
Trang.
Suara pedang yang saling bertabrakan terdengar nyaring di tengahnya malam. Kedua sosok itu saling menyerang dan bertahan dengan tujuan yang berbeda.
Brak.
Lelaki dengan jubah hitam itu berhasil menendang keras perut Lance hingga Ia terlempar jauh menabrak sebuah pohon. Lance yang sudah melemah, memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Sial! Siapa lelaki ini? Kenapa dia kuat sekali?" Batin Lance sambil mengumpati sosok di depannya ini.
Sosok bertudung itu terlihat tersenyum remeh. "Kau masih ingin melanjutkannya atau menyerah?"
Lance kembali berdiri dan meludah didepan sosok itu. "Aku tidak akan pernah menyerah walaupun dengan Raja Archeras sekalipun." Dia berteriak dengan sangat keras.
Tanpa ia sadari, tangan sosok berjubah hitam itu terkepal erat. "Ah, jadi begitu? Maka rasakan kematian mu."
Blash.
Api besar berwarna hitam tiba tiba muncul dari dalam tanah tepat dimana Lance berdiri. Api itu semakin membesar dan membentuk lingkaran hingga Lance tak terlihat. Namun anehnya tidak terdengar suara sedikitpun dari dalam lingkaran api itu.
Tak lama api itupun padam dan terlihatlah tanah yang sudah menjadi hitam namun tidak ada debu sedikitpun di sana.
"Apa yang terjadi?" Lelaki berjubah itu menoleh ke sekitar dengan waspada.
Tiba tiba terdengar suara tawa seseorang yang ia yakini berasal dari mulut Raja Pengecut itu.
"Aku akan kembali dan membalaskan dendam ku padamu. Aku akan kembali!" Suara tanpa rupa itu terdengar menggema di sekitar sosok berjubah. Tak lama angin berhembus kencang di sertai dengan hilangnya dinding portal yang memisahkan mereka dari dunia manusia.
"Sial. Aku tidak akan membiarkanmu lolos untuk kedua kalinya." Sosok itu menghembuskan nafas lalu membuka tudung wajahnya. Terlihatlah rambut biru lautnya yang indah juga manik matanya yang berwarna senada dengan rambutnya. Wajah tampannya yang bagai Dewa Yunani itu tertimpa cahaya bulan, membuatnya terlihat semakin tampan.
"Kau akan menyesal karena sudah melukai milik Lord dengan begitu kejam." Ucapnya lalu menghilang bersama dengan hembusan angin. Ia tak lupa membersihkan tempat yang baru saja menjadi medan perang juga membuang mobil yang di tunggangi Althea agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi manusia.
...***...
"Dia adalah takdir itu, Yang Mulia." Gadis berambut cream sepinggang itu terlihat bergetar saat mengucapkan kata itu.
Archeras pun menatap Oracle itu tak percaya. "Jika memang dia sosoknya, berarti..."
"Maksudmu, takdir pembawa cahaya sekaligus kegelapan itu?" Nathan yang masih penasaran tidak bisa menghentikan lidahnya untuk tidak bertanya.
"Benar, Tuan. Dialah perempuan yang akan membawa perubahan besar bagi dunia bawah. Jika saya boleh menyarankan, sebaiknya Yang Mulia Lord segera menemukannya dan mengikatnya agar jiwa murni dalam tubuhnya bisa dikendalikan." Ucap Grace lalu menggumamkan sebuah mantra.
Secarik cahaya muncul di meja didepan mereka. Cahaya itu bergerak memutar lalu berubah menjadi sebuah bola transparan. Grace kembali menggumamkan mantra dan muncullah sesosok perempuan dengan rambut hitam panjang dan netra hijau zamrud. Perempuan itu mengenakan jubah hitam yang sangat serasi dengannya. Ditangannya terdapat sebilah pedang yang terbuat dari es. Cahaya bulan purnama yang berada tepat diatasnya membuat tubuhnya seakan bercahaya, menambah kesan cantik sekaligus mematikan secara bersamaan.
