
"Yang Mulia, ada apa?" Nathan yang menyadari perubahan gestur tubuh Lord nya pun bertanya cemas.
"Nothing" Archeras membalasnya dingin.
"Emm... Yang Mulia, bolehkah saya bertanya satu hal?" Oracle itu bertanya takut takut. Archeras mengangguk sebagai jawabannya.
"Apakah Yang Mulia Lord melihat seorang gadis demon yang memiliki ukuran itu?"
Archeras memandangi Oracle itu sejenak lalu menghembuskan nafas. keheningan menyelimuti ruangan itu.
"Ah, maafkan daya, Lord. Saya..."
"Bukan aku, tapi seorang warrior yang ku tugaskan untuk berjaga di bumi" Archeras memotong perkataan Grace. Dia memutuskan untuk memberi tahu semuanya kepada Grace dengan harapan was wasnya hilang.
Mata Grace membelalak terkejut. "Maaf, Lord. Jika saya boleh tahu. Apakah Lord keturunan ke tujuh dari keluarga Neville?"
Archeras memandanginya sejenak. "Bagaimana kau tahu?"
Grace tersedak air liurnya sendiri. "Dia adalah takdir itu, Yang Mulia"
***
Alpha Keane sedang memutari istana untuk mencari keberadaan seseorang yang tidak dia lihat hampir sehari ini. Dia tampak gusar karena tak kunjung menemukan orang yang dia cari.
"Ada apa, Alpha? Kenapa kau terlihat sangat kacau?" Luna Anne mendekati mate nya dengan wajah cemas. Tak biasanya Alpha dari Moonlight Pack itu seperti ini.
Alpha Keane segera memeluk mate nya dan meletakkan kepala di ceruk leher Luna Anne untuk menghirup aroma yang sangat menenangkan. Anne pun membalas pelukannya dan mengusap punggung tegap Keane.
"Ceritakan lah kepadaku" Luna Anne dapat merasakan bagaimana kacaunya Keane saat ini. Jika saja Keane dibiarkan sebentar lagi, mungkin sisi wolf nya akan mengamuk dan membunuh siapapun.
"Althea, Honey. Aku tidak dapat merasakan kehadiran di istana ini. Aku juga sudah mencarinya ke segala penjuru istana tapi dia tetap tidak ada. Aku khawatir terjadi sesuatu dengannya." Keane semakin mengeratkan pelukannya. Mengetahui adik keduanya tidak ada di istana membuatnya teringat akan kejadian kelam di masa lalu.
"Dia baik baik saya, Ane. Bukankah selama ini kita memang tidak bisa merasakan kehadirannya? Dia sangat spesial, Ane. Aku yakin dia tidak apa apa. Mungkin Althea bosan sehingga dia keluar istana tanpa izin." Anne mencoba untuk menenangkan suaminya, walaupun sebenarnya dia juga merasa khawatir dengan adik iparnya itu.
Keane tiba tiba melepaskan pelukan dan memasang wajah cemberut. "Berhenti memanggilku 'Ane', Honey. Panggilan itu seperti perempuan."
Anne tertawa melihat wajah tak terima dari suaminya. "Kenapa? Bukankah itu bagus? Panggilan itu sama dengan namaku. Itu adalah panggilan spesial dariku yang menandakan kau adalah milikku." Pipi Keane memerah mendengar perkataan Anne.
Keane kembali memeluk Anne dan menghirup aroma yang dikeluarkan mate nya dengan rakus. Dia mencoba untuk menenangkan diri dan tetap berfikir positif seperti yang dikatakan oleh Anne. Tetapi, semakin dia mencoba untuk melupakannya, semakin resah juga hatinya.
Keane melepas pelukannya dan menangkup pipi Anne. Ditatapnya bola mata silver yang menenangkan itu. "Anne, aku..."
"Keane, cepat pergi ke ruang pengobatan! Althea terluka."
Bagaikan dihantam batu karang raksasa, kepala Keane mendadak pusing saat mendengar mindlink dari ayahnya yang menyatakan bahwa Adik nya terluka. Pandangannya menjadi kosong dan bayang bayang suatu peristiwa seakan berputar tepat didepannya.
