
Hembusan angin sepoi malam menerbangkan anak rambut milik seorang gadis yang sedang duduk pada sebuah dahan pohon. Sudah berjam jam gadis cantik itu berdiam diri disana. Raganya memang disana, tapi jiwanya tidak.
Dia adalah Althea El Fuere, gadis keturunan bangsawan demon yang memiliki sifat sedingin es. Saat ini dia sedang mendinginkan pikirannya yang baru saja memanas karena paksaan dari kedua orang tuanya untuk segera menikah. Padahal dirinya belum menemukan mate nya.
Ahh.. Mate? Dia bahkan tidak memiliki niatan untuk menemukan mate nya. Lebih baik dia hidup sendirian daripada harus menikah dengan makhluk yang tidak dikenalnya.
Althea memejamkan matanya sejenak. "Hera, aku memanggilmu" Sedetik kemudian hembusan angin menjadi sedikit kencang lalu duduklah seorang gadis yang cantik jelita disampingnya.
"Salamku,Tuan Putri. Ada gerangan apa Putri memanggilku?" Perempuan yang dipanggil Hera tersebut tersenyum lebar kala mengetahui hal apa yang sedang menganggu pikiran temannya ini. Hanya saja dia berpura pura tidak tau.
"Hentikan sandiwara mu atau aku akan memenggal kepalamu. Dan berhenti bersikap formal denganku,aku tidak suka" Tatapan tajam Althea tertuju pada sebuah benda bulat di langit yang bersinar terang.
Hera tertawa lebar mendengarnya. Baginya, sangat menyenangkan melihat wajah marah seorang Althea.
"Baiklah, aku hanya bercanda, El. Lagipula seharusnya kau sudah mulai mencari keberadaan mate mu. Kau tahu? Makhluk immortal tidak akan bisa hidup lama tanpa kehadiran seorang mate. Bagaimanapun juga, mate adalah sosok yang penting bagi kita"
Sudah berkali kali Hera mencoba untuk menasehati Althea. Namun, tak sedikitpun Athena merespon nasehatnya. Seperti kali ini, Althea hanya mendiamkan nasehat seorang yang sudah dia anggap seperti kakaknya.
"Aku takut, Hera" Setelah beberapa saat, akhirnya tiga kata tersebut keluar dari mulut Althea. Tiga kata yang bisa menjadi permulaan bagi seorang Althea untuk membuka hatinya dengan kehadiran sang mate kelak. Namun tiga kata tersebut membuat Hera mengerutkan dahi bingung.
"Takut? Untuk apa?" Hera mendesah lelah dengan sikap Althea yang terkadang bisa berubah 180° ketika bersamanya. Seolah olah Akthea adalah seorang anak kecil yang tersesat dan tak tahu jalan pulang.
Althea memejamkan mata sejenak sebelum mengungkapkan rasa takutnya. "Aku takut... Jika suatu saat nanti dia mengkhianati ku. Aku tidak ingin apa yang terjadi pada kakak perempuan ku terjadi juga pada ku. Aku melihat sendiri bagaimana kacaunya kakakku saat mate nya menolaknya. Aku tahu seberapa sakitnya dia hingga berniat untuk mengakhiri hidupnya. Aku tidak ingin seperti itu. Aku takut hatiku yang sudah lama tertutup, terbuka untuk seseorang yang akhirnya menyakitiku."
Hera terdiam cukup lama di sampingnya, seperti sedang memilih kata kata yang tepat untuk seorang yang sudah dia anggap seperti adiknya. Sebenarnya hati Hera sangat senang karena ini kali pertamanya Althea berkata kepadanya lebih dari sepuluh kata. Rekor yang benar benar menakjubkan bagi seorang Althea. Namun ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahasnya.
Setelah mendapatkan jawaban yang dirasa pas,Hera berdehem sejenak untuk menghilangkan suasana canggung diantara mereka.
