
"Uhm ...?"
Aki terbangun karena merasakan hangatnya sinar matahari yang menyorot matanya, seakan menyuruh pemeran utama bersinar kembali di tengah kegelapannya.
E tapi tunggu bentar, "**** INI GUE DI MANA?!"
Aki terkejut. Dia bangun dari posisi tidurnya di sebuah kasur yang hanya cukup untuk satu orang. Dia melihat ke sekelilingnya. Di ruangan sempit yang ditempatinya sekarang, hanya ada satu kasur dan sebuah rak buku.
Pintu dan jendela terkunci rapat. Aki sudah mengeceknya. Dan dia sedang putus asa sekarang.
"Sabar, Kikkk, sabar ..." Aki meremas rambutnya dan berjongkok. Sekarang, dia benar-benar dilema. Setelah serangkaian kejadian yang dilaluinya, dia benar-benar bingung untuk memilih. Haruskah dia tetap bertahan di dunia ini dan menghadapi segala tantangan seperti yang ia inginkan, atau terus berharap agar dikembalikan ke bumi --yang tidak diketahui apakah bisa dilakukan-- dengan tanpa mengetahui jati dirinya.
Aki menenggelamkan wajahnya ke lengannya. Dia bersandar ke kasurnya. Bingung tidak karuan, itulah yang dia rasakan. Bahkan tidak terbesit satu pun ide mengenai langkah apa yang harus diambilnya.
Orang bodoh.
Saat merenung, Aki menyadari bahwa pakaiannya berubah. Aki melihat sekeliling, tidak ada baju lamanya. Dia kembali memeriksa seisi ruangan, tidak ada apa pun yang ditinggalkan. Hingga saat dia kembali membuka curtain jendela ...
"HUAHHH??!!"
"KYAAAA!!!"
"HAISHHH KAU TERNYATA!" Aki berusaha menenangkan diri setelah keterkejutannya. Yang ada di hadapannya sekarang adalah Yoda. Sepertinya gadis itu baru saja akan mengintip ke dalam ruangannya, tapi juga ikut terkejut karena Aki muncul tiba-tiba.
"Mau apa kau sini?" tanya Aki dari dalam dengan wajah yang masih tak karuan.
"Cih, padahal udah aku bela-belain datang ke sini!" Gadis di hadapannya malah cemberut. Sabar Kik sabar ...
"Setelah kau berdiri di situ, lalu apa yang akan kau lakukan? Aku sendiri bangun sudah berada di sini, entah bangunan apa ini. Pintunya terkunci, jendelanya juga--"
CTAK.
"W-Whooah???!" Aki terkejut karena Yoda tiba-tiba berada tepat di belakangnya.
"Ada apa? Mudah sekali bagiku untuk melakukan hal seperti ini," jawab Yoda santai yang kemudian duduk di kasur Aki. Teleportasi memang seram.
".. Hei," Setelah keheningan, Aki mencoba berbicara, "Ngapain ke sini? Sepertinya kau terlalu melibatkan diri dengan urusanku,"
"Suka suka aku. Kita udah saling kenal juga, kan? Memangnya salah kalau aku mengunjungimu dan bermain denganmu?" jawab Yoda masih dengan santai. Salah. Salah besar. Sikap santaimu benar-benar membuatku jengkel. Lagian kenapa kau memilih untuk menghabiskan waktu bersama denganku yang dibuang ke lembah ini?!
BTW, monmaap kadang bahasa gue kasar dan kadang jadi lunak juga.
"Haishhh kau liar, ya, cewek iblis," balas Aki jengkel dan mengalihkan pandangannya.
"Cewek iblis? Ahahah, bahkan kau mulai memanggilku dengan sebutan itu, ya ..."
"Hahah! Pasti karena sifatmu yang menjengkelkan itu, kan?" Aki berkata dengan yakin.
"... Eh?" Namun Yoda justru membalasnya dengan tatapan bingung. Aki diam, merasa tidak ada yang aneh dengan ucapannya barusan.
"Ah, jangan-jangan kau tidak tahu kalau yang ada di kepalaku ini tandukku?" Yoda menunjuk dua tanduk merah di atas kepalanya dengan jari telunjuk dari kedua tangannya.
"T-Tanduk?! Kukira itu hanya aksesoris rambut!" Aki terkejut, sekaligus malu.
"Setelah berulang kali bercakap denganmu, aku benar-benar paham kalau kau bodoh,"
"Di-Diam!" Aki malu dan memalingkan wajah. Yoda tertawa kecil.
"Ahahah, wajar saja, sih. Kau belum melihat makhluk-makhluk di sini, kan? Mereka sangat berbeda dengan dunia manusiamu, pasti," ucap Yoda seraya bangkit dari kasur Aki dan berdiri di sampingnya, memandang ke luar jendela yang kosong. Tidak ada apa-apa karena mereka berada di lembah.
"Memangnya ... Apa yang membedakan Klan Ain dan Klan Kron?" Aki mulai sedikit penasaran. Dia duduk di kasurnya, lantas merasakan raut sedikit jengkel di wajah Yoda karena dia menghindarinya.
Lalu mengakhiri semuanya.
