
Suara pedang beradu terdengar sangat nyaring. King Lance terus melancarkan serangan mematikannya kepada Althea. Gadis itu kini tengah bertahan mati matian. Permainan pedang King Lance tidak bisa diremehkan. Gerakannya sangat cepat hingga terkadang bola mata Althea tidak dapat mengikutinya. Luka sayatan menghiasi tubuh Althea. Gadis itu semakin terdesak dengan racun yang semakin menyebar dan menyerap tenaganya.
Srak.
"Akhh..." Gadis itu meringis sambil memegangi lengannya yang terkena sayatan pedang. Luka itu cukup dalam sehingga darah terus merembes keluar.
"Sial, kenapa darah putih itu tak kunjung keluar?" King Lance berucap kesal dalam hati. Dia sudah melukai hampir setiap inci tubuh gadis itu namun yang keluar hanyalah darah hitam.
"Dimana kau menyembunyikan darah putih mu, Demon Sialan?"
Althea tersenyum getir, dia baru saja memuntahkan darah hitam kental cukup banyak. "Cari saja jika kau bisa" Gadis itu menantang Sang Raja Elf dengan angkuh.
King Lance mengeram rendah. "Kau akan menyesal karena sudah menantangku." Tepat setelah itu petir menyalak bergantian. Langit cerah berubah menjadi hitam pekat, layaknya ada yang menuangkan tinta hitam di dalam air bening.
"Kau akan menyesal, Althea" Setelah ucapan King Lance selesai, petir besar menyambar Althea. Gadis itu mati matian menahannya dengan Pedang Naga Es.
Hera yang melihat perubahan langit bergidik ngeri. Dia sudah selesai dengan tugasnya. Para Penyihir Hitam sudah tinggal nama semua. Gadis berambut putih itu menjerit keras saat melihat petir besar yang menyambar Althea. Matanya menatap kosong ke depan. Pikirannya melayang pada suatu peristiwa.
"Tidak, aku tidak ingin kehilangan keluargaku lagi!" Sekejap, dia langsung berlari menuju Althea dan membawanya menjauh dan bersembunyi. Suara dentuman terdengar sangat nyaring saat petir besar itu menghantam tanah.
Hera meletakkan kepala Althea di atas pahanya. Satu bulir air mata menetes di pipinya. Keadaan Althea sangat mengenaskan. Banyak luka yang menghiasi tubuh serta wajah cantiknya. Bulu di kedua sayap putihnya banyak yang jatuh berceceran.
"Ku mohon bertahanlah, El. Ku mohon.." Hera menangis sambil memeluk kepala Althea. Mata gadis demon itu terlihat sayu.
"Jangan tutup matamu, El.." Althea hanya dapat tersenyum kecil melihatnya. Sebenarnya dia sudah tidak kuat menahan semua ini. Racun itu memiliki efek yang begitu besar terhadap dirinya.
"Ohh, sungguh pemandangan yang mengharukan." King Lance yang sudah menemukan mereka memasang wajah kasihan.
"Bagaimana jika aku menambah kesedihan ini?" King Lance maju mendekati mereka sambil menyeret pedangnya.
Hera memejamkan matanya, dia berusaha untuk mencari pertolongan dengan suara alam. Tiba tiba puluhan akar berwarna hijau muncul dari dalan tanah dan menyerang King Lance. Raja Elf yang tidak menyadarinya pun tersentak saat akar hijau itu membelit kakinya kuat lalu membantingnya ke segala arah. Tak disangka, tumbuhan yang ada disekitarnya lah penolong.
"Cukup bermain mainnya, aku sudah muak." Mendadak tubuh Lance dikelilingi oleh api biru yang membara. Api itu melahap semua akar sampai tak tersisa.
Hera menyadari bahwa situasi semakin genting. Dia segera menggumamkan mantra untuk membuka portal di depan kerajaan demon.
Setitik cahaya berwarna biru muncul di depan mereka dan kian membesar. Beberapa saat kemudian, portal itu sudah terbuka sempurna. Hera bersiap untuk memasukinya sambil menggendong Althea.
"Akh.." Hera kalah cepat. Lance sudah berhasil menghanguskan semua akar tadi dan langsung menyerang Hera karena mereka hendak melarikan diri.
"Kau tidak akan bisa kabur. Serahkan gadis itu maka aku akan membiarkanmu pergi." Raja Elf itu memberi tawaran yang berharga bagi Hera. Tapi Hera menggeleng menolaknya.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mengkhianatinya. Lebih baik aku mati daripada menyerahkan gadis ini padamu." Ucap Hera tegas kepada Lance.
