Destiny of The Bringer Light

Destiny of The Bringer Light
Bertemu



Setelah satu jam lebih, mereka akhirnya keluar dari pusat hiburan tersebut. Mereka sekarang sedang mengendarai mobil baru yang didapat Althea sebagai hadiah dari kupon undian. Sungguh beruntung dia hari ini.


"Ugh.. Aku kenyang sekali." Ucap Hera sambil mengelus perut besarnya seperti sedang hamil.


Althea tersenyum mendengarnya. Matanya mengawasi jalan didepannya agar tidak menabrak kendaraan lain. "Aku sudah berkata tadi. Kau tidak akan bisa berhenti makan jika sudah merasakannya"


Hera sontak memukul bahu Althea pelan. "Tapi tidak begitu juga! Tiga puluh piring setara dengan porsi tujuh atau delapan orang. Sedangkan kita hanya berdua dan kau menyuruh untuk menghabiskan nya? Dasar gila!" Hera terus menggerutu sepanjang perjalanan.


"Ck, diamlah!" Althea mulai terganggu dengan gerutuan Hera.


"Seharusnya kau berpikir dulu sebelum membeli, apalagi semua makanan yang kau beli tadi mempunyai harga yang sangat fantastis. Beruntung aku membawa banyak uang, jika tidak aku tidak akan mau membayarnya."


Mobil itu menjadi senyap sejenak. Matahari mulai tenggelam di ujung barat, suara kericuhan dunia juga mulai berkurang. Lampu jalan mulai dinyalakan dan bulan pun muncul untuk menggantikan tugas matahari, menyinari dunia yang gelap.


Hera tiba tiba menegang saat mobil mulai memasuki gang sempit yang menjadi tempat untuk membuka portal karena memang sepi. Hera melirik kearah Althea, dia yakin jika Althea juga merasakannya. Mimik wajah gadis itu selaku dingin, tapi matanya selalu awas dengan sekitar.


"El, apa kau merasakannya?" Hera mulai merasa was was dengan sekitar. Kepalanya selalu bergerak kesana kemari untuk melihat keadaan sekitar. Sepi. Tidak ada makhluk lain selain mereka berdua. Bahkan Hera yakin jika kelelawar pun tidak ada disini.


"El, kau..."


"Black witch" Potong Althea cepat.


Sontak Hera membulatkan matanya. Ingatannya tentang peperangan besar itu kembali berputar dengan jelas di kepalanya.


Tak lama setelah itu, mobil yang mereka kendarai mendadak berhenti. Wajah Althea menegang. Dia menginjak pedal gas kuat kuat namun mobil tetap saja tidak bergerak. Ditatapnya Hera yang sudah mengeluarkan keringat dingin.


"Mereka menahan mobil ini dengan sihirnya" Althea tetap berusaha menginjak pedal gas agar mobil bergerak. Tapi tetap saja, mobil itu kalah dengan sihir para black witch.


Althea akhirnya mengalah. Dia mematikan mesin dan bersiap untuk keluar.


"El, tunggu!" Hera menahan tangan Althea yang akan membuka pintu.


"Aku bisa memutus sihir mereka. Kau bisa menjalankan mobil ini lagi lalu kembali ke dunia immortal tanpa jejak." Hera menatap Althea cemas.


"Itu tidak akan berguna. Kita harus keluar untuk menghadapi mereka."


"El.."


Althea menatap mata Hera dalam dalam. dia bisa merasakan bagaimana perasaan gadis itu sekarang. Bayang bayang peperangan itu terus menghantuinya.


"Aku tahu, Hera. Ini mungkin berat bagimu. Tapi..." Althea beralih menggenggam erat tangan Hera.


"Ini bisa menjadi peluang untuk mengembalikan keberanianmu yang telah lama hilang."


Hera menatap Althea sendu. Tidak! Dia bukanlah gadis lemah. Dia adalah putri kerajaan Veeladie.


"Aku akan melindungi mu" Althea berjanji pada Hera.


Gadis Elf itu mengangguk mantap. "Baiklah"


Sedetik setelah itu, Althea merengkuh tubuh Hera dan berteleportasi menjauh dari mobil. Dan pada detik itu juga mobil yang mereka tumpangi meledak dan terbakar tanpa sisa.


"Akhirnya kalian keluar juga." Seorang black witch dengan pakaian serba hitam dan dilengkapi dengan tudung hitam melangkah mendekati mereka.


