DRAGON PALM

DRAGON PALM
BAB 2. Lari atau mati



Setelah mengalahkan dua penjaga sel, Vincentius Zee dan Zhang Chou kini sedang mengendap-endap supaya bisa kabur secara diam-diam menuju pantai.


Dimana menurut informasi yang diterima Zee kalau di pantai sedang ada kapal bersandar dan akan pergi ke sebuah negara yang jauh dan tentu menjauhi pulau ini.


“Jangan jauh-jauh dariku…," bisik Zee pada Zhang.


“Baik." balas Zhang yang ikut berbisik. Mereka kini telah memasuki kawasan hutan, meski begitu hutannya tidaklah terlalu lebat sehingga masih ada kemungkinan terlihat.


Zee sedikit terkesiap dan langkahnya menjadi berhenti ketika melihat tiga orang dari kelompok teror sedang berkemah di tengah hutan dengan api unggun berada di tengah mereka.


“Ada apa Zee?” tanya Zhang ketika berhenti tiba-tiba, dia hampir saja menabrak punggung Zee


“Didepan ada tiga orang sedang berkemah. Kita harus alihkan perhatian mereka. Coba cari sesuatu dan amati disekitar…," jawab Zee sambil menjelaskan hal yang harus dilakukan berikutnya.


Zhang pun fokus mencari sesuatu untuk mengalihkan perhatian tiga milisi teror itu.


Terlihat seekor kuda yang tali ikatannya tampak kurang kuat, dia merasa kalau kuda itu bisa digunakan untuk pengalih perhatian. Dia memegang pundak Zee lalu berbisik.


“Bagaimana kalau kuda itu?” ucap Zhang sambil mengisyaratkan pandangan kearah kuda yang tertali pada pohon. Zee melihat kuda itu dengan fokus, dia paham maksud Zhang.


“Maksudmu dengan melepaskan kuda mereka? Itu boleh dicoba Zhang, tapi bagaimana caranya?" tanya Zee setuju dengan tetap saling berbisik.


Zhang mengambil sebuah batu berukuran sebesar apel yang ada di tanah.


“Biar aku saja. Aku akan gunakan batu ini.” lanjut Zhang sambil menunjukkan batu itu. Zee mengangguk setuju dengan rencana itu.


Kemudian dengan fokusnya, Zhang menyentil batu itu bagaikan bocah bermain kelereng mengarah langsung ke kuda tapi dengan kecepatan tinggi, akurat, dan kekuatan dalamnya.


BUKK… Hieee…


Sang kuda yang merasakan bokongnya di selepet batu, menjadi memekik kencang, tiga orang yang di kemah juga ikutan kaget.


Mereka menjadi panik, ketika kuda itu lepas dari ikatannya di pohon dan lari entah kemana.


“Sial! Kenapa ikatannya tidak di cek dulu!?” teriak marah dari salah satu tentara yang sepertinya lebih senior.


“Maaf Kapten.” balas dua tentara lainnya.


“Maaf-maaf! CEPAT KEJAR! ITU KUDA MILIK KOLONEL!” perintah tentara lebih senior berambut botak itu.


Dua tentara lainnya pun mengejar kuda itu dan disaat mereka lengah, Zee langsung maju menikam senior botak itu dari belakang tepat di lehernya hingga dia tewas ditempat.


Zhang kini yang kaget bukan main melihat Zee melakukannya dengan kecepatan tinggi, dia baru sadar ketika dipanggil mendekat.


“Brigadir Zhang cepat kemari!” Panggil Zee dengan suara yang tetap berbisik. Zhang pun langsung berlari sambil tetap menunduk.


“Tak perlu memanggil dengan Brigadir junior Zee. Tidak, kamulah seniornya sekarang.” kata Zhang yang menaruh respek terhadap Zee, prajurit muda yang usianya terpaut lima tahun dengannya tapi sangat berani, cekatan, terampil, dan ahli di alam liar.


“Haha anda bisa saja Brigadir. Tapi kita memang harus cepat bergerak, kita akan langsung maju menuju pesisir pantai. Ayo.” kata Zee pada Zhang.


Zhang hanya mengangguk. Mereka pun lalu bergerak kembali, keluar dari hutan lalu menuju pesisir pantai.


*


Menjelang pagi, mereka hampir di pesisir pantai. Zee dan Zhang kini sedang berhenti sejenak didekat pohon besar. Mereka sedang mengamati kapal yang lagi bersandar di pantai. Tampak kapal itu hampir selesai mengangkut muatan.


