Destiny of The Bringer Light

Destiny of The Bringer Light
Mencari



Seorang laki laki dewasa sedang berdiri di balkon kamarnya. Cahaya bulan purnama yang amat terang menyinari wajah tampannya. Tapi sayang, wajah tersebut dihiasi oleh sebuah topeng emas yang menutupi setengah wajah bagian kanannya.


Mata hitam kelam itu terpejam menikmati hembusan angin malam yang menerpa wajahnya, seakan menyuruhnya untuk melepas topeng tersebut agar dapat memuji wajah tampannya yang bagai dewa Apollo.


Tak lama, kedua mata indah itu kembali terbuka. Terlihat sangat indah,seakan ingin menenggelamkan siapapun yang menatapnya ke lautan paling dalam. Tapi tatapan dari kedua mata indah itu tampak kosong seperti hidupnya yang terasa sangat hampa. Dia belum menemukan pembawa cahaya dalam hidupnya. Ya,mate nya. Dia belum menemukannya.


Laki laki tersebut adalah Archeras Xeimoraga, seorang lord atau pemimpin dunia immortal yang terkenal dengan berjuta juta pesona dan ketampanannya. Namun Archeras adalah raja berdarah dingin. Dia lebih suka menyiksa daripada membunuh, karena dengan begitu Ia dapat mendengarkan lagu yang sangat merdu dari korbannya. Dia juga terkenal dengan sikap dingin dan tempramental, sehingga wanita wanita yang menyukainya harus berpikir berkali kali dahulu sebelum mendekatinya.


"Maaf menganggu waktu anda, Lord. Rapat akan dimulai sebentar lagi. Para petinggi telah berkumpul di ruang rapat" Mindlink Nathan yang merupakan tangan kanan Archeras.


"Aku akan segera datang" Balasnya laku menutup mindlink sepihak. Dia sangat heran dengan para penguasa itu. Mengapa mereka memilih mengadakan rapat pada malam hari, padahal masih ada esok hari.


Setelah itu Archeras berjalan menuju ruang diadakannya rapat dadakan oleh para petinggi istana. Sebenarnya dia sudah tahu apa yang akan dibicarakan. Tentu saja masalah mate nya yang sudah lama tak kunjung datang.


Brak


Semua mata tertuju pada sepasang pintu yang baru saja dibuka paksa oleh Archeras yang datang dengan aura menakutkan. Seketika semua makhluk yang ada di sana menundukkan kepala, takut akan aura yang dikeluarkan oleh lord mereka.


Cukup lama Archeras berdiri di ambang pintu sampai akhirnya dia duduk di kursi kebenarannya. Dia adalah raja diatas raja, namun Archeras tidak pernah memakai mahkota kebesarannya. Karena dia belum berhak untuk memakainya tanpa didampingi oleh sang mate yang kelak akan menjadi ratu diatas ratu.


Salah satu petinggi istana berdehem untuk mencairkan suasana. "Maaf, Lord. Bagaimana jika kita memulai saja rapatnya?"


Archeras menatap petinggi istana itu. Dia sudah malas dengan semua orang disini yang sibuk mengurusi takdirnya. Padahal takdir mereka saja belum benar. "Mulai saja"


Semua makhluk yang ada di sana sontak bertatap mata dan mengangguk. Salah satu petinggi istana yang lain menatap lord mereka sebelum berbicara.


" Maaf untuk sebelumnya, Lord. Kami mengadakan rapat ini untuk membahas perkembangan istana kedepannya. Sesuai dengan hukum yang berlaku, seorang Lord harus memiliki pendamping agar memiliki seorang penerus yang akan menggantikan posisi Lord kelak. Tapi, setelah ribuan tahun, Lord sama sekali tidak memiliki rencana untuk menikah. Tentu saja hal tersebut sangat menganggu perkembangan istana kedepannya. Karena itu kami mengharap dengan sangat agar lord segera menikah"


"Aku hanya akan menikah dengan mate ku" Ucap Archeras dengan menekan kata 'mate'. Dia ingin sekali merobek mulut semua makhluk yang ada disana, tapi dia masih menahannya. Ini bukanlah waktu yang tepat.


Seorang Alpha dari bangsa werewolf yang ada di sana mengangguk, dia sudah terbiasa dengan sikap lord nya ini. "Kalau begitu sudi kah kiranya jika lord menikah dengan putriku?" Alpha itu menoleh kesamping, tepat dimana sang putri duduk. Dia memang sengaja membawa putrinya untuk dilamarkan dengan sang lord yang sudah lama menunggu mate nya namun tak kunjung datang.


Archeras memejamkan matanya. Tangan nya terkepal erat tanda dia sangat marah. Dia sudah muak dengan semua ini. "Sudah ku katakan. Aku tidak akan menikah selain dengan mate ku" Archeras membuka matanya dan menatap Alpha itu dengan tatapan membunuh.


