
"Dimana Hera?" Althea bertanya sambil menatap satu persatu anggota keluarga nya.
"Maksudmu, perempuan berbaju hijau yang membawamu kemari?" King Ares balik bertanya mengenai perempuan yang membawa putrinya kembali.
"Ya. Dimana dia, Ayah?" Tanya Althea tidak sabar. Dia jelas sangat mengkhawatirkannya.
"Dia sedang beristirahat, Thea. Tubuhnya masih lemah. Kau juga harus beristirahat." Ucap Queen Kyle. Sebenarnya dia sudah tahu mengenai keadaan gadis itu berkat kemampuan yang Ia miliki.
"Tapi..."
"Kau boleh menemuinya nanti. Beristirahat lah sekarang." Titahnya lalu mencium kening Althea singkat. Walau sebenarnya dia masih cemas dengan kondisi Althea.
King Ares ikut mencium kening Althea. Dia membelai pipi Althea sejenak lalu pergi.
"Cepatlah sembuh, Gadis Manja. Jika tidak, aku tidak akan membawamu terbang mengelilingi kerajaan vampir lagi." Ucap Sean sambil memasang wajah mengancam.
Althea berdecak mendengarnya. "Aku sudah sembuh. Demon tidak akan bisa sakit Kakak tahu?" Althea mengangkat sebelah alisnya.
Sean terkekeh. "Baiklah. Have a nice dream, Thea." Dia pun berjalan keluar ruangan bersama Kayla di rengkuhannya.
"Semoga cepat sembuh, Althea. Oh, lelaki sialan ini bahkan tidak membiarkan ku mengucap sepatah katapun padamu." Althea terkekeh mendengar mindlink dari Kayla. Ia dapat memahami itu. Sean sangat pencemburu bahkan dengan adik iparnya sendiri. Karena jika Althea sudah bersama Kayla, maka tidak ada yang bisa memisahkan mereka.
"Seharusnya aku memarahi mu. Tapi melihat kondisi mu yang seperti ini, aku menjadi tidak tega." Ucap Anne kesal. Dia ingin sekali mencubit adik iparnya ini karena telah membuat mereka semua khawatir.
"Kau tahu, Thea. Keane bahkan hampir menghancurkan istana saat mengetahui dirimu tidak ada di sini." Althea terkekeh mendengar penuturan Anne. Sedangkan Keane, wajah pria itu memerah dari pipi hingga telinga.
"Sudahlah, Anne. Althea butuh istirahat. Sebaliknya kita pergi." Keane yang sudah malu berat memutuskan untuk meninggalkan mereka lebih dulu.
"Ternyata serigala kecil itu memiliki rasa malu juga." Anne tersenyum penuh arti.
"Beristirahatlah. Semoga cepat sembuh." Dia mengecup pipi Althea sejenak lalu keluar dari ruangan. Tak lupa ia menutup pintu lagi.
Setelah mereka semua keluar, Althea mengeram dam mengepalkan tangannya. "Sial. Aku akan membalas mu, Lance."
Gadis berambut hitam itu berusaha kera untuk bisa turun dari ranjang. Dia berjalan menuju ruang sebelah yang dibatasi dengan pintu emas.
Althea berusaha untuk mendorongnya tetapi pintu itu tidak terbuka sedikitpun. "Ck, sial. Aku yakin Hera ada di sana." Althea berusaha untuk membukanya lagi namun tetap sia sia. Ditatapnya pintu itu dengan sendu.
"Hera, maafkan aku. Karena ku, kau terluka." Althea memikirkan cara lain untuk memastikan kondisi sahabatnya itu. Dia bisa saja menggunakan kekuatannya, tapi ia masih lemah untuk bisa mengendalikan nya. Dia takut akan kehilangan kendali lagi seperti kemarin malam.
"Hera?" Althea mencoba untuk me mindlink Hera. Hening. Tidak ada jawaban dari lawan bicaranya. Dia menghela nafas. Baiklah, dia memutuskan untuk beristirahat sebentar untuk memulihkan kondisinya.
...▫️▫️▫️...
"Sean, Kayla, temui ayah di ruang kerja. Ada yang ingin ayah bicarakan." Lelaki yang memimpin Clan Demon itu me mindlink kedua anaknya agar pergi keruang kerjanya. Dia merasa ada yang berbeda dengan Althea.
"Baik, Ayah." Jawab mereka serempak. Merekapun berjalan menuju ruang kerja King Ares yang tidak terlalu jauh dari sana. Tak lupa Queen Kyle yang selalu menempel pada suaminya.
Sesampainya di ruang kerja, Sean mengetuk dinding dua kali. Portal setipis kertas pun muncul lalu melebar hingga menutupi seluruh ruangan itu. Sean tau apa yang akan dibicarakan oleh Ayahnya. Setelah dirasa aman, Sean pun mendudukkan dirinya.
"Ayah, kenapa Kak Keane tidak ikut?" Tanya Kayla sambil menatap ayahnya intens.
"Ayah menugaskan mereka untuk berjaga. Tenang saja, ayah akan tetap memberi tau mereka." Jawab King Ares.
King Ares tampak memperbaiki duduknya sebelum berbicara. "Apakah kalian mencium sesuatu yang janggal dengan Althea?"
