Diamond's Thorn

Diamond's Thorn
BAGIAN 6.



"Hei, lepasin! Gak usah kasar, dong!" Aki terus berusaha memberontak karena dia didorong paksa oleh para prajurit kerajaan dengan tangannya yang kembali diborgol.


"Diam! Jangan banyak bicara!"


"Argh--"


Sesaat setelah prajurit itu menyuruh Aki bungkam, tibalah mereka di hadapan Sang Raja.


Dengan berusaha mempertahankan kewibawaannya, Sang Raja memicingkan matanya ke arah Aki. Aki berdecak sebal Lagi-lagi gue terlibat ke masalah merepotkan kea gini.


"Yang Mulia, Hamba telah membawakan Sang Gagal ke hadapan Anda," Sang Gagal? Itu julukan gue sekarang? Hmmm.


"Ehem!" Oalah mau ngomong apasii kampret. Gue udah gerah pen pulang aselii.


"Oh, sungguh. Telah datang hari-hari penuh kesialan di daerah Klan Ain. Sungguh, itu sangat merugikan kesejahteraan rakyat. Yang bisa kita lakukan sekarang tak lain adalah menyingkirkan hama busuk yang mengotori daerah Klan Ain. Akan datang sebuah hukuman kepada mereka yang melakukan kejahatan!"


Setelah Sang Raja mengakhiri perkataannya, para prajurit mengarahkan tombaknya ke arah Aki secara melingkar. Aki berkeringat dingin, dia bahkan bisa merasakan keringatnya mengalir begitu deras.


Bukannya ini hal yang membuat jantung berdebar-debar? Iya, kan? Kenapa sekarang aku ragu dengan diriku sendiri? Kenapa?! Harusnya bibirku mengarah ke atas sekarang, tapi gigiku yang gemetaran menahannya.


Kematian. Apakah itu yang akan menyambutku?


Tapi, aku bahkan belum berhasil menemukan jati diriku ...


"Tahan dulu, wahai prajuritku. Hukuman kali ini akan berbeda dari yang biasanya. Ini mungkin berbeda dengan kematian. Tapi, aku yakin dia akan merasakan akibatnya perlahan. Setelah mempertimbangkan banyak hal, aku rasa aku akan melakukan sebuah 'percobaan' pada Sang Gagal," Raja itu tersenyum penuh kemenangan. Aki masih memasang raut wajah kesal dan menatap tajam Sang Raja.


Ah, aku lupa pada kenyataan kalau aku ini bodoh.


"Aku terus saja berpikir tentang, Kapan, ya, aku akan menggunakan tempat itu. Dan akhirnya, tibalah hari ini!" Sang Raja masih tersenyum, kemudian menatap ke arah Aki dengan pasti.


"Prajurit-prajuritku! Bawalah Sang Gagal ke daerah paling sudut dan paling dasar perbatasan dua klan! Lembah Isar!"


... Hah?


Bersamaan dengan aku yang masih melongo dengan arah pembicaraan Sang Raja yang tidak kuketahui, aku diseret paksa oleh para prajurit.


 


 


***


"Hei, hei, kasar banget kalian! Sakit, woi!"


"Diam! Jangan sekali-kali mulutmu mengeluarkan suara untuk memberontak!" Prajurit yang mengawal di belakang --yang berarti berdiri di hadapanku, menodongkan senjata padaku.


"E," Aku membalasnya dengan nada mengejek.


Sret.


"... Ng?" Kusadari, lengan kiriku diserang oleh prajurit tadi. Saat aku memfokuskan pandangan dan pikiranku, lenganku sudah berlumuran darah.


Tepat di mana tanda itu berada.


Ah, apa ini? Kenapa aku tidak bereaksi? Kenapa aku tidak bisa menggerakkan satu pun anggota tubuhku? Rasanya kaku dan berat ...


Padahal para budak raja itu berhenti menyeretku.


Aku tidak merasakan sakit. Aku justru merasakan sesuatu yang meluap-luap dalam diriku. Seperti, ah, apa ya ... Kekuatan yang besar? Entah mengapa, aku merasakan sesuatu yang benar-benar luar biasa dan ... Membuatku tertantang.


Menyenangkan.


Tiba-tiba saja, kesadaranku seakan direnggut dari diriku.


***


Saat itu dia tidak tahu, bahwa setelah visinya kabur dia telah menyebabkan hal yang merupakan hasil dari kesuksesan dan kesialan.


Sukses karena berhasil membangkitkannya.


Sial karena dia telah menjadi pembunuh.


Dari dia yang berlumuran darah, berada di lautan darah.


Dan seseorang yang bergerak di balik layar memindahkan properti yang tak diperlukan, menuntun sang tokoh utama ke adegan selanjutnya.