
"Kau sangat lama" Celetuk Hera kala mendapati Althea yang baru saja sampai. Althea memperhatikan Hera yang memakai baju hijau dan celana jins yang terlihat cocok di tubuhnya.
"Tidak buruk." Pikirnya
"Ada sedikit masalah tadi. Cepat buka portalnya!" Althea menatap Hera datar.
Tanpa banyak bicara lagi, Hera segera mengucapkan sebuah mantra khusus untuk membuka portal antara dunia manusia dan dunia immortal. Tidak banyak yang mengetahui identitas asli Hera karena dia selalu menutupinya. Tapi Althea mengetahuinya. Hera adalah seorang white witch yang dirumorkan telah lama punah karena perang besar beberapa puluh tahun lalu, peperangan yang menjadi awal mula persahabatan antara Althea dan Hera. Dalam peperangan itu pula Hera kehilangan seluruh keluarganya dan hanya dia yang tersisa dari Clan white witch. Setelah kejadian itu, Hera memutuskan untuk tinggal di hutan dan mengabdi pada Althea karenanya lah Hera selamat. Sebenarnya Althea selalu menawari Hera untuk hidup di istana, tapi Hera selalu menolaknya dengan alasan belum waktunya. Althea pun menghargai keputusan sahabatnya itu. Dia pun selalu menggunakan sihir tingkat tinggi yang tidak dapat ditembus siapapun untuk menyamarkan bau tubuhnya
Tak lama sebuah titik terang berwarna biru tua muncul dua meter di depan mereka. Setelah portal itu terbentuk dengan sempurna, mereka pun memasukinya. Dalam sekejap, mereka merasa seperti di lemparkan dengan kecepatan tinggi.
Sesaat kemudian, titik cahaya putih mulai terlihat dan semakin membesar. Setelah titik itu membesar seukuran manusia dewasa, mereka melompat keluar dan langsung disambut dengan pemandangan yang sangat indah. Bunga lavender dan mawar bertebaran di mana mana sejauh mata memandang. Terlihat tidak tertata namun cukup untuk membuat penat yang menekan jiwa menguap untuk sementara.
Althea menatap hamparan bunga itu tanpa berkedip. Ini adalah pemandangan yang sangat menakjubkan. Senyum tipis terbit di bibir merah muda gadis demon itu.
Hera yang menyadarinya ikut tersenyum. "Tidak sia sia aku membuka portal disini"
Althea mengangkat sebelah alisnya. "Kau sudah merencanakannya?"
Hera merangkul pundak Althea senang. "Tentu saja. Aku sangat tidak tega melihat adikku satu ini bersedih hati hanya karena belum menemukan mate nya." Hera terkekeh pelan. Sontak Althea memukul lengan Hera pelan.
"Hentikan, Hera. Aku tidak ingin membicarakannya sekarang. Kita disini untuk melepaskan penat, bukan untuk membahas hal itu" Balas Althea dingin lalu berjalan meninggalkan Hera.
"El, tunggu!" Hera kelabakan melihat adik nya meninggalkannya nya begitu saja. Dia segera berlari mengejar Althea yang sudah cukup jauh.
"Andai setiap hari kau seperti ini, El. Aku harap Tuhan segera membuka hatimu untuk menerima kehadiran dia dalam hidupmu. Dan semoga dengan kehadirannya, kau bisa berubah, El." Hera tersenyum tipis saat melantunkan doa tersebut. Tujuannya saat ini adalah membuat Althea selalu bahagia. Dia ingin membalas semua perbuatan gadis itu kepadanya walaupun sebenarnya dia tidak bisa membalasnya. Hera selalu berdoa untuk kebaikan Althea di manapun dan kapanpun.
...***...
Sementara itu, seluruh keluarga El Fuere sedang berkumpul di ruang keluarga. Tentu saja untuk membahas masa depan keluarga mereka yang paling kecil, Althea El Fuere
"Bagaimana menurut mu, King? Apakah kita harus menerima lamaran itu atau menolaknya?" Tanya Luna Kyla, istri King Ares sekaligus ibu Althea. Dia sudah mengetahui perihal lamaran dari Alpha Lance untuk putrinya.
