DestinaRE ~ The Path I Followed

DestinaRE ~ The Path I Followed
Chapter 1. Masuk Isekai



"Minggir, Pengganggu!"


Aku berbalik saat mendengar suara seorang wanita berteriak. Awalnya kupikir dia tidak berteriak padaku. Namun sepertinya aku salah. Saat aku berbalik wanita berambut kuning itu sudah berlari ke arahku. Dia menyuruhku menghindar, tapi gerakannya seperti kilat. Tangan kirinya mendorong bahuku agar aku menyingkir dari hadapannya. Tangan kanannya yang memegang pedang menebas kaki monster yang entah sejak kapan ada di belakangku. Padahal matanya ditutupi kain hitam tapi dia seolah bisa melihat apa yang ada di hadapannya.


Aku kembali membalikkan badanku. Monster yang wujudnya seperti manusia setinggi lima meter dengan dua tangan tambahan di punggungnya itu terjatuh akibat salah satu kakinya dipotong oleh wanita tadi. Dia meraung-raung. Jemarinya yang panjang seakan berusaha menangkap wanita berambut kuning yang berlarian di tubuh raksasanya.


"Apa-apaan itu..." Perutku rasanya mual saat dengan entengnya wanita itu menebas satu per satu jemari monster itu. Beberapa kali aku mengucek kedua mataku berharap apa yang kulihat ini tidak nyata. Tapi tak peduli sekeras apapun aku mengucek mataku pemandangan itu tidak berganti.


"Kau baik-baik saja?"


Aku menoleh saat seseorang menepuk bahuku dan menanyai keadaanku. Dia seorang laki-laki seusiaku. Tingginya tidak lebih dari telingaku. Pakaiannya mirip dengan wanita berambut kuning tadi—jaket hitam yang di lengan kirinya terpasang bet organisasi yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Bedanya dia tidak memakai penutup mata.


Ingin rasanya aku menjawab tidak baik-baik saja tapi tenggorokanku tercekat. Kepalaku dipenuhi pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Benar-benar membingungkan. Sebelumnya aku sedang dalam perjalanan ke supermarket, tapi sekarang...


"Bisa tolong cubit aku?" Kutatap dia yang kedua alisnya bertaut kebingungan mendengar permintaanku. Apa jangan-jangan dia tidak mengerti ucapanku? Ah, mana mungkin. Jelas-jelas tadi dia bicara dengan bahasa yang sama sepertiku. "Cubit saja aku sekencang-kencangnya," ulangku.


Kupikir dia tidak akan tega dan akan mencubitku pelan, tapi lagi-lagi aku salah. Dia benar-benar mencubit lenganku sekuat tenaga.


"Aduh, sakit!" pekikku sambil mengelus-elus lengan yang dicubitnya. Bisa kulihat dia memandangiku bingung seakan-akan bertanya 'kenapa'.


Sialan, semua ini nyata. Di mana aku sebenarnya? Bagaimana caranya aku pergi dari sini? batinku dipenuhi beragam pertanyaan. Kakiku lemas memikirkan monster raksasa yang biasanya hanya kulihat di anime-anime sekarang nyata di hadapanku.


"Hei, ayo pergi! Di sini bahaya." Laki-laki itu menarik lenganku. Mengajakku pergi dari tempatku berdiri saat ini.


Melihat monster itu saja pasti membuatku ingin pergi. Ingin berlari sejauh mungkin dari jangkauannya. Namun mata dan kakiku malah terpaku pada wanita berambut kuning itu yang sekarang melayang di atas kepala si monster. Dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan kilatan cahaya muncul membalut pedangnya. Sekarang apa lagi? Kekuatan super?


Rasanya benar-benar tidak masuk akal. Pedangnya—dia menancapkan pedang dengan cahaya yang menyambar itu di kepala si monster. Gelombang suara monster itu yang meraung-raung karena kepalanya tertusuk mendorong apapun yang ada di sekitarnya, termasuk diriku. Debu-debu yang beterbangan setelah tumbangnya monster itu mengaburkan pandangan mataku. Kulihat si rambut kuning dengan gagahnya berdiri di atas kepala si monster. Melihatnya saja benar-benar membuatku ngilu.


