Diamond's Thorn

Diamond's Thorn
BAGIAN 1.



"Ah, panas banget! Ngapain juga harus ke rumah guru itu?! Mana pada bilang ke orangtua angkat itu lagi. Cih,”


Bisa dibilang, aku juga sudah merusak reputasi keluarga angkatku itu. Mereka semua baik, ramah, dan itu bukan pencitraan. Kakak kuliah di Belanda dan kedua orangtuaku pemilik perusahaan sukses. Aku adalah kebalikan dari mereka. Jika ada tetangga yang menggosipkan mereka, pasti aku targetnya. Aku yang berulang kali masuk BK, semakin menurunkan reputasi mereka lebih banyak lagi. Saat pertemuan wali murid, justru banyak yang nanya gimana caranya bisa mungut anak kayak gue. Tau darimana anj. Kesel bat gua.


Masih dikasih jatah makan teratur ama uang saku sebulan aja masih bersyukur gue.


“Mending ke sungai, njebur," Aki tak berbelok menuju tempat kursusnya, melainkan ke sungai. Berulang kali melakukan hal tak berguna seperti mengibasi tubuh dengan kedua tangan. Yah, setidaknya di sungai dia bisa nyemplung.


Kalau mau buang aku, silakan saja. Toh dari awal aku udah sendiri, dan kalian lebih bahagia dengan anak kandung kalian. Gumamnya sembari terus berjalan menuju ke tepian sungai.


Klotak!


"Haishhh! Duh, hampir aja," Aki menyadari ada kaleng yang membuatnya hampir tercebur ke sungai. Namun karena dia menyadari  hal aneh, dia menatap dan memungut kaleng itu.


"Hm? Kaleng yang tak pernah kulihat. Masih ada isinya pula," Aki membuka kaleng itu karena rasanya berat. Yang dia lihat selanjutnya membuatnya terkejut --sebuah berlian.


    "Hah? Apa-apaan–“


    "Oh, sudah kau buka, ya?"


    "... Hm?" Aki menoleh. Dia melihat sosok yang berpakaian serba hitam, namun wajahnya masih terlihat. Sedikit berkumis dan bermata hitam tajam yang membuat nuansa aura gelap, menakutkan, mencekam di sekitarnya.


Aki berdiri dan memegang ranselnya, "Anu, siapa, ya?"


    "Duh, sakit sekali rasanya," Perkataannya itu justru membuat Aki kebingungan. Ditambah, laki-laki asing itu terkekeh. Rasanya Aki ingin menonjoknya.


Laki-laki tadi menghampiri Aki perlahan. Dia tak membawa apapun di tangannya, "Hei, Nak. Kau butuh sesuatu yang menantang, kan? Kau sudah sangat bosan dengan sekolah dan segala macamnya, kan?"


"... Hah? Lo siapa? Kok--"


    "Kalau begitu, lakukanlah apa yang kukatakan, agar hari-harimu tidak membosankan!"


    "Lo orang gila, ya, ****? Ngelantur lo! Ngabisin waktu gua aja," Aki hendak pergi, namun tangannya dicekal oleh orang itu.


    "Ini akan jadi permainanmu, permainan berbahaya, lho," Lelaki itu mendekatkan mulutnya ke telinga Aki, membuatnya sedikit merinding.


Seakan sebuah mantra yang memengaruhinya.


"... Dan kau juga akan mendapatkan informasi mengenai jati dirimu dan tempat asalmu setelah kau masuk ke dalamnya,"


Entah mengapa, berhasil memengaruhiku.


***


Teringat sesuatu, dia membuka tasnya dan mengambil sebuah berlian yang diberikan lelaki itu. Memandanginya dan berpikir tentang percakapan mereka.


    "Kau harus bisa mengasah kedua ujung berlian itu agar menjadi lancip--"


    "HAH APA?!"


    "--Tunggu dulu, dong. Tidak berat, kok. Boleh aku lihat lengan kirimu?"


Aki menyerahkan lengan kirinya. Akhir-akhir ini, dia memakai lengan panjang karena tiba-tiba muncul suatu tanda aneh berwarna hitam dan tidak bisa hilang. Benar-benar membuat Aki frustasi. Orangtuanya yang mengetahui itu berpikir bahwa itu adalah tato dan tidak mempermasalahkannya --seakan sudah wajar jika dilakukan Aki.


"Ah! Aku benar-benar datang di waktu yang tepat! Nah, kau hanya perlu menggosokkan kedua berlian itu di sekitar tanda yang ada di lenganmu itu!"


    "... E sumpa?"


"Haishhh kok terusannya gua terima aja, sih," gumam Aki, "Kayaknya jelas banget lengan gua bakalan berdarah-darah. Ngapain juga, sih, harus diasah jadi lancip pula?! Haishhh cobain dulu aja, dah,"


Sejujurnya aku tak peduli mengenai ini hal menantang atau tidak, yang ingin kuketahui sejak dulu adalah jati diriku. Tapi … Bagaimana dia bisa tahu? Kenapa aku bisa percaya padanya?


    Hmmm, dari awal sudah kukatan juga sih, ya. Kau boleh menyebutku bodoh.


Mulai keesokkan harinya, Aki mulai mengasah berlian itu. Dia melakukannya saat istirahat di sekolah dan saat berada di suatu tempat sepi dalam rangka bolos les. Lelaki itu bilang akan menemui Aki 2 hari lagi, yang membuatnya terkejut karena waktunya sangat singkat. Ternyata tanda di lengannya bisa dengan cepat membentuk berlian itu, membuat Aki berpikir bahwa waktu 2 hari itu sudah tepat.


Hari perjanjiannya itu sama dengan hari terakhir dia seharusnya mengikuti les. Entah kenapa, bu Risa tidak mencarinya. Membuat Aki berpikir apakah beliau sedang merencanakan sesuatu. Di sekolah juga tidak bertemu sama sekali, tidak ada pelajaran beliau juga. Mungkin memang udah pasrah, kali, ya, sama tingkah Aki?


"Aku mau keluar," Sesaat setelah Aki membuka pintu rumahnya, panggilan ibu angkatnya mencegahnya, "Aki, tunggu!"


    "Hm?" jawabnya malas.


    "Mau ke mana kamu?! Kamu nggak akan pergi les, kan?! Bu Risa barusan telepon, katanya apa kamu juga tidak datang hari ini? Mama kebingungan karena dari kemarin kau seharusnya keluar untuk les, bodoh!"


Ah, benar, kan. Guru sialan itu benar-benar menyerangku di akhir.


    "Masuk ke kamarmu!"


    "Hm? Tidak mau--" PLAK! Sebuah tamparan mendarat di pipi Aki.


"Duuuh, Mama capek Mama benar-benar capek! Pergi aja kamu! PERGI SESUKAMU DAN JANGAN KEMBALI! Jangan pernah balik ke keluarga ini lagi!" Ibu angkatnya mengusirnya dan saat mendorong tubuh Aki, Aki balas mendorong tubuh ibunya hingga terjatuh dan merintih kesakitan.


    Ibunya menatap sedih dan Aki menatap dengan tatapan yang kejam. Aki keluar rumahnya dan menutup pintu dengan keras.


Apa sifat dan sikapku sudah menyimpang dari selayaknya manusia?