DestinaRE ~ The Path I Followed

DestinaRE ~ The Path I Followed
Chapter 8. Persidangan (I)



Derap langkah kaki terdengar menggema di sepanjang lorong yang menghubungkan gedung utama dengan gimnasium di sebelah timur. Laura, dengan sepatu heelsnya berjalan menembus kerumunan orang-orang yang berjalan menuju gedung utama, berlawanan arah dengannya yang hendak menuju gimnasium.


"Laura, jangan lupa siang ini ada pertemuan di ruang Ketua, ya!" Suara seorang laki-laki Pasukan Elite itu terus menggema di kepalanya, mengingatkannya atas pertemuan yang harusnya ia datangi saat ini.


"Kenapa mereka senang sekali mengadakan pertemuan! Ah persetan dengan pertemuan, ada urusan lain yang lebih penting!" gerutunya sambil terus melangkah. Dia yang muak memusatkan seluruh kekesalannya pada ujung kakinya, membuat suara langkahnya seperti dihentakkan.


Dia membuka pintu besar gimnasium keras-keras. Tidak lagi tercium aroma semerbak keringat para prajurit. Juga tidak terdengar celotehan bapak-bapak yang membuat telinga tajamnya pengang. Gimnasium yang biasanya ramai dipenuhi para prajurit yang berlatih, kini hanya tersisa beberapa orang saja yang sepertinya juga akan segera menyusul yang lain. Kira-kira ada lima orang berkepala botak dan berbadan kekar yang sedang duduk di salah satu sudut ruangan.


Bisa dibilang, mereka yang berkepala botak dan berbadan kekar itu adalah anggota unit khusus, sebut saja Unit L, unit yang berada di bawah pimpinan Laura. Mereka bahkan bisa dijumpai di setiap sudut kawasan ini.


Seorang dari mereka—si Botak Kekar—mengangkat bokong mereka, hendak bangkit dan berjalan menuju pintu keluar, tapi berhenti saat sadar Laura intens memerhatikannya dari pintu sambil berjalan menuju ke arahnya dengan dua buah pedang kayu di tangannya. Langkah kakinya semakin cepat dan semakin cepat hingga terlihat seperti orang yang sedang sprint.


"Kurasa kita dalam masalah," ucapnya yang baru saja setengah berdiri pada keempat teman lainnya yang masih duduk. Saat sebuah pedang kayu mendarat di depannya, keempat temannya itu langsung menyingkir. Dia menangkap pedang kayu itu, menggunakannya sebagai pelindung kepala saat Laura mengarahkan pedang kayunya dari atas, hendak memukulnya sekuat tenaga.


Tenaga Laura yang besar membuatnya sedikit terdorong mundur. Beruntung kepala botaknya baik-baik saja karena dia sempat menghadang serangan Laura. Tapi sepertinya keberuntungan tidak akan datang dua kali padanya. Serangan beruntun yang dilayangkan Laura membuatnya sulit melawan.


Dia terdorong mundur cukup jauh saat menangkis serangan Laura yang kedua kalinya. Pedang kayunya bahkan patah dua. Entah sudah berapa pedang kayunya yang patah akibat anggota Pasukan Elite berambut kuning itu. Dalam sekedipan mata, tendangan Laura sudah mendarat di perutnya, membuatnya terjungkal ke belakang. Keempat temannya yang tersisa pun sudah tahu apa yang akan terjadi pada mereka setelah ini dan dengan pasrah menerima tendangan dan pukulan dari Laura.


Laura menodongkan pedang kayunya pada seorang yang dilawannya tadi. Setelah pertarungan yang cukup menguras tenaga, dia masih berdiri tanpa terengah-engah. Napasnya tetap stabil, namun auranya tampak memburu. "Kenapa tidak ada seorang pun anggota Unit L kemarin?!"


Kelima orang botak kekar itu hanya menenggak ludah. Si Botak Kekar menjelaskan kalau mereka masih dalam perjalanan saat monster sebesar 7 meter itu ditumbangkan Laura, lalu seorang yang lain menyambungkan kalau Joe—yang dikenal sebagai Botak Kekar II—sudah ada di sana bersama pasukan kelas S.


Laura kembali mengangkat kakinya. Dia berikan tendangan menyamping pada si Botak Kekar hingga ia tersungkur mencium lantai gimnasium. "Dasar botak bau tanah! Kalian pikir sudah berapa lama kalian jadi anggota Unit L?! Kenapa kalian begitu lamban?!" hardiknya, walau tidak membentak, kata-katanya langsung menusuk ke dalam hati lima anggota Unit L itu.


"Maafkan kami, Nona," ucap kelimanya bersamaan, sambil bersujud di kaki Laura.


Laura tidak merespons, dia berbalik, menghadap kekosongan gimnasium. Tangan kirinya memegangi leher, kerongkongannya terasa kering di hari yang semakin panas setiap harinya. Si Botak Kekar langsung paham maksud dari pemimpinnya itu. Dia langsung beranjak, mengambilkan sebotol minuman.


"Nona, ini minumnya," ucapnya sambil berlutut, menyerahkan botol itu dengan penuh hormat.


Tangan Laura menyambat botol minum itu kemudian berlalu dari hadapan si Botak Kekar menuju sebuah kursi di pinggir gimnasium. Dia memutar tutup botol, dan hendak duduk untuk menikmati air segar. Sensasi sejuk merambah ke seluruh tubuh begitu air itu menyentuh pangkal kerongkongan Laura, kemudian mengalir begitu saja membasahi kerongkongannya yang semula kering.