"Hei, kau baik-baik saja?" tanya laki-laki di sebelahku.


"Ku- kurasa aku baik-baik saja. Ya... se- sepertinya," jawabku terbata. Jujur saja aku masih shock dengan kejadian yang terjadi barusan.


Laki-laki itu berjalan maju selangkah di depanku. Dia berkacak pinggang menatap si rambut kuning yang tengah berjalan ke arah kami. "Aduh, Laura! Tadi itu bahaya tahu!" ujarnya.


Laura tidak menggubris pertanyaan laki-laki itu. Dia hanya berjalan dan berhenti tepat di hadapanku. Dilihat dari dekat begini, ternyata tinggi badan kami tidak beda jauh. Dia tidak lebih tinggi dariku, tapi lebih tinggi dari laki-laki yang menanyai keadaanku. Dia menatapku dengan wajah datarnya. Tunggu, aku sangsi apa dia benar-benar bisa melihatku dengan matanya yang tertutup seperti itu.


"Kau... siapa? Ini pertama kali aku melihatmu."


"Aku..."


Aku bingung bagaimana aku harus menjawabnya. Sementara kepalaku berputar mencari jawaban, monster yang sudah tumbang tadi entah bagaimana caranya kembali bangkit. Dengan anggota badannya yang tersisa sepertinya dia hendak mengajak Laura mati bersamanya.


"Apa kau... dari 'Dunia Lain'?" tanyanya santai. Tapi tetap saja aku bingung bagaimana cara menjawabnya. Apa dia tahu aku bukan dari dunia ini. Memangnya dunia apa ini?


Kali ini dia tidak menunggu jawabanku. Dia langsung berbalik membelakangiku. Di situ aku baru menyadari kalau kepala monster itu sudah tak jauh di depan wajah Laura dan dia hanya bergeming dengan santainya.


"Laura—"


Aku tidak tahu apa yang dia lakukan dengan berdiam seperti itu. Namun setelah satu jentikan jarinya, pedang yang masih tertancap di kepala monster itu langsung membelah tubuhnya menjadi dua secara vertikal. Jika hujan air sudah biasa, maka kali ini hujan darah hampir membasahiku. Semua terjadi terlalu cepat. Setelah tubuh si monster terbelah, Laura membuka payung yang ia bawa di punggungnya dan membuat kami bertiga terlindungi dari hujan darah yang mengerikan.


Ya... walau tetap saja masih terkena cipratannya.


"Jadi... apa kau benar-benar dari 'Dunia Lain'?" Laura mengulangi pertanyaannya yang tadi belum sempat kujawab.


"Apa maksudmu 'Dunia Lain'?" tanya laki-laki itu mewakili pertanyaan yang ada di dalam diriku. Tapi lagi-lagi dia tidak menjawabnya.


"EH, JANGAN-JANGAN MAKSUDMU DIA 'YANG TERPILIH'?!" Aku melihat ekspresi mukanya yang tiba-tiba saja berubah menjadi girang seakan baru mendapatkan jackpot.


"Aku tidak mengerti maksudmu tentang 'Yang Terpilih'. Tapi yang jelas aku berbeda dengan kalian. Aku memang tidak berasal dari dunia ini—"


"Kalau begitu ramalan itu benar! Kau pasti 'Yang Terpilih'! Hei, Laura, ayo kita beri tahu Ketua!" Laki-laki itu menatapku berbinar-binar. Dia tampak begitu bersemangat, berbanding sekali dengan diriku. Mungkin ini cuma perasaanku, rasanya kasihan melihat wajahnya yang sudah seperti mendapat harapan di tengah keputusasaan. Ya...


Akhirnya aku sadar situasi semacam ini. Sekuat apapun aku mencoba untuk tetap tenang dan berpikir dengan akal sehat, rasanya tidak mungkin setelah runtutan kejadian di luar nalar yang kualami tadi. Tetap berpikir dengan akal sehat hanya akan membuat akal sehatku luntur. Lalu... ditambah mendengarnya menyebutku sebagai 'Yang Terpilih' membuatku semakin yakin dengan hal gila yang ada di pikiranku.


Aku... pasti masuk isekai.