
Bab 5: MASTER OF FLUTE.
Kapal Dragon Transport, Level D Bagian Kontainer Rahasia.
Fallen kembali bersembunyi mengamati langkah satu penjaga yang tersisa, tapi anehnya langkah kakinya tiba-tiba hilang.
Kemudian, muncul suara seruling dari arah belakangnya….
Wuungg… Ngungg….
Fallen mengalihkan perhatiannya kebelakang, tampak Bobby, senior kedua, memainkan seruling emas dengan kepala naga di ujungnya. Fallen pada awalnya terdiam karena bingung dengan kemampuan itu, tapi tiba-tiba…
Srattt… Srett…. Crass…
Tiga sayatan acak pada bahu kanan dan kiri juga pinggang kanan, terukir di tubuhnya lalu diikuti dengan darah yang muncrat. Fallen mengaduh kesakitan dan langsung terduduk.
“Teknik seruling? Aku tak pernah melihat itu sebelumnya Senior Kedua…,” kata Fallen pada Bobby yang masih berdiri dengan seruling di mulutnya.
“Panggilan Senior Kedua hanya untuk anggota Dragon Gangster. Aku mencurigaimu meskipun Kakak Pertama percaya. Kau bukanlah Fallen.” ucap Bobby lalu kembali memainkan seruling nya.
Fallen pernah menghadapi kekuatan tak kasat mata seperti ini saat ujian silatnya dulu.
Dia mulai memejamkan mata, merasakan arah datangnya serangan.
Wunggg… Ngungg… Singgg…, bunyi irama seruling mulai terdengar.
Dengan mata batinnya, dia merasakan dan melihat secara jelas arah datangnya serangan. Serangan bunyi layaknya sabetan angin pedang mengarah kearahnya sebanyak lim serangan.
Dengan anggun dan fleksibel, Fallen menghindari serangan itu sambil tetap memejamkan kedua matanya.
Lalu dia mendarat sambil mengeluarkan sebuah teknik dengan jari-jari tangan kanannya membentuk layaknya cakaran naga dan ditaruh di tanah….
“Tapak Naga Putih: Cengkraman Naga."
Suara gemuruh lantai kapal dan diikuti gelombang kuat yang merambat di tanah mengarah ke Bobby dengan cepat.
Dommm….
Serangan merambat itu meledak ketika menyentuh kaki Bobby dan membuat dia terpental. Tapi dia berhasil melakukan gerak reflek dengan bagus.
Dengan gerakan salto, dia menghindar sekaligus menyerang balik Fallen dengan alunan seruling nya yang kali ini lebih panjang nadanya.
Fallen kembali fokus memejamkan mata. Kini serangan yang dilihatnya ada delapan sabetan. Dia menghindar seluruh serangan yang datang dengan cepat dan fleksibel layaknya seorang penari professional.
Tapi, disaat Fallen mendarat, Bobby kembali memainkan seruling dengan alunan yang cepat dan tiba-tiba. Ketika Fallen sudah membuka matanya, serangan itu sudah sangat dekat.
“Oh sial…” Fallen pun tak dapat menghindari serangan yang datang tiba-tiba juga cepat itu, dia hanya melindungi wajahnya dengan kedua tangannya.
Sratt-sratt… Crasss…
Serangan itu berbentuk huruf X yang cukup besar, menyayat kedua lengan Fallen juga tubuhnya bagian depan. Dia bahkan sampai mundur beberapa meter menahan serangan.
“Ukhhh….” Fallen mengerang kesakitan ketika menahan serangan yang besar dan area luas itu. Bobby diam melihat lawannya menahan sakit.
“Sudah tidak kuat…? Kenapa tidak menyerah saja dan memberitahuku nama aslimu?” tanya Bobby pada Fallen.
“Jangan bertanya dan meminta pada lawanmu untuk menyerah atau kau akan menghadapi resikonya…,” jawab Fallen seolah menampar wajah Bobby dengan keras.
Fallen tampak fokus, dia berniat melancarkan serangan penghabisan, karena jika dilanjutkan, Senior Pertama dan orang-orang di kapal ini akan tahu pertarungan mereka.
“Hahaha sombong sekali kau! Kau sedang menghadapi Assasin No.1 Tier 3 Dragon Gangster! Biar aku perlihatkan teknik pamungkas ku, yang bahkan bisa menghancurkan seratus tentara sekaligus.” balas Bobby dan bersiap dengan seruling di mulutnya.
“Nomor satu di Tier 3 yaa…? Serangan pamungkas? Baiklah, ayo selesaikan ini!” balas Fallen dan sudah siap dengan tekniknya.