Lance terkekeh pelan. "Baiklah. Jika itu yang kau inginkan."
Hera mendudukkan Althea di samping pohon. Tiba tiba Althea memegang tangan Hera. "Jaga dirimu." Ucapnya lemah.
Hera menatapnya sekilas lalu mengangguk. "Aku akan berusaha"
Hera maju untuk menghadapi King Lance. Pria itu memutar pedangnya lincah. "Ku pastikan. Hari ini adalah hari terakhir mu."
Pertempuran pun tak terelakkan. Hera berjuang mati matian menahan Lance yang seperti banteng terluka. Pria itu semakin kuat walau berkali kali terkena sihirnya.
Brak
Lance berhasil menendang kuat perut Hera. Gadis Elf itu terjungkal kebelakang. Tak lama dia memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Sedangkan tak jauh dari mereka, Althea juga berjuang agar matanya tetap terbuka. Racun yang berhasil menyerap tenaganya kini mulai menggerogoti segel jiwa murninya. Gadis itu tampak pasrah dengan apa yang akan terjadi jika segel jiwa murninya terbuka. Althea akui jika King Lance sangat cerdik hingga dapat menciptakan racun sendiri yang bekerja sesuai keinginannya. Sayap lebarnya sudah menghilang sejak tadi, menyisakan rasa sakit yang semakin menjadi jadi.
Althea meringis kecil melihat tubuh Hera yang diinjak injak oleh Lance. Jika saja dia tidak terluka, akan dia pastikan kaki itu tidak ada pada tempatnya lagi. Namun keadaannya juga mengenaskan. Nafasnya mulai putus putus. Lehernya terasa sangat sakit seakan ada yang mencekiknya. Urat uratnya mencuat keluar dan berwarna kehitaman. Althea tak kuat lagi, nafasnya semakin menipis.
"Mama ini, bangsa Penyihir Putih akan musnah abadi." Teriakan Lance mengalihkan atensi gadis itu.
"H.. Hera" Lirih Althea. Sang pemilik nama pun kini tergeletak tak berdaya di atas tanah. Tubuhnya dipenuhi oleh luka.
Mata pedang Lance berada tepat di atas jantung Hera. Dia memejamkan matanya pasrah. Tidak ada yang bisa membantu mereka selain keajaiban. Sepertinya mereka sudah merencanakannya dengan sangat matang. Terbukti dengan adanya portal tipis yang sekana memisahkan mereka dari dunia luar. Sehingga tidak ada manusia maupun Makhluk lain yang mengetahuinya.
"Say goodbye to the world."
Triing..
"Don't meddle in my business!" King Lance membentak sosok itu. Dia merasa tidak asing dengan sosok itu.
Tapi pria itu mengacuhkannya. "Dengarkan aku, kau hanya punya waktu tiga menit untuk menyelamatkan diri juga nyawa gadis itu. Cepatlah pergi dari sini sebelum portal yang kau buat menghilang. Kau tidak perlu mencemaskan ku. Kita akan bertemu kembali dalam waktu dekat." Pria itu mengirim mindlink kepada Hera. Gadis itu sempat bingung namun segera menuruti titahnya. Tidak ada waktu untuk berpikir lagi karena saat ini nyawa Althea terancam. Dia harus menyelamatkan nyawa gadis itu.
"Jangan lari kau!" King Lance berteriak marah saat Hera berjalan tertatih mendekati porta dengan Althea dia gendongannya.
"Minggir! Ini bukan urusanmu. Jangan halangi aku!" Lance berteriak kepada pria bertudung itu. Dia mengucapkan sebuah kata dan pedangnya yang terlempar jauh sudah kembali ke pegangannya.
Pria itu tersenyum sinis dibalik tudungnya. "Urusan mereka juga urusanku."
"Dasar sialan!" Lance mengumpat ketika Hera berhasil lolos bersama Althea yang sekarat. Setelah itu, suara dentingan pedang menjadi saksi bisu atas pertemuan mereka.
Sedangkan itu, Hera terus menangis sambil sesekali mengguncang tubuh dingin Althea. Gadis itu sudah memejamkan mata sejak mereka memasuki portal. Hera dapat merasakan seberapa kuatnya racun itu. Dia dibuat khawatir atas keselamatan Althea nanti.
"Ku mohon, bertahanlah. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika kau..." Hera terdiam tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Bertahanlah... Hanya kau satu satunya keluarga yang ku miliki."
***
Seorang laki laki sedang duduk termenung di balkon kamarnya. Sesekali di menyesap cairan merah kental di gelasnya. Cahaya bulan tampak menyoroti dirinya. Dia terlihat sangat tampan walaupun setengah wajahnya harus ditutupi oleh topeng emas.
