
"Hei hei, keluarlah! Aku sudah mengasah berliannya! Aku membawanya bersamaku!" Aki berteriak di dekat sungai. Sebenarnya Aki sedikit ragu, karena saat ini jam pulang sekolah dan yang ada di dekat sungai kebanyakan adalah pertokoan. Aki melihat ke sekeliling, belum ada tanda-tanda kedatangan. Untung saat itu sedang sepi.
*Gua bakal malu setengah mati *** kalau banyak orang.
"Hei, Nak," Aki menoleh karena panggilan itu. Aki tersenyum lebar, dan tanpa sadar mulutnya juga berkata, "Tunggu, tetaplah di situ!"
Lelaki misterius itu berjalan pelan menuju Aki yang sedang mengobrak-abrik isi tasnya. Namun, lelaki itu justru melakukan hal yang tak terduga. Dia mengambil paksa tas Aki, dan mencekik Aki juga mengarahkannya ke atas. Kuat, cengkeramannya sangat kuat.
"Ayo lawanlah aku, Nak. Tidak ada yang sedang melihat kita, lho,”
"Akkh, akh, le-lepaskan!!!" Aki berusaha memberontak dengan memukul perut lelaki itu. Sayangnya, lelaki itu justru membawa Aki lebih jauh ke atas.
"Duh, kau berani juga, ya. Hehe, gak kena, tuh! Ahahah, rasanya seperti menerbangkan bayi, seharusnya kau tertawa!” Pilihan kata macam apa itu?! Licik! Dia menunjukkan senyum itu, “Sayangnya jika kau berteriak dan memberontak, tidak ada seorangpun yang tahu,”
Setengah berbisik, lelaki misterius itu lantas melepaskan satu tangannya. Membuka lebar telapak tangannya, dan memunculkan … Sebuah portal?! Aki tak percaya, sungguh tak bisa dipercaya. Lelaki itu melempar Aki masuk ke dalam portal.
Aki tak sadarkan diri selama berada di portal. Yang dia rasakan, tubuhnya berputar-putar. Saat dia membuka matanya, tiba-tiba saja dia berada di ... sebuah istana?
***
Aki melihat sekelilingnya, namun yang ada memang hanya ada pemandangan di istana. Pagar yang mengelilingi istana, nuansa tumbuhan dan bunga-bunga yang mekar, juga kolam ikan di dekat pintu masuk istana. Rumputnya juga hijau sekali.
Terasa tentram. Eh tapi tunggu! Di mana ini? Gua udah mati gitu?!
"Hei, kau! Siapa– W-Wah!”
“Ada apa, Jack— Hah?!”
“Hm?” Seraya menautkan alis dan memiringkan kepalanya, hanya itu yang bisa dilakukan Aki saat dua prajurit penjaga pintu istana biasa itu terlihat heboh. Kenapa terkejut melihatku?
“T-Tanda di-di lengan itu! Fran, tidak salah lagi! Ini anak yang waktu itu!”
Gua gak pernah ingat ke sini, beneran dah. Kowoh dah gua di sini.
“B-B-Benar, Jack! Ap-Apa kita harus segera memberitahu Yang Mulia saja, ya? Tapi kenapa harus sekarang?!”
"Kehancuran dunia semakin dekat dan aku tidak siap akan hal tersebut! Ternyata yang dikatakan Kaisar Muda benar! Dia bahkan sudah bersiap dengan penghancurnya!"
Tunggu, sebenarnya apa yang sedang mereka katakan?
Namun, Aki tidak terlalu larut dalam percakapan yang justru akan mempersulitnya karena ketidakpahamannya. Dia melihat lengan kirinya, tanda itu semakin hitam dan pekat. Bahkan, berlian yang diasahnya pun terbawa begitu saja dalam genggamannya.
... Penghancur?
"Tapi …”
Obrolan mereka terhenti sejenak, dan menatap Aki yang sedari tadi diam dan hampir berbalik. Mereka saling bertatapan sejenak, lalu masing-masing memegangi satu tangan Aki.
“Eh?”
Lengan Aki diborgol secara tiba-tiba, membuat pikiran Aki berhenti sejenak dan tak sadar akan apa yang terjadi, “Fran, kita bawa dia ke Raja!”
"... Hah?!" Pikiran Aki awto aktif. Tak usah dijelaskan lagi, jelas Aki bingung baru datang langsung disergap para prajurit penjaga dan diperlakukan tidak layak seperti itu. Apalagi di dunia yang asing baginya ini.
"Oh, anak yang gagal waktu itu, ya?" ujar prajurit yang lain, entah datang dari mana.
Anak yang gagal? Apaan sih? Namun selagi Aki terus berpikir, pintu istana terbuka dan mendatangkan lebih banyak prajurit.
"Ekh, hem! Para prajurit yang ada di depan, bawa masuk anak itu sekarang!"
