenderal Yuan menatap tajam dan dalam kearah Zhang dan sambil memegang kedua pundaknya…


“Brigadir Zhang, tapak naga ungu yang gurumu kuasai ini, tidaklah cukup menghadapi monster sebenarnya yang memimpin kota dosa itu…” kata Yuan serius.


“Maksud guru, sang Godfather?” tanya Zhang menyebutkan nama julukan, pemimpin tertinggi dunia kriminal.


“Benar sekali. Untuk mengalahkannya, kamu harus menguasai tapak naga tahap akhir, Tapak Naga Darah Hitam.” lanjut Jenderal Yuan pada Zhang.


Zhang makin tidak percaya mendengar itu. Tapak Naga Darah Hitam? Itu sesuatu yang sangat langka dan mustahil dikuasai.


“Bagaimana mungkin Guru? Saya harus belajar pada siapa?” tanya Zhang kemudian. Jenderal Yuan tersenyum.


“Tapak Darah Hitam memang terdengar mustahil, kuno, dan mitos ketika di luar. Di pulau ini, teknik tertinggi itu bisa dikuasai asalkan melewati ujian Naga, dimana pulau ini adalah tempatnya!” seru Jenderal Yuan sambil menatap lurus kearah sungai yang mengalir deras.


“Ujian Naga? Apa benar itu ada guru?” tanya Zhang lagi.


“Ada, di bawah laut tepat di belakang pulau ini. Disana ada pintu untuk memasuki kawasan yang tersembunyi selama 100 tahun lamanya, Altar Naga, tempat ujian berlangsung.” jawab Jenderal Yuan dengan pandangan yang masih kearah laut.


“Lalu kenapa guru tidak mengikuti ujian itu? Guru yang menemukan pintu Altar itu, kenapa?” tanyanya lagi.


“Karena guru sudah tua, guru tidak mungkin kesana. Karena itu, ini mungkin takdirmu brigadir muda untuk masuk ke Altar itu. Kenapa? Karena tahun ini tepat 100 tahun ketika tapak Naga sejati bangkit terakhir kalinya…” jelas Jenderal Yuan pada Zhang.


“Saya paham Guru, kalau begitu, saya akan menjalani ujian itu…” kata Zhang dengan tatapan penuh semangat dan percaya diri.


“Tapi ada harga mahal yang harus kamu bayar ketika berhasil menguasai tapak terakhir itu, nyawamu. Anak muda, kau akan langsung tewas ketika mengeluarkan tapak itu. Efek di sekitar juga tidak dapat diperkirakan, tapak terakhir sangatlah kuat, dahsyat, namun menghancurkan segalanya…” ucap Jenderal Yuan memberikan peringatan.


Tapi jawaban Zhang….


“Saya siap dengan resiko apapun yang terjadi dan soal kehancuran itu, saya akan memastikan untuk tidak meluas dan merusak sekitarnya, karena saya memiliki teknik lainnya guru.” kata Zhang dengan semangat membara dan tekad yang kuat.


“Saya percaya padamu brigadir muda, kalau begitu besok kita akan ke Altar.” lanjut Jenderal Yuan mengakhiri.


“Siap Jenderal!” Balas Zhang sambil memberikan hormat, Jenderal Besar itu hanya tersenyum bahagia.


To be Continued….