"Dia adalah Althea El Fuere, gadis yang ditakdirkan sebagai Sang Pembawa Cahaya sekaligus Pembawa Kegelapan." Ucap Grace sambil tersenyum menatap wajah bersinar gadis itu.
Dahi Nathan berkerut. "Bagaimana bisa? Cahaya dan kegelapan sangat berbeda." Bantahnya.
Grace tersenyum sambil menatap lembut Nathan. "Benar, cahaya dan kegelapan memang berbeda, seperti dirinya yang juga berbeda dengan makhluk lain."
Lelaki berambut cokelat madu itu tampak mengacak rambutnya. "Bisakah kau menjelaskan tanpa harus berbelit belit? Aku sudah pusing dengan tebak tebakan kalian." Nathan mendengus lalu menyenderkan punggungnya di sofa.
Grace tersenyum melihat wajah penasaran juga kesal Nathan. Dia menoleh kepada Sang Lord untuk mendapat persetujuan. Archeras pun menganggukinya.
"Althea lahir pada saat gerhana bulan hijau tepat pada puncaknya. Sebenarnya itu hal yang mungkin dianggap biasa. Tapi, pada saat itu kerajaan demon sedang mengadakan perang besar, bahkan Lord juga Tuan ikut serta dalam perang itu." Grace menatap Nathan lalu Archeras bergantian. Kedua makhluk itu mengangguk.
"Dia sudah di takdirkan untuk menjadi cahaya bagi seseorang yang selalu diliputi oleh gelapnya dunia. Dia juga ditakdirkan untuk membawa cahaya bagi dunia. Takdir yang sangat istimewa bagi seorang demon yang terkenal akan kekejaman nya." Perempuan bernetra cream itu mengusap bola itu pelan. Lalu muncullah sebuah gambar dimana Althea yang baru saja lahir di gendong oleh Ibu nya menuju sebuah tempat untuk bersembunyi.
"Pasca kelahiran, tenaga Queen melemah juga kekuatannya yang mendadak hilang sehingga mengharuskannya untuk berlindung seperti yang lain. Tapi ditengah perjalanan Queen terpisah dari rombongan nya karena serangan tak terduga dari sesosok lelaki bertudung.
"Lelaki itu membawa Queen secara paksa menuju sebuah goa yang sangat gelap dan pengap. Di sana Queen dirantai dan bayinya dibawa menuju tengah altar. Althea akan dijadikan hidangan bagi raja iblis di neraka untuk menambah kekuatan lelaki bertudung itu. Bagi mereka, bayi yang baru lahir akan nikmat, terlebih jika bayi itu lahir tepat di puncak gerhana bulan hijau." Grace kembali mengusap bolanya lalu muncul gambar dimana Queen yang sedang menangis dan diikat dengan rantai. tak jauh didepannya terdapat sesosok lelaki ber tudung yang sedang duduk bersimpuh didepan altar yang mana Althea diletakkan ditengah tengahnya.
"Lelaki yang ingin menjadikan Althea sebagai hidangan untuk para iblis pun seketika berubah menjadi abu. Rantai yang membelenggu Queen juga terputus. Tanpa memedulikan kondisinya, Queen segera menghampiri putrinya." Lagi lagi Grace mengubah gambar yang ada di bola ajaibnya. Sekarang bola itu menampilkan seorang perempuan yang tidak terlihat wajahnya karena sinar yang begitu terang. Tanpa di beri tahu pun mereka sudah tau siapa itu.
