Diamond's Thorn

Diamond's Thorn
BAGIAN 4.



Perlahan, Aki membuka matanya. Dia tergeletak di atas lantai kurungan yang dingin tanpa alas dan tanpa sesuatu yang bisa menghangatkannya. Aki mengucek matanya, segera menyadarkan dirinya.


Cahaya matahari masuk. Sudah pagi ternyata.


Aki bangkit perlahan. Duduk, dan menyandarkan diri pada tembok kurungan. Dia menatap ke depan, hingga dia sadar bahwa ada seseorang yang berada di kurungan depan kurungannya. Orang itu juga sedang memperhatikan Aki.


“Huuaahh!”


“Hahaha. Responmu lama sekali, Nak,” Lelaki paruh baya itu terkekeh melihat reaksi Aki.


“A-Anu … Apakah Anda ada di sini sejak kemarin?” tanya Aki.


“Hm, ya begitulah,” jawab lelaki itu dengan ekspresi yang terlihat dipaksakan, “Kenapa kau ada di sini, Nak?”


Terus terang saja, Aki bingung harus menjawab apa pertanyaan lelaki itu. Yah, karena itu Aki, dia langsung saja menjawab tanpa basa-basi, “Aku tiba-tiba di bawa di sini dan katanya aku makhluk gagal yang membahayakan, lalu aku dikurung. Padahal aku tak tahu apa-apa,” Raut wajah Aki terlihat kesal dan menahan amarah. Dia tak menatap lelaki itu saat dia mengatakannya.


Lelaki itu terdiam, tampak berusaha mencerna perkataan Aki barusan.  Aki melihatnya, menghela nafas dan mengangkat lengan kirinya, “Tanda ini, Pak. Lewat ini, mereka langsung tahu begitu saja. Apa maksudnya coba?”


Namun, reaksi lelakin itu justru membuat Aki bingung lagi. Lelaki itu tampak tertohok, tak percaya, kebingungan, keheranan, ketakutan, semua menjadi satu. Namun, Aki hanya menunggu kata-kata selanjutnya yang akan dikatakan lelaki itu.


“N-Nak …” Lelaki itu mulai berbicara, “Berani sekali kau kembali ke sini,”


“… Eh?” Beneran dah anj gue pengen pulang beli puding diskonan di supermarket daripada berurusan sama yang kayak beginian. Mental gue gak kuat.


Air mata tiba-tiba keluar dari lelaki itu, hanya sedikit dan hampir tak terlihat. Namun, Aki menyadarinya, “P-Pak …”


“Kau harus kuat di sini, itu risiko kau kembali ke sini!” Tiba-tiba, lelaki itu berteriak sambil memegangi pagar kurungan. Dia melihat jam di dekat pintu masuk, “Tidak ada waktu! Hanya itu yang bisa kukatakan padamu,”


“… Apa maksudnya? Saya bener-bener gak ngerti,” Gua pengen pulang anju.


“Kau adalah Klan Ain, namun karena dahulu pembatas kedua wilayah masih lemah, kau jadi korban. Hanya satu-satunya kau. Tapi, kau masih hidup. Bersyukurlah mereka belum—“


GREEK!


Pintu masuk terbuka lebar. Beberapa prajurit masuk dengan rapi, meyusuri dan berhenti di kurungan seberang kurungan Aki. Aki melihat mereka untuk beberapa saat. Pintu kurungan dibuka, lalu kaki lelaki itu diberi borgol. Tidak ada yang berbicara. Dia dibawa keluar, pintu kurungan kembali dikunci rapat-rapat, dan mereka keluar dari ruangan dengan kumpulan kurungan tadi.


Mereka hanya fokus ke lelaki itu. Tidak ada satu pun yang melirik Aki, bahkan lelaki itu.


Tapi …


"Sekarang kau kembali, sebenarnya tidak ada yang mau menyambutmu! Duh duh," Tertawa sinis, " Dan sekarang, kau tidak akan bisa kembali ke dunia manusia normal lagi,"


"Selamat menikmati sisa hidupmu dengan tinggal di kurungan. Karena kau adalah pembawa kehancuran bagi klan kami.


… Gawat.


Apa yang bisa kulakukan? Berpikir, berpikirlah Aki! Perhatikan sekitar … Argh!


Belum sempat Aki selesai berpikir, dia dikejutkan dengan suara langkah kaki. Seorang prajurit  telah berada di depan selnya, yang membuat Aki spontan setengah berteriak, “MAU APA KAU?!”


“DIAM!” Prajurit itu menodongkan pistol ke Aki dengan tangan kanannya. Di tangan kirinya, dia membawa tombak. Sebenarnya, penampilannya sangat aneh dan mencurigakan. Prajurit itu mengenakan jubah berwarna hitam bertudung, namun Aki mengenali bahwa itu prajurit lewat seragam, pelindung, dan senjatanya.


Apa aku akan langsung dieksekusi di dalam penjara ini? Prajurit itu masih menodongkan pistol selama beberapa saat, membuat tubuh Aki membeku. Namun, hal yang terjadi selanjutnya adalah hal yang tak pernah Aki sangka akan terjadi –prajurit itu membuang semua senjatanya, lalu membuka kurungan Aki. Dia masuk, dan entah sejak kapan, dalam sekejap kurungan kembali terkunci.


“Woe woe, apa-apaan ini maksudnya?! Kalo lu jones jangan homoan sama gue, dong! Idup lu lebih berguna kalau ngebebasin gue!” Aki terus berkata, sementara prajurit itu melangkah tepat ke hadapan Aki. Pandangan Aki bertemu dengan sepasang mata cokelat di depannya, dan dalam sekejap–


“Aku memang mau ngajak kabur kamu dari sini, huh,”


“LU KAN—“ Belum sempat Aki mengungkapkan keterkejutannya, dia disekap dan dibawa ke pojok ruangan. Perempuan itu menambahkan dengan berbisik, “Ssssh! Diam. Walau di sini tidak ada prajurit, mereka bisa saja mendeteksi teriakanmu. Sekarang, tutup matamu,”


“Hah? Ngapain?”


“Yang jelas aku gak bakal homoan sama kamu!”


“Lah lu kan perempuan –“


“Eh bocah! Udah tutup mulut aja!”


Aki menuruti perkataan Yoda –perempuan yang baru saja mengubah penampilannya. Dia seperti menggunakan sihir penyamaran. Penampilannya berubah –mengenakan atasan merah lengan sebahu, rok bermotif gingham merah-oranye selutut, stocking hitam dan slip-on merah.


Dia tidak mengenakan gelang yang kemarin. Di lengan kirinya ada tanda yang sama sepertiku, huh?