King Ares menggeleng. "Aku sudah berbicara dengan Althea kemarin malam. Dia menyuruhku untuk menolak lamaran tersebut dan berjanji akan segera menemukan mate nya" King Ares memijat pelipisnya frustasi. Entah mengapa dia selalu dibuat kewalahan dengan putrinya yang satu ini dalam hal pasangan.
"Tapi, Ayah, Althea sudah berkali kali mengatakan hal tersebut sejak lama. Namun hingga hari ini dia belum juga menemukan mate nya" Ucap Luna Anne, mate dari Alpha Keane.
Putri kedua keluarga itu menganggukkan kepala pertanda setuju. "Luna Anne benar, Ayah. Ku rasa, kita perlu sedikit memaksa Althea kali ini."
King Ares menghembuskan nafasnya perlahan. "Sebenarnya aku juga ingin memaksanya, kayla. Tapi, ayah tidak ingin apa yang diramalkan oleh para Oracle terjadi. Ayah tidak ingin Althea terluka." Ucap King Ares dengan nada sedih. Oracle adalah sebutan untuk peramal tingkat tinggi karena mereka mendapatkan ramalan itu langsung dari para Dewa dan Dewi.
Sontak semua makhluk yang ada di sana menegang, mereka teringat akan sesuatu yang hampir saja terlupakan.
"Maksud Ayah, ramalan itu?" Queen Kayla menatap ayahnya dengan penuh rasa penasaran. Selama ini ramalan itu hanya dia anggap sebagai bualan belaka. Namun kenyataannya ramalan itu adalah sebuah takdir masa depan adik tercintanya.
"Ya. Ayah takut jika apa yang diramalkan itu akan terjadi. Semuanya sudah sangat jelas. Althea lah orang itu. Dia adalah takdir masa depan yang cerah. The Bringer Light." King Ares berucap dengan nada penuh keyakinan.
"Jika begitu, kita tidak dapat memaksanya lagi. Takdir ada ditangannya dan dia sendiri tidak menyadarinya. Tugas kita hanya membuatnya sadar akan hal tersebut. Aku yakin dia akan segera bertemu dengan belahan hatinya" Luna Kyla mengelus lengan kokoh suaminya untuk menenangkan hatinya. Dia tahu suaminya sedang kacau memikirkan hal tersebut. Dia dapat merasakannya karena ikatan mate ini. Sungguh, dia sangat bersyukur memiliki mate seperti King Ares.
King Ares tersenyum lalu mencium bibir Luna Kyla sejenak. Keempat makhluk yang ada disana hanya memutar bola mata malas. "Ayah, ingatlah umurmu, kau sudah tua dan masih saja bersikap seperti itu" Celetuk Alpha Keane dan dihadiahi tatapan tajam dari ayahnya.
"Tidak seharusnya kau menghina ayahmu sendiri,Keane! Siapa yang mengajarimu?" Tidak! Bukan Luna Kyle maupun King Ares yang baru saja berucap, melainkan Luna Anne. Dan saat ini dia sedang menghadiahi Alpha Keane dengan cubitannya.w Keane" Balas Luna Anne dan menghentikan cubitannya.
"Lebih baik kalian melanjutkannya dikamar. Sangat tidak sopan bermesraan di depan banyak orang" Celetuk King Sean, mate dari Queen kayla.
"jika begitu kamu pamit undur diri, Ayah, Ibu" Queen Kayla bangkit dari duduknya lalu menundukkan badannya sejenak, diikuti oleh King Sean. Setelah mendapat anggukan dari kedua orang tuanya, mereka berjalan menuju kamar dan melanjutkan kegiatan masing-masing. Sekarang hanya tersisa empat makhluk di ruangan itu. Mereka sibuk dengan pasangannya masing-masing.
