Diamond's Thorn

Diamond's Thorn
PROLOG.



Hei, apakah kau pernah berpikir bosan untuk hidup?


    Itulah aku.


    Aku yang merasa bahwa keberadaanku sampai saat ini adalah sebuah keajaiban. Saat kusadari, hari-hari yang kulalui penuh dengan kebosanan. Sendirian. Menyakitkan. Aku ingin mati.


    Tapi, masihkah kau mengingat tentang dirimu sendiri? Tentang kau yang pertama kali melihat dunia, hingga tumbuh menjadi sebuah tokoh dengan dunia sebagai panggungnya. Apakah kau bisa memainkan peranmu itu dengan baik? Akankah datang tokoh lain yang memengaruhi jalan ceritamu?


    Apa kau perlu panggung lain untuk bertahan hidup?


    Aku yang ingin mencari jati diriku. Ada hal yang harus memicuku untuk mengetahui jati diriku. Sebuah tantangan dan juga berbagai pertentangan.


    Serangkaian kejadian yang membawaku ke sebuah akhir, di dunia itu. Akulah pusatnya.


***


"Aki, kamu dapat nilai 20 di semua nilai ujian?!" Itu yang dikatakan ibu angkatku saat melihat nilai ujian tengah semesterku. Duh, baru juga selesai mandi. Berisik, ah.


    Umurku 16 tahun, duduk di kelas 1 SMA. Seperti ibu angkatku yang memanggilku tadi, kau juga bisa memanggilku Aki. Saat SMA ini, aku sudah benar-benar bosan bersekolah. Sangat bosan. Aku sama sekali tidak menganggap sekolah itu seru untuk mengisi kehidupanku, seiring berjalannya waktu. Kau bilang masa SMA itu sangat indah? Bagiku, ini seperti bunga yang layu, bahkan bunga yang mati. Memangnya, apa alasanku untuk hidup kalau aku dari awal sudah dibuang? Lucunya, aku masih bertahan hingga sekarang.


    Aku ini pas-pasan. Eh, kau sebut bodoh juga boleh. Sebuah keajaiban aku masih bisa lulus SD dan SMP, lalu masuk SMA. Orangtua angkatku pun sudah mulai lelah memperingatkanku akan belajar. Memangnya mereka yang menentukan masa depanku? Mereka kan cuma menemukanku di depan rumah mereka, tanpa identitas.


    "Pokoknya, kamu harus dapat nilai di atas 80 di ujian selanjutnya! Mama gak mau tau, kamu harus berubah, Aki. Kalau tidak, Mama gak bakalan ngurusin kamu di sisa hidup kamu!"


    Bagus. Langsung terus terang seperti itu, aku jadi tertantang.


***


Kriingg.


    Jam makan siang. Aki membuka kotak bekalnya. Tentu saja itu disiapkan oleh ibu angkatnya. Isinya nasi goreng dan telur dadar.


    Aku tak merasakan rasa kasih sayang di makanan yang kacau ini.


    Tetap saja dia akan memakannya karena yang Aki benci adalah ibu angkatnya itu, bukan masakannya.


    Aki selalu makan sendiri saat SMA ini. Entah kenapa, dia sangat benci untuk berinteraksi. Ah, mungkin lebih tepatnya, semakin dia bertambah umur, semakin antisosial dirinya. Aki tak tahu penyebabnya dan menganggap bahwa itu adalah hal yang wajar. Lagipula, di rumah dia sudah biasa dicampakkan. Kakak perempuan angkatnya saja selalu sibuk sendiri selagi Aki mengurung diri di kamar. Aki makan di bawah pohon beringin di pojok belakang gedung sekolah.


    TUP! Aki berjalan kembali ke kelasnya karena bel masuk akan segera berbunyi.


    Aki masuk ke kelasnya dengan terus menatap ke bawah. Dia tak peduli walau ada anak yang berkata *Eh …, Lihat jalan, woi!, Eh lu sengaja ya **** ngejak gelud, Dih punya mata gak dipake, Suram banget idup lo.


    Silakan saja pamer kehidupan emasmu dan masa berbunga SMA-mu. Aku tak peduli. Sungguh tak peduli. Persahabatan? Aku yakin mulutmu itu pernah ngomong satu dua kata kewegahan akan sikap sahabatmu. Percintaan pun aku tak pedulI. Emosinya tidak jelas, membuat dirimu jadi yang lain. Harusnya kau tunjukkan saja apa adanya dirimu itu, suram banget idup lo.


    Sebenarnya, Aki bisa dibilang cukup tampan. Tapi, ya … Begitu. Banyak perempuan yang tidak berani mendekat karena kesuramannya. Aki sama sekali tidak akan me-notice mereka. Jika mereka memaksa atau terlalu berisik, Aki tak segan-segan hampir menonjok perempuan dan membuatnya pingsan. Pernah satu kali, dan dia langsung dipanggil BK beserta kedua pihak orangtua. Sang perempuan tak apa, dan keluarganya juga tak terlalu memedulikan. Tidak ada tuntutan dan bayaran apapun. Tapi tetep aja gue dihukum dikurung di kamar tiga malam dua hari kaga makan. Untung nyelipin tupperware berisi.


    Mata hitamnya selalu menatap tajam apapun, gaya rambut dan poni satu sisinya bisa dibilang rapi atau berantakan, yang memengaruhi penampilan suramnya.


***


“Kelas kalian, tidak ada yang remidi dalam ujian Kimia,” ucap bu Risa, guru Kimia kelas Aki seraya memeriksa masing-masing lembaran siswa kelas 1-5.


    “YYYEEEAAAYYY!!!”


    “… Kecuali satu orang,”


    “Cih,”


     Mereka tau orang itu. Orang yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan SMA yang sebenarnya. Ya. Itu aku. Hahaha, lucu sekali, kan? Dengan percaya diri aku berkata bahwa akulah siswa yang remedial itu. Semuanya langsung terdiam, dan beberapa menatap ke Aki.


    Bu Risa membuang semua lembar jawaban siswa kelas 1-5, lantas menginjak salah satu lembaran dengan sepatunya. Beliau membenarkan kacamatanya, dan berkata, “Aki. Kau bandel sekali, ya,”


    Aki tersenyum sinis,  “Hoho, baru kali ini Ibu tau murid yang sangat menantang. Kelas ini termasuk yang bagus, lho, reputasinya. Dan kamu, merusaknya begitu saja?” Bu Risa mengarahkan lembaran Aki lebih jauh.


    “Pulang sekolah kamu ke BK! Ngerti, Aki?!” Nada suaranya meninggi.


    Aku sudah benar-benar sendiri di sini. Sempurna.


    Kenapa kita harus menargetkan nilai di pelajaran sekolah? Kita punya kemampuan sendiri. Mungkin memang benar, semua tergantung pola berpikir untuk meningkatkan kecerdasan. Sayangnya, aku tak punya itu.


    “Dan, oh, ya. Nanti sebaiknya pukul empat sore ke rumah Ibu,” Bu Risa berjalan menuju kursi Aki, dan meletakkan sebuah kertas di meja Aki dengan suara keras, “Ibu akan memberimu pelajaran tambahan khusus tanpa biaya, selama tiga hari berturut-burut mulai hari ini!”