"Tapi, Lord. Dia memiliki segalanya. Putri ku sangat cantik, dia juga bisa melindungi dirinya sendiri. dia juga sudah bertahan hidup mati di medan perang. Jadi tidak perlu di ragukan lagi" Ucap Alpha tersebut sambil mengusap surai putrinya lembut.


Archeras mengeram rendah. Secara tidak langsung, Alpha tersebut sudah menghina mate nya.


Melihat Lord nya yang berapi api,seorang tetua bangsa vampir angkat bicara. "Maaf, Lord. Tapi apa yang dikatakan oleh Alpha Hanzo sangat benar. Apalagi Lord sudah menunggu sangat lama tapi mate anda belum juga datang. Jika lord tidak segera menikah, maka kami...."


"Aku tidak akan menikah selain dengan mate ku. Tentang bagaimana kelanjutan dunia ini bukan urusanku. Bahkan jika aku kau,aku bisa memimpin dunia ini tanpa mate. Apakah kalian lupa jika aku ini adalah demon abadi?" Archeras memotong perkataan tetua itu lalu menatap semua makhluk yang ada di sana dengan tajam.


"Rapat ini dihentikan dan keputusanku tetap sama. Kalian hanya menganggu waktu ku." Archeras menghentikan rapat tersebut dan pergi ke kamarnya.


Brak


Archeras menutup pintu kamarnya dengan keras lalu menghembuskan nafas gusar. dia berjalan mendekati jendela dan melihat bulan yang menggantung di langit.


"Dimana kau, Mate? Aku sudah menunggumu sangat lama di sini" Archeras berucap dengan nada normal. Tapi pandangan matanya tidak dapat berbohong. Mata hitam itu menyiratkan kesedihan yang amat mendalam.


Tanpa ada satupun makhluk yang tahu, Archeras sebenarnya adalah makhluk yang paling lemah di semesta ini. Dia hanyalah makhluk rapuh yang butuh pendamping saat ini dan selamanya.


"I need you, my mate..."


▫️▫️▫️


Tok... Tok... Tok...


"come in" Althea menghembuskan nafas. Perlahan tangannya tergerak untuk membuka pintu berlapis emas itu. Ruangan dengan dekorasi yang hampir semua terbuat dari emas terlihat di mata Althea. Ruangan tersebut sangat sepi, hanya ada satu orang disana. Dialah orang yang harus ditemui oleh Althea, King Ares, Raja dari para demon sekaligus ayahnya.


"Ada apa Ayah memanggilku?" Tanya Althea dengan nada super dingin.


King Ares tersenyum miris. "Kau sama sekali tidak berubah, Putriku"


"Aku tidak suka basa basi, Daddy" Althea menatap tajam King Ares.


Althea pun duduk berhadapan dengan ayahnya. "Apa yang ingin ayah katakan?"


King Ares tersenyum tipis. "Sepertinya kau sudah tahu, Putriku. Ayah ingin kau segera menikah."


Althea mengepalkan tangannya erat dibawah meja. Dia sangat benci topik yang sedang dibahas kali ini. Tapi kali ini Althea mencoba untuk menahan diri. Dia memutar otaknya untuk menemukan jawaban yang di rasa pas. "Aku belum siap, Ayah."


King Ares menghela nafas sejenak. "Siap tidak siap, kau harus tetap menikah, Dear. Terlebih jika kau sudah menemukan mate mu" tiba tiba King Ares tersentak dengan ucapannya sendiri. "Apa kau sudah menemukan mate mu, Dear?"


Althea hanya menatap kedua bola mata ayahnya dalam dalam, seolah pertanyaan ayahnya dapat di jawab dengan tatapan mata. Dan King Ares pun mengetahuinya. Dia kembali menghela nafas, kali ini lebih panjang. "Segera cari mate mu, Dear. Atau ayah terpaksa akan menerima lamaran dari Alpha Lance"


Althea sontak membulatkan matanya terkejut. Alpha Lance? Pria bajingan itu? Tidak, Althea tidak akan pernah sudi untuk menikah dengan laki laki sebejat dia. "Tidak! Thea tidak akan pernah mau menikah dengan laki laki seperti dia. Tolak lamaran itu, ayah. Thea berjanji, Thea akan segera menemukan mate Thea." Althea mencengkeram ujung meja dengan kuat.


King Ares mengangguk. "Baiklah, akan ayah lakukan. Tapi, tepatlah janjimu"


"Baik, Ayah" Setelah merasa cukup dengan perbincangan dengan ayahnya, Althea pamit undur diri kepada ayahnya. Dia berjalan menuju kamarnya dengan perasaan yang tidak menentu.


Brak


Althea membanting pintu kamarnya dengan keras. Dia mencoba untuk mengatur nafasnya agar lebih tenang. Setelah dirasa lebih baik, Althea berjalan mendekati jendela. Dia kembali menatap bulan purnama yang bersinar sangat terang di langit.