Keane pun membawa Anne menuju ruang pengobatan. Anne yang juga mengetahuinya karena dia juga mendapatkan mindlink yang sama terdiam bak patung. Dia terkejut dengan semua ini. Bagaimana seorang Althea yang memiliki keistimewaan terluka hingga suara ayahnya terdengar begitu kalut?
***
Setitik cahaya putih terlihat sangat jauh didepan sana, perlahan lahan membesar hingga kedua makhluk yang berada didalam nya dapat keluar dengan mudah. Hera melompat keluar dari portal bersama Althea yang digendongnya.
"Bertahanlah, kita sudah sampai" Ucap Hera lemah. Dia segera berlari menuju gerbang istana demon. Para Warrior yang berjaga mencoba untuk menghalanginya. Tetapi segera membukakan gerbang lebar lebar saat mengetahui apa yang dibawa oleh gadis asing itu. Tuan putri mereka terluka parah hingga tak sadarkan diri.
"Cepat panggilkan tabib istana!" Hera berteriak kencang. Semua omega yang bertugas menoleh dan langsung bergegas memanggil tabib juga memberitahu kepada Raja dan Ratu istana itu.
Hera yang semakin melemah terjatuh di tengah tengah kerumunan omega. Darah berceceran dijalan yang baru dilalui oleh Hera. Para omega pun mendekati Hera dan mencoba untuk menolong keduanya.
Hera menggeleng saat dirinya hendak dipapah ke ruang pengobatan. "Selamatkan, Althea. Dia lebih penting." Dia kembali jatuh setelah setengah berdiri. Tenaganya benar benar habis.
"Tapi anda juga terluka, Tuan." Hera menggeleng. Kegelapan mulai menyambutnya.
Laporan yang diterima nya dari salah satu omega membuat King Ares dan Queen Kyle bergegas menuju lantai bawah bersama tiga perempuan yang menjadi tabib kepercayaan istana.
Pemandangan didepan mereka membuat King Ares dan Queen Kyle terkejut setengah mati. Mereka tidak percaya jika Putri istimewanya akan terluka separah ini. Bahkan Queen Kyle langsung bersimpuh dan menangis melihat keadaan Putri Bungsu nya.
Dua tabib segera memasuki ruang pengobatan dan melaksanakan tugasnya. Sedangkan salah satunya mencoba untuk membawa Hera keruan pengolahan juga. Tetapi Hera menolak.
"Maafkan aku. Aku tidak bisa menjaganya dengan baik." Setelah mengucapkan itu, kegelapan menghampiri Hera. Dia pun segera dibawa ke ruang pengobatan. Keadaannya yang tak kalah buruk membuat seorang tabib tadi sempat cemas akan keselamatan nya.
King Ares mengerutkan dahi penasaran. "Siapa gadis itu? Kenapa aku tidak dapat mencium aroma yang dikeluarkannya? Kenapa dia menyelamatkan Althea? Apakah dia teman Althea? Tapi Althea selalu berkata jika dia lebih suka menyendiri dan tidak mempunyai teman." Raja Demon itu terus memikirkan banyak hal yang akhir akhir ini menjadi sedikit berbeda entah karena apa.
Lamunan King Ares terbuyarkan saat Queen Kyle menarik ujung jubah nya pelan. "Ares, anak kita.." Lirih Queen Kyle lalu kembali menangis.
Jika saja dia bukan raja, tentu saja dia sudah menangis melihat Putrinya terluka parah. Tapi dia adalah raja. Dia harus bisa mengendalikan emosi agar suasana bisa terkendali.
"Keane, cepat pergi ke ruang pengobatan Althea terluka." King Ares me mindlink Keane juga yang lain dengan suara kalut. Queen Kyle mendadak pingsan di pelukannya.
Tak berapa lama, Keane datang beserta yang lain. Queen Kayla seketika menegang melihat banyaknya darah yang sedang di bersihkan oleh para Omega. Dia meremas jubah Sean erat. Tak di sangka, sesuatu yang berharga dari gadis itu telah terbuang begitu saja.
"Ayah.." Keane dan Anne mendekati King Ares yang masih terduduk dilantai. Beberapa tabib kembali di panggil untuk membantu Althea juga membangunkan Queen Kyle dari pingsannya.
Beberapa saat kemudian mata Queen Kyle mulai terbuka. Para omega menyiapkan minuman hangat untuk Sang Ratu.