"Hei, itu perintah dari Yang Mulia! Cepat bawa dia masuk!" Karena perintah itu dari ‘bos’ mereka, para prajurit siap siaga. Beberapa dari mereka langsung menyeret paksa Aki. Aku merasa dia raja yang tidak terlalu disukai.
"Hei, apaan sih?! Lepasin, haishhh!" Aki memberontak dan berusaha melepaskan cengkeraman pada lengannya. Buduamat kalo gua lari pake borgol. Tapi, ya … Lewat mana juga?
"Diam kau! Menunjukkan muka di sini setelah dibuang, sudah pantas jika kau harus berhadapan dengan Sang Raja Klan Ain!"
"Duh, apaan, sih? Beneran dah gua gak paham! Gua aja tiba-tiba dilempar ke sini, dan gak tau ap---"
Mereka langsung menodongkan senjata pada Aki.
Ah, aku salah memilih. barusan, kan, menantang. Harusnya aku melayani penodongan senjata itu. Karena namanya tantangan, tentu berhubungan dengan kematian.
***
Mereka yang membawa Aki tiba di depan pintu ruangan sang Raja. Pintu terbuka. Sebut saja, para 'karyawan raja yang terhormat' berbaris di samping karpet. Pertamanya, langkah jalan mereka baik, namun baru sekitar 5 langkah, Aki langsung dilempar ke depan bahkan sampai roll depan.
Aki mengangkat wajahnya tidak untuk menghadap ke Sang Raja, tapi menatap ke seluruh prajurit dengan sinis dan membara. Dia sedikit meringis kesakitan. Tatapan tajamnya tertuju kepada Sang Raja ketika beliau berdeham.
"Ekhem!" Sang Raja mulai berbicara. Aki tidak bisa menghentikan keheranannya, dan masih menatap sinis, "Hei, Nak. Sudah lama aku tidak melihatmu,"
"HAH?! SUDAH LAMA?!” Secara spontan Aki mengatakan itu dengan mulut terbuka lebar dan melonjak, membuat seisi ruangan yang sangat panjang lebar tinggi itu menganga tak percaya, “Memangnya kita pernah bertemu, Pak Tua Berjenggot Hitam?"
Aki maju tanpa rasa bersalah, dengan rasa penasarannya. Beberapa langkah sebelum naik ke 'tempat terhormat', Sang Raja menodongkan pedang tajam dengan 'senyuman manis'.
"Hohoho, yup!" Raja itu menyengir dan menutup matanya. Gaya yang mainstream namun khas. Namun, itu tak berlangsung lama, "Kau sudah jadi anak yang nakal, ya? Pantas saja kau disebut gagal, karena kau juga membawa kesialan. Kenapa masih belum menghilang dari dunia ini? Enyahlah, agar kerajaan Ain ini tetap makmur,” Dia menatap Aki dengan tajam tanpa belas kasihan.
Aki mendecak dan merendahkan tatapannya.
"Kau sudah lancang pada Raja di Negeri tempat asalmu. Ini adalah Negeri Gefya, yang dibagi menjadi dua wilayah: Klan Ain pembawa keberuntungan, dan Klan Kron pembawa sial. Kau sebenarnya adalah Klan Ain. Namun, beberapa bulan setelah kau lahir, wilayah Klan Ain banyak sekali mengalami musibah. Setelah pengecekkan, ternyata kau punya darah Klan Kron. Bagaimana bisa kau lahir? Bagaimana bisa kau ada di sini? Bagaimana bisa kau lahir, dengan campuran darah menjijikkan itu? Kau telah dibuang!" Raja itu menatap Aki dengan aura penuh amarah. Namun, Aki juga sama penuh amarahnya. Dia mengepalkan tangannya, dan terkadang berdecak.
"Sekarang kau kembali, sebenarnya tidak ada yang mau menyambutmu! Duh duh," Tertawa sinis, "Dan sekarang, kau tidak akan bisa kembali ke dunia manusia normal lagi,"
Kalimat terakhirnya cukup membuat Aki terhenyak. Otaknya benar-benar tidak cukup menampung semua hal aneh ini. Aki berharap ini adalah mimpi buruk, namun sayang. Ini adalah sebuah kenyataan!
“HAAAAHHH APAAN SIHHH???!!! KLAN AIN, KLAN KRON, MANA GUA TAU!!! PUSING KEPALA GUA GEBLEK, GUA TIBA-TIBA DIBAWA KESINI! GAK USAH SOK JADI TUAN GUA LU---“
Raja mengangkat salah satu tangannya. Beberapa prajurit langsung memborgol tangan Aki, dan menahan lengan, pundak, bahkan kepalanya.
“H-Hei! Apa yang kalian lakukan, sih?! L-Lepasin! LEPASIN GEBLEK,”
Sayangnya, hal itu tak menggoyahkan semangat para prajurit untuk memborgol Aki. Sang Raja menghela nafas dan menatap Aki, lantas tersenyum sinis, "Selamat menikmati sisa hidupmu dengan tinggal di kurungan. Karena kau adalah pembawa kehancuran bagi klan kami,"
GREEK!