Kekosongan gimnasium adalah hal yang sangat jarang terjadi. Gimnasium ini tempat bagi seluruh prajurit memperkuat diri mereka agar bisa kembali dari peperangan dengan selamat, jadi hampir tidak mungkin tempat ini kosong terkecuali di jam-jam tertentu, atau mereka punya tempat berlatih lain.


Laura menyandarkan punggungnya pada kursi besi. Wajahnya menghadap ke langit-langit gimnasium yang sudah tua. Damai, itu lah yang dia pikirkan saat itu.


Walau sebenarnya dia sendiri tak paham makna dari kata damai itu sendiri.


Laura berniat melepaskan penyumbat telinganya di gimnasium. Rasanya sudah lama dia tidak melakukan itu lantaran gimnasium selalu ramai. Bisa dibilang, telinganya terlalu sensitif terhadap suara hingga ia harus menutupi telinganya ke mana pun dia pergi.


Ngiiing.


Seluruh tubuh Laura mendadak kaku. Suara dengung tiba-tiba terdengar memenuhi isi kepalanya. Dengung itu, sama seperti kemarin ketika ia di perpustakaan.


Kenapa? Padahal tidak ada banyak orang di sini? Ck, gerutu Laura dalam hatinya. Dengungnya kali ini lebih keras, suaranya terdengar bekali-kali lipat dibanding yang kemarin. Parahnya, tidak ada orang lain yang mendengarnya. Hanya Laura.


"Apa tidak ada seseorang yang mau menolong Kak Naito?! Kumohon, tolong kakakku!"


Tidak, tidak ada siapa-siapa?


"Ada apa, Nona?" tanya si Botak Kekar.


Laura menggeleng, kemudian menyarungkan kembali pedangnya. Dia berjongkok, hendak mengambil kedua penutup telinganya yang terlempar. "Kenapa kau meminta tolong untuk Naito?" Dia bertanya kembali pada suara itu sebelum kembali menutup telinganya.


"Apa kau kenal Kak Naito? Siapa pun kau, kumohon tolong kakakku! Seseorang akan membunuhnya!"


Laura terdiam, tidak jadi menutup telinganya. Naito? Dibunuh? Siapa yang mau membunuhnya? Pertanyaan itu mengisi kepala Laura. Entah kenapa, ia jadi teringat oleh orang-orang yang berbondong-bondong pergi ke gedung utama dan perintah pertemuan siang ini. Tunggu, jangan-jangan, pertemuan itu—


"Hei, kenapa semua orang terburu-buru ke gedung utama?" tanya Laura pada kelima anggota Unit L.


"Bukankah itu karena mereka akan mengeksekusi 'Yang Terpilih' setelah membuat nyawa Nona Venn melayang karena melindunginya?" jawab si Botak Kekar.


Tang.


Suara kursi besi yang ditinju Laura terdengar memenuhi seisi gimnasium. Rahangnya mengeras, hingga para anggota Unit L pun tahu kalau pimpinannya itu pasti marah besar.


Brengsek! Berani sekali mereka! Laura membatin kemudian menoleh, wajahnya menghadap ke lima anggota Unit L. "Cepat pergi ke gedung utama. Biar mereka tahu siapa yang sepantasnya dieksekusi," ucapnya, sebelum akhirnya pergi dengan kecepatan tinggi menuju gedung utama.


***


"Tuan Naito, kau ditetapkan sebagai terdakwa atas kematian Nona Venn! Segera tebas dia!"


Berakhir sudah hidupku. Kulihat bayangan pedang semakin mendekat ke arahku. Aku menutup kedua mataku, mengurangi rasa takut yang sejak tadi menjalari tubuhku. Apa begini rasanya merasakan detik demi detik kehidupan yang akan berakhir?


Braak!


Suara tubrukan keras dari pintu membuat mataku yang tertutup kembali terbelalak. Namun bukan cuma itu, suara dua pedang yang bersilangan kini membuat telingaku ngilu, walau cuma terdengar sekali. Kulihat dua kaki berdiri di sebelah kananku. Entah aku diizinkan atau tidak, aku menoleh, mendapati Laura lah yang berdiri di sampingku. Suara pedang yang kudengar tak lain dan tak bukan adalah suara pedang Laura yang bersilangan dengan pedang milik pria pemenggal kepalaku.


Wajahnya datar, tapi bisa kulihat seringai tipis di sana. Apa maksudnya, aku tidak tahu. Tapi seringai itu... benar-benar membuatku bergidik. Sepintas kurasakan aura membunuh menguar dari tubuhnya.


"LAURA!" teriak Ketua dari kursinya.


"Maaf, Ketua. Sepertinya aku terlambat," ucapnya, kemudian dia mendorong pria pemenggalku hingga terpukul mundur. Dorongannya tidak kencang, juga tidak keras, tapi bisa kurasakan energi yang dia alirkan pada pedangnya. Bisa kuyakini itu bukan kemampuan penuhnya jika monster setinggi 7 meter saja dia hancurkan dengan mudah.


Dia menyarungkan kembali pedangnya, kemudian menepuk-nepuk jaket hitamnya yang sedikit kusut. Kulihat, dia juga sedikit meregangkan badannya. Ya... aku tahu dia Elite yang kebal hukuman, tapi... bukankah ini tidak sopan? Setelah dipikir-pikir, saat dia masuk tadi pun tanpa mengetuk pintu, melainkan mendobrak pintu. Aku jadi penasaran apakah pintu itu baik-baik saja atau tidak. Lupakan, apa setelah ini Laura benar-benar tidak akan dihukum?


"Ah, apa pertemuan ini masih berlangsung?" tanyanya santai. Dia yang tetap bisa santai setelah memuat keributan, aku benar-benar kagum padanya.


Kulihat wajah Ketua saat ini sudah merah padam.


Semoga saja dia benar-benar kebal dari hukuman.