"Ares... Althea.." Queen Kyle mencoba untuk berdiri namun kembali jatuh. Dia masih sangat terkejut dengan semua ini.
King Ares kembali memeluk istrinya itu. "Dia akan baik baik saja, Queen. Dia gadis yang kuat."
Queen Kyle kembali menangis. "Bawa aku kedalam, Ares. Aku ingin melihatnya" Queen Kyle menangkupkan tangan di wajah cantiknya.
"Tidak, Queen. Itu akan menggangu kinerja mereka. Tenanglah."
Keane tersenyum miris melihat kegaduhan yang terjadi di istana ini. Dirinya tak menyangka jika hal ini akan terjadi. Tidak! Bukan hanya dia, tapi semua penghuni istana ini.
Tanpa ada yabg menyadari, diam diam Kayla mengendus aroma darah yang begitu memikat. Dia bahkan hampir mengelurakan taringnya dan lupa jika keadaan sedang kacau. Warna matanya berubah ubah dari coklat muda menjadi merah darah.
"Sean, apakah kau merasakannya?" Mindlink Kayla kepada suaminya.
"Ya. Aku bahkan hampir hilang kendali." Sean memejamkan matanya dan berusaha agar tetap sadar.
"Bukan itu! Tapi..."
"Darah murni" Sean memotong perkataan Kayla.
"Apakah segel itu sudah terbuka?" Sean cukup terkejut dengan fakta tersebut.
"Entahlah. Tapi kita harus memberitahu ayah tentang hal ini." Putus Kayla
Ditengah kesedihan dan keterkejutan mereka, salah satu tabib bernama Caroline keluar. Sontak mereka berdiri dan mengerumuni tabib itu yang membuatnya merasa sedikit grogi.
"Bagaimana keadaan Putriku?" Tanya Queen Kyle dengan suara bergetar.
Caroline menatap Sang Ratu sejenak lalu menghembuskan nafas. "Keadaan Tuan Putri cukup mengkhawatirkan. Terdapat sekitar tiga puluh lebih luka sayatan dan..."
Keterdiaman Caroline membuat mereka geram juga penasaran. "Dan apa, Caroline?" Queen Kyle mendesaknya.
"Didalam tubuh Tuan Putri terdapat racun yang dapat dikendalikan oleh seseorang."
King Ares menyeritkan dahi. "Racun yang di kendalikan?"
Caroline mengangguk. "Benar, Yang Mulia."
"Lalu bagaimana dengan Putriku?" Queen Kyle terus mendesaknya dengan air mata yang terus mengalir.
"Tuan Putri sudah stabil. Semua racun yang berada di dalam tubuhnya sudah berhasil kami keluarkan. Dan menakjubkan nya, Tuan Putri sudah siuman." Caroline tersenyum lebar saat mengatakan itu.
"Benarkah?" Kali ini Keane yang bertanya.
"Ya. Tuan sudah boleh menjenguk nya sekarang." Caroline menyingkirkan tubuhnya agar para keluarga kerajaan itu dapat melintas dengan mudah. Setelah mereka masuk, Caroline kembali menutup pintu.
"Althea, Putriku." Queen Kyle langsung memeluk tubuh putrinya penuh rasa lega.
"Bunda?" Lirih Althea. Dia membalas pelukan hangat Bundanya.
Queen menjauhkan wajahnya lalu memandang wajah lemah putrinya. "Iya, Sayang. Bunda disini." Queen Kyle membelai lembut surai hitam putri bungsunya. Sungguh, tidak akan ada orang tua yang tega melihat anaknya terluka.
Althea tersenyum. Senyum yang hanya dia tunjukkan pada keluarganya. Althea menatap ayahnya yang dibalas dengan tatapan lembut. Dia mengalihkan pandangan dan menatap kakak kakaknya dan berhenti pada Sean, Kakak iparnya yang sedang tersenyum hangat.
"Bagaimana keadaanmu, Althea? Apakah sudah lebih baik?" Raja Clan Vampire itu bertanya dengan nada lembut.
Althea membalas senyumannya. "Aku sudah lebih baik. Terimakasih." Tidak. Althea menatap Kakak iparnya itu bukan tanpa sebab. Dia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Sean juga Kakak perempuan nya darinya.
Althea membulatkan mata saat tersadar akan sesuatu. "Dimana Hera?"
...*To Be Continue*...