"Althea, tidak semua makhluk immortal memiliki sikap yang sama dengan bajingan itu. Mungkin Tuhan sedang ingin menguji kakakmu dengan menghadirkan seseorang yang salah di kehidupannya. Tapi pada akhirnya, kakakmu tetap mendapatkan mate yang baik dan tampan sebagai gantinya. Aku yakin kau pasti juga melihat bagaimana bahagianya kakakmu saat melahirkan anak pertamanya empat tahun yang lalu. Bahkan sekarang Ia tengah mengandung anak kedua. Althea, setiap makhluk sudah memiliki takdir masing masing. Tugas kita hanya menjalaninya dengan baik agar mendapat akhir yang baik juga. Pada dasarnya, semua kehidupan akan berakhir bahagia. Jika kau belum bahagia, maka hidupmu belum berakhir."
Althea kembali memejamkan, berusaha untuk mencerna kalimat yang diucapkan Hera. Dia tahu jika makhluk immortal tidak bisa hidup tanpa pasangannya, dia juga merasakan itu. Hatinya seakan kosong dan hampa, hidupnya menjadi sangat monoton.
"Tapi, bagaimana dengan orang yang aku cintai?" lirih Althea hampir seperti bisikan.
Mendengar hal tersebut, Hera memincingkan matanya. "Kau jatuh cinta dengan makhluk lain? Astaga, ternyata adikku yang dingin ini telah jatuh cinta. Hahaha" Hera tertawa terbahak bahak melihat wajah merah padam Althea.
"Tidak! Aku tidak pernah jatuh cinta dan aku tidak ingin merasakannya. Ikatan mate ini sangat menyebalkan. Ikatan ini membuatku tidak bisa mencintai orang dengan leluasa" Althea mendengus kasar.
Hera menghela nafas berat. Tentu saja Althea tampak seperti zombie. Dia belum menemukan mate nya hingga membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Jika saja Althea bukan seorang bangsawan, pasti Hera sudah mengumpatinya karena kebodohannya dalam hal mate sejak dulu. Tapi karena Althea adalah salah satu makhluk yang dihormati, Maka Ia pendam dalam dalam keinginan itu.
Tiba tiba sebuah ide muncul di otak cerdas Althea. "Hera, maukah kau menemaniku ke dunia manusia besok?"
Hera yang mendengarnya tersentak. "Ke dunia manusia? Untuk apa?"
Althea menggeleng. "Entahlah, aku tidak tahu. Aku hanya ingin saja"
Hera menimbang tawaran Althea sejenak. "Tapi, kita tidak diperbolehkan untuk masuk ke dunia manusia tanpa alasan yang kuat,El. Aku tidak ingin masuk penjara bawah tanah hanya karena hal itu."
Althea tersenyum miring. "Kau tenang saja. Kita hanya akan mengunjungi pusat hiburan. Aku yakin mereka hanya berada di hotel atau apalah itu aku tidak tahu"
Hera menatapnya penuh ragu. "Kau yakin?"
"Tentu saja. Aku jamin kau tidak akan masuk penjara."
Hera menghembuskan nafas. Tidak ada gunanya dia berdebat dengan Althea. Karena pada akhirnya gadis itu juga yang menang. "Kau berjanji?"
Althea tersenyum simpul. "Aku berjanji"
"Baiklah. Kita akan berkumpul di sini lagi besok setelah matahari agak naik." Althea mengangguki nya.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku kerjakan" Hera bersiap untuk pergi.
"Salam ku,Tuan Putri" Sedetik kemudian angin berhembus agak kencang dan Hera sudah menghilang dari sana.
Entah hal apa yang dipikirkan oleh Althea yang tiba tiba ingin pergi ke dunia manusia. Dia hanya ingin menenangkan dirinya dengan berlibur ke sana, mungkin. Tapi dia merasa sesuatu akan terjadi di sana.
Althea menggelengkan kepalanya kuat kuat, mencoba untuk menepis pikiran itu jauh jauh.
"Althea, pulanglah. Daddy ingin berbicara denganmu" Althea segera bersiap untuk kembali ke istana. Sebenarnya dia sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh Daddy nya, tapi berdiam disini pun membuatnya bosan. Jadi lebih baik dia segera menghadap pada Daddy nya sebelum iblis tua itu marah.
Whuush
Angin bertiup kencang disertai dengan menghilangnya Althea dari sana. Dia berharap semoga pria tua itu tidak marah dengan jawaban yang akan dia berikan.