“Itu kapalnya. Kita harus kesana dengan aman dan senyap.” ucap Zee dengan tatapan fokus.


“Oke. Ayo lakukan.” balas Zhang.


Kali ini dengan berlari, mereka menuruni hutan yang letaknya lebih tinggi dibandingkan pantai, bahkan pantai dikelilingi oleh tebing.


Mereka merasa tak ada yang membuntuti. Zee meminta Zhang lari duluan didepannya, sementara dia berada dibelakang.


“Uhuk!” Zee muntah darah ketika anak panah menembus kedepan dari punggung dan melubangi perutnya.


“ZEEEE!” teriak Zhang pada sahabat sekaligus juniornya itu.


“TANGKAP DAN BUNUH MEREKA!” teriak seseorang dengan baret hitam sekencang mungkin. Tampak tulisan di dadanya, Derrian, dengan dua gerigi di bahunya, pertanda pangkat kolonel, juga lambang kelompok Teror Hades.


“PERGI BRIGADIR! AKU AKAN TAHAN MEREKA! KITA TAK BOLEH MEMBUANG KESEMPATAN!” teriak Zee pada Zhang yang lagi menangisinya.


“Tapi….” Zhang tak bisa berkata apa-apa, air matanya mulai mengalir.


Tiba-tiba.... Brukk


Zee mendorong Zhang menjauh hingga terjatuh, sementara dia berbalik, menerjang Kelompok Teror Hades yang datang.


“PERGI! INGAT INI, LARI ATAU MATI!” Teriak Zee.


Dorr-dorr…


Rentetan tembakan terdengar dan belasan peluru menerjang tubuh Zee, dia membalas dengan tenaga terakhirnya.


Dorrr-dorrr…. Tembakan nya menerjang tiga orang dari kelompok Hades, membuat mereka tewas ditempat.


Sementara itu, Zhang berlari menjauh dan akhirnya sampai di pesisir pantai. Dia melompat tinggi kearah kapal yang baru saja berangkat dengan perasaan sedih, hancur, dan kecewa berat.


Dia akhirnya berhasil naik ke geladak kapal dan seorang anak buah kapal yang melihatnya, langsung menghampirinya.


“Hei ada orang yang melompat kesini.” panggil anak buah kapal itu pada tiga temannya. Mereka pun ikut mendekat.


Satu dari mereka melihat keadaan, sementara yang lainnya melihat ke pantai. Anak buah kapal itu tampak kaget melihat milisi dengan RPG-7 dalam posisi siap menembak.


"Itu, pasukan milisi Kolonel Derrian! Apa yang mereka mau lakukan dengan rudal itu!?" kata ABK itu tampak kaget, satu teman yang lainnya ikutan mendekat.


"Hancurkan kapal itu!" perintah Kolonel Derrian dengan wajah geram.


"Tapi Kolonel itu kapal... Argghh" seorang prajurit yang berusaha mengingatkan, ditembak oleh Derrian tepat di kepalanya.


"Masih ada yang mau membangkang!? CEPAT TEMBAK KAPAL ITU! TAWANAN ITU LEBIH BERHARGA DIBANDING KAPAL BARANG SAMPAH ITU!" Kolonel Derrian menjadi marah-marah dan membentak prajurit yang dibelakangnya.


"Siap Kolonel!" patuh seorang prajurit yang memegang RPG-7 dan langsung menembakkan rudal kearah lambung kapal.


Tampak dari jauh Zee tumbang karena diberondong peluru, dia kaget bukan kepalang ketika melihat rudal melintas di langit.


Zee yang melihat itu, gagal dan tidak bisa bangkit kembali, karena tubuhnya sudah sekarat.


Dia hanya bisa berharap Zhang selamat. Rudal mengarah langsung kearah lambung kapal, tapi sebelum kena…


“Tapak Naga Hijau: Tapak Angin Penghancur!”


Zhang tiba-tiba bangkit dan mengarahkan tapak tangannya yang sudah dipenuhi tenaga dengan aura hijau dalam kearah rudal.


Sebuah dorongan kuat bagaikan peluru hampa udara menghantam rudal hingga membuatnya berbalik mengarah ke tebing dan


BOOOOMMM!....


Tebing meledak dan hancur. Derrian mungkin tewas bersama pasukannya dalam kejadian tiba-tiba itu. Diikuti oleh Zee yang akhirnya bisa meninggal dengan tenang setelah melihat Zhang selamat.


Sementara itu, Zhang langsung pingsan di geladak. tiga anak buah kapal itu membawanya kedalam kapal.


To be Continued…