“Dragon Aura: White Dragon”
Muncul Aura berwarna putih disekitar tubuh Fallen dan Bobby tampak kaget melihat itu. “Aura naga putih? Apa dia Jenderal Muda Zhang yang menguasai Tapak Naga sampai aura Merah?” Dia bertanya-tanya dalam hati, tentang siapa sebenarnya lawannya ini.
Meskipun sedikit takut, tapi Bobby tetap melancarkan serangan pamungkasnya…
Ngungg… Wunggg…
“Rhythm of Death”
Dengan aura putih di tubuhnya, Fallen kini dapat melihat serangan Bobby dengan jelas. Tampak seorang hantu tak kasat mata memegang sabit raksasa dan menyabet serangan kearahnya berkali-kali.
“Tapak Naga Putih: Naga Regenerasi.”
Fallen memulai tekniknya dan maju menabrak serangan seruling yang dibunyikan oleh Bobby dengan gerakan naga yang indah dan lincah.
Semua serangan Bobby di terjang olehnya tanpa efek apapun pada tubuhnya, bahkan luka sebelumnya akibat serangan, pulih seketika ketika aura putih itu muncul dan mengelilingi tubuhnya.
“TIDAK MUNGKIN!” Bobby berteriak sejadi-jadinya ketika serangan pamungkasnya gagal total dan sebuah tinju pun terarah ke wajahnya…
BOMMM…. Sebuah ledakan dan impact besar juga luas muncul dibelakang tubuh Bobby, merusak seruling nya dan juga area sekitarnya, meskipun tinju Fallen tidak mengenai wajahnya secara langsung.
"Tapak Naga Putih: Tanduk sang Naga"
Bobby sendiri pun terpental jauh dengan mulut berdarah dan tubuhnya yang rusak luar dalam, dia tewas seketika.
Setelah memenangkan petarungan itu, Fallen bergegas membuka dua kontainer besar didepannya. Karena tidak adanya kunci, Fallen menjebol kontainer.
Kontainer pertama bernomor 2, tampak tumpukan kardus-kardus kayu dan juga kotak-kotak sedang berwarna hitam.
Tapi, dia penasaran dengan kontainer lain dengan nomor 1. Dia buka dengan cara yang berbeda, karena Nomor 1 ini terdapat mekanisme kunci jadi bisa dibuka secara manual juga diikuti firasatnya yang buruk.
Setelah dibuka, yang dilihat oleh Fallen adalah anak-anak kecil, pria dan wanita yang dikurung didalam kontainer dalam jumlah banyak.
“Ini adalah Human Trafficking skala besar…” Fallen benar-benar tak menyangka.
“Kakak! Kakak datang menyelamatkan kami kan!?” teriak para bocah itu dan langsung ingin memeluk Fallen.
Tapi, seorang wanita remaja yang duduk paling depan menahan para bocah.
“Tunggu adik-adik! Bisa saja orang ini adalah komplotan penjahat itu!” kata wanita itu, langsung menuduh Fallen begitu saja.
“Tidak aku bukan penjahat, aku datang kesini dari luar, dari pulau terpencil. Aku adalah mantan seorang jenderal.” kata Fallen mengakui identitasnya didepan gadis muda itu dan membuat para bocah langsung memeluknya dengan erat-erat.
“KAKAK JENDERAL TOLONG SELAMTKAN KAMI!” pinta para bocah itu lalu beberapa saat kemudian menangis.
Fallen ikut terlarut dalam keadaan haru selama beberapa saat. Kemudian bocah-bocah itu melepaskan pelukannya.
“Darimana asal kalian ini? Bagaimana bisa berada di kapal ini?” tanya Fallen pada bocah-bocah itu, namun mereka diam seribu bahasa. Mereka seolah takut ingin bicara apapun.
“Mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu, mereka dijual oleh keluarganya demi uang 20 juta per kepala. Ada yang diculik dan di iming-imingi atau dibujuk."
"Aku sendiri diculik oleh bajingan itu dan akan dijadikan wanita penghibur malam di Kota entah apa namanya…” Kata gadis muda itu dengan berani membicarakan asal-usulnya.
“Begitu rupanya, ini harus dihentikan. Aku akan mencoba membebaskanmu dan anak-anak lainnya. Tapi sebelum itu, aku punya rencana untuk kabur dari kapal ini dan sepertinya tujuan kapal juga sudah semakin dekat."
"Jadi dengarkan rencana ini baik-baik, kau aku andalkan gadis muda.” Kata Fallen pada gadis itu.
Gadis itu mengangguk tanda paham. Mereka akhirnya berdiskusi untuk menyusun rencana kabur dari kapal ini.