Althea melepas rengkuhannya dan mengambil posisi siaga.


"Seorang putri demon dan seorang white witch. Ku kira kau sudah mati. Tapi tak apa. Senang bertemu dengan kalian" Salah satu dari mereka ikut mendekat. Hera menegang mendengarnya.


"Kau pikir sihir lemah mu itu bisa melindungi dirimu dari kami?"


"Belvanist Buckland" Desis Althea.


Penyihir yang Althea sebut tadi tergelak bebas. "Kau pintar juga ternyata. Tapi sayang, waktu mu hampir habis." Belva menepukkan tangan tiga kali lalu muncullah puluhan penyihir hitam. Mereka membuat sebuah lingkaran dengan Althea dan Hera yang berada ditengahnya.


Belva tersenyum miring. "Selamat menikmati pestanya." Setelah itu puluhan penyihir hitam menyerang mereka dengan brutal. Mereka mengirim sihir hitam tingkat tinggi yang membuat Hera kewalahan. Semenjak perang besar yang menewaskan seluruh keluarganya, kekuatan Hera berkurang sedikit demi sedikit tanpa ada sebabnya.


"Akh.." Sebuah bola api besar dilemparkan oleh Belva dan tepat mengenai dada kiri Hera. Gadis berambut putih itu kini terjatuh lemas dengan darah segar yang keluar dari mulut nya.


Belva tertawa penuh kemenangan. "Malam ini, bangsa penyihir putih akan punah." Ditengah tawanya, Belva kembali melancarkan sebuah bola api besar menuju Hera. Gadis itu tampak pasrah dengan takdirnya.


Tepat sebelum bola api itu mengenai Hera, Althea datang dan menangkisnya dengan tangan kosong. Tawa Belva terhenti begitu saja. Dia sempat dibuat tercengang lalu kembali tertawa.


"Tak ku sangka, gadis demon sepertimu dapat menangkis sihir ku dengan mudah."


"Dia bukan gadis sembarangan, Belva. Lihatlah kedua tangannya." Salah satu penyihir hitam yang tersisa menunjuk tangan Althea dengan tongkatnya.


Belva terbelalak. Dia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Walaupun sedikit samar, tapi Belva dapat mengetahuinya dengan jelas adanya ukiran rumit berwarna putih di kedua tangan Althea.


Kelengahan Belva digunakan oleh Althea untuk menolong Hera yang semakin melemah. Dia mengalirkan cahaya putih untuk mengobati luka dalam Hera yang cukup parah.


"Cukup, El. Aku sudah lebih baik." Hera berusaha menyingkirkan tangan Althea agar berhenti mengalirkan cahaya putihnya.


"Kau masih lemas, Hera. Biarkan ku mengobati mu." Althea bersikukuh dengan pendiriannya. Tapi setelah itu, kejadian yang tak terduga menanti mereka. Puluhan anak panah beracun beserta bola api besar melesat mulus menuju Althea yang masih lengah.


"Althea!" Hera yang menyadarinya hanya dapat berteriak tanpa bisa mencegah. Sepersekian detik sebelum puluhan panah dan bola api itu mengenai Althea, dia memejamkan matanya dengan perasaan takut yang semakin menjadi jadi.


Bum.


Ledakan besar terjadi. Debu beterbangan disekitar mereka, membuat jarak pandang semakin menipis. Hera membuka matanya perlahan dan terkejut dengan pemandangan didepannya.


Althea, dia mengorbankan diri juga kedua sayapnya untuk melindungi Hera. Althea melingkarkan kedua sayapnya agar panah beracun juga bola api tidak melukai Hera. sekarang, kedua sayap yang awalnya berwarna putih itu berubah menjadi hitam karena darah Althea. Punggung Althea juga terluka parah karena bola api itu meledak di punggungnya, meninggalkan bajunya yang sudah terbakar namun masih menempel sempurna.


Satu bulir air mata Hera meluncur bebas dari pelupuk matanya. Darah hitam menandakan bahwa gadis itu sangat buruk sekarang.


"Althea, maafkan aku." Hera merengkuh tubuh penuh darah Althea. Gadis demon itu menggeleng pelan dan menjauhkan tubuh Hera.


"Ini bukan salahmu. Melindungi mu adalah pilihanku. Ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Kita harus menghadapi mereka sekarang." Gadis bersurai hitam itu berdiri perlahan. Dia mengibaskan sayapnya untuk mencabut anak panah yang menempel di sayapnya.