"Ah, iya juga. Untuk Klan Kron, kau bisa melihatnya dari penampilanku. Mereka punya rambut berwarna hitam dan mata berwarna ungu muda. Klan Ain, sebaliknya. Mereka punya rambut berwarna ungu muda dan mata berwarna hitam. Lalu, setiap orang pasti bisa menggunakan kekuatan, uhm, tipenya atau bagaimana, ya ... Yang jelas pasti punya kemampuan yang berbeda-beda," Yoda menghentikan penjelasannya. Sepertinya dia bingung hendak berkata apa.
Kekuatan? Apa semacam supernatural? Rasanya Aki melihat Yoda memiliki kemampuan yang besar.
"Lalu apa yang dimaksud dengan Klan Ain yang selalu makmur dan Klan Kron yang membawa sial? Bukannya harusnya mereka bisa saling melengkapi?" Aki merobohkan tubuhnya ke kasur.
"Ah, tidak, tidak semudah itu. Di mana mereka lahir, itulah takdir kehidupan mereka," Yoda bangkit dan berdiri di dekat jendela, "Klan Ain memang klan yang sangat makmur, tapi bukan berarti mereka tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi, kesalahan itu tidak fatal. Mungkin jika kerugian, tidak sampai mencapai kebangkrutan? Mereka selalu mendapat solusi dengan cepat. Apabila suatu kesialan yang menyangkut kecelakaan berdarah seperti kemarin, berarti ada Klan Kron yang menyusup. Yaa, jadi apabila ada pembunuhan di Klan Ain pasti ada sangkut pautnya dengan Klan Kron," Yoda mengakhiri penjelasannya dengan menopang dahu dan menghadap ke jendela.
Hening sesaat, Yoda menoleh, "Maaf kalau kurang dimengerti. Aku payah dalam menyusun kata-kata, ehe,"
Dia nyengir, "Hah ... Lalu kau sendiri yang Klan Kron. Bagaimana hidupmu?" Aki duduk.
Yoda berpangku tangan, "Sebenarnya ... Kehidupanku sebagai Klan Kron biasa saja, aku hidup bersama kedua orangtuaku. Klan Kron dikatakan pembawa sial karena disandingkan dengan Klan Ain yang selalu makmur. Klan Kron memang memiliki banyak konflik dan sedikit susah untuk maju, tapi bukan berarti kehidupan di sana selalu kacau. Memang kebanyakan kacau, tapi, ya, biasa saja,"
"Karena sebenarnya negeri ini memisahkan dua pihak, bukan membagi menjadi dua pihak, jadi di mana kau lahir, di situlah takdirmu. Kedua klan saling dipisahkan untuk menjalankan tugas masing-masing, bukan membagi tugas untuk saling melengkapi. Karena itu, kedua klan tidak boleh dicampuradukkan. Jika tidak, maka akan terjadi kekacauan di masing-masing daerah klan. Itu sudah hukum paling dasar negeri ini," Yoda menghembuskan nafas dan menutup matanya, mengakhiri penjelasannya.
Sementara Aki masih terpaku pada setiap kata-katanya, kemudian berusaha mencernanya, "Lalu bagaimana denganku yang berstatus 'makhluk' gagal, huh,"
"Tanda di lenganmu itu campuran lambang Klan Ain dan Klan Kron," Yoda sekadar memberi info.
"Ugh, menyebalkan! Bagaimana aku bisa terkontaminasi oleh darah Klan Kron?! Benar terkontaminasi, iya, kan? Pak Tua Berjenggot Hitam itu berkata aku adalah Klan Ain. Dan juga, di mana orangtuaku?!" gerutu Aki dengan menghentakkan kakinya ke lantai dengan sebal.
"Hei Yoda, apa kau--"
... Maafkan aku.
... Apa?
"Oi!" Aki menepuk pundak Yoda yang tiba-tiba melamun itu.
"A-Ah! M-Maaf! Aku melamun, ya?" ujarnya gelagapan. Aki memakluminya.
"Kau tadi berkata apa?"
"Tidak, lupakan," Aki kembali duduk di kasur. Tiba-tiba, terbesit dalam pikirannya, "Oh, iya. Lelaki berkacamata kemarin siapa? Yang menciduk kita berdua,"
"Menci-- apa?" E geble gw, masa di negeri ini tau bahasa anak gaul negeri sono.
"Yang kemarin mengungkap keberadaan kita," jawab Aki.
"Uhm ..." Yoda tampak berpikir, menundukkan pandangannya.
“Heh—? Bukankah kau ingin bertanggung jawab atas apa yang terjadi 16 tahun yang lalu? Kau terus saja memikirkan hal itu. Aku ingin ini cepat berakhir, tau. Dasar gadis yang tidak peka!”
"Kau terlalu mencampuri urusanku! Memangnya apa keuntunganmu melakukan semua ini?! Kau benar-benar lelaki yang suka memaksa! Kau lelaki licik yang menggunakan ke--"
"Ssst. Ayo pulang, Sayang,"
Lelaki itu menarik Yoda pergi bersamanya.
Yoda meremas roknya, "Dia ... Tunanganku," jawabnya ragu.
“Hah? Tunanganmu?” Aki terkejut. Karena saat dia melihat Yoda, dengan yakin Aki berpikir pasti dia paling tidak seumuran dengannya, “Memangnya, berapa umurmu?”
Yoda menoleh, “Aku dua puluh satu tahun, lho,”