***
Setelah rencana tersusun matang, Aleena, gadis muda tadi bersiap untuk persiapan kabur dari kapal. Sementara Fallen, akan meledakkan kontainer berisi senjata api dengan bom waktu C4 yang ada didalamnya.
Di kontainer 2, Fallen men-set waktu bom 30 menit dari sekarang. Lalu saat ingin keluar dari sana, Fallen terkesiap, dia melihat Reynold, senior pertama, didampingi tujuh anak buahnya, mendekati mayat Bobby.
“CARI FALLEN BERENGSEK ITU!” teriak Reynold kencang. tujuh anak buahnya langsung berpencar.
Fallen merasa kalau Kontainer Nomor 1 tempat Aleena dan anak-anak itu berada aman, meskipun dirinya yang harus menghadapi mereka.
“Aleena kau sudah tahu kalau tanda rencana dimulai adalah suara pistol kan…? Langsung larilah…," kata Fallen dalam hati ketika seorang anak buah Reynold mendekati kontainer nomor 2.
Anak buah Reynold itu pun langsung dilumpuhkan dengan cepat. Dorr… Pistol ditembakkan Reynold kearah Fallen, meleset dan mengenai pintu kontainer saja.
Dengan sigap untuk memberikan jalan kabur pada Aleena dan anak-anak, Fallen melemparkan 3 bom asap di lantai besi kapal ini.
BOFFF… Asap pekat dari bom asap itu langsung menyelimuti dan membatasi jarak pandang.
Dorr… Dorrr… Dorr…
“FALLEN! Jangan coba kabur dariku!” teriak Reynold marah sambil menembakkan pistolnya sembarang arah, demikian juga anak buahnya.
Sementara mereka membabi buta menembak, Fallen berhasil mengeluarkan Aleena dan anak-anak dari dalam kontainer.
“Ayo pergi kak Fallen…,” ajak Aleena dengan suara yang pelan.
“Tidak, pergilah duluan. Aku harus mengalihkan perhatian mereka. Kau harus jaga anak-anak dengan aman dan sampai di tempat sekoci yang sudah tertera di map yang aku berikan padamu.” kata Fallen padanya.
“Ta… Tapi…” Sebelum Aleena selesai, Fallen memotong…
“PERGI!” perintah Fallen tegas. Aleena akhirnya pergi bersama anak-anak ke tempat sekoci.
Tanpa Aleena dan anak-anak itu tahu, punggung Fallen telah dihujani peluru yang ditembakkan Reynold dan anak buahnya barusan.
“Naga putih memang bisa regenerasi, tapi kalau digunakan dua kali dalam sehari dapat merusak tubuh itu sendiri… Tapi ini demi Aleena, Zee, dan anak-anak juga masa depan sebuah kota…,” kata Fallen dan dia pun mengambil fokus untuk mengerahkan tenaga dalamnya kembali, tapi…
DUKKK…..
“UHUKK!” Fallen muntah darah ketika jantungnya diserang oleh tongkat panjang milik Reynold, aliran tenaga dalamnya jadi tertutup seketika.
Kabut asap lama kelamaan memudar dan tampak Reynold didepan Fallen yang berlutut. Kaki kanan Reynold yang memakai sepatu boot, menginjak tangan Fallen dengan keras.
KRAK… 3 jari Fallen tampak patah ataupun setidaknya terkilir.
“Tapak Naga yaa… Kau adalah Jenderal muda dari Timur Zhang. Aku menutup titik pusat tenaga dalammu, itu akan membuatmu tak bisa mengeluarkan teknik apapun. Itu adalah teknikku, Tongkat Penutup Aliran.” kata Reynold pada Fallen yang keadaaan nya sudah nyaris pingsan.
Tongkat panjang Reynold kemudian kembali memendek dan menjadi seukuran lengan orang dewasa saja, padahal tadi saat memanjang, ukurannya meningkat drastis.
“Lapor Tuan Pertama, Sandera anak-anak telah kabur dari kontainer Nomor Satu.” kata salah seorang anak buahnya melaporkan.
Dorr…
Satu tembakan di kepala anak buahnya sendiri dari Reynold membuatnya tewas seketika.
“La… Lapor Tuan… Kontainer berisi senjata sudah diamankan dari bom waktu C4…,” ucap seorang anak buahnya yang lain lalu menutup mata seketika, takut di headshot.
“Satu berita bagus. Kau yang bertemu dan laporkan kejadian ini pada The Elder, lalu bawa dan buang tubuh jenderal ini ke pulau tersembunyi yang ada didekat sini.” kata Reynold memberikan perintah.
Anak buah itu pasrah ketika dia harus melaporkan kejadian di kapal pada The Elder, itu berarti dia akan tewas disana bukan disini.
Bersambung...