Sean dan kayla bertatapan sejenak lalu mengangguk. "Kami mencium aroma darah putih. Sepertinya, segel itu mulai terbuka." Ucap Sean sambil menatap ayahnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Keheningan menyelimuti mereka. Empat makhluk berbeda jenis itu saling bersitatap dalam diam. Mereka hanyut dalam pikiran masing masing.
"Apakah kita harus memberitahu hal ini kepada Althea?" Queen Kyle bertanya dengan wajah cemas. Wanita half vampire demon itu tampak sangat khawatir dengan takdir putri bungsunya.
King Ares menghela nafas berat. "Mungkin ini adalah waktu yang tepat. Kita harus segera memberitahu hal ini kepada Althea agar tidak terjadi sesuatu yang buruk kedepannya. Siap tidak siap dia harus menerimanya karena ini adalah takdirnya."
Pria bermahkota itu mengalihkan pandangannya kepada dua makhluk didepannya yang merupakan kedua anaknya sekaligus pemimpin Kaum Vampir.
"Dan ayah meminta bantuan kepada kalian. Clan Vampire adalah Clan yang paling aman sejak Yang Mulia Lord memimpin. Ayah pikir, sepertinya Clan Vampir bisa menjadi tempat aman bagi Althea untuk melatih kekuatan barunya." Pemimpin Kaum Demon itu menatap Sean penuh harap.
Sean berpikir sejenak. Memang setelah Yang Mulai Lord memimpin dunia, semuanya berjalan dengan damai tanpa adanya pemberontakan besar. Hanya Kaum Werewolf yang dipimpin oleh kakaknya yang terkadang mendapat serangan di beberapa pack dari para rongue dan beberapa di klan demon yang dilakukan oleh para iblis yang terbuang. Tetapi Yang Mulia Lord tidak terlalu memikirkannya dan menjadikan hal itu sebagai ciri khas suatu Clan. Terdengar gila. Namun begitulah pemimpin mereka.
"Baiklah, Ayah. Aku akan membawa Althea sekaligus mencoba untuk mengajarinya."
"Terimakasih."
"Tapi, Ares. Apakah dia bisa mengendalikannya. Aku khawatir jika keadaan berbalik. Aku tidak ingin dia menjadi monster." Ratu Demon itu menatap suaminya cemas. Bayang bayang kejadian Althea lepas kendali saat masih kecil berputar jelas di kepalanya.
Dimana Althea yang masih berumur empat tahun menurut perhitungan manusia, membunuh sebagian besar prajurit dan menghancurkan setengah istana. Mereka yang sedang berada di perjalanan menuju Clan Werewolf terpaksa putar balik dengan segera. Queen Kyle melihat dengan jelas bagaimana Althea yang dikendalikan oleh sisi hitam itu menyerang brutal King Ares yang merupakan ayahnya sendiri. Juga Althea yang terbujur lemah karena kehabisan tenaga. Darah berwarna putih mengalir dari hidung dan telinganya, membuat dada Queen Kyle sesak melihatnya.
King Ares menatap istrinya dalam. Ia sangat tahu bagaimana perasaannya saat ini. Dia sebentar juga sangat resah. Terkadang ia berpikir, kenapa harus putrinya? Padahal masih banyak perempuan yang lebih hebat dari putrinya. Tapi ia tak bisa mencegahnya. Ia sudah pasrah akan takdir yang sudah digariskan itu.
"Dia pasti bisa, Queen. Kita semua ada disini untuk membantunya. Kita hanya akan membuka segelnya sedikit demi sedikit lalu mengajari cara untuk mengendalikannya." Pria bermahkota itu menggenggam tangan istrinya erat.
"Tapi, Ares..."
"Ini yang terbaik, Queen. Kita harus melakukannya sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Dia juga perlu restu darimu agar mempermudah dirinya untuk melangkah. Dan hanya dirimu yang bisa membuka segel itu. Percayalah, semua akan baik baik saja."
Setelah diam sejenak, akhirnya Queen memilih untuk mengangguk. "Baiklah, aku akan melakukannya." Wanita cantik itu tersenyum tipis saat mengatakannya.
"Terimakasih, Queen. Jika begitu, kita akan menuju Clan Vampire dua hari lagi. Aku yakin Althea sudah sembuh dan kita juga harus memberitahu nya sebelum keberangkatan. Siap tidak siap dia harus melakukannya demi kebaikan bersama."
Kayla yang teringat akan sesuatu pun membuka suaranya. "Ayah, lalu bagaimana dengan gadis bernama Hera tadi?"
"Ayah memutuskan untuk menerimanya sebagai tamu terhormat di istana ini. Ayah rasa dia adalah teman Althea selama ini. Dan ayah juga memutuskan untuk mengikutinya sertakan dia ke Clan Vampire." King Ares yang sudah memikirkannya matang matang pun menyampaikan keputusannya.
"Ya. Aku rasa dia memiliki hubungan yang kuat dengan Althea." Ujar Kayla lalu mengangguk.
"Tapi kita harus tetap mencari informasi tentang gadis itu." Titah King Ares dan diangguki oleh mereka.
Tanpa mereka sadari, ada seekor burung kecil berwarna abu abu yang ikut mendengarkan apa yang mereka bicarakan dari balik jendela. Meskipun Sean sudah memberi portal untuk melapisinya, nyatanya burung ini masih bisa mendengar dengan jelas. Dia pun terbang menuju Sang Pemilik untuk mengatakan berita penting ini.
"See you, My Queen."
...▫️To Be Continue▫️...