"Hey! Kenapa kau masih disini? Cepat pergi!" Usir King Ares dengan wajah marah.
Melihat hal itu, Alpha Keane segera bangkit dari duduknya lalu pergi tanpa pamit. Luan Anne dibuat kelimpungan dengan sikap mate nya.
"Ahh... Saya pamit undur diri, King and Queen. Maafkan sikap mate saya" Luna Anne menundukkan badan sejenak lalu berjalan mengikuti mate nya.
"Dasar tua bangka itu" Apha Keane mengumpat dengan suara sangat pelan.
"Aku mendengarnya!" Bentak King Ares namun diacuhkan olehnya.
***
"Yeah, aku dapat!" Althea mengangkat sebuah boneka beruang coklat sedang tinggi tinggi dihadapan Hera, seolah mengejek gadis berambut putih itu.
Setelah sedikit drama di taman bunga tadi, Althea memutuskan untuk pergi menuju Timezone sebagai tempat hiburan pertama. Meskipun sudah mendapatkan penolakan berkali kali dari Hera, Althea tetap bersikukuh untuk pergi ke sana dengan dalih ingin berlomba dengannya. Dan akhirnya, Hera mengikutinya dengan setengah hati.
"Kau hanya membuang buang uang. Apakah dua puluh koin tidak cukup untukmu? Kau kalah pin 1-0." Hera menghembuskan nafas, berusaha untuk lebih tenang menghadapi sikap Althea. Ya, dia sudah bermain lebih dulu dan menghabiskan dua puluh koin tanpa hasil.
"Kau hanya beruntung, Nona El Fuere. Di permainan selanjutnya, ku pastikan aku tidak akan kalah." Hera meninggalkan Althea dengan perasaan kesal.
"Hey jangan marah, aku hanya bercanda" Althea berlari menyusul Hera dengan boneka Beruang coklat di tangan kanannya.
Tanpa mereka sadari, seseorang telah mengawasi mereka sedari tadi. "Maaf, Lord. Saya menemukan seorang putri demon bersama temannya sedang bermain di dunia manusia. Saya rasa mereka pergi kesini tanpa alasan yang jelas, Lord." Seseorang yang mengawasi mereka melakukan mindlink dengan orang lain yang dipanggilnya 'Lord'.
"Putri demon? Lalu siapa temannya?"
"Benar, Lord. Dia adalah seorang putri dari kerajaan El Fuere, kerajaan inti bangsa demon. Dan temannya... Mohon maaf, Lord, saya tidak dapat mencium aroma tubuh gadis itu. Sepertinya dia menggunakan sihir tingkat tinggi. Sepertinya dia adalah orang penting karena saya dapat merasakan auranya yang sangat kuat, terlebih dari putri demon itu, Lord." Orang itu berpindah dari tempatnya agar lebih dekat dengan Althea dan Hera yang sedang bermain basketball.
Tiba tiba pengintai itu tercengang dengan apa yang dilihatnya. "Lord...."
"Ada apa?"
"Gadis demon itu memiliki ukiran rumit berwarna putih dikedua tangannya"
...***...
Setelah setengah hari bermain di Timezone, mereka memutuskan untuk beristirahat dan mengisi perut mereka di salah satu restoran bintang lima di sana. Setelah memesan makanan, Althea kembali dengan kesibukannya, yaitu membuat Hera kesal.
"Kau kalah telak, Hera. seperti perjanjian yang telah kita sepakati, bahwa siapapun yang kalah harus menuruti tiga permintaan dari yang menang. Dan karena itu..."
"Katakan saja apa keinginanmu, El!" Hera memotong perkataan Althea dengan kesal. Jujur saja, dia lebih menyukai Althea yang pendiam daripada Althea yang cerewet. Dia menyesal karena sempat berfikir untuk merayakan kecerewetan Althea tempo hari.
Althea tersenyum jahil mendengarnya. "Baiklah. Keinginanku tidaklah berat. Pertama, kau harus membayar semua makanan yang aku beli."
