
Borgol. Ahahahah, tak pernah kusangka bisa melihatnya dalam jarak sedekat ini.
Sunyi sekali. Gelap sekali. Sempit sekali. Sesak, gerah, dan … Benar-benar dunia yang tak kuketahui.
"Cih, apaan, sih? Bodoh banget ah mau ngikutin perintah itu orang! Di sini gak nyeremin sama sekali, tau!" Aki memukul tembok kurungan berulang kali, menghasilkan bunyi khas borgol lewat tangannya saat memukul tembok. Bahkan sesekali dia menatap-natapkan dahinya ke tembok.
Tapi, yang aku inginkan, kan, memang kehidupan yang menantang. Apakah ... Ini sudah disebut ‘menantang’?
Kurungan ini tidak ada isinya sama sekali. Hanya ada dua ventilasi berpagar ala penjara, dan tentu pagar kurungannya. Udah. Kosong. Kalo Aki kedinginan ya siapa juga yang mau kasih selimut ke dia?
“Kalo di sini ada musim dingin, bisa mampus gua. AAARGHHH! BODO AH BODO! SEANDAINYA INI DUNIA VIRTUAL TERUS SEGALANYA JUGA VIRTUAL DAN SENANTIASA TERSEDIA, SELIMUT AMA MAKANAN GITU. TEKEN TEKEN, TERUS DATENG!” Aki berputar-putar dan memegangi kepalanya dengan tangan yang masih diborgol, “AAARRRGGHH! SYALAN!”
Untuk sesaat, dia menarik nafas panjang, menutup mata, dan melihat ke arah ventilasi. Hanya ada langit sore yang tenang. Aki terus memandanginya, berkonsentrasi hingga dia tidak sadar bahwa sudah ada wajah seorang perempuan di sana.
Aki membelalakkan matanya dan mundur karena terkejut, "Huaaa! Apaan tadi?!"
Halusinasi. Halusinasi. Ini pasti cuma halu! Gua jomblo juga gak ngenes amat!
"Eh, penghuni baru!" Perempuan itu berkata dan sekali lagi, membuat Aki terkejut. Sontak beberapa pertanyaan langsung terngiang memenuhi pikirannya yang sedaritadi kosong. Siapa dia? Eh di ini negeri ada perempuan, ya? Cakep bat, imut kek anak esempe, tapi suaranya kayak tante-tante, eh kok gua ...
“LU SIAPA?!”
"Wah wah, kau kenapa dihukum di sini? Ngelakuin kesalahan apa? Kasih tau, dong! Wajah dan tingkah kelakuanmu yang super depresi itu menarik perhatianku, lho! Ahahah," Perempuan itu bertanya dengan wajah cerianya sambil sesekali mengetuk pagar ventilasi itu. Dia terlihat memakai sebuah gelang perak memanjang di lengan kirinya. Rambutnya cokelat tua sebahu, poni lurus dan sebelah kiri rambutnya terikat. Dia tampak memakai hiasan rambut lancip yang seperti tanduk —tapi menurut Aki itu justru menambah kesan imut. Matanya yang cokelat berbinar-binar. Itu juga yang dipikirkan Aki di pikirannya sekarang.
"Siapa sih lu?!"
"Yah, kasar banget, ih! Aku diacuhin mulu. Namaku Yoda, namamu?" Buset langsung kasih tau aja.
Bentar, gua yang salah ngomong atau ini cewek yang sableng? "Ngapain mau tau nama gua?"
"Lah lah, kan, aku ngajak kenalan kamu. Itu hal yang wajar, kan?” Yoda mengubah wajahnya menjadi wajah polos tak bersalah. Membuat Aki bingung harus berbuat apa dan berdecak,
"Dunia ini aneh banget, sih! Ngapain gua dibawa masuk ke sini? Tiba-tiba dikurung karena katanya makhluk gagal, apaan coba?!" Aki membelakangi Yoda, mengalihkan pandangannya dan bersandar pada tembok. Menahan perasaan yang sama sekali tidak bisa ditahannya.
Tiba-tiba, suasana hening. Saat Aki menyadari itu, dia mencoba lebih tenang. Menghitung beberapa detik, dan menghadap ke Yoda. Yang dilihatnya adalah, Yoda dengan wajah kaget tak percaya. Tatapannya kosong.
“O-Oooi …” Aki berusaha menyadarkannya pelan.