"Queen mengucapkan beribu terima kasih kepada perempuan itu. Namun perempuan itu hanya tersenyum dan tetap diam. Singkatnya, perempuan itu hanya diutus sekali untuk menyampaikan sebuah pesan dari Tuhan. Dia berkata bahwa takdir bayi itu akan berubah. Bayi itu memang akan membawa sejuta cahaya bagi dunia namun dia juga bisa membawa beribu kegelapan karena bayi itu memiliki jiwa lain yang tersegel kuat. Jiwa itulah kelak yang akan menentukan jalan mana yang akan dipilih oleh bayi itu. Dia juga berpesan untuk selalu menjaga Althea agar dia tidak dimanfaatkan oleh makhluk jahat. Queen yang mendengar itupun menangis tak terima. Kabar baik tentang putri bungsunya seakan menguap tergantikan dengan takdir buruk yang selalu ia hindari.
"Queen mencoba untuk menebus takdir itu dengan nyawanya. Tapi perempuan itu menolak dan berkata bahwa takdir tetaplah takdir. Queen bersimpuh sambil memeluk erat putri mungilnya. Ia tak menyangka jika hal ini akan terjadi ditengah keributan yang melanda. Cukup putrinya yang akan menjadi pasangan dari seseorang yang memiliki berjuta kegelapan, tidak untuk dirinya. Perempuan bercahaya itu mencoba untuk menenangkan Queen. Perempuan itu juga berkata jika peperangan ini akan dimenangkan oleh kerajaannya dan semua prajurit nya akan kembali dengan selamat.
"Namun hal itu tetap tidak bisa mengubah kesedihan Queen. Hingga akhirnya waktu perempuan itu hampir habis. Sebelum meninggalkannya, perempuan itu berkata jika di kedua lengan putrinya terdapat ukiran berwarna putih yang merupakan segel dari jiwa murninya. Ketika segel itu terbuka, maka ukiran itu akan selalu bercahaya. Dia berpesan jika suatu saat nanti Althea hilang kendali, maka ukiran itu yang akan mengembalikan kesadarannya. Sejatinya, Althea akan selalu membawa cahaya karena itu merupakan takdir awalnya. Tapi sepertinya Tuhan ingin menguji keluarga nya dengan hal itu." Untuk terakhir kali, Grace mengusap bola itu lalu padam.
"Jadi, itu kisahnya. Tapi, aku masih bingung dengan akhir cerita ini. Bagaimana ukiran itu bisa mengembalikan Althea? Mengembalikan bagaimana? Lalu apa hubungannya dengan Lord? Kenapa kekuatan gadis itu sangat besar?" Nathan kembali melontarkan pertanyaan yang membuat Archeras melempar tatapan tajam nya.
Grace tersenyum simpul melihat wajah ketakutan Lelaki berambut cokelat itu. "Maaf, Tuan. Saya tidak berhak untuk menjelaskan hal tersebut dan saya juga tidak tau lebih jelas tentangnya. Mengenai kekuatan gadis itu, anda bisa menanyai Althea langsung."
Nathan mendengus kesal mendengar jawaban dari mulut Oracle muda itu. Tiba tiba pintu masuk ruang tamu terbuka dan menampilkan sesosok lelaki berjubah dengan penampilan sedikit kacau. Lelaki itu menatap Archeras lalu menundukkan kepalanya sejenak.
"Maaf, Lord. Ramalan itu benar. Dia sudah mulai menampakkan diri dengan bebas dan itu akan memudahkan lord untuk membawanya kembali." Ucap lelaki berambut biru itu dengan nada ketakutan. Ia sangat tidak tahu jika Lord nya sedang mengadakan pertemuan di ruangan ini. Dia tidak ingin kepalanya menggelinding di lantai.
Archeras yang mendengar itu tersenyum miring. "Baiklah. Kalian boleh pergi sekarang. Dan kau Grace, selidiki lebih dalam lagi tentang buku itu. Aku yakin masih ada catatan lain tentang ukiran itu disana."
"As you wish, Lord" Grace menundukkan kepalanya.
Archeras mengangguk. "Kau boleh pergi." Setelah mengatakan itu, Grace berdiri lalu menundukkan tubuhnya sejenak tanda hormat sebelum dia pergi.