Sosok itu adalah Archeras Xeimoraga, Sang Penguasa Dunia Immortal. Mereka biasanya menyebut Raja di atas Raja. Dia baru saja keluar dari perpustakaan khusunya setelah membaca bertumpuk tumpuk buku.
Hatinya merasa tidak tenang. setelah mendapatkan mindlink dari salah satu warrior nya yang dia tugaskan untuk berjaga di dunia manusia membuatnya sangat resah. Dia sudah membaca beribu ribu buku dalam waktu singkat namun tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Semua ini tentang gadis itu. Gadis demon yang memiliki ukiran rumit berwarna putih di kedua tangannya. Gadis itu seakan membawa malapetaka besar bagi Sang Raja. Karena itu Archeras memutuskan untuk memanggil salah satu oracle untuk memastikan keberadaan gadis itu.
"Lord, Oracle yang anda ingin temui sudah sampai." Mindlink Nathan. Archeras merasa tidak perlu membalasnya dan langsung berjalan keluar untuk menemui oracle itu.
Seluruh warrior maupun omega yang berada di jalur yang akan maupun sudah dia lewati akan berhenti dari semua aktivitas dan menunduk dalam dalam, menunjukkan rasa hormat mereka kepada Sang Penguasa.
Tak lama, Archeras sampai di ruang tamu. Dai dapat melihat Nathan dan Oracle asing yang segera berdiri saat melihat kehadirannya. "Hormat kami, Lord." Mereka juga menundukkan kepala dalam dalam.
"Duduklah." Titah Archeras tanpa memedulikan salam mereka. Nathan dan Oracle itu pun duduk bersebelahan dengan Archeras.
"Jelaskan padaku tentang gadis demon yang memiliki ukiran rumit berwarna putih di kedua tangannya." Ucap Archeras to the point. Dia adakah tipe makhluk yang tidak suka basa basi.
Oracle bernama Grace itu sempat dibuat terkejut sejenak. Tapi dia segera menetralkan ekspresinya mengambil nafas dalam sebelum memulai penjelasannya.
"Ukiran itu adalah sebuah anugrah bagi bangsa demon. Ukiran itu menunjukkan kekuatan serta keabadian bagi bangsa demon, hanya mereka yang terpilihlah yang bisa memilikinya. Dia yang terpilih memiliki kekuatan yang luar biasa. Dia bisa menghidupkan yang telah mati dan mengendalikannya dengan darah jiwa murninya. Tapi di sebalik itu, dia juga menjadi ancaman karena menyatukan semua neraka dalam satu petikan jari dan semua iblis akan musnah pada saat itu juga dan para demon pun akan merasakan akibatnya juga karena mereka adalah bagian dari iblis juga.
"Dia Yang Terpilih sangat dinginkan banyak kaum untuk mendapatkan darahnya walaupun hanya setetes. Siapapun yang mendapatkan setetes darah itu, dia akan menjadi abadi dan mewarisi tujuh persen kekuatan Dia Yang Terpilih."
"Hanya tujuh persen?" Tanya Nathan memotong penjelasan Grace.
Grace mengangguk. "Ya, hanya tujuh persen. Tapi sudah cukup untuk menghancurkan setengah dunia ini."
Nathan meneguk ludahnya kasar. "Ternyata dia sangat kuat."
Archeras juga tampak terkejut. Tapi dia pandai mengatur ekspresi wajah. "Lalu?"
Grace tampak gelagapan sekaligus takut. "Ma... Maaf, Lord. Hanya itu yang saya ketahui. Saya juga baru saja menemukan buku yang membahas tentang ukiran beberapa hari lalu. Buku itu hanya menuliskan seperti yang sudah saya jelaskan tadi. Bahkan catatan itu hanya berisi setengah muka."
Archeras menyerit heran. "Catatan macam apa itu?"
"Entahlah, Lord. Sepertinya mereka benar benar ingin menutup informasi tentang ukiran itu." Grace juga bingung saat menemukan buku kuno berwarna hitam penuh dengan debu. Saat dibuka, buku itu kosong dan hanya bagian tengahnya yang berisi tulisan setengah muka.
"Apakah tidak ada catatan tentang kelahirannya?" Kali ini Nathan yang bertanya.
"Sayangnya tidak ada."
"Dimana kau menemukan buku itu?" Archeras kembali bertanya untuk memastikan sesuatu.
"Di sebuah gubuk tua di pedalaman hutan demon."
Tubuh Archeras tiba tiba menegang. "Apakah ini yang dimaksud oleh nya?"