"oh, God. Mengapa aku harus memiliki ikatan sial ini? Aku tidak ingin terjerat dengan pria manapun. Aku ingin hidup sendiri sebagai pengembara hingga akhir hidupku. Tapi mengapa mereka memaksaku untuk segera menikah? Apakah mereka ingin memiliki lebih banyak cucu? Arrrgh... Jika sampai aku menemukan mate ku. Aku akan langsung membunuhnya agar aku bisa hidup bebas" Althea menyimpan semua perkataannya di dalam hati dan mungkin saja suatu saat nanti akan menjadi kenyataan.


"Stay away from me, my mate..." Lirih Althea dengan frustasi. Entah mengapa dia sangat benci dengan ikatan mate yang seakan mengekang kebebasannya.


Althea berjalan menuju balkon kamarnya. Dia memejamkan matanya lalu muncullah sepasang sayap berwarna coklat tua. Althea menyeringai penuh arti. "Mungkin sedikit darah rusa segar dapat menjernihkan pikiranku." Althea pun mengelakkan sayapnya menjauhi kamar, dia terbang menuju hutan disebelah istananya.


...▫️▫️▫️...


Matahari kembali menyapa semesta, mengantikan tugas bulan untuk menyinari semesta.


Althea baru saja pulang tepat saat matahari mulai muncul dengan pakaian yang dipenuhi darah. Emosi Althea tidak bisa dikendalikan tadi malam, hingga dia menghancurkan sebagian hutan dan membunuh beberapa kelompok black witch yang berusaha menyerang istananya nanti malam.


Althea berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Dia berdiri di depan cermin yang memantulkan seluruh tubuhnya. "Ahh.. Aku sangat puas" Ucapnya disertai seringaian.


Althea pun mulai membersihkan dirinya sendiri. Walaupun dia seorang bangsawan, tapi Althea selalu menolak dengan keras saat dirinya ingin dilayani oleh para pelayan istana. dia merasa sangat risih dengan semua itu.


Beberapa menit kemudian Althea bersiap turun untuk menghadiri sarapan bersama dengan pakaian yang biasanya ia pakai sehari hari namun dianggap aneh oleh para petinggi istana, yaitu celana ketat berwarna hitam dan kaos yang berwarna senada dengan celananya. Ya, tentu saja sangat aneh karena para perempuan lebih menyukai gaun daripada celana. Althea bisa disebut 'tomboy' jika berada di dunia manusia.


Saat Althea datang, semoga anggota keluarganya sudah berkumpul disana. Dia menarik sebuah kursi lalu duduk diatasnya dengan anggun. Acara sarapan bersama pun dimulai tanpa adanya perdebatan maupun celoteh diantara mereka. Hanya senyap yang menjadi teman mereka.


Althea segera meninggalkan meja makan setelah makanannya habis. Dia yakin para pelayan akan mengurusi piringnya.


"Althea,kau ingin kemana?" Sebuah suara bariton menghentikan langkah kaki Althea. Itu adalah suara kakak pertamanya.


Tiba tiba kaki Althea bergetar, seakan tidak kuat untuk melangkah lagi. Mata Althea berair. Kakak laki lakinya adalah tempat untuk berkeluh kesah baginya selama ini. Keane El Fuere Curren, sosok laki laki yang sangat penting bagi Althea. Keane bagaikan tempat pulang bagi Althea kala ia tersesat. Dia merupakan kakak laki laki yang sangat perhatian dan selalu ada bagi Althea kapan pun itu.


Seperti saat ini, saat Keane mendengar bahwa ada laki laki yang melamar adik bungsunya, dia segera pergi dari kerajaan vampir menuju istana demon untuk memastikan laki laki itu.


"Thea?"


"Ahh.." Althea mengedipkan matanya berkali kali untuk menghalau air matanya yang hampir menetes. Bahkan hanya dengan mendengar suara Keane saja Ia tak kuat. Rasanya ia ingin memeluk kakaknya itu lalu menangis sambil menceritakan semua beban yang digenggamnya kali ini. Tapi dia tidak ingin menghancurkan rencanakan untuk pergi ke dunia manusia pagi ini.


"Ya?" Althea menatap mata biru laut kakaknya yang sangat meneduhkan lalu beralih menuju perempuan disamping kakaknya yang merupakan mate Keane. Perempuan itu tersenyum manis.


"Kau ingin kemana?" Tanya Keane lembut.


"Aku ingin ke kamar dan tidak ingin di ganggu" Balas Althea dingin lalu melangkahkan kakinya menuju kamar untuk bersiap. Dia terpaksa berbohong agar rencananya tidak terganggu.


Setelah sampai di kamar, Althea berganti pakaian layaknya manusia normal lalu melesat ke hutan tempat dimana Althea dan Hera menuju dunia manusia.


...▫️To Be Continue ▫️...