Debu yang masih beterbangan membuat mereka sedikit was was karena tidak dapat melihat dengan jelas. ditambah keadaan mereka yang tidak cukup baik memaksa mereka untuk lebih kuat.


Perlahan lahan debu mulai menghilang Tetapi sesosok makhluk berdiri tegak diantar kepulan debu itu. Walaupun tidak dapat melihatnya, Hera yakin jika sosok itu tengah tersenyum mengejek mereka.


Tanpa menunggu debu mereda, sosok itu keluar dari kepulan debu dengan senyum yang selalu terpatri di bibirnya.


"Senang bertemu dengan kalian." Sosok itu terus mengumbar senyum kepada mereka.


"King Lance" Lirih Althea.


Sosok itu tertawa. "Ya, ini aku, Sayang. Aku datang untuk menjemputmu ke istanaku."


Althea mengeluarkan smirik mematikannya. "Jangan pernah bermimpi untuk melakukannya, King Lance. Aku tidak akan pernah sudi menginjakkan kaki ku di istanamu." Althea mendesis saat merasakan tubuhnya yang semakin melemah. Racun itu sudah menyebar luas di dalam tubuhnya.


King Lance kembali terkekeh pelan. "Kau kuat juga, Sayang. Kau sangat cocok dengan kriteria dengan pendampingku."


"Hentikan omong kosong mu, Sialan. aku tahu kau hanya ingin darah putihku." Diam diam Althea mengeluarkan sebuah pedang dari balik tubuhnya. Pedang yang disangka telah lama hilang namun nyatanya masih ada.


"Kau pintar juga ternyata. Karena ku sudah mengetahuinya, jadi mari kita mulai pestanya." King Lance melirik Belva yang hanya diam ditempat.


"Serang mereka, Belva!"


"T.. Tapi, Tuan.."


"Kau tidak perlu khawatir. Racun itu akan membuatnya semakin melemah jika dia banyak bergerak. Tugasmu hanya cukup membuatnya kehabisan tenaga. Sisanya, biar aku yang mengurusnya." Setelah mengatakan itu, Belva dan para penyihir hitam yang tersisa langsung menyerang mereka dengan brutal.


Althea dan Hera berada di atas awan pada awal pertempuran. Namun perlahan kekuatan Althea kian melemah. Racun itu mulai memakan energinya. Hera juga tampak kewalahan menghadapi penyihir hitam yang tidak ada habisnya.


Srek.


Althea berhasil menggores pipi Belva dengan pedangnya. Darah mengucur deras dari lukanya.


"Sialan. Aku tidak menyangka. Ternyata Pedang Naga Es ada di tanganmu." Ya, pedang yang sekarang Althea gunakan adalah Pedang naga Es, pedang legendaris terkuat setelah Pedang Naga Api.


Althea menatap datar Belva yang juga mulai kehabisan tenaga. "Kau tidak akan pernah menyangka dengan apa yang aku miliki, Nona Belva, karena aku adalah bagian dari misteri itu."


Althea kembali menyerang Belva dengan ganas. Sejauh ini, Althea masih belum terluka walaupun tenaganya terkuras banyak. Dia tidak ingin membunuh Belva. Bukan karena dia tidak bisa, tapi ini bukanlah waktu yang tepat. Dia harus pandai mengatur strategi agar bisa lolos dari mereka.


Srak


"Akhh..." Althea kembali melukai Belva di bagian perutnya. Black Witch itu tersungkur lalu memuntahkan darah hitam dari mulutnya.


Diseberang sana, Hera juga berhasil menumbangkan beberapa penyihir dengan kekuatan white witch nya. Tapi tubuhnya penuh dengan luka, tak jauh berbeda dengan Althea.


"Ck, dasar penyihir lemah. Sepertinya aku harus turun tangan sendiri."


Althea yang menyadari pergerakan dari King Lance kembali memasang kuda kudanya. Dia tidak ingin terkecoh dengan King Lance yang terkenal licik dalam pertempuran.


"Sepertinya, aku sendiri yang harus melawan mu, Sayang." King Lance menenjetikkan jarinya. Seketika tubuhnya dikelilingi oleh cahaya berwarna hitam keunguan. Sebuah pedang perak muncul secara melayang di depannya.


"Let's start the game."


...▫️To Be Continue ▫️...


Don't forget to like this story. Thanks and love you all