Grace dapat bernafas lega setelah berada di lorong yang menghubungkan antara ruang tamu dan pintu depan istana. Dia melihat dinding istana yang dibuat dari batu merah alami dengan beberapa ukiran rumit sebagai hiasan. Karpet merah yang terbentang dari ujung ke ujung membuatnya merasa jika kekayaan demon satu ini bisa saja digunakan untuk membeli dunia dan segalanya.
Grace sesekali tersenyum membalas sapaan para warrior dan omega yang sedang bekerja. Di lagi lagi menghembuskan nafas. "Pantas saja dia bisa sekuat ini. Ternyata mimpi dari Dewa Zeus itu benar adanya. Aku harus segera menemukan Althea dan memberi tahu semuanya sebelum terlambat." Batin Grace sambil terus berpikir.
Grace mengucapkan 'terima kasih' setelah warrior yang menjaga gerbang membukanya untuk dirinya. "Ku akui, keluarga El Fuere terlalu takut dengan takdir itu sehingga mereka menutupinya dengan sempurna. Bahkan raja immortal pun tidak mengetahuinya. Tapi itu adalah hal paling bodoh yang aku tahu. Mereka justru membuat Althea salah jalan dan akhirnya malah membawa kegelapan, bukan cahaya." Monolog Grace pada dirinya sendiri.
Setelah agak lama berjalan, Grace akhirnya sampai di tengah hutan. Ia sengaja menolak tawaran warrior yang ingin mengantarkannya karena dia harus bertemu seseorang di tengah hutan ini.
Setelah memastikan keadaan aman, Grace memanggil sosok yang menantinya itu. "Keluarlah."
Whuush
Sesosok perempuan dengan wajah cantik turun dari sebuah dahan pohon diatas Grace. Perempuan itu tampak mengenakan pakaian khas seorang pengembara, rambut merah panjang nya ia biarkan terbang terkena angin. Manik mata orange nya menatap Grace tajam.
"Waktuku tidak banyak. Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Grace langsung pada intinya.
Perempuan itu menyeringai tipis. "Ini tentang gadis itu."
Grace melayangkan tatapan tajamnya pada sosok itu. "Apa maksudmu, Alice? Jika kau melukainya, aku tidak segan segan membunuhmu sekarang juga." Ancamnya.
Perempuan bernama Alice itu tertawa sinis. "Untuk apa aku melukainya? Aku masih sayang dengan nyawa ku."
"Ck, cepat katakan apa tujuanmu menemuiku, sialan! Kau hanya membuang buang waktuku."
Alice memasang wajah terkejut lalu berubah sedih. "Oh, maaf, aku tidak tahu jika kau terburu buru."
Grace yang sudah geram melemparkan bola api yang tepat mengenai perut perempuan berambut sepinggang itu. "Ouch. Okay, sepertinya kau sedang serius saat ini. Dengarkan aku, segel gadis itu mulai terbuka karena raja sialan itu. Aku sempat merasakan jika alam ikut berguncang karena dahsyatnya kekuatan gadis itu. Para makhluk immortal pun mulai mencari keberadaan nya demi mendapatkan apa yang mereka inginkan." Alice menatap Grace yang mulai menegang.
"Kita harus segera mempertemukan mereka agar semua yang sudah kita lakukan tidak sia sia. Kita harus melindunginya. Jika tidak, dunia akan hancur."
Grace tampak terdiam sejenak. "Baiklah. Sampaikan pada yang lain jika kita harus mempercepat rencana."
Alice menyeringai lebar. "Ini yang aku mau" Setelah itu dia menghilang bersama hembusan angin sepoi.
Grace kembali menghembuskan nafasnya. Kali ini lebih berat. "Aku tidak menyangka jika takdir yang kau genggam akan sebesar ini, Queen."
...*To Be Continue*...