“J-Jadi k-kau …”
Aki tertawa kecil, “Reaksi macam apa itu? Lu tahu informasi tentang gua, gak?” Dia mengeraskan suara di kalimat kedua. Namun Yoda masih saja terpaku, hingga akhirnya dia mengalihkan pandangannya dari Aki. Tangannya masih memegang pagar, dan dia seperti menggigit bibir untuk … menahan tangis?
"HEI KAU! BERISIK SEKALI!" Seorang penjaga datang, memecah kecanggungan di antara mereka di sore ini tiba-tiba.
"Hei, hak kurung ini sekarang milikku, kan? Ya kali sepi beut kea gini! Bosenin tau gak, gak menantang! Ini bukan kuburan, gua belum mati!” Selagi Aki mengoceh, terdapat suara derap kaki yang sangat kompak. Entah darimana, namun suara itu semakin dekat hingga sampai di hadapannya.
SRET.
Berbaris. Para prajurit itu membentuk barisan sepanjang kurungan Aki. Mereka ada di posisi masing-masing, dan masing-masing membawa sebuah pistol berisi peluru yang siap ditembakkan ke Aki. Aki dan Yoda tentu saja terkejut.
“Heh … Kalian bisa memakai pistol juga ternya—“
DUAR!
Dipelesetkan ke tembok, “Diam. Jangan bergerak.”
Aki bergetar. Dia ketakutan. Dia berkeringat dingin. Dan Yoda menyadari hal itu. Aki menghela nafas panjang dan menatap ke arah jajaran prajurit itu, “Aku hanya per—“
Terlambat. Pintu yang ada di bagian samping terlanjur terbuka, sementara pandangan Aki tak menyadarinya. Namun, satu prajurit lebih cepat dan menyuntikkan sesuatu ke tangan Aki tiba-tiba. Aki sempat menoleh, namun obat itu bereaksi dengan cepat. Aki tertidur, dan dilempar kasar ke arah tembok kurungan.
"H-Hei!!” Yoda menggebrak pagar ventilasi, “Dia bener-bener gak tau apa-apa, lho! Kalian ya-yakin? Kasar sekali," Untuk sejenak, para prajurit terdiam dan menatap ke arah Yoda. Hingga mereka menyadari sesuatu, dan salah satu di antara mereka berkata.
"K-Kau … Dasar sialan, Klan Kron! Berani sekali main-main masuk ke istana ini lagi!” ucapnya dengan penuh amarah, juga ketakutan, “Jangan pernah main-main dengan bocah ini!" ancamnya.
"Tsk. Namaku Yoda," ocehnya dengan menghadap ke bawah, namun sesaat kembali menatap tajam ke para prajurit.
Tersenyum, "Hehhh ... Tapi aku juga berhak tau, lho. Soalnya—Aw! Ihhh! Apaan, sih?!" Selagi Yoda mengoceh dengan masih berpegang pada pagar ventilasi, ada seseorang yang menariknya paksa dari bawah. Sekumpulan prajurit lain dari Klan Ain, ada yang menggoyahkan tumpukan yang Yoda pakai agar sampai ke ventilasi kurungan.
Yoda melihat ke belakang dari ketinggiannya, ada seseorang yang sedang tersenyum licik padanya. Yoda menatapnya tajam sebelum akhirnya terjatuh.
“Kembalilah ke wilayahmu sekarang! Kami masih berbaik hati kepadamu,” ujar salah satu prajurit. Mereka menahan Yoda, dan Yoda diserahkan pada seseorang di belakang mereka dengan kasar.
“Aduh—Hih! Apaan, sih?! Lembut dikit dong—“
“Hei. Aku, kan, selalu lembut kepadamu. Tatap ke sini, dong,” Seorang lelaki dengan penampilan mengerikan yang bisa mengubah keberadaannya. Dia memegang lengan Yoda dengan tangannya, mendekatkan Yoda kepadanya dan mengubah paksa pandangan Yoda.
Yoda menggeram pelan, lalu menyingkitkan tangan pria itu dari tubuhnya, “K-Kau … Apa yang kau mau?! Kau menahan kekuatanku, dan hal yang kau lakukan mengenai hal ini—?!”
“Heh—? Bukankah kau ingin bertanggung jawab atas apa yang terjadi 16 tahun yang lalu? Kau terus saja memikirkan hal itu. Aku ingin ini cepat berakhir, tau. Dasar gadis yang tidak peka!”