"Tidak sulit" Hera tersenyum meremehkan.
"Kedua, hancurkan kerajaan King Lance..."
"Apa apaan kau ini? Tidak! Aku menolak permintaanmu yang kedua." Hera memotong permintaan kedua Althea dengan keras. Siapa juga yang ingin memenuhi permintaan keduanya itu? Terkecuali untuk mereka yang sudah tidak sayang dengan nyawanya.
King Lance adalah raja terkuat dari bangsa Elf. Dia terkenal dengan kelicikan dan otak kotornya itu. Dia juga tidak segan segan membunuh siapapun yang menghalanginya. Sebenarnya banyak dari makhluk immortal yang menentang dirinya untuk menjadi raja. Karena bangsa Elf terkenal dengan kebaikan dan kemurahan hati mereka, sangat berbanding terbaik dengan King Lance yang sangat bengis dan kikir.
Althea tersenyum jahil. "Kau bilang permintaan ku tidak sulit?"
"Itu untuk permintaan yang pertama, El Fuere, bukan untuk yang kedua. Lagipula aku tidak ingin mati konyol karena permintaanmu." Hera melemparkan tatapan super tajam pada Althea. Namun gadis itu justru tergelak dengan kelakuan Hera.
"Ganti permintaan mu atau aku tidak akan mengabulkan semuanya"
Althea terkekeh pelan melihat wajah kesal kakaknya yang seakan terlihat sangat lucu di matanya. "Baiklah baiklah. Permintaan kedua ku adalah... Kau harus tinggal di istana"
Hera terbelalak mendengarnya. "Tidak! Aku tidak ingin, El. Bagaimana jika ditolak oleh mereka? Aku ini bangsa yang terbuang, El." Hera menundukkan wajah sedihnya agar tidak dapat dilihat oleh Althea.
Tapi Althea peka akan hal itu. "Mereka akan menerimamu, Hera. Tidak semua raja memiliki sikap yang sama seperti dia." Althea berusaha meyakinkan Hera. Dia yakin Hera masih trauma dengan kejadian beberapa tahun silam. Althea sendiripun juga ikut terpukul dengan kejadian itu, karena semua makhluk immortal terkena imbasnya sehingga banyak korban yang berjatuhan.
"Aku yang akan melindungi mu, Hera. Percayalah padaku" Althea menggenggam erat kedua tangan Hera dan menatapnya dengan senyuman tulus di bibirnya. Jujur saja, Hera terharu dengan sikap Althea saat ini. Dia pun memeluk Althea erat.
"Emm... Maaf, Nona. Pesanan anda sudah siap" Ucap seorang waiters kepada mereka. Sontak mereka melepas pelukan dan duduk dengan anggun di kursi.
Makanan pun diletakkan dimeja oleh para waiters. Bukan hanya satu, tapi tujuh orang waiters yang mengantarkan makanan mereka, lebih tepatnya makanan Althea. Hera dibuat melongo dengan banyaknya makanan yang tersaji didepan mereka. Meja yang mereka duduki hampir penuh dengan makanan.
Setelah makanan selesai diantar, para waiters meninggalkan mereka dan tak lupa mengucapkan 'selamat menikmati makanannya' sebelum pergi. Hera yang masih terkejut hanya diam memperhatikan makanan di hadapannya.
"Kau... Yang memesan semua ini?" Tanya Hera.
"Tentu saja" Jawab Althea sambil memasukkan sepotong daging steak kedalam mulutnya.
"Siapa yang akan menghabiskannya jika masih tersisa?" Hera memasang wajah marah. Bagaimana tidak? Tersedia sekitar tiga puluh jenis makanan dihadapan mereka dan tentu saja dengan harga yang cukup fantastis, sedangkan mereka hanya berdua.
Althea menyeringai lebar. "Aku yakin kau ingin lagi jika sudah merasakannya."
...▫️To Be Continue ▫️...
Hallo Friend, jangan lupa tinggalkan jejak ya